Kata orang,Usia 30 tahun usia yang matang untuk laki-laki menikah. tapi untuk si Gandi Argam bukannya matang tapi sudah busuk, benjut lagi.
Gandi Argam pria 33 tanun,tengah gusar memikirkan nasibnya. katanya sih, jodoh tak dapat di elak,balak tak dapat ditolak.
Bersembunyi di kolong jembatanpun jika Allah telah menetapkan takdir seseorang, pastilah akan terjadi.Tapi tunggu dulu,apakah inseden yang dialami Gandi termasuk jodoh..??
Entah lah hanya tuhan yang tahu. Entah mimpi apa,Gandi pemuda tajir melintir itu sakit kepala tiba-tiba.Bagai mana tidak, Niat nolong eeh malah ditodong untuk pertanggung jawab menikahi gadis ingusan pembuat onar.
Gandi Argam menelan ludah mendengar fakta yang mengejutkan. Ia,harus menikahi bocah perawan yang masih ingusan, yang buah dadanya saja masih datar seperti papan penggilasan.
Bisakah takdirnya ditukar...? Gandi meminta jodoh yang lain, yang bohai yang sedikit menggiurkan,tapi sayang itu hanya mimpi yang tak pernah terkabul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EGO
Malam yang mencekam,meyelimuti suasana rumah mewah yang dihuni oleh manusia beda usia itu. Rara masih mematung di atas tempat tidur, hatinya mulai gelisah.Ada rasa bersalah di dalam hatinya.
Gadis itu terus berguling di atas tempat tidur matanya tak mau dibawa bobo cabtik.Akhirnya bocah itu turun dari atas tempat tidur, berjalan kearah meja belajarnya,sembari menyepol rambutnya asal.
Ia kembali keatas tempat tidur dengan membawa laptop dan buku tudasnya.ia jajar di atas tempat tidur alat perangnanya untuk menyelesaikan tugas dari kampus.
Rara mulai mencari posisi enak,posisi tengkurap menjadi pilihannya. tangannya bergerak lincah diatas keyboard laptop.
Setelah berjam-jam ia bergulat dengan tugas kuliahnya...akhirnya tenggorokannyapun mulai kering,Rara bangkit dari posisinya.Kaki jenjangnya melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air, seketika matanya tertuju pada ruangan yang terang, disana terlihat,Gandi tengah asyik duduk santai sembari membaca majalah bisnis.
Termyata pria itu belum tidur juga,apakah pria itu juga tengah gelisah...seperti apa yang Rara rasakan...?
entahlah Rara tak perduli,yang ia tau saat ini ia tengah haus,yang Rara butuh hanya air minum,bukan pria tua yang isi kepalanya hanya seputar isi celana dalam saja.
Rara birjinjit berjalan menuju dapur,agar suara langkahnya tak terdengar oleh suaminya, jujur saja Rara sedikit merasa bersalah kepada pria dewasa itu, tapi apalah daya,ia memang harus memberinya pelajaran agar pikirannya tak mesum.
Setelah berhasil menuang air putih di gelas Rara kembali ke kamar,meneruskan tugas kuliah yang menumpuk.Pria itu masih tetap fokus dengan buku bacaannya.
yah...Gandi saat ini sedang dalam mode,tegang...dengan susah payah pria itu mencari pelepasan nafsunya.hanya itu yang bisa ia lakukan,membaca majalah bisnis di tengah malam buta, sungguh tak masuk akal,bagi orang yang normal.
Jam telah menunjukkan pukul tiga dini hari.Gandi masih tetap setia di luar, sementara Rara kelimpungan menunggu Gandi masuk kamar.
Akhirnya bocah itu menurunkan egonya, ia buka kenop pintu, kaki halus itu terus berjalan,mencari sosok pria dewasa tadi,Rara sedikit heran, ternyata lampu ruangan tempat Gandi membaca buku tadi sudah gelap, Rara terus berjalan matanya tetap awas di bawah temaram cahaya lampu.
Netra Rara menangkap sosok pria dewasa yang tengah tertidur dengan posisi sedikit bersandar dengan buku yang jatuh tepat di wajah lelahnya.
Dengan penuh hati-hati bocah itu mengangkat,buku dari wajah Gandi.Ia tatap lekat-lekat wajah yang terlelap, dengan tangan lentiknya Rara mengusap rahang kokoh Gandi,tanpa sadar bibir mungil itu berucap sendu.
