Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Malam itu, suasana terasa sangat hangat dan akrab. Mereka berdua sedang duduk di lantai, menikmati camilan hangat buatan Alexa sambil sesekali bercanda. Genesis sedang bercerita tentang masa kecilnya yang dulu sering membuat ibunya marah karena kenakalan yang ia lakukan.
“…terus waktu itu gue bolos sekolah, terus main layangan di sawah. Pas pulang, Ibu udah tungguin di depan pintu pake sapu lidi,” cerita Genesis tertawa mengenang kenangan itu.
“Tapi lucunya, Ibu itu marah-marah doang, nggak pernah tega mukul gue. Dia cuma ngomel panjang lebar, tapi akhirnya dia masakin gue makanan enak juga.”
Alexa yang mendengar itu ikut tertawa, tapi matanya berbinar penuh kerinduan. Kenangan itu begitu jelas di kepalanya. Ia ingat betul kejadian itu. Ia ingat betul bagaimana ia khawatir setengah mati mencari anaknya, dan bagaimana ia akhirnya menyerah dan memeluk anaknya erat-erat.
Tanpa sadar, karena terlalu hanyut dalam cerita, nada bicara Alexa berubah total. Kata-kata dan intonasi itu persis seperti dulu saat ia menjadi Ibu.
“Ya iyalah masa Ibu tega mukul kamu sih…” jawabnya sambil mencubit lengan Genesis pelan. “Kamu itu kan anak tunggal Ibu, harta Ibu yang paling berharga. Walaupun kamu bandel, walaupun kamu nakal, tetep aja anak kesayangan Ibu.”
Suasana tiba-tiba menjadi hening.
Tawa di bibir Genesis menghilang seketika. Ia menatap Alexa dengan mata terbelalak, alisnya terangkat tinggi penuh tanda tanya.
Alexa baru sadar. Duh! Astaga! Aku ngomong apa?!
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya memucat drastis. Jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik.
Genesis mengerjap beberapa kali, menatap wajah Alexa lekat-lekatkan. “Tadi… tadi lo ngomong apa?”
“E-eh?! Nggak! Aku nggak ngomong apa-apa!” Alexa buru-buru mundur sedikit, panik setengah mati.
“Maksud aku… maksud aku… kalau jadi ibu kan pasti gitu ya! Siapa juga yang tega nyakitin anak sendiri kan? Hahaha…”
Ia tertawa paksa, suaranya terdengar tinggi dan tidak natural. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Hampir. Hampir saja ia ketahuan.
Genesis tidak tertawa. Ia justru menatap Alexa dengan tatapan menyelidik yang tajam. Ia menggeser tubuhnya mendekat lagi ke arah gadis itu.
“Bukan. Bukan gitu cara lo ngomongnya,” kata Genesis pelan, suaranya terdengar serius dan dalam.
“Tadi lo ngomongnya… ‘Ya iyalah masa Ibu tega mukul kamu sih’. Lo ngomongnya pake nada Ibu banget. Persis banget.”
Ia menatap mata Alexa yang mulai berkaca-kaca karena panik.
“Lo ngomongnya kayak… lo yang ngalamin sendiri. Lo ngomongnya kayak… lo yang jadi ibunya waktu itu.”
“Gen, kamu salah denger deh!” Alexa masih berusaha membela diri, tangannya gemetar memegang gelas air. “Aku cuma ikut-ikutan cerita kamu aja! Aku lagi berimajinasi jadi ibunya kamu gitu lho!”
“Imajinasi?” Genesis menggeleng pelan, ia menggelengkan kepala tidak percaya.
“Gue hafal banget suara Ibu gue. Gue hafal banget cara dia ngomong, cara dia ngelus rambut gue, cara dia marah, cara dia ketawa.”
Ia menunjuk ke arah dada Alexa. “Di dalem diri lo itu… ada sesuatu yang sama persis. Ada sesuatu yang bikin gue ngerasa… Ibu gue ada di sini. Di depan mata gue.”
“Gen, jangan ngomong aneh-aneh dong…” air mata Alexa mulai menetes, bukan karena sedih, tapi karena takut dan terdesak.
“Aku kan Alexa. Aku orang lain. Aku cuma… aku cuma terlalu sayang sama kamu, jadi aku pengen ngerti perasaan ibumu juga.”
“Terus ini gimana?” Genesis tiba-tiba mengambil tangan Alexa, lalu membaliknya telapak tangan gadis itu menghadap ke atas.
