NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Roda Ninja hijau Sandi akhirnya berhenti dengan deru halus di depan gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi—pintu masuk ke "istana" keluarga Saskia. Saskia turun perlahan, jemarinya sedikit kaku saat membuka pengait helm milik Anggita. Ia menyodorkan helm itu ke arah Sandi tanpa suara, matanya masih tampak sisa-sisa melamun dari pelukannya di motor tadi.

"Lo simpan di rumah lo saja dulu, Sas," kata Sandi sembari menahan helm itu. "Biar besok pas lo berangkat sekolah pakai mobil, lo bisa kasih langsung ke Anggita. Kalau gue yang bawa, ribet nyantolnya di motor, takut lecet."

Saskia yang sedari tadi hanya diam membisu, hanya bisa mengangguk pelan. Atmosfer di antara mereka terasa sedikit lebih berat setelah percakapan idealis Sandi di jalan tadi.

Sandi menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tulus. "Gue pamit ya kalau gitu. Maaf kalau jawaban atas pertanyaan lo di jalan tadi kurang memuaskan hati lo."

Namun, tepat saat Sandi hendak menarik gas untuk memutar balik, tangan Saskia bergerak cepat mencengkeram lengan jaket Sandi. Cengkeramannya kuat, seolah ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya.

Sandi tersentak, ia menetralkan kembali persneling motornya dan menoleh heran. "Ada apa lagi, Sas?"

Saskia hanya menunduk. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin sore menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak bersuara, namun tangannya enggan melepaskan genggaman dari lengan Sandi. Keheningan itu berlangsung beberapa detik, membuat Sandi mulai merasa canggung.

Sandi menghela napas panjang, lalu mencoba jurus andalannya untuk mencairkan suasana. "Ada apa sih, Saskia Fiana Putri Tralala Trilili? Kok mendadak jadi patung selamat datang begini?"

Pertahanan Saskia untuk tetap bersikap melankolis seketika runtuh. Sebuah kekehan kecil lolos dari bibirnya saat mendengar nama absurd yang disematkan Sandi padanya. Ia mendongak, matanya kembali berbinar jenaka.

"Ih, Sandi mah! Cuma kamu doang yang bisa buat aku nggak bisa tahan ketawa kalau lagi pengen sedih," keluh Saskia sambil mencibir gemas.

"Abis dari tadi lo diam saja, gue kan jadi bingung," sahut Sandi enteng. "Emang lo butuh apa lagi?"

Saskia terdiam sejenak, matanya beralih menatap gerbang megah rumahnya yang mulai terbuka otomatis karena satpam di dalam sudah mengenali motor Sandi. "Nggak ada... cuma..." Ia menjeda kalimatnya, tampak ragu. "Aku... aku mau kamu mampir ke rumahku dulu, San. Sebentar saja."

Sandi terkekeh kecil sambil menggeleng pelan. "Nggak sekarang ya, Sas. Sudah mau magrib, gue harus bantu Nyokap di rumah." Ia melihat wajah Saskia yang mulai agak mendung lagi, lalu buru-buru menambahkan, "Nanti saja kalau kita ada tugas kelompok lagi, kita atur ngerjainnya di rumah lo. Gimana? Gue yakin Anggita, Andra, dan Vino bakal setuju banget kalau diajak 'studi banding' ke rumah lo yang kayak mal ini."

Mata Saskia langsung melebar, senyumnya merekah lebar. "Beneran, San?"

Sandi mengangguk mantap. "Iya, nanti gue yang bantu komporin mereka. Kalau ada tugas kelompok baru, kita ngerjainnya di rumah lo. Full time dari pagi sampai malam kalau perlu, biar lo puas traktirin kita makan enak."

Saskia tertawa senang dan mengangguk penuh semangat. "Janji ya, San! Pokoknya harus jadi!"

"Iya, janji. Yaudah, sekarang gue cabut ya. Lo masuk sana, entar dicariin Nyokap lo," tutup Sandi.

Saskia melambaikan tangannya dengan ceria, berdiri di depan gerbang sampai sosok Sandi dan motor Ninjanya hilang di tikungan jalan Pondok Indah. Sandi sendiri hanya bisa menggelengkan kepala di balik helmnya, merasa heran dengan perubahan mood Saskia yang begitu cepat. Ia memutar gas lebih dalam, memacu motornya menuju Jatinegara, meninggalkan kawasan elit itu menuju realitas hidupnya yang sederhana namun penuh prinsip.

Ninja hijau Sandi membelah padatnya aspal Jakarta Timur dengan lincah. Selap-selip di antara deretan mobil yang terjebak macet sudah menjadi keahliannya sehari-hari. Udara Jatinegara yang mulai mendingin menyambut kedatangannya saat ia memarkirkan motor di depan rumah sederhananya.

Di dalam, lampu neon kuning temaram menerangi sosok ibunya yang sedang duduk di balai-balai kayu, sesekali memijat kakinya yang mungkin terasa pegal setelah seharian bekerja.

"Sandi pulang, Bu," sapa Sandi sambil mendekat dan menyalami tangan ibunya dengan takzim.

Ibu Sandi menoleh, gurat lelah di wajahnya seketika luntur berganti senyum hangat. "Kok malam banget pulangnya, Sayang? Ibu sudah mulai khawatir tadi."

Sandi meletakkan tasnya di atas meja kayu. "Iya, Bu. Tadi Sandi harus antar si 'Oneng' Saskia dulu ke Pondok Indah. Bayangkan saja, Bu, bisa-bisanya dia bilang ke Mamanya supaya nggak dijemput tanpa kasih tahu kita dulu. Kalau tadi teman-teman yang lain nggak ada yang bisa antar, kan repot urusannya. Mana dia nggak bawa helm sendiri lagi."

Ibu Sandi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sudah hafal dengan tingkah laku Saskia yang memang kadang terlalu polos dan teledor sejak kecil. "Ada-ada saja ya kelakuan anak itu. Mungkin dia memang kangen pengen pulang bareng kamu, San."

Sandi hanya terkekeh hambar, tidak ingin terlalu jauh menanggapi godaan ibunya.

"Ya sudah, kamu langsung mandi sana. Biar segar badannya," lanjut ibunya sambil bangkit berdiri dengan perlahan. "Nanti kita makan malam sama-sama ya. Ibu sudah masak sayur bayam bening sama goreng tempe hangat. Alhamdulillah, mumpung tadi Pak Haji Romli sudah bayar tagihan bulanan cuciannya, jadi Ibu bisa belanja sedikit lebih banyak."

Mendengar kabar itu, Sandi tersenyum lebar. Ia tahu betul betapa berartinya pembayaran tepat waktu dari pelanggan bagi dapur mereka. "Wah, sedap itu, Bu! Apalagi bayamnya masih segar. Iya, Bu, Sandi mandi dulu ya."

Sandi melangkah menuju kamar mandi belakang dengan hati yang lebih tenang. Meski seharian ini penuh dengan drama tamparan dan pelukan di motor, hangatnya suasana rumah dan masakan ibu selalu menjadi obat penawar paling ampuh baginya.

Suasana makan malam di meja kayu kecil itu terasa begitu hangat. Wangi sayur bayam bening yang segar dan gurihnya tempe goreng seolah meluruhkan seluruh beban yang Sandi pikul seharian di sekolah. Di bawah sinar lampu neon yang sedikit berkedip, Sandi menatap wajah ibunya yang tampak kelelahan.

"Ibu... Ibu capek ya?" tanya Sandi lembut setelah meletakkan sendoknya.

Ibunya tersenyum tulus, gurat-gurat halus di wajahnya memancarkan kasih sayang. "Capek Ibu seketika hilang kalau sudah sama anak ganteng Ibu ini," jawab beliau menenangkan.

Sandi tidak membiarkan ibunya terus memaksakan diri. "Ibu berbaringlah. Biar Sandi pijat supaya besok badan Ibu segar lagi."

Sambil memijat punggung dan kaki ibunya, Sandi merasakan betapa kerasnya perjuangan sang ibu demi menghidupinya. Tak butuh waktu lama, napas sang ibu mulai teratur—beliau tertidur pulas. Sandi menarik selimut dengan perlahan, mengecup kening ibunya, lalu ia sendiri duduk bersandar di samping tempat tidur untuk mengulang pelajaran. Malam itu, Sandi tertidur dengan buku yang masih terbuka di atas dadanya.

Keesokan paginya, rutinitas kembali berjalan. Setelah mengantar cucian pelanggan, Sandi memacu Ninja hijaunya menuju sekolah. Namun, di tengah jalan, sebuah poster di depan sebuah bangunan menarik perhatiannya.

