NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: DETIK-DETIK MENUJU KELAHIRAN

Waktu seolah berpacu dengan cepat. Kandungan Kirana kini sudah memasuki usia sembilan bulan lebih. Perutnya sudah sangat besar dan berat, membuat setiap gerakan terasa sangat melelahkan. Namun, senyum di wajahnya tak pernah pudar, karena ia tahu bahwa di dalam sana ada buah hati yang sedang menunggu saat yang tepat untuk bertemu dunia.

Arga kini berada di masa-masa paling kritis di pekerjaannya. Proyek besar yang sedang di digarapnya akan segera diresmikan dalam waktu dekat ini. Seluruh media dan pejabat tinggi sudah diundang. Tekanan dan tanggung jawab sepenuhnya berada di pundaknya sepenuhnya.

Namun, Arga tidak pernah lupa janji terbesarnya: Istri dan anak adalah prioritas nomor satu.

Pagi itu, suasana di ruang makan terlihat sedikit tegang namun tetap hangat. Arga sedang memakai dasinya dengan tergesa-gesa namun tetap rapi, sementara matanya terus memperhatikan Kirana yang berjalan pelan menuju meja makan.

"Pelan-pelan dong Sayang, hati-hati," seru Arga langsung meninggalkan cermin dan berlari kecil membantu isterinya duduk.

"Iya... iya... jalan udah pelan banget ini sayang," jawab Kirana sambil tertawa kecil. "Kamu tuh ya, mau ke kantor tapi pikirannya di rumah terus. Nanti gimana kerjanya?"

"Ya harus gitu dong. Siapa lagi yang jagain kamu kalau bukan aku?" sahut Arga sambil menyodorkan segelas susu hangat. "Denger ya, hari ini Ayah harus agak lama di kantor karena ada gladi resik acara. Tapi tolong ya, kalau ada rasa apa-apa, dikit aja langsung telpon. Nggak peduli Ayah lagi ngomong sama siapa, lagi rapat atau apa, langsung angkat dan langsung lari pulang."

Kirana mengangguk lembut, mengusap tangan suaminya yang terlihat sedikit berkeringat karena gugup.

"Iya... aku janji. Kamu fokus kerja ya. Insyaallah semuanya lancar. Nanti kalau waktunya tiba, dedeknya pasti kasih tahu kok."

"Oke. Arka, Aira... kalian jaga Ibu ya sama Bi Sumi. Jangan bikin ribut," pesan Arga pada kedua anaknya.

"Siap Ayah! Arka jaga Ibu!" jawab Arka gagah.

"Aira juga jaga!" ikut Aira sambil mengangkat tangan kecilnya.

Setelah mencium kening isteri dan kedua anaknya dengan penuh cinta, Arga pun berangkat. Di dalam mobil, ia menghela napas panjang. Rasanya berat sekali meninggalkan rumah saat kondisi isterinya sudah begitu dekat dengan waktu lahirannya. Tapi ia juga harus bertanggung jawab pada pekerjaannya.

'Ya Allah, lindungi isteri dan anakku. Berikan aku kekuatan untuk menyelesaikan tugasku dengan baik,' batin Arga berdoa.

 

Hari berjalan lancar. Di kantor, Arga bekerja dengan sangat profesional dan tegas. Semua staf melihat betapa hebatnya pemimpin muda ini. Namun, di saku jasnya, HP-nya selalu ia letakkan di mode getar paling keras, dan setiap 15 menit sekali ia pasti mengecek layar, memastikan tidak ada panggilan masuk dari rumah.

Hingga menjelang sore...

DRRTTTTT! DRRTTTT! DRRTTT!

HP di saku Arga bergetar hebat. Nama yang muncul di layar adalah "Rumah ❤️".

Jantung Arga seakan berhenti berdetak sesaat. Wajahnya yang tadi serius mendadak pucat.

"Maaf sebentar, saya harus angkat telpon ini. Sangat penting," kata Arga pada rekan kerjanya tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengangkat sambungan.

