Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati Lampu
Ruang kamar yang cukup luas tanpa pajangan atau hiasan apapun. Terlihat polos dan sederhana, terdapat sosok wanita tengah tidur terlentang sambil menatap layar televisi yang baru saja tertutup kegelapan.
"Mati lampu?" benak Sukma menatap sekeliling,
"..." Seketika mengingat gadis lain yang tinggal di dalam rumah,
"Aku harus mengecek keadaan Myra. Anak itu, tidak terbiasa di dalam kegelapan!" sontaknya melangkah turun,
Dengan sigap salah satu tangan meraba laci di samping ranjang, demi meraih ponsel agar memberinya secercah sinar.
Sengaja disandarkan pada badan lampu tidur guna menyorot rak laci yang hendak digeser, mengutip dua buah lilin putih berukuran besar tak lupa juga mengambil korek api yang ada di atas meja.
Dengan cepat Sukma melangkah dan melewati pembatas kamar demi bergegas mendatangi kamar yang berada di samping ruang tamu.
"Myra!" panggilnya meraih knop pintu,
Brak!
"Myra---"
"..."
"Kamu belum tidur?" ucap Sukma terkejut melihat gadis yang masih terjaga, padahal Myra jarang sekali tidur di atas jam sembilan.
Ditatapnya selimut tebal membalut seluruh tubuh gadis yang sedang telungkup, dari area leher hingga ujung kaki. Nyaris saja Myra tertangkap basah,
Kedua manik yang membulat sempurna sedang menatap Sukma dengan raut terkejut, "I-iya belum. Aku masih---menonton film,"
Sengaja dia mengangkat ponselnya sebagai barang bukti. "Ada apa?"
"Aku membawakan lilin. Tidak nyaman tidur dalam kegelapan," sahut Sukma mulai melangkah masuk demi meletakkan benda yang dibawa ke atas laci,
"Apa perlu ku hidupkan?" tawar Sukma mengangkat alis,
"Tidak! Tidak usah, aku bisa sendiri---terima kasih, kamu jadi repot karena harus mengantar lilin ke kamarku." gumamnya membuat wanita itu merasa bingung.
Kedua alis bertaut berkat perkataan yang jarang terdengar, bahkan tak pernah menduga jika mulut Myra mampu mengeluarkan kalimat sopan.
"Kamu yakin tidak apa apa? Atau perlu kutemani tidur?" tawarnya mulai mendekat,
"Tidak---tidak, tidak! Aku ingin tidur sendiri. M-maksudku, aku terbiasa tidur sendiri dan merasa tidak nyaman jika berbagi ranjang dengan orang lain." lugas Myra tersenyum sepat, berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Baiklah, kalau kamu menolak. Aku akan kembali ke kamarku--dan jangan lupa kunci jendelanya," seru Sukma sempat menoleh ke arah cahaya yang masuk dari sela pembatas,
Beruntung tidak curiga dan tidak tahu usaha Myra yang berlari cepat demi menutup lubang ventilasi tadi, "Iya, iya. Kembalilah---selamat malam!"
"Selamat malam juga," pamit Sukma seraya menutup rapat pintu kamar.
Gadis itu terdiam beberapa saat sambil menatap pintu, berusaha memastikan hentak langkah kaki yang menghilang dari pendengaran.
"Hh, syukurlah ga ketahuan." pikir Myra menghela nafas lega,
"Tapi kenapa aku malah menutupinya dari Sukma?"
Di sisi lain, Rafan yang masih terbaring di bawah selimut, mulai kesulitan bernafas.
Tersiksa selama beberapa saat karena harus menopang tubuh gadis yang telungkup tepat di atas tubuhnya,
Grep.
Terpaksa melilit pinggang kecil Myra demi berpindah posisi.
"Apa yang kamu lakukan?!" ucapnya lirih dengan tatapan tajam,
"Hanya melakukan hal yang sama, dengan apa yang baru saja kamu lakukan padaku." bisik Rafan tersenyum puas.
"Cepat menyingkir!" tegas Myra, mendorong kuat dada bidang di atasnya.
Namun tak menghasilkan apa pun, mereka masih berada di posisi yang sama. Tubuh berotot Rafan tak berpindah meski sudah didorong keras,
"Ayo kita pergi dari sini,"
"Hah? Kamu masih bersikeras mengajakku keluar!" sontak Myra mengerutkan alis.
"Tentu saja, Ayo." tegasnya tersenyum cerah,
Raut dengan sorot mata yang memancarkan keteguhan serta bibir yang melengkung sempurna. Tanpa rasa bersalah Rafan tersenyum bak anak kecil yang mengajak temannya bermain.
