"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sambutan pagi dari Marsha and geng
keesokan paginya Lusi, Yulia dan Claudia berangkat menggunakan sepeda, Yulia masih sama seperti kemarin lebih senang di bonceng Lusi
"gue udah izin loh sama Mama gue, entar pulangnya ke kos kalian! gue main sampe sore!" ucap Claudia yang pagi ini menjadi pagi paling menyenangkan untuknya, selama sekolah di Lentera Ilmu dirinya tak pernah berangkat bersama teman karena tak ada teman yang terlalu dekat dengannya dan juga tak ada yang sefrekuensi dengan dirinya
Lusi dan Yulia menjadi teman pertama yang membuatnya yakin jika dirinya tidak aneh, hanya sedikit berjiwa lebih bebas dari lainnya.
"bagus tuh! pulang nanti kita beli kacang dulu deh, stok kacang di kos habis, sama kak Bisma di buat sambel kemarin malem" sahut Lusi
"rujak bumbu kacang ya? enak tuh!" sahut Claudia yang semangat
"kalian bukannya kemarin bilang satu kos?, di kos ada berapa orang emangnya?" lanjut Claudia bertanya
"bertiga, bareng suami gue!" sahut Yulia dengan senyum lebarnya
"eh jurik! kak Bisma gak akan selera sama loe, tukang rusuh!" celetuk Lusi tertawa
"yee.. calon adik ipar mending diem deh! kayak sendirinya kalem aja loe!"
Claudia seperti faham hubungan mereka, sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol sambil tertawa. Claudia menjadi teman baru mereka, teman yang tiba-tiba begitu akrab setelah pertemuan mendadak semalam, di antara mereka bertiga tak ada rasa canggung setiap kata dan lelucon mereka terasa nyambung
"nanti ke kantin bareng yuk, gue juga belum punya kontak kalian nih" celetuk Claudia, mereka berjalan di lorong yang sama karena kelas mereka searah hanya saja kelas Claudia sedikit lebih jauh
saat memasuki kelas, Lusi cukup terkejut melihat mejanya yang penuh dengan sampah dan coretan spidol
tangannya menggenggam erat menahan kesal, tanpa mencari tau pun dirinya sudah menebak siapa pelakunya, ini hari ketiga dirinya di sekolah dan orang yang berselisih dengannya hanya ada dua, satunya geng si princess Marsha satunya lagi si ketua geng cowok sok berkuasa. Lusi menarik nafasnya pelan meredam rasa marah dan kesal dalam hatinya
"Ucii.. jangan marah ya? masih pagi loh.. kita bersihin dulu mejanya" hibur Yulia mencoba menenangkan sahabatnya itu
"gue gak marah kok.. kebetulan gue udah tiga hari disini dan belum di buatin jadwal piket, kenapa gak sekalian jadiin hari ini hari piket gue aja?" ucap Lusi tersenyum seperti biasa, Yulia menghela nafas lega
"khm.. pagi, Lusi?" sapa Arsha yang berdiri didepan pintu, dirinya baru sampai tapi melihat meja Lusi dia seperti faham situasinya dan sempat mendengar ucapan Lusi
"kalo gitu, piket Loe di tetapin hari ini, selamat bekerja ya.." lanjut Arsha tersenyum riang, menyimpan rasa canggung di dalam hatinya. sebagai ketua kelas dirinya merasa bersalah karena tak menyadari ada yang berbuat curang di kelasnya bahkan dirinya pun tak bisa mencegah hal itu
"oh, oke ketua kelas!" senyum Lusi tak memudar, Lusi mulai membersihkan kelas bersama teman-temannya yang sepiket dengannya hari ini, Yulia bahkan ikut membantu
selesai menyapu, membersihkan papan dan merapikan meja-meja, Lusi dan Yulia berinisiatif untuk membuang sampah. di kelas itu para siswa tak ada yang berani membuka mulut meski kasihan dengan Lusi yang sepagi itu sudah di sambut sampah di mejanya, hanya Arsha yang berani itu mengapa dirinya di pilih sebagai ketua kelas di sana, sayangnya Arsha kecolongan pagi ini dan itu membuatnya sedikit malu pada teman-teman nya
"tadi yang lakuin itu siapa?" tanya Arsha pada teman-teman nya