"LOWONGAN KERJA: PENYIAR RADIO SENJA JAKARTA"

Sandi berhenti sejenak. Syarat-syaratnya ia baca dengan teliti. Ada binar harapan di matanya; jika ia bisa bekerja di sini, ia bisa meringankan beban ibunya tanpa harus mengganggu jam sekolahnya yang padat.

Hari itu di sekolah, pikiran Sandi sedikit terbagi. Begitu bel pulang berbunyi, ia tidak langsung nongkrong dengan Kelompok Sableng. Ia bergegas ke sebuah warnet, mengetik surat lamaran dengan teliti, mencetaknya, dan melengkapi berkasnya di rumah. Tanpa membuang waktu, keesokan harinya ia menyerahkan amplop cokelat itu ke kantor radio tersebut.

Sandi tidak mau mengandalkan keberuntungan semata. Sore harinya, ia melipir ke Mall Arion. Di toko buku besar di sana, ia berdiri berjam-jam di rak komunikasi. Ia melahap teori tentang teknik vokal, intonasi, cara membangun chemistry dengan pendengar, hingga salam pembuka yang ikonik. Ia mempraktekkan "senyum dalam suara" di depan cermin toko buku.

Usahanya berbuah manis. Dua hari kemudian, sebuah surat resmi tiba di rumahnya.

"Ibu! Sandi dapat panggilan wawancara besok sore!" seru Sandi bahagia.

"Kerja di mana, Nak?" tanya ibunya terkejut sekaligus bangga.

"Radio Senja Jakarta, Bu. Jadi penyiar. Doakan Sandi ya, Bu."

Hari wawancara tiba. Sandi berdiri di antara pelamar lain yang tampak lebih dewasa darinya. Saat namanya dipanggil, ia masuk dengan langkah mantap. Ruangan wawancara itu beraroma kopi dan kertas. Di hadapannya, seorang wanita dari bagian personalia menatapnya dengan tajam namun ramah.

Sandi diminta melakukan simulasi. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan sedang berada di balik mixer audio, lalu mulai berbicara dengan intonasi yang ia pelajari di Mall Arion. Suaranya terdengar berat, jernih, dan penuh keramahan yang tulus.

"Sandi, kamu masih pelajar kelas 3 SMP. Bagaimana kamu membagi waktu jika diterima?" tanya sang personalia, menguji komitmennya.

Sandi menjawab dengan tenang, "Bagi saya, tanggung jawab adalah prioritas. Selama saya bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini, saya akan mengelola waktu saya dengan bijak antara pendidikan dan pekerjaan, Bu."

Wanita itu tersenyum tipis, mencatat sesuatu di berkas Sandi. "Baiklah, tunggu kabar selanjutnya dari kami ya."

Sandi keluar dari gedung radio dengan perasaan lega. Sesampainya di rumah, ia langsung memeluk ibunya, menceritakan betapa lancarnya proses tadi. Di dalam hati, Sandi berdoa agar pintu rezeki ini terbuka lebar, demi senyum ibunya yang tak lagi harus merasa lelah karena cucian yang menumpuk.

Matahari Sabtu pagi mulai merangkak naik, membiaskan cahaya keemasan di atas aspal Jatinegara yang masih menyisakan aroma embun. Sesuai kesepakatan Kelompok Sableng, Sandi telah bersiap dengan kemeja flanel lungsuran yang rapi dan jeans pudar. Setelah ritual rutin mencium tangan ibunya dan menyelesaikan tugas "ekspedisi" cucian ke para tetangga, ia memacu Ninja hijaunya menuju kawasan pemukiman yang lebih tenang tempat Vino tinggal.

Suasana di depan kediaman Vino sudah mulai hidup. Terparkir sebuah motor bebek milik Andra yang posisinya sangat presisi di sudut pagar. Namun, saat Sandi baru saja hendak mematikan mesin, sebuah sedan perak yang sangat ia kenali meluncur halus dan berhenti tepat di depan gerbang.

"Sansan!" seru Saskia, melompat turun dari kursi penumpang dengan keceriaan yang seolah tak pernah habis.