"Dengar, apa kamu tahu wanita tadi. Dia itu yang selalu mengawasiku! Tidak mudah untuk bebas darinya," dusta Myra,
"Tunggu! Apa yang kulakukan? Kenapa berbohong. Seharusnya aku katakan kalau aku bukan sandera," benak Myra merasa bingung denga kalimat yang diucapkan.
"..."
"Eurgh---sudahlah. Cepat pergi dari sini!"
"Aku tidak akan pergi tanpamu," tolak Rafan menggeleng pasti.
"Jangan keras kepala! Pergilah. Jika kamu tetap di sini, itu akan menambah masalah untukku"
"Benarkah?" lugasnya sedikit khawatir,
"Kalau begitu--aku akan pergi nanti!" tambah Rafan tak ragu berganti posisi,
Melempar tubuh hingga berbaring tepat di samping Myra, sedikit miring demi mempermudah pandangan dan melihat Myra dari jarak dekat.
"Nanti? Apa yang kamu maksud. Pergi sekarang juga!" sanggah Myra sambil mendorong.
"Di luar sedang hujan. Aku tidak mau basah," rengek Rafan memohon, seketika rautnya berubah memelas. Enggan pergi meninggalkan Myra,
"Kamu berceloteh tentang badai yang mampu kamu terjang. Tapi apa sekarang?" seru Myra dengan tatapan mengolok.
"Itu akan kulakukan, jika kita pergi bersama. Tanpamu, keberanianku tidak akan muncul."
"Apa perlu aku panggil wanita tadi untuk mengusirmu pergi? Jika aku berteriak, dia akan langsung datang dengan sebuah pistol---lalu akan menembakimu!" tawarnya berusaha mengancam,
"Aku yakin kamu tidak akan tega melakukannya," lugas Rafan percaya diri,
"..." Myra terdiam sambil mengerutkan alis, merasa bingung akan respon yang didapat.
"Omong kosong!"
Myra berbalik memunggungi,
Tapi Rafan malah tersenyum puas sebab bisa menghabiskan waktu dengannya.
"Lihatlah, aku memiliki luka gigitan yang cukup parah karena kucing liar. Aku tidak mau luka ini semakin parah jika terkena hujan,"
"Kamu menyebutku kucing liar?!" ketus Myra kembali menoleh dengan raut kesal.
"Tidak, kapan aku bilang begitu?"
"Kamu pikir aku tuli! Barusan kamu menyebutkan luka ini, kan?" telunjuk itu terangkat ke hadapan Rafan, nyaris menyentuh permukaan kutikula pipinya.
"Tidak. Aku tidak mengatakan tentang luka ini," geleng Rafan dengan raut polos,
"Dan aku tidak merasa menyebutmu sebagai kucing,"
"Ini tidak akan ada habisnya. Dia sangat keras kepala!" hardik Myra dalam hati.
Sekilas menatap paras pria itu dengan raut sinis lalu memalingkan muka. Kembali berbalik membelakangi tubuh Rafan, berharap jika pria itu akan menyerah dan pergi setelah diacuhkan,
"Mimpi burukku jauh lebih indah, dibandingkan bertemu dengannya!" gerutu Myra,
"Apa kamu lupa atau sengaja?"
"Kamu menunjuk luka di pipiku dan menyebutnya sebagai luka gigitan---padahal ini luka karena lemparanmu." oceh Rafan tetap berbincang meski tak mendapat sahutan,
"Apa jangan-jangan, kamu berniat menggigit pipiku?" bisik Rafan sengaja menggoda,
Lelucon yang tak mampu diterima berhasil mengundang amarah dalam hati Myra, tak segan tangannya meraih senjata di atas laci.
Dap!
Menodongkan mulut pistol tepat pada kening pria tadi. Seketika mampu membungkam mulut Rafan,
Entah kenapa raut dingin yang Myra lontarkan malah mengundang tawa. "Apa maksudnya ini? Senjata palsu? Apa mereka juga mengajarimu cara menembak?"
"Hh! Padahal sudah kuancam dengan senjata, tapi dia masih mengira aku ini wanita lemah?" benak Myra, kewalahan menghadapi sikap aneh Rafan.
"Apa kamu benar-benar seorang polisi?"
"Kalau iya kenapa? Apa kamu menyukai seorang polisi?" timpal Rafan tersenyum,
"Tidak."
"Kalau begitu, anggap aku bukan polisi."