"Halo?! Sayang?! Kenapa?!" suara Arga terdengar panik luar biasa.

Di seberang sana terdengar suara Kirana yang terengah-engah, diselingi erangan menahan sakit.

"Ar... Argaaa... sakit... perutku sakit banget... kayaknya... kayaknya waktunya udah dekat, Ar..."

BRUK!!!

Seakan ada petir menyambar di kepala Arga.

"APA?! SEKARANG?!" teriaknya tanpa sadar. "Oke oke oke! Tahan ya Sayang! Tahan sebentar! Ayah akan jalan sekarang! Ayah ke rumah sekarang! Jangan ngapa-ngapain! Bilang Bi Sumi siapin tas!"

"I... iya... cepetan ya Ar..." sambungan terputus.

Arga berdiri tegak, matanya berkaca-kaca campur aduk antara takut dan bahagia.

"Pak! Bagaimana acara gladi resiknya? Kita baru setengah jalan," tanya asistennya cemas.

"Batal! Semuanya batal atau tunda!" tegas Arga sambil merapikan jasnya dengan gerakan cepat. "Keluarga saya lebih penting dari proyek mana pun! Saya harus ke rumah sakit sekarang! Kalian lanjutkan koordinasi dengan tim! Maaf saya harus pergi sekarang!"

Tanpa menunggu balasan, Arga berlari secepat kilat menuju parkiran. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi namun tetap hati-hati. Pikiran nya hanya satu: Harus sampai di rumah segera! Harus ada di sisi Kirana!

Sepanjang jalan ia terus berdoa, berkali-kali menekan klakson dan memotong jalan demi sampai lebih cepat.

 

Sesampainya di rumah, suasana di sana sudah cukup heboh namun tetap tertata. Bi Sumi dan pembantu lain sudah sibuk memastikan semua perlengkapan masuk ke mobil. Kirana sudah duduk di kursi roda yang disiapkan, wajahnya pucat namun tetap berusaha tegar menahan kontraksi yang datang silih berganti.

"IBUUU!!!" teriak Arga saat masuk dan langsung berlutut di hadapan isterinya.

"sayang... kamu cepet banget datengnya..." bisik Kirana sambil memegang lengan suaminya erat sekali, kuku-jarinya hampir menancap karena menahan sakit.

"Pasti dong! Kan janji kalau kamu butuh Ayah, Ayah langsung datang!" jawab Arga panik tapi lembut. Ia mengecup tangan istrinya berkali-kali. "Maaf ya maaf... sakit banget ya? Sabar ya sayang, kita langsung ke RS sekarang ya."

Arga dengan sigap menggendong tubuh istrinya yang kini terasa lebih berat namun tetap ia gendong dengan mudah layaknya bulu gandum. Ia memapah Kirana masuk ke dalam mobil mewah mereka, lalu duduk di sampingnya memegang tangan erat-erat sepanjang perjalanan ke rumah sakit.

"Tarik napas ya Sayang... tarik... hembuskan... gitu... kuat ya... kamu wanita terkuat yang Ayah kenal," bujuk Arga terus menerus, matanya tak lepas menatap wajah isterinya yang penuh keringat dingin.

Sesampainya di rumah sakit, tim medis sudah siap siaga karena sebelumnya sudah diinformasikan. Kirana langsung didorong masuk ke ruang bersalin VIP.

Arga tentu saja tidak mau ketinggalan. Ia ikut masuk, memakai baju pelindung, dan duduk di sisi kepala isterinya menggenggam tangan itu sekuat tenaga.

"Argaaaaa... sakitnya luar biasa... awwww..." erang Kirana memeluk lengan suaminya, kepalanya bersandar di bahu kokoh itu.

"Aku tahu sayang... aku tahu... tapi ingat, sebentar lagi kita ketemu sama anak kita. Pikirkan wajahnya yang lucu. Pikirkan nama yang udah kita siapin. Kamu pasti bisa, Sayang. Kamu hebat..." bisik Arga di telinga istrinya, ia mencium kening, mencium pipi, mencium tangan, memberikan semua kekuatan yang ia punya lewat sentuhan itu.

Proses persalinan kali ini terasa lebih cepat namun lebih intens. Teriakan dan erangan Kirana terdengar menyayat hati, dan setiap kali istrinya berteriak, hati Arga terasa seperti diremas-remas. Ia ingin sekali menggantikan rasa sakit itu, tapi ia tahu ini adalah peran istimewa yang hanya bisa dilakukan oleh wanita hebat bernama Ibu.

"SEKARANG NYONYA! TERIAK SEKUATNYA! DORONG!!!" seru dokter.

"DORONG SAYANG! AYO! KELUAR SEKARANG! AYOOO!!!" semangat Arga sambil memijat pundak isterinya.

Kirana mengerahkan seluruh sisa tenaganya, memejamkan mata, dan mendorong dengan sekuat tenaga...

OOEEEE!!! OOOEEEEEE!!!

Suara tangisan bayi yang sangat nyaring dan sehat terdengar memecah keheningan ruangan!

ALHAMDULILLAH!!!

Arga dan Kirana sama-sama menangis haru. Tangisan itu adalah suara paling indah yang pernah mereka dengar seumur hidup.

"SELAMAT PAK! SELAMAT BU! BAYINYA LAKI-LAKI! GAGAH DAN SEHAT BANGET!" seru perawat dengan senyum lebar.

Laki-laki?!

Arga menatap istrinya dengan mata berbinar-binar. "Laki-laki Sayang! Kita dapet anak laki-laki lagi! Pangeran kecil kita!"

Kirana tersenyum lemas namun bahagia, air mata bahagia mengalir deras di pipinya. "Alhamdulillah... sehat..."

Beberapa menit kemudian, bayi mungil itu sudah dibersihkan dan dibungkus selimut biru. Perawat membawanya mendekat ke hadapan kedua orang tuanya.

Betapa takjubnya Arga dan Kirana melihat wajah bayi itu.

Wajahnya sangat putih, kulitnya mulus, rambutnya hitam lebat, dan tangisan pertamanya tadi membuktikan bahwa paru-parunya sangat kuat. Wajahnya tampan persis seperti Arga saat bayi, namun ada kesan lembut dan manis dari ibunya. Perpaduan yang sempurna.

"Nama dia... nama dia Arfan Ganendra Wijaya," bisik Arga pelan namun tegas. "Arfan yang artinya Penuh kebaikan. Dan Ganendra pemimpin yang bijaksana."

"Arfan... Arfan kecil..." bisik Kirana lembut sambil mengusap pipi mungil itu dengan jari telunjuknya. "Halo Nak... halo Arfan... selamat datang di dunia ya..."

Arga mencium kening isterinya lama sekali, penuh rasa hormat dan cinta yang tak terhingga.

"Makasih ya Sayang... makasih udah berjuang sekuat tenaga buat lahiran dia. Kamu hebat banget. Kamu pahlawan hidup Ayah."

"Kita sama-sama berjuang, Ar..." jawab Kirana lemah tapi bahagia.

Keluarga Wijaya kini semakin lengkap. Tiga anak yang cerdas, tampan, dan cantik. Arka si kakak penyayang, Aira si putri manja, dan kini hadir Arfan si penerus yang gagah.

Malam itu, ruang perawatan dipenuhi kebahagiaan. Tak lama kemudian, Arka dan Aira datang menjenguk bersama Oma dan Opa dari pihak Arga. Melihat adik bayi yang baru lahir, mereka berteriak kegirangan.

"Ganteng banget Adik Arfan!" seru Arka takjub.

"Kecil banget... lucuuu..." celetuk Aira sambil menyodorkan bonekanya ke hadapan adiknya.

Arga duduk di kursi, memandangi pemandangan indah di hadapannya. Istri yang terbaring lelah namun cantik, dan ketiga anaknya yang sehat sempurna.

Harta, tahta, dan jabatan yang ia kejar selama ini terasa tidak ada artinya dibandingkan kebahagiaan sederhana yang sedang ia rasakan saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!