"si trio dugong Sha, kita bukan takut kita udah cegah dia kok tapi kita malah di ancem sama dia, loe kan tau kita se-enggak berdaya itu kalo udah di ancem di keluarin dari sekolah" jawab Aldo
"iya Sha.. si Marsha bahkan naruh lem tuh di bangkunya Lusi, tapi udah kita bersihin Lemnya jadi udah Aman kok" sahut Mega juga. Lusi dan Yulia mendengar ucapan Mega
"makasih ya kalian, lain kali gak usah libatin diri kalian takutnya kalian beneran dapet masalah" ucap Lusi setelah menaruh bak sampah ke pojok kelas
"ga apa-apa kok, kita disini juga udah biasa dengan kelakuan mereka" sahut Mega
'aku fikir mereka cuek selama dua hari ini karena mereka gak peduli, taunya mereka gak berdaya ya.. bener kata Yuli, satu kelas ini orang-orang nya gak seburuk yang aku kira' batin Lusi menarik nafas
"sebenarnya si Marsha itu siapa? anak pemilik sekolah? atau anaknya pejabat? kenapa kalian takut dengan ancaman dia?" tanya Lusi yang penasaran, bukan niatnya ingin menjadi jagoan atau pahlawan dia hanya penasaran dan jika di perlukan dia akan menghindari Marsha sebisa mungkin
"dia anak orang kaya yang sok kaya banget, papanya salah satu donatur di sini.. gak tetap sih tapi tetap aja donatur itu kenapa dia selalu sok berkuasa" jawab Aldo
"dan.. dia anak manja! apapun yang dia bilang harus banget diturutin sama papanya, Yuli pernah jadi korbannya hampir dikeluarin dari sekolah, untung dia preman jadi menang deh" imbuh Rea juga
"serius Yul? kok gak pernah cerita?" tanya Lusi terkejut
"apanya yang gak pernah? loe gak lupa kan pas gue cerita di bukit waktu libur sekolah kemarin?" jawab Yulia, Lusi ingat dan sekali lagi Lusi terkejut
"oh jadi yang waktu itu loe ceritain, si Marsha?" kagetnya, Yulia mengangguk sebagai jawaban
"maaf ya, lain kali kalian gak. usah bantuin gue.. gue bisa atasin dia sendiri kok" lanjut Lusi pada teman-teman sekelasnya itu
"kami gak akan ikut campur, asal dia gak lakuin hal bodoh di kelas atau yang ngerugiin kami disini. . tapi kami juga gak bisa diem doang jadi lain kali kalo loe butuh bantuan loe bisa bilang ke kami, Lusi" sambut Arsha tersenyum, serempak teman sekelas nya menjawab Ya! Lusi sedikit terharu ini kali pertama dirinya merasa hangat setelah tiga hari berlalu
"makasih ya.. teman-teman" ucap Lusi sedikit membungkuk karena respect pada mereka
'oke! list hari ini adalah balas dendam ke Marsha, tapi gak perlu libatin yang lain jadi gue mandiri aja!' batin Lusi merencanakan sesuatu.
Deva dan dua temannya itu duduk santai di meja kantin, mereka menikmati snack yang mereka beli sebelumnya. di pintu kantin ada sebuah papan yang tertempel dengan tulisan besar
"Lusi dari kelas 11A ruang 2 di larang masuk"
ya.. banyak sekali siswa yang penasaran siapa Lusi yang di maksud dari tulisan itu. anak-anak dari kelas 11A ruang 2 pun hanya menatap diam papan itu, pagi tadi Lusi sudah di kerjain oleh Marsha kini malah ada orang lain lagi, tapi siapa yang begitu berani membuat larangan seperti itu? hak semua siswa untuk jajan di kantin itu!
"ini siapa lagi sih? Lusi masuk ke sini baru kemarin tapi musuhnya banyak banget" gumam Nita
"iya.. banyak banget musuhnya, udah kayak narapidana aja setiap langkahnya mengundang musuh" sahut Andy
"tiba-tiba jadi kasian nih sama Lusi" imbuh Mega juga
"tapi kalo diliat-liat dia cocok sih banyak musuh, dia pemberani banget anj*r, dia juga cakep banget lagi.. gak heran banyak yang musuhin dia tanpa sebab" ucap Nita lagi
"jadi orang cakep juga susah ya, untung gue beautiful jadi aman!" celetuk Mega mengibaskan rambutnya percaya diri