NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: tamat
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas / Tamat
Popularitas:36.7k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Passive Income

Ia tahu. Ia merasakannya dengan sangat jelas.

Rentetan teks biru itu mengambang di udara dapur. Mengiris retina Fais dengan pendar neon murahan.

Sistem ini gila. Benar-benar gila.

Baru setengah jam lalu ia mematahkan tulang lengan seorang raksasa dungu di area parkir bawah tanah. Darah pria itu bahkan belum sepenuhnya kering di buku-buku jarinya. Kepalanya masih berdenyut merespons sisa-sisa insting membunuh.

Dan sekarang benda sialan ini menyuruhnya berbisnis?

[Ding!]

[Misi — Passive Income]

[Deskripsi: Bangun sumber penghasilan stabil yang tidak bergantung pada sistem.]

[Target: Temukan individu dengan potensi bisnis tingkat tinggi.]

[Reward: Probability Fragment. Random Rare Item. Unlock Future Feature.]

Fais menatap kata demi kata. Otaknya yang lelah berusaha memproses barisan kalimat tak masuk akal itu. Ia mendengus pelan.

Membangun penghasilan. Yang benar saja.

Ia adalah anomali yang dipaksa bertahan hidup, bukan pegawai kantoran berdasi sutra. Ia sama sekali tidak punya jaringan, tidak punya modal, apalagi insting bisnis untuk mencari tahu siapa "individu berpotensi tinggi" di kota sebesar ini.

Namun, kotak pesan itu sepertinya tidak peduli pada protes internalnya. Sistem justru merespons ketidakmampuan inangnya dengan cepat. Layar itu berkedip dua kali.

[Peringatan: Pengalaman dan kapasitas Pengguna saat ini tidak memadai untuk pencarian target secara manual.]

[Kompensasi Sistem: Mengaktifkan Fitur Sementara 'Executive Radar' (Durasi: 2 Jam)]

Sebuah peta holografik memproyeksikan sederet koordinat lokasi berwarna merah terang langsung ke retinanya. Sistem memberinya jalan pintas—sebuah tongkat penuntun untuk orang buta sepertinya. Sebuah titik di peta kota yang harus ia datangi. Malam ini juga.

Angin malam menusuk celah kerah jaketnya saat Fais keluar dari taksi.

Bangunan di depannya bukan menara kaca megah tempat para pebisnis membuang uang. Hanya ruko empat lantai yang cat putihnya sudah mengelupas parah seperti kulit mati. Bau got basah dan sisa hujan bercampur aduk di udara.

Koordinat itu mengarah ke lantai tiga.

Langkahnya menaiki tangga beton tua itu tanpa suara. Rileks. Terlalu rileks untuk ukuran manusia yang baru saja selamat dari percobaan pembunuhan.

Lorong lantai tiga beraroma debu dan kertas lapuk. Sepi. Lorong itu sepi keparat.

Fais berhenti di depan pintu kaca buram. Stiker nama perusahaan di kaca itu sudah terkelupas separuh. Pintunya sedikit terbuka, membiarkan suara berat pria-pria dewasa menggema tumpah ke lorong.

Fais tidak langsung masuk. Ia berdiri di ambang pintu. Memilih menjadi bayangan. Ia ingin mengamati apa yang sebenarnya disodorkan sistem kepadanya malam ini.

Ruangan kantor itu melompong. Meja-meja kerja kosong tanpa layar komputer. Kertas-kertas dokumen berserakan di atas lantai linoleum yang kotor oleh bekas pijakan sepatu lumpur.

Di tengah kekacauan itu, tiga pria berjaket kulit mengepung satu meja kerja.

Dan di balik meja kayu tua itu, duduk seorang wanita.

Wanita itu tidak menangis. Ia tidak gemetar.

Tiga pria bertato itu mencondongkan badan ke depan, menggebrak meja berkali-kali, meneriakkan makian kotor yang membuat telinga berdenging.

Tapi wanita itu hanya duduk menyandarkan punggungnya. Santai. Sangat santai.

Namanya Sri Arsila.

Fais entah bagaimana mengetahui nama itu begitu melihat wajahnya. Sistem seolah menanamkan informasi itu langsung ke sumsum tulang belakangnya tanpa basa-basi. Serpihan ingatan asing membanjiri kepalanya.

Mantan eksekutif. Mantan ahli strategi. Pernah membangun perusahaan rintisan bernilai fantastis dari nol.

Lalu ia dibuang. Dihancurkan oleh politik kotor dan manipulasi saham dewan direksinya sendiri. Rekan-rekannya menusuk dari belakang. Kini ia terdampar di ruko busuk ini, terlilit hutang puluhan juta pada sindikat rentenir bawah tanah. Hutang yang terhubung langsung dengan nama Wawan.

"Kau pikir kami datang ke sini buat main-main, Nyonya?!"

Pria gempal dengan bekas luka bakar di leher memukul meja kayu itu lagi. Keras. Gelas kopi kosong di sudut meja sampai melompat kecil.

Sri Arsila mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tajam. Tajam sekali seperti silet yang siap mengiris leher siapa saja.

"Saya sudah bilang, perhitungan bunganya salah. Kalau Anda punya kapasitas otak untuk membaca kontrak dasar, Anda tidak akan teriak-teriak seperti monyet di dalam kantor saya."

