Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Paviliun Bintang Jatuh dan Monopoli Kualitas Sempurna
Jalanan Kota Seribu Tebing adalah perwujudan nyata dari kekacauan yang terorganisir. Di sisi kiri dan kanan jalan berbatu vulkanik yang meliuk di sepanjang dinding ngarai, para pedagang menggelar lapak yang memancarkan aura magis—mulai dari tulang monster tingkat tinggi, pedang terbang berkarat, hingga budak kultivator yang dirantai dengan segel Qi.
Arya melangkah membelah keramaian dengan tenang, jubah trench coat hitamnya berkibar pelan. Elena berjalan setengah langkah di belakangnya, matanya terus memindai setiap sudut dengan insting pembunuh bayaran yang tajam. Meskipun pakaian modern mereka terlihat mencolok di lautan jubah tradisional, tidak ada yang berani mencari masalah setelah desas-desus tentang hancurnya kaki empat pengawal Keluarga Mahendra di gerbang menyebar bagai api.
Di pusat kota, berdiri sebuah bangunan megah setinggi sembilan lantai yang dipahat langsung ke dalam dinding tebing. Bangunan itu berlapis kayu merah spiritual dan dihiasi lampion-lampion yang memancarkan pendaran cahaya bintang. Di atas pintu utamanya terdapat kaligrafi emas raksasa: Paviliun Bintang Jatuh.
Ini adalah rumah lelang sekaligus pusat perbankan terbesar di wilayah luar Kunlun, tempat di mana uang—dalam bentuk Batu Spiritual—berbicara lebih keras daripada pedang.
Arya dan Elena melangkah masuk. Interior paviliun itu sangat mewah, dengan lantai marmer putih yang memancarkan hawa sejuk untuk menenangkan aliran Qi para tamunya.
Seorang resepsionis wanita berpakaian sutra hijau segera menghampiri mereka. Awalnya, senyum wanita itu terlihat profesional, namun saat matanya menyapu pakaian 'aneh' dan tidak adanya fluktuasi Qi liar yang biasa dimiliki para ahli dari tubuh Arya (karena Qi Arya terlalu murni dan tersembunyi dengan sempurna), senyumnya berubah menjadi sedikit merendahkan.
"Maaf, Tuan. Lantai dasar adalah area ritel umum. Jika Anda ingin sekadar melihat-lihat, silakan ke sisi kiri. Hari ini kami tidak menerima pengemis spiritual," ucap wanita itu dengan nada sopan namun menusuk.
Arya tidak membalas dengan amarah atau teriakan klise. Ia mengabaikan ocehan itu sepenuhnya, merogoh sakunya, dan meletakkan Token VIP giok dari jari Kuang Mahendra ke atas meja resepsionis dengan bunyi klak yang pelan.
"Panggil penilai utama (appraiser) dan manajer tertinggi kalian. Katakan aku punya bisnis monopoli yang ingin kubicarakan," perintah Arya, suaranya sedatar mesin anjungan tunai mandiri.
Mata resepsionis itu membelalak melihat token giok dengan ukiran bintang jatuh tersebut. Itu adalah Token VIP Kelas Langit, yang hanya dimiliki oleh sepuluh orang terkaya di seluruh kota! Keringat dingin langsung membasahi punggungnya. Kesombongannya hancur seketika.
"M-Mohon maafkan kelancangan mata buta saya, Tuan Yang Mulia! Silakan ikuti saya ke Ruang VIP di lantai sembilan!" wanita itu membungkuk hingga dadanya hampir menyentuh meja, lalu buru-buru memimpin jalan menuju susunan formasi teleportasi jarak dekat yang berfungsi sebagai lift kultivasi.
Di lantai sembilan, Ruang VIP itu didekorasi menyerupai taman istana. Wangi teh spiritual yang membakar jiwa menguar di udara.
Di dalam ruangan, duduk seorang pria tua berjanggut putih dengan kaca pembesar berukir rune di matanya (Penilai Chen), dan seorang wanita muda yang luar biasa cantik. Wanita itu mengenakan gaun belahan tinggi berwarna merah marun. Kulitnya seputih pualam, dan matanya memancarkan daya pikat yang seolah bisa menyedot jiwa pria mana pun. Dia adalah Nona Feng, Manajer Utama Paviliun Bintang Jatuh.
