NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengaku pada Shane

Pintu lift berdenting pelan, terbuka di lantai dasar tepat sesaat setelah Aiena menekan tombol untuk naik. Ia melangkah masuk ke dalam kubus besi itu. Begitu pintu kembali tertutup, Aiena menarik napas pendek, mencoba mengabaikan rasa nyeri yang masih berdenyut samar di perut bagian bawahnya. 

Meski sudah seminggu berlalu sejak hari kelam di klinik itu, tubuhnya masih terasa ringkih, seolah fondasi fisiknya baru saja dipaksa runtuh. Pendarahannya memang sudah jauh berkurang, namun rasa nyeri yang menjalar hingga ke pinggang membuatnya harus berjalan lebih lambat dari biasanya.

Tepat sebelum pintu kembali tertutup, seseorang memencet tombol dan menahannya tetap terbuka. Itu Shane yang entah mengapa hari ini datang melalui lobi, bukan badement.

Pria itu tampak rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, jemarinya sibuk merapikan jam tangan sebelum ia menyadari keberadaan Aiena.

“Selamat pagi, Na,” sapa Shane, suaranya rendah namun memenuhi ruang sempit itu.

“Pagi, Pak Shane,” jawabnya tanpa berani mendongak. Ia merapatkan tas di depan perut, sebuah gerakan yang menjadi insting bawah sadarnya.

Shane terdiam sejenak, menunggu pintu lift kembali tertutup. Ia memutar tubuh sedikit, menatap profil samping Aiena yang tampak jauh lebih kurus dan pucat dibandingkan seminggu yang lalu. 

“Satu minggu tanpa kabar, tanpa surat dokter, dan ponsel yang sulit dihubungi. Kamu tahu itu bisa jadi catatan merah bagi departemen HRD, kan?”

Aiena menelan ludah yang terasa pahit. Ia merasakan efek obat penahan rasa sakit yang ia minum tadi pagi mulai bekerja, memberikan sensasi melayang yang tidak nyaman. “Saya mohon maaf, Pak. Saya... saya sedang tidak enak badan. Juga ada urusan keluarga yang mendadak.”

“Urusan keluarga atau urusan dengan pacarmu itu?” Shane memotong dengan nada yang lebih tajam, namun terselip kekhawatiran yang nyata di sana. Ia melangkah sedikit lebih dekat, membuat Aiena bisa mencium aroma parfumnya yang menenangkan.

Aiena terdiam, jemarinya meremas tali tas hingga kuku-kukunya memutih. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Mengatakan kebenaran berarti mengakui kehancurannya, sementara berbohong terasa sia-sia di hadapan tatapan Shane yang seolah mampu membaca setiap retakan di jiwanya.

“Ikut ke ruangan saya dulu,” perintah Shane tegas saat lift berhenti di lantai sebelas. Pria itu menahan pintu lift agar tidak tertutup kembali, menghalangi jalan Aiena sejenak. “Saya tahu ini ada hubungannya dengan Haze. Saya tahu pria itu melakukan sesuatu yang membuatmu menghilang selama seminggu.”

Aiena mendongak, matanya yang sayu bertemu dengan tatapan Shane yang intens. Ada kemarahan yang tertahan di rahang bosnya yang mengeras, namun juga ada keputusasaan untuk menolong yang membuat dada Aiena sesak. Sebelum ia sempat membela diri, Shane menghela napas panjang dan memberikan jalan.

“Ini perintah, Na. Kamu sudah melakukan pelanggaran berat. Timmu kacau karena kamu menghilang,” Shane menjeda kalimatnya, menatap Aiena lurus-lurus. “Selain itu, kita perlu bicara yang lebih penting. Soal pacarmu. Berhenti menutupi kejahatannya dengan diam.”

“Baik, Pak.” Aiena menurut. Ia mengekor di belakang Shane yang melangkah dengan punggung tegap dan pandangan lurus ke depan.

Ada tatapan aneh dari beberapa karyawan lain yang kebetulan melihat pemandangan tak biasa itu. Aiena berjalan di belakang Shane, dan ikut masuk ke dalam ruangan bosnya itu. Terlebih, Shane langsung menutup dan mengunci pintu begitu Aiena melangkah masuk.

“Pak… Ini bisa jadi fitnah,” cicit Aiena takut. Bukan takut pada Shane, melainkan takut pada dugaan salah kejamnya nyinyiran yang akan ia terima nanti dari para karyawan yang lain.

“Itu nggak penting, Na.” Shane tidak duduk di kursi kerjanya, ia duduk di sofa dan memberi kode pada Aiena untuk ikut duduk disana. “Yang penting saat ini adalah kamu. Jujur saja, kenapa kamu seminggu ini?”

Aiena menunduk. Tangannya meremas tasnya. Gelisah dan takut.

“Na…”

“Saya benar-benar sakit, Pak,” ucap Aiena cepat.

“Kenapa nggak ke dokter?”

“Karena… Saya takut…”

“Kamu takut ke dokter?”

Aiena menggeleng. “Bukan itu…”

“Lalu?” desak Chan. Tubuhnya maju ke depan dengan dua lengan bertumpu pada pahanya sendiri.

“Saya… Sebenarnya saya…” Aiena tak mampu melanjutkan kalimatnya. Malu dan takut.

“Kenapa, Na? Kamu butuh bantuan?”

Butuh waktu beberapa menit hingga Aiena mampu menjawab Shane yang terus mendesaknya untuk berkata jujur, “saya hamil, Pak.”

Suara Aiena begitu pelan, seolah takut siapapun yang berada di balik dinding dapat mendengarnya. Namun indera pendengaran Shane dapat menangkapnya dengan begitu jelas.

“Sudah kuduga,” gumam Shane. Tubuhnya kini ia sandarkan pada sofa. Jauh lebih lemas dari sebelumya.

“Tapi sudah tidak,” ralat Aiena cepat.

Dahi Shane mengkerut. “Maksudnya?”

“Saya menggugurkannya,” aku Aiena akhirnya.

Kedua tangan Shane terkepal, menahan emosi. Ia tahu, ini ide Haze. Tidak mungkin murni keputusan Aiena.

“Putusin pacarmu itu sekarang! Jangan pernah ketemu dia lagi!”

“Tapi…”

“Dia itu brengsek, Na. Sadar!” Shane setengah berteriak. Urat lehernya menonjol menahan amarah. 

***

1
Wid Sity
waw gercep, langsung melamar 😍
Wid Sity
tiba-tiba jadi merakyat
Wid Sity
pacarannya lama banget, gak putus2
Wid Sity
si Haze mah seenak jidat di rumah Aiena, gak ada etika
Wid Sity
yang penting enak. Gak peduli tempatnya mewah atau estitik atau viral
Wid Sity
ambigu banget bang, Aiena jadi salah paham
Wid Sity
Haze gak jelas banget. Apa2 diatur, jam pulang diatur, pakaian diatur, makanan pun diatur
Wid Sity
kalo jumlah menunya banyak juga membingungkan, saking banyaknya bingung pilih menu apa
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!