"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: SIMFONI BAJA DAN STRATEGI BAYANGAN
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Di mataku, dunia ini bukan lagi hamparan beton dan kaca. Melalui lensa augmented reality yang kupancarkan ke kacamata khususku, Vipera Tower telah berubah menjadi susunan vektor, titik panas termal, dan jalur probabilitas balistik. Angin malam yang menderu di ketinggian lantai 60 bukan lagi sekadar cuaca; itu adalah variabel hambatan udara yang harus kuhitung untuk memastikan jalur terbang 'burung-burung' kecilku.
"Papa, tahan posisimu di balik pilar sektor B. Jangan biarkan egomu menarik pelatuk sebelum aku memberikan koordinat absolut," ucapku datar melalui earpiece frekuensi rendah.
Aku duduk di kursi kebesarannya, jemariku menari di atas keyboard holografik yang kupasang sendiri semalam. Di layar utama, puluhan titik merah—tentara bayaran Iron Fang—mulai melakukan rappelling dari atap gedung seberang. Mereka mengira kegelapan adalah sekutu mereka. Mereka salah besar. Di bawah kendaliku, kegelapan adalah kanvas tempat aku melukis kehancuran mereka.
“Lea, status di bunker?” tanyaku melalui Shadow Talk.
“Mama sedang mencoba fokus pada buku seni yang kuberikan, tapi kadar kortisolnya meningkat. Aku sedang menanamkan sugesti bahwa suara benturan di luar hanyalah renovasi pipa gedung. Tapi Kak, dua penyusup kelas kakap sedang mencoba masuk lewat jalur ventilasi darurat bunker. Mereka menggunakan kamuflase termal tingkat lanjut,” suara Lea berdesir di benakku, dingin namun waspada.
“Biarkan mereka masuk sampai ke titik jebakan Alpha-4. Aku sudah memasang gas saraf non-letal di sana. Pastikan Mama tidak melihat saat mereka tumbang,” balasku.
Aku kembali fokus pada Damian. Melalui monitor, aku melihatnya berdiri tegap dengan senapan laras panjang di tangannya. Ia tampak seperti patung dewa perang yang haus darah. Namun, ia tidak bergerak. Ia patuh pada instruksiku—sebuah pemandangan yang pasti akan membuat seluruh dewa mafia di dunia ini pingsan karena tidak percaya.
"Sekarang, Papa. Sektor 4, sudut elevasi 15 derajat ke arah gedung Medusa. Tembak pada bayangan di balik antena satelit," perintahku.
DAR!
Satu tembakan dilepaskan. Tanpa jeda, aku melihat titik merah di monitor menghilang. Satu sniper musuh tereliminasi bahkan sebelum ia sempat membidik jendela kantor.
"Presisi yang bagus, Papa. Tapi jangan terlalu bangga. Kau meleset dua milimeter dari titik tengah dahi," komentarku dingin.
"Kau benar-benar pengawas yang cerewet, Leo," gerutu Damian melalui radio, namun aku bisa mendengar nada kekaguman yang tak bisa ia tutupi.
Aku menekan tombol 'Execute' pada protokol drone lebah. Di luar gedung, ratusan drone kecil yang tadinya diam kini meluncur seperti badai hitam. Mereka tidak menembakkan peluru; mereka menyerang sistem elektronik pada helm dan senjata musuh. Dalam sekejap, para tentara bayaran itu buta dan tuli di tengah udara.
"Ini bukan lagi perang, ini adalah pembersihan hama," gumamku. Aku memutar kursi, menatap bayangan diriku di kaca yang tertutup baja. Di balik tubuh mungil ini, jiwaku sedang tersenyum. Sudah lama sekali aku tidak merasakan adrenalin dari sebuah strategi yang tereksekusi sempurna.
POV: DAMIAN XAVIER
Aku menarik napas dalam, aroma mesiu dan udara AC yang dingin memenuhi paru-paru. Setiap kali senjataku menyalak, aku merasa seperti sedang melakukan tarian kematian yang diarahkan oleh seorang konduktor kecil. Dan konduktor itu... adalah anakku sendiri.
Rasanya gila. Aku, Damian Xavier, yang biasanya menyerbu markas musuh dengan kemarahan buta, kini bergerak dengan presisi bedah saraf. Leo memberikan informasi yang begitu akurat hingga aku merasa seperti memiliki mata di belakang kepala.
"Sektor 7, Papa. Tiga orang menembus kaca lantai 58. Gunakan granat fragmen di jalur pipa gas. Aku sudah mematikan aliran gasnya, jadi tidak akan ada ledakan besar, hanya efek kejut tekanan udara," suara Leo terdengar di telingaku, tanpa emosi, layaknya komputer yang sedang membacakan resep masakan.
