NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 Manipulatif

Wajah itu…

tak lagi sama seperti yang ia kenal dulu.

Garis-garisnya telah berubah, waktu mengukir jejak yang tak lagi bisa ia kejar. Kenangan pun terasa samar seolah tak ada satupun yang benar-benar utuh untuk ia genggam kembali.

Namun entah mengapa hatinya menolak menganggap sosok itu sebagai orang asing.

Ada sesuatu yang terasa begitu dekat, meski pikirannya tak mampu menjelaskan, seperti sebuah ikatan lama yang pernah terputus, namun diam-diam tak pernah benar-benar hilang.

Archio berdiri terpaku, matanya masih menatap pintu yang baru saja tertutup. Langkah itu telah pergi, terlambat hanya selisih beberapa detik. Dua puluh tahun.

Waktu selama itu telah memisahkan Marsha dari keluarga Halvard, cukup lama untuk mengubah segalanya, namun tak pernah cukup untuk menghapus rasa kehilangan yang diam-diam tetap menghuni hati, Ia tak sepenuhnya mengenali wajah itu, tapi perasaan yang tiba-tiba muncul terlalu nyata untuk bisa diabaikan.

Di luar sana, langkah Marsha perlahan melambat Ia tidak tahu apa yang membuatnya berhenti.

Tidak ada yang memanggilnya ataupun menahannya. Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa tertinggal atau mungkin hampir ditemukan, ia menoleh ke belakang, hanya sekilas, Pandangan yang singkat, tanpa tujuan yang jelas, Dan tentu saja tidak ada siapa pun yang ia kenali.

Marsha menarik nafas pelan. Perasaan itu terasa asing, namun juga terlalu dalam untuk sekadar dianggap kebetulan, seolah ada bagian dari dirinya yang mencoba mengingat namun tidak pernah benar-benar berhasil.

Sejak kecil, hidupnya memang berjalan tanpa masa lalu, tidak ada kenangan yang bisa ia rangkai utuh, tidak ada wajah yang mampu ia panggil kembali dengan jelas, semuanya kosong.

Seperti lembaran yang pernah terisi, namun kemudian terhapus tanpa jejak, trauma yang ia alami di masa kecil telah merenggut lebih dari sekadar ingatan, Ia mengambil akar dari siapa dirinya dulu, Meninggalkan Marsha tumbuh sebagai seseorang yang hanya mengenal masa kini, tanpa pernah benar-benar memahami dari mana ia berasal.

Ia tidak pernah memaksa dirinya untuk mengingat.

Tidak pernah mencoba menggali sesuatu yang mungkin memang sudah hilang, karena baginya, apa yang tidak kembali, mungkin memang tidak seharusnya dicari.

Namun hari ini ada sesuatu yang berbeda, Perasaan itu datang tanpa peringatan, Pelan, namun menembus, bukan dalam bentuk bayangan masa lalu, bukan pula dalam potongan kenangan.

Melainkan rasa, rasa yang hangat, Sekaligus meninggalkan celah kecil yang terasa nyeri.

Marsha menunduk sedikit, jemarinya saling menggenggam tanpa sadar.

“…kenapa…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Namun tidak ada jawaban dan ia pun tidak benar-benar mencarinya, Ia hanya menggeleng tipis, lalu melanjutkan langkahnya kembali, Seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi.

Sementara itu, di dalam kafe Archio akhirnya menurunkan pandangannya, Namun bayangan itu masih tertinggal jelas di benaknya. Mungkin wajah itu telah berubah, Mungkin waktu telah menghapus banyak hal namun ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Sesuatu yang tidak membutuhkan ingatan untuk dikenali.

Karena terkadang yang tidak mampu dijelaskan oleh pikiran, justru paling jelas terasa oleh hati.

Dan di antara jarak dua puluh tahun yang memisahkan ikatan itu diam-diam masih ada.

_____

Berbanding terbalik dengan kehidupan di London, suasana di rumah keluarga Halvard justru dipenuhi keheningan yang sulit dijelaskan, waktu terus berjalan, namun bagi sebagian orang ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar ikut berlalu.