Saat Arya masuk, Nona Feng tersenyum menggoda. Ia diam-diam mengaktifkan Seni Pesona Rubah Bulan, sebuah teknik ilusi yang digunakan untuk memanipulasi emosi klien bisnisnya.
"Selamat datang, Tuan Muda yang misterius. Jarang sekali kami melihat wajah baru membawa Token VIP. Apa yang bisa Paviliun kami bantu untuk—"
[Ding! Deteksi Serangan Ilusi Mental Tingkat Rendah.]
[Tindakan: Blokir Otomatis. Filter Emosi Diaktifkan.]
Arya duduk di kursi seberang Nona Feng, menyilangkan kakinya, dan menatap wanita itu dengan pandangan sedingin dan setajam pisau bedah.
"Nona Feng, simpan teknik pesona murahmu itu. Mencoba memanipulasi hormon lawanku dalam negosiasi bisnis adalah inefisiensi yang sangat bodoh. Aku di sini untuk berbisnis, bukan mencari teman kencan," ucap Arya tanpa basa-basi, langsung menusuk ego wanita itu.
Nona Feng terkesiap. Senyum di wajahnya membeku. Seni pesonanya tidak pernah gagal, bahkan pada kultivator Ranah Inti Emas sekalipun! Namun pria di depannya ini tidak hanya kebal, ia bahkan membedah tekniknya dengan logika yang merendahkan. Nona Feng segera menarik aura ilusnya dan mengubah ekspresinya menjadi sangat profesional dan waspada.
"Anda sangat lugas, Tuan...?"
"Arya."
"Baiklah, Tuan Arya. Mari kita bicara bisnis," Nona Feng berdeham, menutupi rasa malunya. "Apa pusaka yang ingin Anda lelang? Senjata spiritual tingkat tinggi? Atau peta harta karun kuno?"
"Tidak ada. Aku ingin menjual Pil Spiritual."
Penilai Chen yang sedari tadi diam tiba-tiba mendengus remeh. "Tuan Arya, dengan segala hormat, Paviliun Bintang Jatuh memiliki ratusan Master Alkemis. Kami memproduksi puluhan ribu pil setiap hari. Kecuali Anda membawa pil legendaris Tingkat Surga, pil biasa tidak memiliki nilai monopoli di mata kami."
"Alkemi di Kunlun terlalu primitif," jawab Arya rasional. Ia mengeluarkan sebuah Rumput Darah Besi Tingkat 1 yang bernilai sangat murah, yang ia jarah dari cincin Kuang. "Kalian merebus daun ini dalam kuali, menggunakan api yang tidak stabil, dan menghasilkan pil yang dipenuhi residu racun spiritual. Paling tinggi, tingkat kemurnian kalian hanya 75%. Sisanya akan menumpuk di meridian kultivator dan menghambat kemajuan mereka."
"Lancang!" Penilai Chen memukul meja. "Itu adalah hukum alam kultivasi! Tidak ada satu pun alkemis di dunia ini yang bisa mencapai kemurnian 100%!"
"Hukum alam ada untuk dipatahkan oleh teknologi dan sistem yang lebih superior," Arya membalas dengan tenang.
Arya meletakkan rumput murahan itu di telapak tangannya. Ia tidak mengeluarkan kuali atau menyalakan api. Ia hanya menggunakan fungsi ekstraksi murni dari Sistem Naga Leluhur yang dipadukan dengan Qi Ranah Pembentuk Fondasi miliknya.
Di depan mata Nona Feng dan Penilai Chen, rumput itu hancur menjadi bubuk, lalu kotoran dan racun hitamnya terpisah ke udara dan menguap. Inti sari kehidupan rumput itu dikompresi secara instan dengan tekanan presisi tinggi.
