Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang buruk telah terjadi
Setelah itu Maira pun bersiap-siap, ia memasukkan pakaian dan perlengkapan lain untuk satu minggu kedepan. Kemungkinan paling lama menurut bosnya.
"Sudah siap semua, Sayang?" tanya Agam yang sejak tadi membantunya berkemas.
"Sudah, Mas." Maira terlihat lesu.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa, Mas. Mungkin aku hanya sedikit lelah saja."
"Ya sudah, lebih baik kau mandi. Dengan begitu tubuhmu akan lebih segar," saran Agam.
Maira pun beranjak dari tempatnya mengikuti saran suaminya. Ia melangkah ke kamar mandi dan menghabiskan beberapa saat waktunya disana. Berendam sambil menikmati aroma wangi sabun ternyata bisa membuatnya menjadi lebih rileks.
Malam itu, akhirnya Maira benar-benar berangkat ke Surabaya bersama bos dan timnya menggunakan mobil kantor. Meski dengan perasaan yang sedikit mengganjal, ia tetap pergi juga.
Sementara Agam, ia kembali ke rumahnya. Melintasi jalanan yang terguyur hujan yang cukup lebat.
Ia memasuki rumahnya setelah pak Kasim membukakan pintu untuknya. Agam melewati malam itu dengan mata yang enggan terpejam. Ya, ia sebenarnya sangat rindu sekali dengan istrinya. Mengingat sudah lebih dari satu minggu berlalu tanpa cumbuan panas diatas ranjang.
Maira, maafkan aku yang tidak mampu mencegah mu untuk pergi.
Agam berbicara sambil memandangi foto masa remajanya bersama gadis cantik yang berada disampingnya. Ia masih ingat foto itu diambil sesaat setelah ia dan Maira lulus dari jenjang SMU.
Hingga tak terasa matanya yang sudah sejak tadi menahan kantuk pun menjadi terpejam, dengan foto berada dalam pelukannya.
Hari-hari berikutnya Agam melewatinya dengan rasa sepi di dalam hatinya. Ia tidak pernah berada jauh dari istrinya sebelumnya. Meski teknologi sudah sangat canggih, namun tetap saja panggilan video tidak dapat menggantikan kehadiran Maira yang sebenarnya disisinya.
Dua hari berlalu, dan haru ini adalah hari dimana Agam mendapat undangan atas acara yang diselenggarakan oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Tidak bisa mengajak istrinya, Agam pun memutuskan untuk pergi bersama kumpulan para jomblowan di kantornya. Sebenarnya mereka jomblo bukan karena tidak ada yang mau juga, tapi karena mereka terlalu agresif pada wanita alias penjahat dalam tanda kutip.
Dan malam ini, mereka menjemput Agam kerumahnya.
"Jadi pergi nggak? Lesu amat cuma ditinggal bini sebentar doang," ejek Doni.
"Ayolah, Gam. Justru ini saatnya lo bersenang-senang, ya nggak, bro?" timpal Andi.
"Bukannya gitu, gue udah beristri nggak kayak kalian. Ada tanggung jawab yang harus gue emban. Setia dan menghormati seorang istri itu bukannya karena apa-apa, tapi emang udah seharusnya kayak gitu." Agam menjawab dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Jadi ribut sih? Berangkat nggak nih? Gue nggak sabar pengen having fun , pasti banyak cewek cantik disana." Tony yang merupakan pemilik mobil pun ikut menimpali.
Dan mendengar hal itu, Agam pun masuk kedalam mobil.
"Gitu dong, sesekali lepasin beban lo. Pergi sama kita-kita kayak gini, nggak harus ikut bobrok kayak kita juga nggak masalah ya nggak sih?" ujar Doni.
"Udahlah, Don biarin aja. Agam kan memang bukan seperti kita, jadi jangan dipaksa lah." Tony kembali bersuara dan menjadi penengah. Dia adalah orang yang paling bobrok tapi juga sekaligus yang paling dewasa. Namun sayangnya untuk urusan wanita ia sangat nakal, tidak pernah bisa hidup hanya dengan satu wanita. One night stand sudah seperti mendarah daging dalam dirinya. Tapi herannya ia tetap sehat-sehat saja meski sudah bergonta-ganti wanita hampir tiap malam.
Sementara Dony dan Andi, mereka tidak separah Tony yang lebih suka bermain wanita. Kedua lelaki ini lebih suka mabuk dan berjudi.