Aku berlari menuju tangga darurat, melompat melewati beberapa anak tangga dengan kelincahan yang baru kusadari meningkat karena rasa percaya diri yang diberikan Leo. Saat pintu lantai 58 terbuka, tiga pria berseragam taktis Iron Fang sedang mencoba menstabilkan diri.
Aku tidak memberi mereka kesempatan. Sesuai instruksi Leo, aku melempar granat ke arah pipa.
BOOM!
Suara benturan udara yang dahsyat membuat mereka terlempar ke dinding kaca. Aku segera melumpuhkan mereka dengan tembakan jarak dekat di bagian kaki dan bahu. Leo ingin mereka hidup-hidup untuk diinterogasi—atau lebih tepatnya, untuk 'dibedah' secara mental oleh Lea nanti.
"Lantai 58 bersih, Jenderal kecil," ucapku, sedikit terengah.
"Bagus. Tapi Papa terlalu lama tiga detik dalam melakukan transisi senjata. Benahi itu di sektor berikutnya," balas Leo.
Aku terkekeh sambil menyeka keringat di pelipis. "Kau tahu, Leo? Jika kau bukan anakku, aku pasti sudah sangat ketakutan memilikimu sebagai musuh."
"Jika aku bukan anakmu, Papa tidak akan punya kesempatan untuk berbicara sejauh ini," jawabnya telak.
Aku melanjutkan pergerakan. Di tengah kekacauan ini, aku menyadari sesuatu yang mendalam. Selama bertahun-tahun, aku membangun Vipera Tower sebagai benteng kekuasaan. Tapi malam ini, di bawah bimbingan Leo, gedung ini terasa seperti sebuah rumah yang sedang kita pertahankan bersama. Aku tidak lagi bertarung untuk dominasi; aku bertarung untuk keselamatan keluarga yang baru saja kutemukan kembali.
Dan untuk Qinanti... aku akan memastikan tidak ada satu pun bayangan musuh yang bisa menyentuh pintunya.
POV: QINANTI
Di dalam bunker ini, segalanya terasa sunyi yang menyesakkan. Dinding-dindingnya dilapisi beludru kedap suara, namun aku masih bisa merasakan getaran samar dari lantai di bawah kakiku. Aku duduk di sofa, memeluk sebuah bantal erat-erat. Di depanku, Lea sedang asyik menggambar sesuatu di buku sketsanya dengan krayon berwarna merah dan hitam.
"Lea, sayang... apa kau benar-benar yakin itu hanya suara renovasi?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
Lea mendongak, matanya yang besar menatapku dengan ketenangan yang menghujam jantung. "Mama, renovasi gedung tua memang berisik. Tapi Papa dan Kak Leo sedang memastikan semuanya berjalan sesuai jadwal. Mama tidak perlu takut. Lihat, Lea sedang menggambar taman mawar yang akan kita tanam di balkon nanti."
Aku melihat gambarnya. Sangat detail, namun ada sesuatu yang aneh. Di sudut gambar taman itu, ada sosok-sosok hitam yang tampak seperti sedang berbaring—seperti orang yang sedang tidur.
"Kenapa orang-orang ini tidur di tanah, Lea?"
"Karena mereka sudah lelah mengganggu kita, Ma," jawab Lea dengan senyum yang sangat manis, namun aku merasa ada hawa dingin yang merayap di punggungku.
Tiba-tiba, suara desis halus terdengar dari lubang ventilasi di sudut ruangan. Aku tersentak, namun Lea tidak bergerak. Ia justru meletakkan krayonnya dan menoleh ke arah ventilasi dengan tatapan yang sangat dingin.
"Mama, tutup matamu sejenak," bisik Lea. "Ada kejutan kecil yang sedang disiapkan Kak Leo untuk tamu-tamu nakal."
Aku menutup mataku, terlalu takut untuk membantah. Dalam kegelapan itu, aku mendengar suara dua benda jatuh ke lantai—gedebuk—diikuti oleh hening yang panjang.
"Sudah, Ma. Tamunya sudah tertidur karena lelah," ucap Lea kembali dengan nada riang.
Aku membuka mata dan melihat dua pria berseragam hitam tergeletak di depan pintu ventilasi yang terbuka. Mereka tidak bergerak, tapi dada mereka masih naik-turun secara teratur. Gas saraf, pikirku sekilas, teringat pada cerita-cerita Damian dulu tentang alat-alat keamanannya.
Lea bangkit, berjalan menuju salah satu pria itu, dan mengambil sebuah lencana kecil dari kerah bajunya. Lencana bergambar taring besi.
