NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ibu selena suka thunder geng

Selena benar-benar ingin menghilang dari bumi saat melihat pemandangan di ruang tamunya. Di sana, Zeus duduk dengan tegap namun sopan, sementara Axel asyik memakan gorengan buatan Mamahnya seolah di rumah sendiri.

"Aduh, Zeus... kamu ganteng sekali ya, auranya itu lho, berwibawa banget," puji Mamah Selena sambil menuangkan teh. "Temennya juga lucu, siapa namanya? Axel? Sering-sering ya main ke sini, biar rumah ini ada suara cowoknya."

"MAMAH!" Selena turun tangga dengan langkah yang dihentak-hentakkan. "Mereka itu bukan mau bertamu, mereka mau jemput babu! Ayo cepetan pergi, sebelum Mamah nawarin mereka makan siang sekalian!"

Selena langsung menarik lengan jaket Zeus, menyeret cowok itu keluar rumah. Axel menyusul sambil masih mengunyah sisa pisang goreng. "Duluan ya, Tante! Jajanannya juara!"

Di dalam mobil, Selena melipat tangan di dada dengan emosi yang meluap-luap. "Lo berdua ya! Ngapain pake acara masuk ke rumah gue segala? Pake ngerayu nyokap gue lagi!"

"Nyokap lo yang narik kita masuk, Sel. Mana tega gue nolak calon mertua—eh, maksud gue orang tua temen," goda Axel sambil melirik dari kaca spion.

Zeus hanya diam, tapi matanya sesekali melirik Selena yang wajahnya masih merah padam karena kesal.

Sesampainya di markas, suasana terasa sedikit berbeda bagi Selena. Saat dia menyentuh gagang pintu markas yang besar itu, tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya.

Tunggu... ini kan hari ketujuh, batin Selena.

Dia menghitung dalam hati. Senin, Selasa, Rabu... ya, hari ini adalah hari terakhir masa hukumannya sebagai babu karena menumpahkan kopi ke jaket Zeus. Besok dia akan kembali menjadi Selena yang bebas, tanpa harus diperintah membawakan tas, tanpa harus masak mi instan untuk lima orang, dan tanpa harus cosplay superhero.

"Ngapain bengong? Sana bersihin meja biliar," perintah Zeus sambil melempar kemoceng ke arah Selena.

Selena menangkap kemoceng itu, tapi kali ini dia tidak langsung mengomel. Dia menatap kemoceng itu lama.

"Kenapa? Tangan lo sakit?" tanya Zeus yang menyadari perubahan sikap Selena.

"Nggak," jawab Selena ketus, berusaha kembali ke setelan pabriknya yang bar-bar. "Gue cuma lagi mikir. Besok gue udah bebas. Lo nggak bisa lagi nyuruh-nyuruh gue, Kulkas! Gue bakal tenang, nggak bakal ketemu muka lo yang datar ini tiap hari!"

Mendengar kata "bebas", suasana markas yang tadinya bising karena Axel dan Damon lagi main PS mendadak agak hening.

Damon menoleh dari sofa. "Eh, iya ya? Udah seminggu aja si Bocah Robot di sini. Yah... sepi dong besok nggak ada yang bisa gue kejar-kejar di lapangan."

Nathan menutup bukunya. "Gak ada lagi yang masak mi instan seenak buatan Selena."

Leon yang lagi asyik sama motornya cuma melirik Selena singkat, lalu kembali bekerja tanpa suara, tapi ada gerakan tangannya yang sempat terhenti sesaat.

Zeus sendiri terdiam. Dia menatap Selena yang mulai sibuk mengelap meja biliar dengan semangat (mungkin semangat karena mau bebas). Zeus mengambil botol minumnya, meneguknya pelan, lalu bergumam hampir tak terdengar.

"Baguslah. Akhirnya markas gue nggak bakal berisik lagi sama teriakan lo."

Tapi entah kenapa, kata-kata Zeus itu terdengar nggak meyakinkan. Ada sesuatu yang aneh di udara markas Thunder hari ini—rasa lega, tapi juga ada rasa nggak rela yang tipis.

"Selena," panggil Zeus tiba-tiba.

"Apa?!" sahut Selena tanpa menoleh.

"Hari terakhir ini... lo nggak usah bersih-bersih. Cukup duduk di sini. Habisin waktu bareng kita sampe jam pulang."