“Waktu kecil, Ibu gue pernah kena luka bakar pas lagi masak buat gue. Di telapak tangan kanannya, ada bekas luka tipis yang bentuknya kayak garis melengkung gini,” tunjuk Genesis dengan jarinya tepat di area telapak tangan Alexa.
“Gue nanya sama lo sekali aja. Coba lo liat tangan lo sendiri. Ada nggak bekas lukanya?”
Alexa membeku. Tubuhnya lemas. Ia menunduk melihat telapak tangannya sendiri.
Tubuh Alexa ini memang tubuh baru, kulitnya mulus, putih, dan bersih. Tidak ada bekas luka apapun di sana. Tapi karena syok dan panik, secara refleks ia menarik tangannya kembali dan menutupnya rapat-rapat.
“E-enggak! Nggak ada! Tangan aku mulus kok! Kamu halusinasi!” serunya terbata-bata.
Reaksi itu justru semakin memperkuat kecurigaan Genesis. Jika memang tidak ada, kenapa harus menyembunyikan? Kenapa harus panik sebesar itu?
Genesis tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Ada rasa bingung, ada rasa penasaran, tapi ada juga rasa… yakin.
“Lo tau nggak Lex, gue jadi mikir aneh-aneh nih,” bisik Genesis pelan, matanya menatap tajam. “Jangan-jangan… jangan-jangan lo itu beneran…”
“BENERAN APA?!” Alexa memotong keras, suaranya meninggi karena emosi yang tidak stabil. Ia berdiri tiba-tiba, membuat bangku kecil di belakangnya tersentak jatuh.
“AKU ALEXA! AKU BUKAN SIAPA-SIAPA KECUALI ALEXA! KAMU JANGAN NEGESIN DIRI SENDIRI YA!”
Ia menangis, air mata mengalir deras. Rasanya ia ingin lari, rasanya ia ingin bersembunyi. Rasanya ia tidak kuat lagi membohongi anaknya sendiri.
Genesis berdiri juga, ia tidak mundur, ia justru maju selangkah mendekati gadis yang sedang gemetar hebat itu.
“Terus kenapa lo nangis? Kenapa lo panik? Kalau lo nggak ada apa-apanya, kenapa reaksi lo seheboh ini?” tanya Genesis lembut, suaranya justru jauh lebih tenang dibandingkan tadi.
Ia mengulurkan tangannya ingin menyentuh bahu Alexa. “Gue cuma mau tau yang bener, Lex. Gue ngerasa kita deket banget, tapi lo selalu nutupin sesuatu.”
“Aku nggak nutupin apa-apa! Aku cuma…” Alexa mundur, memunggungi Genesis, membiarkan bahunya terguncang karena isak tangis.
“Aku cuma takut… takut kalau aku jujur, kamu bakal benci aku. Takut kamu bakal lari dari aku. Takut kita bakal pisah…”
“Gue nggak bakal benci lo. Gue janji.”
“NGGAK BOLEH! Nggak boleh sekarang!” Alexa membalikkan badan, wajahnya basah oleh air mata, tapi tatapannya memohon. “Aku minta waktu sama kamu ya, Gen? Kasih aku waktu buat siapin hati. Nanti… nanti kalau waktunya udah pas, aku bakal cerita semuanya. Aku janji.”
Ia menatap Genesis dengan tatapan memohon yang begitu menyedihkan, tatapan yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun.
Genesis menatapnya lama. Ia bisa melihat ketulusan di sana, ia bisa melihat rasa sakit yang luar biasa di mata gadis itu. Akhirnya, ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.
“Oke. Gue tunggu. Gue nggak akan maksa,” jawab Genesis pelan. “Tapi inget ya Lex, rahasia itu berat. Kalau lo butuh temen buat bagi beban, gue ada.”
Alexa mengangguk cepat, lalu tanpa sadar ia memeluk dirinya sendiri, atau lebih tepatnya, ia berjalan mendekat dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Genesis, mencari perlindungan.
“Terima kasih…” isaknya pelan. “Terima kasih udah sabar sama aku.”
Genesis membalas pelukan itu erat-erat, membiarkan gadis itu menangis di dadanya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk.
Gue yakin 100%. Lo nyimpen rahasia besar, Lex. Dan gue bakal cari tau apa itu. Walau jawabannya nanti bakal bikin gue syok atau bikin gue takut.
Malam itu, bahaya sudah nyaris nyata. Alexa hampir ketahuan. Dan mulai saat ini, permainan kucing dan tikus antara cinta dan kebohongan ini menjadi semakin berbahaya.