“Kak, dua taring sudah dicabut di bunker. Mama aman. Tapi aku mendeteksi pemimpin mereka, kapten Iron Fang, sedang mencoba menuju atap untuk melakukan ekstraksi darurat. Dia membawa hulu ledak mikro di tasnya. Dia berencana menghancurkan puncak gedung ini jika ia gagal,” suara Lea berdesir, kali ini aku mendengarnya bukan dengan telingaku, tapi seolah-olah pikiranku sendiri yang berbicara.
Aku menatap Lea dengan takjub sekaligus ngeri. Anak perempuanku... dia bukan sekadar genius. Dia adalah pelindung yang selama ini tidak kusadari.
"Lea... apa yang sedang terjadi sebenarnya?" tanyaku lirih.
Lea kembali duduk di pangkuanku, memeluk leherku dengan hangat. "Yang terjadi adalah, Papa sedang belajar menjadi pahlawan untuk kita, Ma. Dan Kak Leo sedang memastikan bahwa tidak ada lagi orang jahat yang bisa memisahkan kita. Mari kita tunggu mereka pulang untuk sarapan, ya?"
Aku memeluk Lea erat. Di tengah ketakutanku, ada rasa bangga yang luar biasa. Aku mungkin tidak mengerti strategi atau dunia bawah tanah, tapi aku mengerti satu hal: keluargaku sedang berperang untuk masa depan kami. Dan aku akan tetap berdiri di sini, menjadi tempat mereka pulang.
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
"Target terkunci di helipad atap, Papa. Kapten Iron Fang sedang mencoba memicu hulu ledak mikro," ucapku, jemariku bergerak secepat kilat untuk mengunci frekuensi detonatornya. "Aku sudah melakukan jamming pada sinyal nirkabelnya. Dia punya waktu 60 detik sebelum ia menyadari bahwa tombolnya tidak berfungsi."
Aku melihat melalui kamera luar. Damian sudah berdiri di pintu menuju atap. Ia tampak seperti siluet hitam di tengah badai lampu kota.
"Jangan tembak kepalanya, Papa. Aku butuh dia hidup untuk mendapatkan akses ke akun bank mereka di Swiss. Tembak di kedua lututnya tepat saat ia menoleh," instruksiku.
"Diterima, Marsekal," jawab Damian singkat.
Pemandangan di monitor sangat sinematik. Kapten musuh itu berbalik, wajahnya penuh keputusasaan saat melihat tombol detonatornya mati. Tepat saat itu, dua peluru Damian menembus lututnya secara bergantian dengan jeda kurang dari satu detik.
Kapten itu tumbang, mengerang kesakitan di bawah rintik hujan yang mulai turun.
Checkmate.
Aku menyandarkan punggungku di kursi, mematikan mode tempur pada monitor. Seluruh Vipera Tower kini kembali tenang. Pasukan pembersihan Marco sudah mulai bergerak untuk mengangkut para penyusup.
Aku melihat Damian berdiri di tepi atap, menatap ke arah kota Jakarta yang luas. Ia menurunkan senjatanya, lalu melihat ke arah kamera CCTV terdekat. Ia tahu aku sedang menontonnya. Ia memberikan jempol kecil ke arah kamera, sebuah gestur sederhana yang membuat dadaku yang kecil ini terasa sesak oleh sesuatu yang belum pernah kurasakan di kehidupan sebelumnya.
Kasih sayang seorang ayah. Strategi yang paling tidak logis, namun paling kuat yang pernah kutemui.
Aku membuka jalur komunikasi ke bunker. "Lea, misi selesai. Bawa Mama ke ruang kerja Papa. Aku sudah memesan sup hangat untuk menenangkan sarafnya."
“Dimengerti, Kak. Papa sudah di jalan?”
“Dia sedang menikmati kemenangannya sejenak. Tapi aku yakin, dia lebih ingin melihat senyum Mama daripada melihat tumpukan mayat musuh,” jawabku.
Malam itu, di lantai 60 Vipera Tower, badai baja telah usai. Aku bangkit dari kursi, merapikan jas miniku, dan bersiap menyambut orang tuaku. Kami bukan lagi sekadar keluarga yang dipersatukan oleh darah dan rahasia. Kami adalah sebuah unit tempur, sebuah dinasti yang baru saja membuktikan bahwa di papan catur ini, raja tidak hanya dilindungi oleh pionnya, tapi raja bertarung bersama pewarisnya untuk menjaga ratunya.
Dan bagi Iron Fang atau siapapun yang masih bersembunyi di kegelapan... biarkan ini menjadi peringatan. Keluarga Xavier tidak sedang bermain-main.