Selena berhenti mengelap. Dia menoleh dengan dahi berkerut. "Hah? Tumben lo baik? Kesurupan hantu gudang angker lo?"

"Udah, duduk aja jangan banyak tanya!" bentak Zeus pelan, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya.

Dia cuma duduk Selena yang biasanya tidak bisa diam, kali ini terpaku melihat Leon. Cowok itu tampak sangat fokus, jemarinya yang panjang dan lincah lari di sela-sela mesin motor sport hitam miliknya yang bongsor. Aroma oli dan bensin yang biasanya bikin pusing, entah kenapa terasa pas di sini.

"Leon," panggil Selena sambil mendekat.

Leon hanya berdeham pendek tanpa menoleh.

"Lo... dari tadi ngapain sih? Gue liatin lo serius banget bongkar pasang kabel itu. Itu motor mau lo terbangin atau gimana?" tanya Selena kepo, dia jongkok di samping Leon, memperhatikan mesin yang terbuka.

"Nyetel injeksi. Biar tarikannya lebih responsif," jawab Leon singkat. Khas Leon, tidak ada kata yang terbuang sia-sia.

Selena memiringkan kepalanya. Sebagai pecinta robot, melihat jeroan motor sport itu sebenarnya mirip melihat mesin Mecha versinya sendiri. "Boleh gue coba pegang? Kayanya asik daripada cuma ngelap meja."

Leon berhenti sejenak. Dia menatap tangan Selena yang kecil, lalu menatap wajah Selena yang penuh rasa ingin tahu. Tanpa bicara, Leon menggeser posisinya, memberi ruang bagi Selena. Dia menyerahkan sebuah kunci pas kecil ke tangan gadis itu.

"Tahan baut yang itu. Jangan sampe goyang," perintah Leon pelan.

Selena menurut. Dia memegang baut itu dengan serius. Leon kemudian memegang tangan Selena—mengarahkan kunci itu ke posisi yang tepat. Tangan Leon yang besar dan kasar karena mesin, terasa hangat menyentuh punggung tangan Selena.

Selena menahan napas. Jarak mereka jadi sangat dekat. Dia bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi oli dari tubuh Leon. Leon tetap diam, wajahnya datar seperti biasa, tapi dia tidak segera melepaskan tangannya. Dia membimbing tangan Selena memutar baut itu dengan sangat perlahan.

"Pelan-pelan... jangan dipaksa," bisik Leon tepat di samping telinga Selena.

Dunia seolah berhenti berputar. Suara berisik Axel dan Damon yang lagi main PS di belakang mendadak jadi suara sayup-sayup. Selena bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan. Ternyata si Tembok Semen ini kalau lagi deket begini... gantengnya nggak masuk akal, batin Selena.

Leon menoleh sedikit, membuat mata mereka bertemu dalam jarak hanya beberapa senti. Mata Leon yang biasanya dingin, kali ini terasa lebih dalam. Dia tidak tersenyum, tidak bicara gombal seperti Axel, tapi tatapannya seolah mengunci Selena.

"Udah pas," ucap Leon akhirnya, suaranya rendah dan serak. Dia melepaskan tangan Selena, lalu mengambil kain lap untuk membersihkan noda oli di jari Selena yang terkena sedikit minyak mesin.

Leon mengusap jari-jari Selena dengan sangat lembut, sangat kontras dengan penampilannya yang garang. Momen itu terasa sangat intim meski tanpa kata-kata manis.

"Makasih, Leon," bisik Selena, wajahnya memanas.

Leon hanya mengangguk kecil sekali, lalu kembali sibuk dengan mesinnya seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi Selena tahu, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.

Tiba-tiba...

BRAAAKKK!

Suara itu alias gebrakan kaleng soda yang jatuh disenggol Zeus membuat momen itu pecah. Zeus berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah yang... sulit dijelaskan. Dia menatap Leon dan Selena bergantian dengan tatapan tajam.

"Selesai dramanya? Selena, balik ke sini. Waktu istirahat lo abis," ketus Zeus sambil memalingkan wajah.

Selena buru-buru berdiri, salah tingkah. "I-iya! Galak amat sih!"

Sementara itu, Leon tetap tenang. Dia melirik Zeus sekilas, lalu sedikit menarik sudut bibirnya—sebuah senyum tipis yang hampir tidak terlihat, seolah sedang menantang sang ketua.

Beberapa menit kemudian.....