"Woohooo ... mewah banget, bro. Ceweknya pasti berkelas nih," ujar Tony saat mobilnya sampai di hotel tempat acara perusahaan itu diselenggarakan.
Mereka semua pun turun dan masuk kedalam bersamaan. Orang-orang penting bahkan sudah berdatangan. Bahkan jajaran direksi juga sudah lengkap semua.
Malam itu, acara berlangsung dengan baik dan sukses. Bukan hanya Tony dan kawan-kawannya yang menghabiskan malam dengan banyak minuman, tapi juga hampir semua tamu laki-laki yang datang pun melakukannya karena yang punya acara yang mengundang dan memintanya.
Bahkan Agam pun tak bisa menghindar, entah berapa banyak minuman yang ia teguk. Yang pasti karena ia tidak pernah minum sebelumnya, ia pun sudah sangat mabuk saat ini. Berbeda dengan Tony dan kawan-kawannya yang masih biasa saja.
Mereka tertawa terbahak-bahak melihat Agam yang terus meracau tidak karuan. Karena merasa kasihan, Tony pun mengantarkannya pulang kerumahnya.
"Bisa jalan nggak, lo?" tanya Tony diiringi tawanya.
"Bisa, tenang aja bos!" Agam sudah ngawur dari tadi dan mengira jika Tony adalah bosnya.
"Hahaha ... ya udah, ati-ati," ujar Tony diiringi tawa lepas melihat Agam. Ia lalu kembali mengendarai mobilnya meninggalkan Agam yang berjalan sempoyongan memasuki halaman rumahnya.
Saat ini waktu telah menunjukkan pukul 00.20 WIB. Lampu rumah Agam juga sebagian sudah dimatikan oleh pak Kasim ataupun Sita.
Agam mengetuk pintu rumahnya sambil bersandar di dinding. Dan tak berapa lama, Sita pun membukakan pintu itu untuknya.
"Astaghfirullah, Pak Agam." Sita terkejut mendapati majikannya dalam keadaan sangat kacau.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanyanya seraya langsung menubruk tubuh Sita dan mendaratkan bibirnya di kening gadis itu.
"Saya Sita, Pak. Bukan mbak Maira," jawab Sita seraya meronta melepaskan diri dari pelukan majikannya.
"Bantu aku, Sayang. Kepalaku pusing sekali," pinta Agam setelah melepaskan pelukannya. Sekarang dengan bantuan Sita, Agam berjalan sempoyongan dan ambruk di sofa. Ia menarik Sita hingga gadis itu jatuh diatas tubuhnya.
"Lepaskan saya, Pak!" Sita meronta dengan sekuat tenaga agar bisa lepas dari Agam.
"Kau ini kenapa? Aku sangat merindukanmu, Maira." Agam membalik posisinya sehingga Sita kini berada dibawah tubuhnya.
Gadis itu sudah berlinangan air mata karena Agam menindihnya dan mengunci tubuhnya. Lelaki itu membuka pakaiannya sambil bibirnya mulai bergerilya menyusuri bagian wajah Sita.
"Lepaskan saya, Pak. Saya Sita, bukan mbak Maira. Lepaskan saya!" Sita yang sudah berderaian air mata itu masih berusaha melawan. Tapi karena tubuh Agam jauh lebih besar dari tubuhnya, ia pun masih terkunci dibawah tubuh Agam.
Ia begitu ketakutan saat ini, Tapi Agam yang begitu kuat meski dalam keadaan mabuk itu sudah berhasil menanggalkan celananya. Dengan sangat kasar ia pun melepaskan semua yang dikenakan oleh gadis itu.
"Jangan, Pak. Jangan lakukan ini pada saya!" Sita tergugu sambil menatap mengiba pada lelaki yang sedang mabuk itu. Untuk sesaat matanya menangkap bayangan, yang Sita perkirakan itu adalah bayangan pak Kasim. Ruangan yang temaram serta posisinya yang berada di bawah tubuh Agam membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Ditambah lagi pandangannya tidak lagi jernih karena matanya yang dipenuhi air mata.
"Aku sangat merindukanmu, Maira." Itulah yang Agam ucapkan sejak tadi, tanpa peduli siapa yang sedang ia gauli malam ini.
Dengan sangat kasar Agam menerobos pertahanan Sita yang memang masih gadis. Menorehkan kenangan buruk bagi seorang Sita yang masih begitu polos.
gw intip koq gk ad🙃