NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Cengkeraman tangan Pak Adwan di lengan Adella tidak terasa seperti pegangan tangan seorang guru yang sedang membimbing muridnya. Rasanya lebih menyerupai klem besi yang dingin dan mati. Setiap langkah yang mereka ambil menuruni tangga beton perpustakaan yang lembap itu terasa seperti dentuman lonceng kematian bagi kebebasan Adella. Suara sepatu pantofel Pak Adwan beradu dengan lantai, menciptakan gema yang teratur, monoton, dan tanpa ampun.

Adella mencoba mengatur napasnya. Ia menyadari satu hal yang luput dari pengamatannya selama ini: Pak Adwan bukan sekadar pria dengan obsesi gelap. Dia adalah pria dengan struktur.

"Bapak sering ke sini?" tanya Adella. Suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar, memberikan kesan bahwa ia adalah mangsa yang mulai ketakutan, namun otaknya bekerja secepat mesin kalkulator.

Pak Adwan tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan, ke arah pintu keluar darurat yang terbuat dari baja berat. "Keluarga saya bukan hanya penyumbang dana untuk restorasi gedung ini, Adella. Kakek saya adalah salah satu pendiri yayasan pendidikan yang menaungi sekolah kita. Di kota ini, nama 'Adwan' adalah jaminan keamanan—atau kehancuran, tergantung di sisi mana kamu berdiri."

Adella menelan ludah. Informasi itu menghantamnya. Ia mengerti sekarang mengapa Pak Adwan bisa pindah sekolah dengan mudah, mengapa jejak digitalnya bersih, dan mengapa para guru senior bersikap seolah-olah dia adalah bangsawan. Dia bukan hanya guru; dia adalah pemilik sistem itu sendiri. Melawan Pak Adwan bukan hanya soal membuktikan tindak kriminal, tapi soal meruntuhkan sebuah dinasti kecil yang kebal hukum.

Mereka sampai di pintu baja. Pak Adwan mengeluarkan sebuah kartu akses emas dari dompet kulitnya. Sekali tempel, pintu terbuka dengan suara desisan hidrolik yang berat. Di baliknya, bukan jalan raya yang ramai, melainkan sebuah area parkir privat yang dikelilingi tembok tinggi dengan kawat berduri di puncaknya. Tidak ada CCTV publik di sini. Hanya ada kamera pribadi yang sudut pandangnya dikuasai sepenuhnya oleh ruang kendali yang mungkin juga milik keluarga pria itu.

Sebuah sedan hitam mewah terparkir di tengah area yang sunyi itu. Mesinnya sudah menyala, mengeluarkan suara rendah yang halus namun bertenaga.

"Masuklah," ujar Pak Adwan sambil membukakan pintu penumpang. "Di dalam sini, suara bising dunia tidak akan bisa mengganggu kita. Kamu akan merasa sangat aman."

Adella melihat ke sekeliling. Harapannya pada kakak Nadia mulai menipis. Jika benar Pak Adwan memiliki kuasa sebesar ini, seorang warga sipil dengan kamera ponsel bukanlah tandingan. Namun, ia tidak punya pilihan selain masuk. Berlari di area terbuka ini hanya akan membuatnya tertangkap dalam hitungan detik.

Klik.

Begitu Adella duduk, pintu terkunci secara otomatis. Suara pengunci itu terdengar sangat final di telinga Adella. Kabin mobil itu beraroma cendana yang pekat, dicampur dengan wangi kulit jok yang mahal. Pak Adwan masuk ke kursi kemudi, namun ia tidak segera menjalankan mobilnya. Pria itu menyandarkan punggung, mematikan lampu interior, dan membiarkan mereka berdua tenggelam dalam keremangan.

"Kamu tahu, Adella," suara Pak Adwan kini terdengar lebih santai, namun jauh lebih mengintimidasi. "Pria berjaket gelap yang tadi kamu hubungi itu... dia adalah contoh dari seseorang yang tidak mengerti konsep 'hierarki'. Dia pikir, dengan sedikit keberanian dan amarah karena kehilangan adik, dia bisa menyentuh saya."