Mama Saskia pun ikut turun, penampilannya tetap elegan meski hanya untuk mengantar anaknya belajar kelompok. Sandi segera menghampiri, menunjukkan kesantunan yang sudah mendarah daging dengan merunduk dan meraih tangan wanita itu untuk bersalaman takzim.

"Sandi, Tante titip Saskia ya. Tolong jagain dia kalau dia mulai rewel atau 'oneng'-nya kumat," ucap Mama Saskia sambil tersenyum hangat.

"Pasti, Tante. Aman terkendali," jawab Sandi dengan nada meyakinkan.

"Oh iya, San, gimana kabar Ibu? Beliau ada waktu untuk bertemu Tante?" tanya Mama Saskia lagi, mengingatkan janji yang sempat tertunda.

Sandi tersentak pelan, raut wajahnya berubah sedikit canggung. "Aduh, maaf banget Tante. Sandi beneran lupa bicara ke Ibu soal itu. Kemarin pikiran Sandi sedang penuh sekali menyiapkan berkas lamaran."

Alis Mama Saskia bertaut, tampak terkejut. "Lamaran? Kamu mau nikah, San?".

Sandi seketika tertawa lepas, rasa geli menggelitik perutnya. "Bukan tante, astaga! Masa iya anak SMP masih ingusan begini sudah mau pelaminan. Makan saja masih senin-kamis, Tante. Belum berani kasih makan anak orang, hehehe."

Mama Saskia ikut tertawa renyah, suasana tegang pun mencair. "Oalah, Tante pikir apa. Berarti lamaran kerja, maksud kamu?"

Sandi mengangguk mantap, sorot matanya menunjukkan keseriusan. "Iya, Tante. Kemarin Sandi mencoba melamar kerja di salah satu stasiun radio. Syaratnya cukup fleksibel untuk pelajar, jadi Sandi nekat saja. Kemarin baru selesai sesi wawancara, sekarang tinggal menunggu kabar baiknya."

Mendengar itu, binar bangga terpancar dari mata Mama Saskia. Ia menatap Sandi dengan tatapan apresiasi yang dalam. "Wih, hebat kamu, San. Di usia segini sudah punya mental pejuang industri. Jarang ada anak muda yang mikir sejauh itu. Semoga lancar ya, Tante doakan kamu diterima."

"Makasih banyak ya, Tante. Doanya sangat berarti buat Sandi," jawab Sandi tulus.

Setelah berpamitan dan mengingatkan Sandi kembali untuk mengatur pertemuan dengan ibunya, Mama Saskia melajukan mobilnya meninggalkan gerbang rumah Vino. Namun, Saskia yang sedari tadi berdiri mematung sambil memasang telinga lebar-lebar, tampak tidak tenang.

"San? Kamu beneran mau kerja?" tanya Saskia saat mereka mulai melangkah menuju pagar rumah Vino.

"Iya, Sas. Gue mau bantu-bantu nyokap buat kebutuhan rumah. Syukur-syukur kalau keterima, beban Ibu bisa berkurang sedikit. Ayo masuk, Andra pasti sudah mulai 'menginvasi' dapur Vino di dalam," ajak Sandi tanpa beban.

Namun, langkah Sandi tertahan. Saskia menarik ujung jaketnya dengan gerakan yang ragu namun menuntut. "San? Kalau kamu kerja... berarti kamu sudah nggak punya waktu luang lagi ya?"

Sandi menoleh, menatap Saskia yang kini wajahnya tampak sedikit mendung. "Waktu gue kan memang paginya buat sekolah, Sas. Sorenya biasanya bebas, paling cuma bantu-bantu Ibu sepulang sekolah. Sayang saja kalau waktu sore sampai malam gue cuma bengong atau nongkrong nggak jelas. Mending gue pakai cari duit, kan?"

Saskia tertunduk, kakinya menyepak kerikil kecil di depan gerbang. "Berarti kalau aku..." Ia menjeda kalimatnya, suaranya mengecil.

"Aku kenapa?" tanya Sandi bingung.

Saskia mendongak, menatap Sandi dengan tatapan malu-malu yang tertutup kecemasan. "Kalau aku minta antar pulang sekolah... kamu sudah nggak bisa lagi ya?"

Sandi mengernyitkan kening. "Loh, kan lo biasanya dijemput nyokap pakai mobil, Sas. Untuk apa gue yang anterin lo pulang pakai motor?"

