Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 PGS
"Badan Daddy pegal-pegal sekali, apa di kampung ini ada tukang urut?" seru Daddy Tri.
"Sama Dad, badan aku juga sakit semua ini," sambung Syarif.
Tidak lama kemudian, Mail dan Badru pun lewat. "Assalamualaikum!" seru keduanya bersamaan.
"Ah, kebetulan sekali. Sini kalian!" seru Daddy Tri.
Keduanya langsung masuk ke halaman rumah Sherina dan duduk di teras. "Bapak calon mertua ada apa?" tanya Mail dengan seriusnya.
Badrun menoyor kepala Mail. "Calon Bapak mertua matamu picek, sembarangan kalau ngomong," kesal Badru.
"Apaan sih, sirik aja jadi orang," sahut Mail.
"Aduh, kalian kok malah berantem sih. Aku mau nanya, di sini ada tukang urut gak? Daddy sama Syarif mau dipijitin tuh," seru Sherina.
"Kamu sudah ngomong dengan orang yang tepat, aku bisa urut kok," sahut Mail.
"Serius? jangan bercanda, ini beneran," seru Sherina.
"Seriuslah, di kampung ini Mail bin Marzuki sudah terkenal dengan pijatannya yang enak," sahut Mail dengan bangganya.
"Serius Sher, dia bisa mijat," tumpal Badrun.
"Ya, sudah pijitin Daddy aku. Tenang saja, nanti aku bayarin kamu," seru Sherina.
"Ah jadi malu, untuk calon Bapak mertua aku kasih gratis deh," sahut Mail dengan cengengesan.
Syarif segera mengambil karpet dan Tri langsung rebahan untuk dipijat oleh Mail. "Waduh, mantap sekali pijatan kamu," puji Daddy Tri.
"Kan sudah Mail bilang, kalau Mail itu jago mijat," sahut Mail.
"Lu bisa mijat juga gak? badan gua pada sakit ini," seru Syarif kepada Badru.
"Bisa sedikit-sedikit, mau aku pijitin?" seru Badru.
"Boleh deh."
Akhirnya Syarif pun ikut dipijat oleh Badru. Mereka memijat sembari mengobrol dan bercanda bersama supaya suasana mencair dan tidak hening. "Sher, kata Nining kamu jadi guru juga di sekolah kampung?" tanya Badru.
"Iya, dari pada bosan diam di rumah mending cari kesibukan. Kebetulan aku punya keahlian dalam bidang bahasa Inggris jadi aku bisa mengajar bahasa Inggris di sana," sahut Sherina.
"Keren bisa bahasa Inggris, pasti dulunya kamu sekolahnya pinter," puji Mail.
"Iyalah," sahut Sherina dengan tawanya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara Mang Usep penjual sate. "Neng geulis, mau sate!" teriak Mang Usep.
Baru saja Sherina hendak menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang. "Mang Usep sini, aku mau borong satenya!" teriak Ariel.
"Cih, apaan sih lebay banget," gerutu Sherina.
"Neng geulis bagaimana, mau beli gak? kalau mau, saya bisa buatkan," seru Mang Usep.
"Gak usah Mang, kebetulan aku sudah makan kok sudah Mang Usep pergi saja takutnya orang itu ngamuk," sahut Sherina sengaja dengan suara yang dikeraskan.
"Baiklah, Mang Usep pergi dulu ya, Neng," pamit Mang Usep.
"Iya, Mang silakan," sahut Sherina.
Mang Usep pun langsung pergi menghampiri Ariel. "Menyebalkan sekali sih tuh orang, amit-amit lihat wajahnya saja sudah muak aku," kesal Sherina.
"Jangan gitu Sher, benci dan cinta itu beda tipis," ledek Badru.
"Idih, apaan sih kamu? gadis di kampung ini boleh saja fans sama dia tapi bagi aku no banget," sahut Sherina dengan kesalnya.
"Baguslah, di sini masih ada Bang Mail walaupun gak kaya dan tampan yang penting Bang Mail baik dan setia," celetuk Mail.
"Jangan mimpi kamu," ledek Badru.