Xabiru, sebagai anak tertua, kini berdiri di sisi ayahnya, mengambil peran yang perlahan mulai ditinggalkan. Ia lebih sering berada di perusahaan, menggantikan banyak hal yang dulu ditangani langsung oleh sang ayah, bukan karena ia ingin, namun karena keadaan menuntutnya untuk demikian.

Di ruang kerja yang luas namun terasa dingin, Andreas Halvard duduk dalam diam, tatapannya kosong, seolah pikirannya jauh melampaui ruangan itu, usianya telah menua tapi putri kecilnya tak kunjung ditemukan seperti, seseorang telah sengaja menghilangkan jejaknya.

Namun bukan itu yang paling mengubahnya, kehilangan telah merenggut lebih banyak dari dirinya, sejak Marsha menghilang pria itu tidak lagi sama, lebih banyak diam dan lebih sering tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Xabiru berdiri tidak jauh dari meja kerja itu. Ia menatap ayahnya sejenak, sebelum akhirnya membuka suara. “Ayah…” ucapnya pelan, seolah tidak ingin memecah keheningan terlalu kasar. “Sudah dua puluh tahun…” Ia berhenti sejenak, menarik napas perlahan.

“Bahkan kita tidak tahu apakah Marsha masih hidup atau tidak.” kalimat itu terasa berat, bukan hanya untuk diucapkan tetapi juga untuk diterima.

Namun Andreas tidak langsung menjawab, Ia tetap diam sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak bisa dilihat, hingga akhirnya ia mengangkat pandangannya, tatapannya tenang. Namun ada keyakinan yang tidak tergoyahkan di dalamnya. “Dia masih hidup.” suaranya rendah, namun tegas. “Anak itu… sudah kuat sejak kecil.” Tidak ada keraguan, seolah ia tidak sedang berharap melainkan mengetahui, ruangan kembali hening, namun kali ini, bukan keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang dipenuhi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.

Tak lama, Andreas kembali bersandar di kursinya, nafasnya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. “Biru…” panggilnya pelan.

Xabiru menatap ayahnya.

“Ayah sudah mengajukan gugatan cerai terhadap ibumu.” kalimat itu diucapkan tanpa emosi berlebih, namun justru di situlah letak beratnya. “Ayah… sudah tidak sanggup lagi.” ada lelah yang terselip di antara kata-katanya, lelah yang mungkin telah ia tahan selama bertahun-tahun.

Xabiru terdiam…

Namun tidak ada keterkejutan di wajahnya, seolah keputusan itu memang telah lama ia duga, Ia menghela napas pelan, lalu mengangguk. “Aku mengerti, Ayah.” suaranya tenang ia tidak mau menyalahkan dan tidak pula mencoba menahan sesuatu yang sudah lama retak.

“Lakukanlah yang terbaik.” Ia berhenti sejenak, sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. “Mama… memang sudah terlalu jauh.”

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan atau diperdebatkan, hanya dua pria yang berdiri dalam diam, masing-masing memikul kehilangan dengan caranya sendiri, satu kehilangan seorang anak dan yang lain kehilangan keutuhan keluarga. Dan di antara semua itu nama Marsha tetap menjadi luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Keheningan di ruang kerja itu belum sempat benar-benar reda ketika pintu terbuka tanpa ketukan, langkah heels terdengar pelan, teratur, namun penuh kendali. Selena Ardith muncul di ambang pintu, berdiri dengan ekspresi tenang, seolah tidak ada satupun yang mampu menggoyahkan dirinya.

Tatapannya jatuh pada Andreas, lalu beralih pada Xabiru dengan senyum tipis yang sulit ditafsirkan. “Sepertinya aku mengganggu sesuatu yang penting,” ucapnya ringan, hampir terdengar seperti basa-basi biasa.

Tidak ada yang menjawab, suasana justru semakin menegang, Selena melangkah masuk tanpa menunggu izin. Jemarinya menyentuh sandaran kursi dengan gerakan santai, terlalu santai untuk situasi yang jelas tegang seperti ini. “Aku sudah dengar,” lanjutnya, suaranya lembut, namun tajam di setiap kata, “tentang gugatan itu.”

“Aku tidak berniat menyembunyikannya,” jawab Andreas singkat, menahan ketegangan yang mulai naik ke permukaan.

Selena mengangguk kecil, seolah itu cukup. “Tiga puluh lima tahun,” gumamnya pelan, matanya menatap kosong ke arah langit-langit sejenak. “Akhirnya berakhir juga.” Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. “Tidak buruk.”

Xabiru menatap ibunya dengan mata dingin. “Kalau Mama datang hanya untuk itu, lebih baik tidak usah,” ucapnya singkat, nada suara yang biasanya terkendali kini mulai mengeras.

Selena menoleh perlahan, tatapannya menyapu putra sulungnya. “Kamu masih belum bisa mengendalikan nada bicaramu,” ucapnya lembut, seperti memberi pengertian, namun di baliknya terasa menusuk.

“Aku tidak seperti Mama,” balas Xabiru singkat dan tegas, ia tahu kondisi mental ibunya yang lebih mementingkan egonya.

“Jelas,” sahut Selena, matanya menyapu sekeliling ruangan. “Kamu tidak akan pernah.” keheningan jatuh lagi dan kali ini lebih tajam, lebih menekan, seolah ruang itu menghisap semua udara.

Selena mengalihkan pandangannya pada Andreas. “Jadi… ini semua masih tentang dia?” tanyanya pelan, seolah mencoba bersikap tenang. Ia tidak menyebut nama itu, namun semua yang hadir di ruangan tahu siapa yang dimaksud.

“Jangan bawa-bawa Marsha,” ucap Andreas, suaranya rendah, namun penuh tekanan yang tak bisa diabaikan.

Selena tersenyum tipis, matanya menyipit sedikit. “Aneh,” gumamnya. “Sudah dua puluh tahun… tapi rumah ini masih berputar di satu nama yang sama.” Ia melangkah perlahan, seolah menebar ketenangan, padahal setiap langkahnya seperti mengukur reaksi orang di sekitarnya. “Padahal… anak itu sudah lama pergi,” lanjutnya, berhenti sejenak.

“Dia tidak pergi,” suara Andreas tiba-tiba terdengar lebih tegas, lebih dalam. “kamu yang membuangnya.”

Xabiru menatap ibunya tajam. “Kami tidak akan pernah lupa itu,” ucapnya, suaranya menahan emosi yang ingin lepas.

Selena terdiam sejenak, lalu terkekeh pelan. “Masih saja menyalahkanku?” Nada suaranya ringan, seolah hanya bercanda, padahal kata-katanya mengandung racun yang halus.

“Bukan tuduhan,” balas Xabiru, dingin, menekankan kenyataan. “Itu kenyataan.”

Selena menarik nafas pelan, menghembuskannya perlahan, menandai sikapnya yang tetap tenang di permukaan. “Menarik sekali,” ucapnya. “Dua puluh tahun dan kalian masih memilih mempercayai satu versi cerita.”

“Karena kami melihatnya sendiri!” suara Xabiru meninggi, penuh emosi yang terpendam. “Marsha menangis! Dia memanggil Ayah! Dan Mama sengaja meninggalkan marsha ada buktinya”

“Cukup,” suara Selena memotong dengan tenang, namun dingin, sangat dingin.

Xabiru terdiam seketika…

Selena menatapnya lurus, kata-katanya lembut, namun menusuk. “Hal-hal yang dilihat oleh anak kecil… tidak selalu sejelas yang kamu pikirkan.”

“Anda meninggalkannya,” ucap Andreas, kali ini lebih dalam, setiap kata bergetar dengan luka yang belum sembuh. “Sendirian dan ini bisa dipidanakan.”

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!