"Iya, maksudku... kalau aku lagi pengen naik motor sama kamu, berarti kamu sudah nggak bisa lagi kan kalau jadwalnya bentrok sama jam kerja kamu." cecar Saskia lagi.

"Gue juga belum tahu, Sas. Kalau sudah diterima dan jadwalnya keluar, baru gue bisa pastiin. Tapi ya kemungkinan besar emang bakal padat," jawab Sandi jujur.

Saskia tampak tidak puas. "Kalau kamu diterima dan jadwalnya pas pulang sekolah sampai malam, berarti fiks kamu nggak bisa antar aku lagi?"

Sandi menghela napas panjang, mencoba bersabar menghadapi sikap Saskia yang mulai posesif tanpa alasan jelas. "Saskia... gue kan di sana kerja, bukan main-main atau sekadar hobi. Gue butuh uang itu buat bantu biaya hidup Ibu. Jadi kalau jadwalnya memang seperti yang lo bilang, ya jawabannya sudah pasti gue nggak bisa. Lagi pula, apa pentingnya sih lo sampai pengen banget gue antar? Bukannya jauh lebih nyaman duduk manis di mobil ber-AC bareng nyokap?"

"Aku kan bosan, San! Berangkat mobil, pulang mobil. Aku juga sekali-kali pengen ngerasain angin jalanan, pengen naik motor sama kamu," keluh Saskia dengan bibir mengerucut.

Sandi menggeleng heran. "Lah, bukannya si Nanda juga punya motor? Kenapa nggak suruh dia saja yang jemput lo pakai motor? Motor dia jauh lebih mahal dan bagus daripada punya gue, Sas!".

Wajah Saskia seketika berubah masam. "Dia nggak mau jemput aku ke sekolah kita, San. Katanya jalanan ke sekolah kita itu kurang aman, dia takut motornya kenapa-kenapa."

Sandi terkekeh sinis. "Kurang aman gimana? Kita sekolah pagi sampai sore doang, kecuali dia jemput lo jam dua pagi, itu baru rawan begal. Alasan saja itu mah."

"Dia juga sudah nggak mau jemput sejak aku pindah ke SMP Pejuang Bangsa. Katanya lokasinya terlalu jauh dan ribet jalurnya. Kalau aku masih di Bhayangkara, dia baru mau," tambah Saskia dengan nada kecewa.

Sandi mendengus pelan, seolah sudah menebak tabiat pacar Saskia itu. "Yah, begitulah tipikal orang kaya yang takut kena debu. Nggak beda jauh sama lo kan, Sas?"

Saskia hanya bisa tertunduk diam mendengar sindiran telak itu.

"Sudah ah, gue mau masuk. Lo kalau masih mau berdiri di luar jadi satpam cadangan, silakan saja," kata Sandi sambil berbalik.

Tapi sekali lagi, Saskia menarik lengan Sandi. "Jadi kamu beneran tega nggak bisa antar aku pulang lagi, San?"

Sabar Sandi mulai mencapai batasnya. "Saskia Fiana Putri! Apa pentingnya sih gue nganterin lo? Gue berjuang cari kerja itu buat nyari duit, bukan buat tamasya!"

Saskia tersentak mendengar nada bicara Sandi yang meninggi. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... aku cuma pengen deket sama kamu saja, San. Aku merasa aman dan nyaman kalau pulang sama kamu, naik motor kamu."

Sandi menatap Saskia dengan pandangan yang sulit diartikan. "Sas! Gue bukan siapa-siapa lo. Lo itu sudah punya pacar, dan Nanda itu pacar lo. Seharusnya lo jaga perasaan dia dan jaga hubungan kalian. Kalau Nanda tahu lo sering minta antar sama gue, yang ada gue yang dituduh merusak hubungan orang. Gue nggak mau cari masalah."

Saskia bungkam seribu bahasa. Kata-kata Sandi menghujam tepat pada realita yang selama ini coba ia abaikan.

"Sudah ah, gue masuk!" pungkas Sandi tegas. Ia melangkah mantap menuju pintu rumah Vino tanpa menoleh lagi.

Saskia tetap berdiri di sana, di depan gerbang besi yang dingin, dengan kepala tertunduk. Ia merasa ada sesuatu yang mulai retak di hatinya, bukan karena ucapan Sandi, tapi karena ia menyadari betapa berbedanya dunia mereka saat ini.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!