Sherina tersenyum, kedua orang itu memang kocak dan selalu menghibur. Tri dan Syarif sudah mulai tertidur saking enaknya dipijitin. Satu jam kemudian, Mail dan Badru pun selesai lalu Sherina mengeluarkan beberapa lembar uang yang seratus ribuan.
"Ini buat kalian," seru Sherina.
"Masya Allah, Allahuakbar, ini banyak sekali Sher," seru Mail kaget.
"Iya Sher, terlalu banyak itu uang. Sudah gak usah dibayar, kita ikhlas kok bantuin dan gak berharap untuk dibayar," tumpal Badru.
"Gak apa-apa, itu kan sebuah pekerjaan juga," sahut Sherina.
"Ini pasti uang tabungan kamu 'kan? sudah kamu simpan saja, buat bekal kamu," seru Mail.
"Mau diterima atau mau saya tambahin lagi?" seru Daddy Tri.
"Ok-ok, kita terima Om terima kasih," sahut Mail panik.
Keduanya tidak mau sampai Tri menambah uangnya lagi, soalnya uang yang diberikan oleh Sherina saja sudah lebih dari cukup. "Kita baru kali ini dapat bayaran minat sebanyak ini, biasanya juga seikhlasnya saja," seru Badru.
"Gak apa-apa, rezeki kalian," sahut Syarif.
"Terima kasih ya," seru Badru dan Mail.
"Sama-sama."
Dikarenakan sudah malam, Sherina dan yang lainnya sudah ngantuk, Badru dan Mail pun tabu diri dan pamit. Keduanya berjalan kaki sembari berpikir keras. "Dru, kamu mikir ada yang aneh gak sih dari keluarga Sherina?" celetuk Mail.
"Aneh apaan? apa kamu merasa jika Sherina merupakan keluarga vampir?" seru Badru.
Mail menginjak kaki Badru dengan kencangnya saking gemas. "Wadau, sakit tahu. Ngapain sih pakai injak kaki aku segala!" teriak Badru emosi.
"Habisnya kamu itu kalau diajak ngobrol gak nyambung banget," kesal Mail.
"Gak nyambung bagaimana? tadi 'kan kamu bilang keluarga Sherina aneh," sahut Badru.
"Aneh maksudnya, kamu mikir gak kalau sebenarnya keluarga Sherina itu keluarga orang kaya yang menyamar jadi miskin?" seru Mail.
"Yaelah, kebanyakan nonton dracin kamu yang CEO nyamar-nyamar itu 'kan, itu cuma sinetron Mail bin Marzuki kenapa kamu sampai terbawa ke dunia nyata," kesal Badru.
"Ya, kali aja memang di dunia nyata juga ada. Soalnya mereka itu uangnya banyak, kalau memang mereka beneran miskin gak mungkin mereka sampai royal kaya gini," seru Mail.
"Positif thinking sajalah, siapa tahu sebelum ke sini mereka punya tabungan. Logikanya, kalau memang mereka nyamar, mana ada orang kaya yang biasa hidup enak tiba-tiba pindah ke kampung mana Pak Tri dan Syarif kerja di perkebunan Juragan Tama. Segila apa mereka sampai mau menyamar jadi rakyat jelata," ucap Mail.
"Iya juga sih, tahu ah pusing," sahut Badru menggaruk kepalanya sendiri.
Keduanya pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu, Yosep yang dari tadi mengintai dari kejauhan akhirnya keluar juga. Dia disuruh oleh Tama untuk menyimpan sesuatu di depan rumah Tri.
Yosep membawa banyak sekali sayur mayur, buah-buahan dan juga beras. Tujuan Tama, supaya Wita bahagia dan tidak kekurangan apa pun. Tama memang sudah benar-benar tergila-gila kepada Wita dan entah bagaimana ke depannya.
***
Keesokan harinya....
Wita bangun pagi-pagi sekali, dia langsung mandi dan pergi ke dapur. Tapi sebelum menyiapkan sarapan, dia selalu menyempatkan diri untuk ke halaman menyiram bunga kesayangannya. Wita terkejut dengan munculnya sayur mayur, buah-buahan dan juga beras.
"Astaga, ini punya siapa? kenapa ada di halaman rumah aku?" batin Mommy Wita.
Wita celingukan ke sana ke mari, tapi dia sama sekali tidak menemukan orang apalagi waktu itu masih sangat pagi.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah