Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24: "KENANGAN YANG TIDAK BISA DILUPAKAN"
******
Reza bangun dengan kepala yang sedikit pusing. Kenangan tentang malam terakhir dengan Raisa terus terlintas di benaknya—terutama saat bibirnya menyentuh bibir Raisa dalam ciuman yang penuh dengan emosi. Meskipun dia telah merencanakan untuk menyatakan cintanya pada Maya hari ini, setiap kali dia melihat wajah Maya dalam pikirannya, yang muncul justru adalah wajah Raisa yang penuh dengan kesedihan.
Dia berdiri dan segera bergegas ke kampus. Maya sudah menunggu di taman kampus yang biasa mereka datangi, mengenakan baju warna biru muda yang membuatnya terlihat lebih cantik dari biasanya. Namun saat Reza mendekat, dia merasa hati nya terasa berat dan tidak bisa berkata apa-apa seperti yang telah direncanakan.
“Reza, kamu datang,” ucap Maya dengan senyum ceria. “Kamu bilang ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku kan?”
Reza mengangguk pelan namun kemudian menggeleng perlahan. “Maya… aku minta maaf,” ucapnya dengan suara lembut. “Aku tidak bisa melanjutkan apa yang telah aku rencanakan. Aku menyadari bahwa hatiku belum benar-benar siap untuk mencintai orang lain. Ada seseorang yang selalu berada di dalam hatiku, bahkan tanpa aku sadari.”
Maya melihatnya dengan wajah yang penuh dengan pemahaman. “Kamu berbicara tentang Raisa bukan?” tanya dia dengan lembut. Reza hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa. “Sudah tidak apa-apa, Reza. Aku bisa merasakan bahwa kamu memiliki perasaan khusus padanya. Kamu harus mengikutinya sebelum terlambat.”
Setelah berpamitan dengan Maya, Reza segera bergegas ke rumah Sri Wahyuni. Dia ingin mencari Raisa dan mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan—bahwa ciuman pertama nya yang dicuri oleh Raisa telah mengubah segalanya, dan bahwa dia menyadari bahwa perasaannya terhadap gadis itu jauh lebih dalam dari sekadar teman.
Namun saat dia sampai di rumah Sri Wahyuni, pintu rumah terbuka lebar dan Sri Wahyuni sedang duduk di teras dengan wajah yang merah karena menangis. Dia melihat Reza datang dan segera berdiri.
“Kamu mencari Raisa ya, Nak?” tanya Sri Wahyuni dengan suara bergetar. “Dia sudah pergi. Pesawat nya sudah lepas landas sekitar satu jam yang lalu.”
Reza merasa seperti dunia nya berhenti berputar. Dia berdiri diam dengan wajah yang penuh dengan kejutan dan kesedihan. “Kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa dia pergi begitu saja?”
“Dia ingin memulai hidup baru jauh dari sini, Nak,” jawab Sri Wahyuni dengan lembut. “Dia merasa bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk melupakan semua yang telah terjadi.”
Reza berjalan masuk ke rumah dan melihat kamar yang pernah ditempati Raisa. Semua barang nya sudah tidak ada lagi, hanya tersisa beberapa buku lama yang terlupakan di rak. Dia mengambil salah satu buku dan melihat catatan kecil yang tertulis di sampul dalamnya: “Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik.”
“Aku tidak bisa percaya kamu pergi begitu saja,” bisik Reza dengan suara penuh dengan kesedihan. “Setelah memberikan kenangan yang tidak bisa aku lupakan… setelah membuat hatiku semakin bingung tentang apa yang sebenarnya aku rasakan.”
Dia keluar dari rumah dan berdiri di halaman depan, melihat ke arah jalan yang telah dilewati Raisa untuk pergi ke bandara. Dia menutup matanya dan berdoa agar suatu hari nanti mereka bisa bertemu lagi, sehingga dia bisa mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan sebelum terlambat.
Sementara itu, di rumah Rio dan Ratna, suasana semakin sepi dan penuh dengan ketegangan. Mereka masih hidup bersama di bawah satu atap dan merawat Bara bersama-sama, namun hubungan mereka sudah tidak lagi seperti dulu. Mereka berbicara hanya sebatas hal-hal yang perlu saja, dan selalu menjaga jarak satu sama lain.
“Kita harus berbicara tentang ini, Rio,” ucap Ratna satu pagi saat mereka sedang makan sarapan bersama. “Kita tidak bisa terus hidup seperti ini—seolah kita adalah orang asing yang tinggal bersama.”
Rio mengangguk pelan dan menjawab, “Aku tahu, sayang. Aku juga merasa sangat sulit untuk menghadapi kamu setelah semua yang telah terjadi. Aku merasa sangat bersalah telah menyakiti kamu dan Raisa.”
“Kita sama-sama memiliki kesalahan, Rio,” jawab Ratna dengan suara lembut. “Aku juga merasa bersalah karena tidak pernah menyadari apa yang sedang terjadi di antara kamu berdua. Kita harus mencari cara untuk memperbaiki hubungan kita ini, untuk Bara dan untuk kita sendiri.”
Rio mengambil tangan Ratna dengan lembut dan berkata, “Aku akan melakukan apa saja untuk memperbaiki segalanya, sayang. Aku mencintaimu dan Bara lebih dari apa-apa di dunia ini. Aku tidak ingin kehilangan kamu berdua juga.”
Mereka saling melihat dengan mata yang penuh dengan harapan dan penyesalan. Mereka tahu bahwa akan membutuhkan waktu yang lama untuk memperbaiki semua yang telah rusak, namun mereka bersedia untuk mencoba demi kebahagiaan keluarga mereka.
Di negeri jauh yang dingin, Raisa sedang berdiri di balkon apartemen baru nya yang menghadap ke sungai yang indah. Dia melihat matahari yang mulai terbit dengan mata yang penuh dengan harapan. Meskipun hatinya masih sakit karena semua yang telah terjadi, dia bertekad untuk membuat hidup baru yang baik dan bahagia.
Dia mengambil buku yang pernah dibelikan oleh Reza dan melihat catatan kecil yang ada di dalamnya. Dia tersenyum lembut dan berkata perlahan, “Semoga kamu semua bahagia di sana. Dan semoga suatu hari nanti, kita bisa bertemu lagi sebagai orang yang lebih baik.”
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...