Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Serigala Berbulu Domba
Bab 11: Serigala Berbulu Domba
Satu bulan telah berlalu sejak insiden di Hutan Maya.
Perguruan Lembah Kabut tampak tenang di permukaan, namun arus bawahnya berubah drastis. Murid-murid Kelas Surya dan Kelas Candra masih berjalan dengan dagu terangkat, memamerkan jubah sutra dan senjata berkilauan mereka. Mereka sibuk melatih jurus-jurus elemen yang memukau mata: bola api, pisau air, dan dinding tanah.
Namun, di sudut-sudut gelap perguruan, di jalur-jalur pengangkut air dan gudang kayu, ada pemandangan yang berbeda.
Murid-murid Kelas Awan tidak lagi berjalan menunduk.
Mereka masih memakai baju lusuh yang sama. Mereka masih melakukan pekerjaan kasar yang sama—membersihkan toilet, mengangkut batu, memotong kayu. Tapi cara mereka bergerak telah berubah.
Langkah mereka tegap dan efisien. Tidak ada gerakan sia-sia. Sorot mata mereka yang dulunya layu seperti ikan mati, kini tajam dan waspada seperti serigala kelaparan yang sedang mengamati kawanan domba gemuk.
Latihan "Tebing Patah Hati" setiap pagi buta telah mengubah fisik mereka menjadi mesin otot yang padat. Mereka belum diajarkan satu pun jurus Prana, tapi tubuh mereka sendiri telah menjadi senjata.
Siang itu, kantin umum (Warung Dahar) penuh sesak. Aroma soto ayam dan nasi jagung memenuhi ruangan.
Jaka sedang berjalan membawa nampan berisi lima mangkok soto panas. Tubuhnya yang dulu gemuk berlemak, kini berubah menjadi gemuk berotot (bulk). Lemaknya memadat menjadi pelindung alami.
Saat ia melewati meja murid Kelas Candra (Menengah), sebuah kaki dengan sengaja dijulurkan untuk menjegalnya.
Itu adalah Bagas, salah satu kacung setia Arya Agnimara.
"Ups, hati-hati Gendut!" ejek Bagas, disambut tawa teman-temannya.
Normalnya, Jaka akan tersandung, soto tumpah, dia akan menangis, dan semua orang akan tertawa. Itu skenario bulan lalu.
Tapi hari ini, saat kaki Bagas menyentuh betis Jaka, rasanya seperti menendang batang pohon besi.
Jaka tidak bergeming. Kakinya bahkan tidak goyah. Justru Bagas yang meringis karena tulang keringnya sakit.
Jaka berhenti. Dia menoleh pelan. Tidak ada ketakutan di wajahnya.
"Kakimu menghalangi jalan, Teman," ucap Jaka tenang.
Bagas terkejut, lalu marah karena merasa diremehkan oleh 'sampah'. Dia berdiri, menggebrak meja.
"Kau berani menceramahiku, Babi?! Minta maaf atau kumasukkan kepalamu ke mangkok soto itu!"
Bagas melapisi tangannya dengan Prana tanah, membuat tinjunya sekeras batu, lalu melayangkan pukulan ke wajah Jaka.
Murid-murid lain menahan napas. Jaka pasti habis.
Tapi Jaka tidak menghindar. Dia juga tidak menangkis. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit.
WUSH.
Tinju Bagas meleset tipis.
Saat tinju itu masih di udara, tangan kiri Jaka bergerak secepat kilat. Dia tidak memukul. Dia mencengkeram pergelangan tangan Bagas, lalu dengan gerakan memutar pinggang yang dia pelajari dari mengangkat batu di tebing...
KRAK!
"ARGHHH!"
Bagas menjerit. Jaka membanting tubuh Bagas melewati bahunya (Shoulder Throw). Tubuh Bagas melayang di udara dan jatuh menghantam meja makan kayu hingga hancur berantakan.
Soto tumpah ke mana-mana. Keheningan menyelimuti kantin.
Seorang murid Kelas Awan, tanpa menggunakan tenaga dalam, baru saja membanting murid Kelas Candra tingkat Wira Sukma Awal?
"Siapa lagi yang kakinya gatal?" tanya Jaka datar, menatap teman-teman Bagas yang ternganga.
"KURANG AJAR!" Tiga teman Bagas mencabut senjata mereka. "Serang dia! Bunuh sampah pemberontak ini!"
Mereka bertiga menerjang maju.
Tiba-tiba, dari meja di sudut ruangan, sebuah sumpit melesat terbang.
TAK! TAK! TAK!