Hanya dalam waktu tiga detik, sebuah pil bundar berwarna merah delima yang memancarkan cahaya menyilaukan dan keharuman yang sangat pekat terbentuk di telapak tangan Arya. Tidak ada setitik pun debu atau noda di pil tersebut.
Clang! Kaca pembesar di tangan Penilai Chen jatuh membentur meja. Mulut pria tua itu terbuka lebar hingga rahangnya nyaris lepas. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"M-Mustahil... Tanpa kuali? Pemurnian instan di tangan kosong?!" Penilai Chen merebut pil itu dari meja dengan tangan gemetar, menelitinya di bawah cahaya, dan air matanya langsung menetes. "Seratus... seratus persen murni! Tidak ada racun residu! Ini bukan pil... ini adalah mukjizat! Sebutir pil murahan ini dengan kemurnian 100% efeknya setara dengan pil Tingkat 4!"
Nona Feng menelan ludah. Sebagai pebisnis, otaknya berputar dengan kecepatan cahaya. Jika mereka bisa menjual pil yang dijamin tidak akan meninggalkan racun di tubuh kultivator, setiap ahli bela diri di Kunlun akan rela membunuh untuk membelinya. Paviliunnya akan menguasai pasar sepenuhnya!
"Tuan Arya..." Nona Feng menatap Arya dengan pandangan yang kini murni dipenuhi rasa lapar akan kekayaan. "Berapa banyak pil seperti ini yang bisa Anda suplai kepada kami?"
"Berapa pun bahan mentah sampah yang kalian miliki, aku bisa menyulapnya menjadi emas dengan kemurnian absolut," jawab Arya. "Aku akan menjadikan Paviliun Bintang Jatuh distributor tunggal di Kota Seribu Tebing. Tapi syaratku tidak bisa dinegosiasi."
"Katakan syarat Anda!"
"Pertama, pembagian keuntungan sembilan banding satu. Sembilan puluh persen untukku." Arya memaparkan term negosiasinya layaknya CEO. "Kedua, kalian akan menggunakan seluruh jaringan intelijen Paviliun ini untuk mencari segala informasi logistik, titik lemah, dan posisi para petinggi Kuil Kegelapan. Kalian akan menjadi telinga dan mataku."
Nona Feng terdiam. Syarat pertama memang merampok, namun sepuluh persen dari pasar monopoli ini sudah bernilai miliaran Batu Spiritual. Tapi syarat kedua...
"Kuil Kegelapan? Tuan Arya, mereka adalah faksi teror tingkat Grandmaster yang bersembunyi di Puncak Darah. Mencari informasi tentang mereka berarti memicu perang!"
"Itulah tepatnya tujuanku kemari," seringai Arya dingin. "Jika kau tidak berani, aku akan pergi ke rumah lelang Keluarga Mahendra di seberang jalan."
Mendengar nama saingannya, Nona Feng menggebrak meja. "Sepakat! Paviliun Bintang Jatuh akan melayani Tuan Arya dengan segenap nyawa!"
Tepat ketika kesepakatan bernilai triliunan itu terbentuk, pintu Ruang VIP didobrak dengan kasar dari luar.
Seorang pengawal paviliun yang berlumuran darah masuk dan jatuh tersungkur. "M-Manajer Feng! Gawat! Pemimpin Keluarga Mahendra, Tuan Besar Mahendra, telah membawa Lima Ratus Pasukan Berbaju Besi! Mereka mengepung seluruh gedung paviliun ini! Mereka menuntut Anda menyerahkan pria bermantel hitam yang telah melukai Tuan Muda Kuang, atau mereka akan meratakan tempat ini menjadi tanah!"
Nona Feng memucat. Penilai Chen gemetar ketakutan.
Arya perlahan bangkit dari kursinya. Ia merapikan lipatan kerah trench coat-nya dengan santai, matanya memancarkan perhitungan pembunuhan massal yang rasional.
"Keluarga Mahendra... bahan mentah yang mengantar dirinya sendiri ke pabrik," gumam Arya membelakangi Nona Feng. "Elena, siapkan pedangmu. Sepertinya acara pembukaan bisnis kita hari ini akan dihiasi dengan sedikit demonstrasi tumpah darah."