Selena menguap lebar. Duduk diam di sofa empuk sambil diawasi Zeus ternyata jauh lebih menyiksa daripada disuruh ngepel satu markas. Baginya, "babu" yang cuma disuruh duduk itu bukan hukuman, tapi kebosanan tingkat dewa.

Dia melirik ke arah pojok ruangan, tempat sebuah sistem suara (sound system) besar yang kelihatannya sangat mahal terpasang rapi.

"Woi, Kulkas!" panggil Selena sambil menendang kaki meja pelan. "Bosen nih gue. Ada speaker nggak? Markas sepi amat kayak kuburan, mending kita bikin rame!"

Zeus yang lagi fokus sama tabletnya cuma melirik singkat. "Ada. Pake aja, tapi jangan berisik."

"Heh, mana ada pake speaker tapi nggak berisik!" Selena langsung lompat dari sofa. Dia menghampiri sistem suara itu, menghubungkan ponselnya lewat bluetooth, dan mencari lagu yang bisa membangkitkan semangat bar-barnya.

"Gue pinjem ya! Jangan protes!" seru Selena.

Sedetik kemudian...

JRENGGGGG! DUG! DUG! DUG!

Suara drum yang menghentak dan raungan gitar elektrik memenuhi seluruh penjuru markas. Selena menyetel lagu "Animals" dengan volume yang cukup untuk membuat kaca jendela bergetar.

"Baby, I'm preying on you tonight... Hunt you down, eat you alive!"

Selena mulai headbang kecil, mengayunkan kepalanya mengikuti irama rock yang enerjik. Dia bahkan mengambil kemoceng sakti yang tadi tergeletak dan menjadikannya sebagai standing mic darurat.

"JUST LIKE ANIMALS! ANIMALS! LIKE ANIMALS-MALS!" teriak Selena ikut bernyanyi dengan penuh penghayatan, meskipun suaranya kalah telak sama dentuman speaker.

Damon yang lagi latihan tinju langsung berhenti, tangannya masih menggantung di udara. Axel yang tadi lagi asyik main HP sampai hampir menjatuhkan ponselnya karena kaget. Nathan bahkan harus menutup telinganya karena suara musik yang menggelegar.

"BUSYET! Ini markas mafia atau konser rock dadakan?!" teriak Axel berusaha mengalahkan suara musik. "Sel! Pelanin dikit, nanti kuping gw rusak !"

Selena nggak peduli. Dia malah naik ke atas meja kayu besar di tengah markas, bergaya ala rockstar legendaris. "Ayo dong! Jangan lemes! Katanya geng motor paling ditakuti, masa denger lagu ginian aja udah ciut!"

Leon yang tadi lagi fokus modif motor, sempat terhenti. Dia tidak protes, malah sedikit mengangguk-angguk kecil mengikuti tempo drum yang cepat. Sepertinya selera musik Selena masuk di telinganya.

Zeus berdiri dari kursinya, berjalan mendekati meja tempat Selena sedang beraksi. Dia menatap Selena yang sedang asyik "konser" dengan jubah hitam yang masih tersampir di bahunya.

BRAAAKKK!

Suara gebrakan kali ini adalah tangan Zeus yang menggebrak meja tepat di bawah kaki Selena untuk menarik perhatiannya.

Selena berhenti mendadak, menunduk menatap Zeus yang wajahnya cuma berjarak beberapa senti dari kakinya. "Apa?! Kurang kenceng?!"

Zeus mendongak, menatap mata Selena yang berbinar penuh energi. Bukannya marah atau mematikan musiknya, Zeus malah menyeringai tipis. Dia meraih remot kontrol speaker dan...

Cring!

Bukannya dimatikan, Zeus malah menambah volumenya sampai maksimal!

"Kalau mau konser, yang totalitas sekalian," ucap Zeus dingin tapi ada kilat tantangan di matanya.

"WAAAAA! GILA LO, ZEUS!" teriak Selena kegirangan.

Seluruh inti Thunder akhirnya terbawa suasana. Damon mulai memukul samsak mengikuti irama drum, Axel mulai joget nggak jelas, dan Selena? Dia merasa hari terakhirnya sebagai babu benar-benar ditutup dengan ledakan yang luar biasa.

Bersambung...

1
aytysz
Semangat yaa kak-- kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku -- di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka ♡
bochi to the light: thanks suportnya ya 😊 btw cerita kamu bagus banget loh
total 1 replies
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!