Adella membeku. Otaknya berputar cepat. Dia tahu.

Pak Adwan mengeluarkan sebuah ponsel dengan layar yang retak dari kantongnya. Ponsel milik kakak Nadia. Ia meletakkannya di dasbor agar Adella bisa melihatnya dengan jelas. "Dia terlalu ceroboh. Menunggu di balik rak ensiklopedia sambil memegang ponsel? Itu penghinaan bagi kecerdasan saya. Saat ini, dia sedang 'beristirahat' di salah satu ruangan di bawah perpustakaan ini. Ruangan yang tidak ada dalam peta resmi gedung."

Darah Adella terasa surut dari wajahnya. Sisi "polos"-nya ingin berteriak, namun sisi "pandai"-nya segera mengambil alih kendali emosi. Ia harus tetap tenang. Jika ia panik, ia akan berakhir seperti Nadia—atau kakaknya.

"Kenapa Bapak melakukan ini?" tanya Adella pelan.

Pak Adwan menoleh perlahan. Dalam kegelapan kabin, matanya berkilat seperti lensa kamera yang sedang fokus. "Karena kesempurnaan membutuhkan pengorbanan, Adella. Nadia adalah draf yang cacat. Dia memiliki rasa ingin tahu, tapi dia tidak memiliki ketenangan. Dia mencoba memberontak di saat yang salah, sehingga saya harus... menyimpannya secara permanen. Tapi kamu? Kamu berbeda. Kamu melihat segalanya, kamu tahu segalanya, tapi kamu tetap bisa tersenyum sopan. Kamu adalah mahakarya yang saya cari selama ini."

Mobil mulai bergerak perlahan, keluar dari area parkir menuju jalan samping yang sepi. Pak Adwan menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya diletakkan di atas tuas transmisi, sangat dekat dengan lutut Adella.

"Kita akan pergi ke kediaman pribadi saya di pinggiran kota. Sebuah tempat yang saya bangun khusus untuk menyimpan koleksi-koleksi berharga saya. Kamu akan suka di sana, Adella. Ada perpustakaan yang sepuluh kali lebih besar dari ini, dan semuanya milikmu. Selama kamu patuh."

Adella melirik ke arah dasbor. Ia melihat kecepatan mobil mulai meningkat. Jika mereka sampai keluar dari batas kota, habislah sudah. Ia harus bertindak sekarang, di tengah area yang masih memiliki sedikit pemukiman.

Ia merogoh saku kardigannya. Jarinya menyentuh tabung kecil semprotan merica. Ia tahu, menyemprotkan langsung ke wajah Pak Adwan saat mobil melaju bisa berakibat fatal bagi mereka berdua. Ia butuh cara yang lebih cerdas.

"Pak," suara Adella dibuat serak. "AC-nya... boleh dikurangi? Saya merasa sangat sesak."

Pak Adwan tersenyum tipis, seolah menikmati penderitaan kecil korbannya. "Itu hanya rasa gugup, Adella. Napasmu akan stabil begitu kita sampai."

Adella tidak menyerah. Sambil berpura-pura mengatur posisi duduk, ia menurunkan tangannya ke bawah dasbor sisi penumpang. Ia mencari tuas kecil yang biasanya berfungsi untuk membuka kap mesin atau akses teknis. Ketemu. Ia menariknya pelan hingga terdengar bunyi klik yang halus.

Lalu, dengan gerakan secepat kilat yang tidak terduga dari gadis sepolos dia, Adella tidak mengarahkan semprotan merica itu ke wajah Pak Adwan. Sebaliknya, ia menyemprotkan cairan pekat itu langsung ke lubang ventilasi AC yang ada di tengah dasbor.

Dalam sekejap, sistem sirkulasi udara mobil mewah yang kedap itu menyedot partikel pedas tersebut dan menyemburkannya kembali ke seluruh kabin.

"Apa yang—!" Pak Adwan terbatuk hebat. Matanya yang tadi tajam kini langsung memerah dan berair secara instan. Rasa panas membakar hidung dan tenggorokannya.

Mobil itu oleng ke kanan. Pak Adwan mencoba menginjak rem, namun rasa perih di matanya membuatnya kehilangan persepsi jarak. Di saat yang sama, Adella tidak menunggu. Ia tahu sistem kunci elektrik mobil ini akan sedikit terganggu jika ada malfungsi pada sensor kabin atau jika ia menekan tombol pembuka kunci berkali-kali secara manual.

Adella menghantam tombol unlock di pintu sampingnya dengan siku, lalu menendang pintu itu sekuat tenaga.

"Selamat tinggal, Pak Adwan," bisik Adella di tengah batuknya sendiri.

Ia melompat keluar saat mobil masih melaju sekitar 20 km/jam di dekat sebuah persimpangan. Adella berguling di aspal yang keras, merasakan kulit sikunya terkelupas dan lututnya menghantam beton. Perih, tapi rasa takutnya jauh lebih besar. Ia segera bangkit, mengabaikan rasa sakit di kakinya, dan berlari menuju sebuah gang sempit yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima dan keramaian orang sabtu sore.

Ia tidak menoleh sampai ia merasa paru-parunya hampir meledak. Di ujung gang, ia bersembunyi di balik gerobak tua, mencoba mengatur napas.

Dari kejauhan, ia melihat sedan hitam itu berhenti di pinggir jalan. Pak Adwan keluar dari mobil, tampak sangat berantakan—sesuatu yang sangat kontras dengan citra sempurnanya. Pria itu menekan matanya dengan sapu tangan, tubuhnya gemetar karena amarah yang tertahan. Ia tidak mengejar Adella ke dalam gang. Dia terlalu cerdas untuk membuat keributan di depan publik yang bisa merusak nama baik keluarganya.

Pak Adwan hanya berdiri diam di sana selama beberapa detik, menatap ke arah gang tempat Adella menghilang. Meskipun matanya sakit, Adella tahu pria itu sedang menandai lokasinya.

Adella merogoh sakunya, mencari ponsel rahasianya. Ia harus segera menghubungi seseorang, siapa pun, sebelum Pak Adwan menggunakan pengaruh kekuasaannya untuk memblokir akses atau bahkan menuduh Adella melakukan penyerangan terhadap gurunya.

Namun, saat ia membuka ponsel itu, sebuah notifikasi masuk dari nomor baru yang tidak ia kenal.

"Lompatan yang bagus, Adella. Tapi kamu lupa satu hal: Di kota ini, polisi, jaksa, bahkan rumah sakit... adalah bagian dari 'perpustakaan' keluarga saya. Jangan pergi ke polisi. Mereka hanya akan mengantarmu kembali ke pintu depan rumah saya."

Adella terduduk lemas di aspal gang yang kotor. Kekuasaan Pak Adwan bukan hanya soal uang, tapi soal jaring laba-laba yang menutupi seluruh kota. Ia kini menjadi buronan dari seorang pria yang memiliki hukum di dalam sakunya.

Adella menatap lututnya yang berdarah. Ia tahu, ia tidak bisa pulang ke rumahnya sendiri malam ini. Ia harus kembali ke satu-satunya tempat yang paling berbahaya namun menyimpan kebenaran: Gudang bawah tanah perpustakaan. Ia harus menyelamatkan kakak Nadia, atau setidaknya menemukan bukti yang begitu besar sehingga kekuasaan keluarga Adwan pun tidak akan mampu menutupinya.

Malam itu, Adella si gadis sederhana menyadari bahwa kepolosan telah mati. Yang tersisa hanyalah seorang pengamat yang kini harus menjadi sang eksekutor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!