Tiga sumpit bambu menancap tepat di depan ujung sepatu ketiga penyerang itu, membenam setengah panjangnya ke dalam lantai batu yang keras.
Bara berdiri dari kursinya di pojok. Dia baru saja selesai makan.
"Sudah cukup," suara Bara pelan, tapi entah kenapa terdengar lebih menakutkan daripada teriakan Bagas. "Merusak fasilitas kantin dendanya 5 koin perak. Kalian mau bayar?"
Bara berjalan mendekat, melewati Jaka, dan berdiri di depan kelompok Kelas Candra itu.
"Minggir kau, Bara!" bentak salah satu dari mereka, meski tangannya gemetar melihat sumpit yang menancap di batu itu. "Kalian Kelas Awan sudah mulai besar kepala ya?! Kalian lupa kasta kalian?!"
Bara tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Kasta?" Bara mengambil satu sumpit lagi dari meja. "Di mata pisau dapur, daging Wagyu dan daging tikus sama-sama bisa dipotong. Tidak ada bedanya."
"Kau mengancam kami?!"
"Bukan ancaman," Bara mematahkan sumpit itu dengan dua jari. "Peringatan. Kami di sini untuk makan, bukan untuk meladeni ego kalian yang rapuh. Pergilah sebelum aku menyuruh Jaka mematahkan tangan kalian yang satu lagi."
Ketiga murid itu saling pandang. Mereka melihat aura Jaka yang siap menerkam, dan ketenangan Bara yang ganjil. Insting mereka mengatakan: Jangan cari masalah.
Mereka membopong Bagas yang merintih kesakitan dan mundur teratur. "Tunggu saja! Tuan Muda Arya akan mendengar ini!"
Setelah mereka pergi, Jaka menghela napas panjang, bahunya merosot. "Mas Bara... aku bikin masalah ya?"
Bara menepuk bahu Jaka. "Tidak. Kau melakukan hal yang benar. Serigala tidak boleh membiarkan anjing kencing di wilayahnya."
Bara menatap sekeliling kantin, menatap mata setiap murid dari kelas lain yang menonton. Tatapannya mengirim pesan jelas: Kelas Awan bukan lagi tempat sampah.
PRAANG!
Guci keramik mahal pecah berkeping-keping. Ki Rangga Agnimara berdiri dengan dada naik turun menahan amarah. Di depannya, Arya duduk di kursi roda (kakinya masih lumpuh sementara), wajahnya merah padam setelah mendengar laporan insiden kantin.
"Mereka semakin berani, Paman!" hasut Arya. "Si Jaka Gendut itu mematahkan tangan Bagas! Dan Bara... dia bertingkah seolah dia pemimpin perguruan! Kita harus memberi mereka pelajaran!"
Ki Rangga memijat pelipisnya. Masalah Kelas Awan ini seperti duri dalam daging. Kecil, tapi menyakitkan.
"Kita tidak bisa menyerang mereka secara terbuka tanpa alasan, Arya. Ki Awan melindungi mereka. Dan si tua mabuk itu... meskipun gila, dia masih mantan Jenderal yang dihormati Kekaisaran."
"Lalu kita diam saja?!"
Ki Rangga tersenyum licik. Dia berjalan ke lemari besinya, mengambil sebuah gulungan surat keputusan.
"Tentu saja tidak. Sebentar lagi ada Festival Bulan Purnama. Tradisinya, ada acara Pencak Dor¹. Pertarungan bebas di atas panggung bambu. Biasanya hanya untuk hiburan."
Ki Rangga melempar gulungan itu ke pangkuan Arya.
"Kita ubah aturannya tahun ini. Pertarungan antar kelas. Kelas Surya melawan Kelas Awan. Hadiahnya... Hak Pengelolaan Sumber Daya."
Mata Arya berbinar jahat. "Maksud Paman... jika mereka kalah, kita bisa mengambil alih asrama mereka? Mengusir mereka?"
"Lebih dari itu," Ki Rangga menyeringai. "Dalam Pencak Dor, kematian dianggap sebagai... kecelakaan yang disayangkan. Aku akan menyewa 'murid luar' untuk menyusup ke tim Kelas Surya. Tugas mereka satu: Bunuh Bara di atas panggung."
Bara sedang bermeditasi di atap asrama Kelas Awan ketika angin berhembus membawa aroma melati.
"Kau datang lagi, Tikus Cantik," sapa Bara tanpa membuka mata.
Nimas Sekar muncul dari balik bayangan cerobong asap. Dia tidak memakai cadar malam ini, memperlihatkan wajah cantiknya yang serius.
"Informasi baru," kata Sekar langsung. "Ki Rangga menyewa Geng Kapak Merah. Tiga pembunuh bayaran tingkat Bumi Pala Awal. Dia akan menyusupkan mereka sebagai murid pindahan di Kelas Surya untuk Festival Bulan Purnama minggu depan."
Bara membuka matanya. "Bumi Pala? Ki Rangga benar-benar berniat membunuhku ya?"
"Bukan cuma kau," lanjut Sekar. "Targetnya adalah pembantaion. Dia ingin menghancurkan mental Kelas Awan sampai ke akar-akarnya. Dia ingin membuat contoh: Siapapun yang melawan Agnimara akan mati mengenaskan."
Bara terkekeh pelan. "Lucu."
"Apanya yang lucu?!" Sekar kesal. "Ini serius, Bara! Kau mungkin kuat, tapi murid-muridmu? Jaka? Kirana? Mereka akan dicincang oleh Kapak Merah! Kau harus lari, atau minta perlindungan ke Anjani!"
Bara berdiri, menatap bulan yang hampir purnama.
"Sekar," panggil Bara lembut. "Kau pernah melihat serigala berburu kerbau?"
Sekar mengerutkan kening. "Apa hubungannya?"
"Satu serigala akan mati diinjak kerbau. Tapi satu kawanan serigala... bisa merobohkan gajah."
Bara berbalik menatap Sekar. Mata emasnya menyala dalam kegelapan.
"Biarkan mereka datang. Biarkan Ki Rangga membawa semua pembunuhnya. Festival nanti bukan tempat pembantaian kami. Itu akan menjadi panggung debut Kelas Awan."
Bara berjalan mendekati Sekar, lalu menyerahkan secarik kertas lusuh.
"Ini daftar bahan yang kubutuhkan. Racun pelumpuh saraf, bubuk mesiu, dan kawat baja tipis. Bisakah Wangsa Bayu Aji menyediakannya?"
Sekar menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Dia membaca daftarnya. Ini bukan daftar belanjaan pendekar terhormat. Ini daftar belanjaan teroris.
"Kau... kau mau bermain curang di arena suci?" tanya Sekar tak percaya.
"Arena suci?" Bara tertawa sinis. "Tidak ada yang suci dalam perang, Nimas. Yang ada hanya yang Hidup dan yang Mati. Aku memilih murid-muridku Hidup."
Sekar menatap mata Bara lama. Dia melihat kegilaan di sana, tapi juga perlindungan yang absolut.
"Baik," Sekar menyimpan kertas itu. "Aku akan siapkan besok malam. Tapi ingat... kau berhutang satu nyawa lagi padaku."
"Catat saja di buku tabungan," jawab Bara santai.
Sekar menghilang ditelan angin.
Bara kembali duduk, menatap asrama di bawahnya di mana teman-temannya sedang tidur lelap.
"Garuda," panggil Bara.
"Hmm?"
"Pinjamkan aku apimu sedikit malam ini. Aku harus membuatkan 'mainan' baru untuk Jaka dan yang lainnya."
"Kau memanjakan mereka, Mitra," dengus Garuda, tapi apinya mulai mengalir hangat ke tangan Bara.
"Bukan memanjakan," Bara mengeluarkan beberapa potong sisa meteorit Wesi Winge. "Aku sedang mempersenjatai kawananku."
Malam itu, suara denting palu pelan terdengar dari atap asrama, diiringi oleh sumpah bisu di bawah rembulan: Tidak ada lagi yang akan menunduk.
Glosarium & Catatan Kaki Bab 11
Pencak Dor: Tradisi pertarungan bebas (biasanya di atas panggung bambu) yang populer di kalangan pesantren tradisional di Jawa (terutama Kediri/Jombang). Aturannya minim, sangat keras, namun menjunjung tinggi sportivitas "di atas lawan, di bawah kawan". Di novel ini, tradisi ini diadopsi menjadi arena penyelesaian konflik antar kelas.
Kantin (Warung Dahar): Tempat makan umum. Penggunaan istilah lokal untuk memperkuat nuansa Nusantara.
Shoulder Throw (Bantingan Bahu): Teknik judo/silat di mana penyerang menggunakan punggung/bahu sebagai titik tumpu untuk melempar lawan. Sangat efektif melawan musuh yang menyerang membabi buta.
Kapak Merah: Referensi kelompok preman legendaris di Jakarta, di sini diadaptasi menjadi kelompok pembunuh bayaran yang menggunakan senjata kapak dan brutal.