"maafkan Rara om...aku tau candaanku berlebihan...!"ucap Rara lirih.tanpa ada respon dari gandi. Rara kembali ke kamar untuk mengambil selimut tebal, karna cuaca malam ini cukup dingin.
Setelah dapat, Rara kembali keluar membawa selimut tebal berwarna putih.dengan hati-hati bocah itu menyelimuti Tubuh besar Gandi. Setelah kiranya aman Bocah itu kembali memasuki kamar. Melati mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur matanya mulai terpejam.
**************
Jam telah menunjukkan jam tujuh tiga puluh pagi.Rara kelimpunhan,Dengan buru-buru bocah iti menuju kamar mandi. Setelah selesai ia segera menyambar tasnya,matanya melirik kearah sofa santai Gandi, ternyata pria itu sudah tak berada di sana.dengan cepat kaki jenjang itu menuruni anak tangga.
Sampai di meja makan...meja itu kosong,pagi ini Rara tak sarapan, om suami ternyata tak membuatkannya sarapan.Sampai di luar rumah ia kembali bingung,Ternyata mobil suaminya sudah tak ada di dalam garasi.
Rara mencoba menghubungi Gandi namun tak diangkat.Akhirnya Rara memesan ojol. setelah memesan bocah itu kembali memasukkan henponnya ke saku celananya.Rara menarik napas perlahan.Hatinya ngilu... baru saat ini ia sadar, jika ia sudah banyak bergantung pada pria dewasa itu.
tak lama menunggu akhirnya ojol yang ia pesan datang. Rara segera naik,setelah sampai Rar memberikan mas ojek uang dua puluh ribu,dan rara mendapat kembalian lima ribu rupiah.
Rara melangkah menuju kelasnya,di sana tampak teman satu ruangannya tengan duduk manis.Rara masuk dan menaruh tasnya di tempatnya duduk.
"heey.. tumben telat Ra..? "ucap Sasa sahabat dekat Rara di kampus.
"iya...Sa..!"ucapnya lemah, Sasa menyipit.. gak biasanya sahabatnya itu pendiam dadakan
"kamu kenapa...ada masalah,cerita dong...!"
Rara tersenyum sekilas.
"gak kok sa, lagi males aja..! "
"oke deh kalau gak mau cerita...! "ucap Sasa tak memaksa.Rara dan Sasa mulai mengikuti matakuliah dengan serius,mereka takut jika ketahuan ngobrol. karna pak Yaya itu dosen kiler seantreo jagat. Untung saja jam kuliah sudah berakhir.
Rara berjalan berdampingan dengan Sasa.Rara tampak bingung ia harus pulang dengan siapa.Namun kebingungan itu tampak jelas dari wajahnya, yang dengan mudah Sasa tangksp.
"Ra... jujur deh.. ada apa sih, kamu dari tadi lesu mulu ni sekarang wajahmu malah kelihatan gelisah..? "
"Anu Sa.. aku bingung pulang sama sapa...om Gandi dari tadi ditelpon gak angkat"ucap Rara jujur
"ya allah Ra, pulang bareng aku aja jali...! "Ucap sasa tulus.
"beneran Sa... tapikan rumah kita gak searah..,! "
"terus kenapa masalah... heem...santai aja kali Ra..! "Rara tersenyum manis,Namun senuman gadis iti terlihat aneh,untuk Sasa.
"Ra.. mukamu pucat...! "Rara menoleh menatap Sasa. Sembari berucap sok gak paham.
"masak sih..! "
"iya lihat ni tanganmu dingin Ra, kamu sakit..!"tanya Sasa hawatir.Namun belum sempat, Rara menjawab, perut langsing bocah itu berbunyi cukup kencsng.
"krueeek..!" bunyi perut Rara, minta diisi.
"Rara kamu laper...? "
"iya Sa, tadi aku gak sempat sarapan...! "ucap Rara malu.
"Loh...kenapa kamu gak sarapan di kantik tadi..? "Rara nyengir malu.
"aku gak bawa uang Sa, tadi buru buru..! "ucapnya bohong,Padahal Gandi tak memberikan uang padanya pagi ini,mungkin pria itu lupa pikir Rara.
"ya allah Ra..! pak kita singgah dulu kerumah makan di depan ya...! "Baik mbak ucap pak Darto. sopir Sasa dengan manutnya.
Sasa membawa sahabatnya kerestoran ternama.jam makan siang resto ini selalu ramai di penuhi pengunjung. Sasa dan Rara memilih bangku paling pojok.
"Rara tumben suamimu gak jemput..? "Tanya sasa penasaran.
"oo.. om Gandi masih sibuk Sa,gak sempet jemput dia..!"ucap Rara dusta.
Hampir sepuluh menit mereka menunggu, akhirnya pesanan dua sahabat itu datang.Sasa mulai melahap makanannya,begitupun dengan Rara, tapi baru dua suapan, selera makannya anjlok seketika saat mendengan suara bariton itu. Terdenhar jelas suara berat itu tengah bicara dengan seorang wanita.
"makanlah...apa perlu aku suapi...? "ucap pria itu lembut. Dengan takut-takut Rara memutar lehernya pelan.disana pria itu tengah menyuapi seorang wanita yang sangat cantik, sangat cocok dengan pria itu.Hati Rara kesal seketika.
Lihatlah mereka terlihat bahagia,bahkan Gandi tertawa lepas hingga gigi putihnya terlihat.yang semakin membuat Rara kesal adalah pria itu dengan manisnya menerima suapan dari tangan wanita cantik di sebelahnya.
Lupakah om tua itu,Bahwa istrinya tadi tidak ia tinggali uang belanja,bahkan sarapanpun tidak ia lakukan karna memang tak ada yang bisa ia jadikan pengganjal perutnya.
Hatinya miris,seketika rasa kecewa itu hadir dalam benaknya.bagaimana tidak,pria itu dengan bahagianya tertawa bersama wanita lain.meskipun itu mungkin hanya sekedar temannya.
Dengan penuh kejengkelan Rara mengajak Sasa untuk segera pulang.
"Sa.. aku udah kenyang... yuk kita pulang..! "ucap Rara sepelan mungkin,namun tidak membuat Sasa curiga.
"ya udah ayo...! "Setelah membayar sesuai bill Mereka pulang.
Sampai di rumah Rara langsung mengurung diri di kamar. Sementara Gandi baru saja pulang, yang membuat Rara heran pria itu tak ada masuk ke kamar mereka semenjak kejadian dimana, Rara mengerjainya.
Bahkan pria itu tak tidur di kamar mereka,Rara mulai resah,ia tak suka diabaikan seperti ini. Namun Rara berusaha tegar. Karna ia tau dirinya memang salah.
Di ruang tengah akhirnya mereka berpapasan, Rara tak tahan harus berdiam-diaman dengan pria yang tinggal satu atap dengannya.
"heey om..!om sudah makan..! "tanya Rara lembut khas bocah manja. Namun yang ditanya hanya menatap bocah itu sejenak kemudian pria itu berlalu acuh masuk kedalam kamar tamu.
Rara yang diabaikan tak terima. Bocah itu segera berlari kearah Gandi, untuk minta penjelasan. Dengan tangan kecilnya Rara menarik lengan Gandi.
"om kenapa sih...!! hari ini om cuekin aku terus...!jika om marah karna sikapku semalam, aku minta maaf.karna udah keterlaluan ngerjain om"Ucapnya sungguh sungguh,Gandi menatap Rara datar.
"Lepaskan, aku lelah...!"ucap Gandi dingin.sembari melepaskan pegangan tangan Rara,tak sengaja Gandi sedikit mendorong tubuh Rara,saat melepaskan pegangan tangannya. hingga bocah itu terhuyung ke belakang.
Gandi terkejut, ia tak bermaksud mendoring wanitanya,Gandi mengusap wajahnya kasar.
Rara terkejut menatap sekilas pria itu, kemudian ia berlari ke kamar, dengan hati yang ngilu.
"kenapa jadi seperti ini...kenapa setelah aku mulai menerimanya, dia malah menyakitiku.. ? apa karna wanita di resto itu dia mengacuhkanku...?" Batin Rara semakin ngilu mengingat tawa bahagia Gandi sat bersama wanita lain.
Ia usap kasar air matanya,sembari berkata dalam hati. "aku tak boleh seperti ini,aku gak boleh bergantung dengan pria seperti om Gandi.... biarlah aku yang mengatur hatiku sendiri...!"Rara terus mensugesti dirinya. Belajar mengendalikan egonya yang masih labil......