Suaranya rapi. Artikulasinya sempurna. Tidak ada nada getar sedikit pun. Auranya masih terasa elegan, sangat kontras dengan kemeja putihnya yang mulai terlihat kusut dan lingkungan ruko yang sekarat ini.

Pria berwajah luka itu menggeram marah. Tangannya terangkat, bersiap menarik kerah kemeja Sri secara paksa.

Insting Fais bereaksi mendahului kesadarannya. Ia tahu ia harus bergerak sekarang.

Langkahnya membelah ruangan itu secara tiba-tiba.

Tiga pria penagih hutang itu baru menyadari ada orang lain di sana ketika ujung sepatu Fais menendang sebuah kursi besi. Kursi itu berderak nyaring melintasi lantai, menabrak dinding hingga menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga.

"Siapa kau?!" salah satu penagih hutang membentak sambil melangkah mundur.

Fais tidak menjawab. Ia berjalan lurus. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Kosong.

Ia menarik kursi kosong tepat di depan meja Sri Arsila, lalu duduk. Ia menyilangkan kakinya perlahan. Mengabaikan eksistensi tiga preman berbadan besar itu seolah mereka hanya tumpukan sampah organik yang kebetulan berisik.

"Keluar."

Fais mengucapkan satu kata itu tanpa menoleh. Nada suaranya dingin. Sangat dingin dan mendatar.

Ketiga pria itu saling pandang. Mereka berusaha tertawa remeh, tapi tawa itu sumbang di ujung tenggorokan. Insting jalanan mereka mencium ada yang salah dengan pria asing ini. Ada postur aneh dari cara duduknya.

"Tunggu sebentar..."

Pria berwajah luka melangkah maju, memicingkan mata menatap profil samping wajah Fais. Cahaya lampu neon di atas mereka berkedip sekarat, membiaskan bayangan kasar di wajah Fais.

Satu detik. Dua detik.

Napas pria berwajah luka itu tercekat. Udara seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Matanya menganga lebar. Lebar sekali.

"Itu dia..." gumam pria itu parau. Suaranya bergetar hebat. "Pria di parkiran tadi sore... Mundur. Mundur sekarang juga!"

Tanpa basa-basi, tanpa perlu ancaman tambahan, ketiga preman itu berbalik arah serentak. Mereka saling bertabrakan dengan meja dan kursi dalam kepanikan luar biasa. Suara derap langkah mereka menuruni tangga terdengar seperti tikus-tikus parit yang kabur dari genangan bensin yang menyala.

Hitungan detik. Ruangan itu kembali sunyi.

Hening turun menyelimuti debu yang beterbangan di udara.

Fais menatap wanita di depannya.

Sri Arsila membalas tatapan itu dengan durasi yang sama lamanya. Ia tidak membuang napas lega. Ia tidak mengucapkan terima kasih yang berlebihan. Ia hanya merapikan kerah kemejanya perlahan menggunakan ujung jari.

Tangan wanita itu meraih dokumen di atas meja, meluruskannya, lalu menatap lurus ke arah Fais.

"Tidak ada bantuan gratis di dunia ini," ucap Sri memecah senyap.

Sorot matanya menguliti Fais dari atas ke bawah. Menilai. Menganalisis kalkulasi risiko.

"Rentenir Wawan bukan pengecut yang lari hanya karena gertakan. Mereka mengenalmu. Mereka menatapmu seolah kau baru saja bangkit dari liang lahat."

Sri menyondongkan tubuhnya ke depan. "Jadi apa maumu?"

Pertanyaan itu menusuk. Menuntut jawaban mutlak tanpa celah negosiasi.

Fais terdiam. Rahangnya terkatup rapat. Di saat ia kebingungan merangkai kata yang tepat, rentetan teks biru kembali muncul di sudut pandangannya.

[Saran Sistem: Perkenalan singkat. Pindahkan target ke lokasi yang memicu asimetri psikologis. Jangan bernegosiasi di wilayah kekuasaan lawan atau tempat yang merendahkan nilai target.]

Fais menghela napas pelan, mengikuti alur yang disiapkan untuknya. Ia menatap mata wanita itu. Di balik ketenangan Sri, ia bisa melihat ambisi liar yang belum padam.

Misi absurd ini mulai terasa masuk akal. Sangat masuk akal.

"Fais," ucap pria itu memecah keheningan. Nada suaranya datar. "Namaku Fais. Dan aku tidak butuh ucapan terima kasihmu, Sri Arsila."

Sri sedikit menyipitkan mata mendengar namanya disebut dengan begitu presisi oleh preman jalanan yang baru pertama kali ia temui.

Fais berdiri, memasukkan kedua tangannya ke Dalam saku jaket. Ia melirik sekilas ke arah tumpukan kertas berdebu di meja Sri sebelum menatap wanita itu lagi.

"Kita punya urusan bisnis," lanjut Fais, menyuarakan instruksi Sistem dengan wajah sedingin es. "Tapi kita tidak akan membahasnya di tempat ini. Bereskan barangmu. Ikut aku."

Di belahan kota yang lain. Jauh dari ruko berbau pesing itu.

1
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Cleaver/🔪💥
Mamat Stone
/Hammer/👊/Hammer/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!