NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Kehadiran Sang Pewaris.

Pagi itu, Liora terbangun dengan perasaan aneh yang membuatnya gelisah. Ada sensasi tidak nyaman di perutnya, seperti ada sesuatu yang bergejolak dari dalam. Bahkan sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, tubuhnya secara refleks bergerak. Ia bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.

“Huek… huek…”

Suara mualnya menggema di dalam ruangan kecil itu.

John yang sedang bersiap di sisi lain kamar langsung terkejut mendengar suara istrinya. Tanpa pikir panjang, ia berlari menyusul dan menahan bahu Liora sambil memastikan istrinya tidak terjatuh.

“Sayang, ada apa? Kamu sakit?” tanyanya panik, tangannya mengusap punggung Liora dengan lembut.

Liora menggeleng perlahan, wajahnya tampak lemah. “Aku… tidak tahu, Mas. Perutku mual sekali…”

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya Liora keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Wajahnya pucat seakan seluruh tenaganya hilang.

“Mas…” ucapnya lirih. “Aku lapar…”

John langsung sigap. “Baik. Ayo, kita ke ruang makan. Pelan‑pelan ya.”

Ia menuntun Liora keluar dari kamar, memastikan setiap langkahnya aman.

Di ruang makan, Heron dan Wilia yang sudah menunggu langsung bangkit ketika melihat kondisi Liora.

“Sayang, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali,” tanya Wilia dengan nada khawatir.

Liora membuka mulut untuk menjawab, tetapi rasa mual kembali menyerangnya. Tanpa sempat bicara, ia berlari ke wastafel.

John segera mengikutinya dan sekali lagi mengusap punggung istrinya. “Tarik napas pelan, sayang… Aku di sini.”

Setelah beberapa saat, John menggendong Liora kembali ke kursi makan.

“Sekarang makan dulu ya. Biar kamu dapat tenaga.”

Dengan sabar, ia menyuapi Liora sedikit demi sedikit sampai wajah istrinya mulai kembali tenang.

Selesai makan, John mengusap kepala Liora dengan penuh kasih. “Sudah lebih baik?”

Liora mengangguk kecil.

Heron dan Wilia saling bertukar pandang. Ada sesuatu yang tersirat dari tatapan Wilia. Sebuah dugaan.

Wilia mendekat dan bertanya dengan hati‑hati, “Sayang… kamu telat bulan?”

Liora terdiam. Pertanyaan itu seperti menyadarkannya akan sesuatu.

“Sepertinya… iya, Bu. Sudah dua minggu.”

Wilia langsung menutup mulutnya menahan keterkejutan bahagia. Heron memandang istrinya yang tampak antusias, lalu mengangkat alis bingung. Namun Wilia tidak menjelaskan apa pun. Ia langsung mengambil ponsel.

“Dynara, sayang… ini Ibu. Bisa ke sini sekarang?”

Beberapa Saat Kemudian

Dynara Aprillia dokter keluarga dan menantu datang dengan cepat, wajahnya penuh rasa penasaran.

“Bu, ada apa? Suaranya terdengar mendesak.”

“Periksa kakak iparmu,” kata Wilia sambil menunjuk Liora. “Dia mual sejak pagi. Dan dia telat bulan.”

Dynara langsung menatap Liora dengan serius, kemudian melakukan pemeriksaan singkat namun teliti.

Beberapa menit kemudian, bibir Dynara melengkung dalam senyum lembut.

“Kakak… hasilnya positif. Kakak sedang hamil.”

Ucapan itu membuat seluruh ruangan hening beberapa detik.

“Aku… hamil?” suara Liora bergetar, seolah masih tidak percaya.

Dynara mengangguk. “Iya, Kak.”

Air mata langsung mengalir di pipi Liora, namun kali ini bukan karena rasa sakit.

Ini… air mata kebahagiaan. Sesuatu yang sudah lama ia pikir tidak mungkin lagi ia rasakan.

“Mas… aku hamil…”

Ia menatap John dengan mata berbinar.

John langsung memeluk istrinya erat. Ia menghela napas lega, seperti mendapatkan hadiah terbesar dalam hidupnya. Ia mengecup kening Liora, lalu menunduk, menyentuhkan bibirnya pada perut istrinya yang masih datar tapi kini menyimpan kehidupan baru.

Heron, Wilia, dan keluarga lain tersenyum haru.

“Masya Allah… kita akan punya cucu lagi,” ucap Wilia sambil mengusap matanya.

Heron tersenyum bangga. “Anak pertama kita… akhirnya akan menjadi seorang ibu.”

Liora kembali menangis, kali ini sambil memeluk John erat.

“Hiks… Mas Adrian pasti bahagia kalau dia ada di sini…”

John hanya mengusap rambut Liora dengan lembut. “Aku bahagia melihatmu seperti ini, sayang.”

Kabar itu menyebar cepat ke seluruh keluarga besar.

Victor, Albert, Sean, dan ketiga gadis muda Viora, Viola, Viera langsung menghubungi keluarga dan menyatakan akan segera pulang dari Italia.

Tak lama kemudian, Bram dan keluarganya juga tiba.

Mansion keluarga Wiliam Anderlecht kembali penuh hidup, hangat, ramai oleh tawa dan ucapan selamat.

Keesokan Harinya

Pagi itu berubah menjadi unik. Liora yang biasanya lembut, tiba‑tiba berkata dengan wajah datar:

“Aku ingin menembak.”

Seluruh keluarga langsung menolak serempak, suara mereka bahkan tumpang tindih.

Mana mungkin mereka membiarkan perempuan hamil latihan menembak?

Namun Liora tetap bersikeras, matanya menatap tajam.

Akhirnya, mereka mengalah dengan syarat: pengawasan super ketat.

Di lapangan latihan, suasana berubah drastis.

Waktu seakan berhenti ketika Liora mengangkat senjata.

Tatapannya kembali seperti dulu dingin, fokus, mematikan.

Dor!

Dor!

Dor!

Peluru melesat sempurna, mengenai target tanpa meleset sedikit pun. Bahkan lebih cepat dan presisi dibanding sebelumnya.

Wilia terdiam menatapnya, teringat masa lalu.

“Anak ini… bahkan saat hamil pun masih seperti prajurit,” gumamnya.

Setelah beberapa lama, tubuh Liora mulai kelelahan. John langsung menghampiri dan mengangkatnya tanpa membantah.

“Kamu tidak boleh memaksakan diri,” tegur John lembut namun tegas.

Ia membawa Liora ke ruang keluarga dan membaringkannya di sofa. Liora menyandar di pelukannya, dan tanpa disadari tertidur karena kelelahan.

John menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.

“Aku akan selalu menjagamu… dan anak kita.”

Di dalam rumah itu… sebuah kebahagiaan baru baru saja tumbuh.

Namun jauh di balik ketenangan itu…

Takdir besar untuk pewaris keluarga Wiliam Anderlecht baru saja dimulai.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!