Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Hari H dan Rumah pertama
Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba-tiba. Risa datang bersama kedua temannya juga sang ibu sebagai wali, sementara Rio hanya datang seorang diri.
Keduanya gak pakai baju pengantin kayak pasangan lainnya yang hadir di sana. Risa hanya menggunakan dress putih selutut tanpa banyak motif dan tanpa lengan. Ia memakai outer jaket putih lengan panjang sebagai gantinya yang hanya sampai sebatas dada saja.
Sementara Rio, entah janjian atau tidak, secara kebetulan dia juga memakai pakaian putih. Kemeja putih semi formal dan celana panjang putih.
"Cie, janjian nih?" Goda Acha sambil melirik-lirik ke arah Risa.
"Siapa juga yang janjian?" Risa hanya menggerutu heran. Bisa-bisanya Rio juga pakai baju warna putih, bikin orang lain salah-paham.
"Tapi cakep juga loh, Ris. Gak kalah deh dari Dion. Apalagi dia masih muda." Via berbisik centil.
"Jangan ganjen di sini, nanti aja!" Balas Risa gemas ngeliat Vianyang masih gak berubah setiap ngeliat ada cowok cakep.
"Semua sudah siap?" Suara ibundanya Risa memecah suasana.
"Tante, tapi Rio cuma sendiri, enggak apa-apa?" Rio kelihatannya merasa gak enak karena dia hanya datang sendiri tanpa ada anggota keluarga maupun kerabat yang menemani.
"Gak apa-apa kok, Rio. Cukup Tante saja yang menjadi wali dan saksi ya." Wanita itu tersenyum lebar, sumringah banget kayaknya. Dia menepuk punggung Rio dan mengajaknya untuk masuk, bahkan dia lupa sama anaknya sendiri.
"Gile, emak lu kayaknya udah kepincut sama si Rio deh." Acha takjub melihat ibunya Risa yang terkenal galak bisa sekalem dan sebaik itu sama Rio.
"Iya, perhatian banget, beda pas sama Dion." Via ikut menimpali, sama herannya kayak Acha.
"Mana gue tahu! Nyokap gue udah kayak gitu sejak ketemu Rio pas dia ke rumah gue!" Risa kelihatan acuh tak acuh, gak mau ambil pusing kenapa sikap ibunya sendiri bisa berbeda antara ke Dion dan Rio.
"Gue rasa, emak lu bisa bedain deh, mana cowok yang beneran baik, sama yang baik karena ada maunya aja," celetuk Acha secara reflek.
"Cha, lu ngomong apaan sih? Dion itu bukan orang jahat!" Risa masih membela Dion meski cowok itu sudah membuatnya patah hati.
"Risa, kamu ngapain malah ngobrol di sana?" Wanita itu berteriak di depan pintu kantor, menyuruh Risa untuk bergegas.
"Iya, iya!" Balas Risa, "udah ah, ayo ke sana!" Kemudian ia menyeret kedua temannya untuk ikut menemani.
...****************...
Proses pernikahan Risa dan Rio bisa berjalan khidmat, lancar tanpa terkendala sedikit pun seperti keadaan dan alam merestui pernikahan dadakan itu. Orang yang paling senang tentu sang ibunda, wajahnya langsung tampak bahagia. Sementara Risa merasa menjadi orang yang paling malang. Dia baru saja merasa dikhianati, eh sekarang harus terjebak di dalam pernikahan yang dia sama sekali gak inginkan. Tapi, mau bagaimana lagi? Risa gak punya daya untuk menolak kehendak sang ibunda.
"Rio, mulai sekarang kamu panggil saya Mama, ya?" Wanita itu menepuk pundak Rio.
"Hah? Saya panggil Tante aja deh, enggak apa-apa, kok." Rio langsung ngerasa kikuk.
"Eh, kok gitu? Kamu 'kan sudah jadi bagian dari keluarga saya, ingat lho kamu sudah resmi jadi suami Risa." Dia malah mengingatkan posisi Risa dan Rio sekarang, hal yang justru bikin Risa merasa jengkel dengan situasinya sekarang.
"Udahlah, kalau dia belum terbiasa jangan dipaksa! Semua butuh waktu!" Risa menegur sang bunda yang kayaknya agak memaksa.
"Ya sudah, tapi jangan terlalu lama ya, Rio," ucap wanita itu jelas penuh harap.
...****************...
Risa akhirnya tiba di apartemen yang khusus dipersiapkan oleh ibunya untuk mereka berdua. Dia benar-benar gak menyangka hal ini benar-benar terjadi. Tempat ini akan menjadi kurungan baginya, di mana dia pasti gak bakal bisa bergerak bebas, terutama sang ibu yang bakal ikut memantau.
Astaga, otaknya sudah langsung berdenyut bahkan sebelum resmi menempati apartemen tersebut.
"Ma, cuma ada satu kamar?" Risa terbelalak saat menyadari ruangan kamarnya hanya ada satu.
"Ruangan kamar satunya lagi jadi gudang, gak apa-apa 'kan? Kalian 'kan pengantin baru, pastinya pengen berdua saja, iya dong?" Ibunya memasang seringai lebar. Pasti sengaja melakukannya biar Risa gak lepas dari Rio.
"Oh ya, Mama pulang dulu ya Risa, nanti agak siangan balik lagi kemari bawa bahan-bahan untuk barbekyu nanti malam."
"Serius mau langsung adain acara malam ini?"
"Ya iya dong, Risa! Udah ah, Mama mau pergi dulu, nanti jadi kesiangan pulangnya! Rio jaga Risa baik-baik, ya."
"Iya Tante, bakal Rio jagain."
"Risa itu emang agak keras kepala, susah diatur dan sedikit sombong, tapi dia baik kok."
"Haha..., enggak masalah Tante saya biasa kok...."
"Sialan, kenapa sih aib gue malah dibongkar sama emak sendiri!" Risa cuma bisa membatin, mati kutu ketika semua watak jeleknya malah dibongkar di depan Rio.
"Baik-baik kalian, jangan berantem!"
Akhirnya setelah memberi pesan panjang lebar kaya kereta yang gak ada ujungnya, wanita itu pulang juga. Hanya tersisa Risa, Rio dan kedua teman Risa, Via dan Acha yang juga ikut pamit pulang. Jadi ya, di apartemen itu tinggal Risa doang berdua sama Rio.
"Gue gak mau tahu ya, kamar itu jadi milik gue," ucap Risa langsung mengklaim kamar tersebut.
"Senyamannya saja, aku gak masalah tidur di ruang tamu," balas Rio yang dengan santai langsung rebahan di atas sofa putih panjang itu.
"Gue mau mandi, awas ya jangan berani-beraninya masuk kamar buat ngintip!" Risa antipati.
"Hoaaam, mending tidur." Rio membalikkan tubuhnya ke samping dan langsung memejamkan mata.
Risa hanya mendengus lalu berjalan masuk ke kamar yang menjadi satu-satunya ruangan pribadi baginya (harusnya mereka berdua sih).
...****************...
Setelah mandi Risa merasa tubuhnya menjadi lebih segar dan rileks. Ia keluar dari kamar dan melihat Rio ternyata masih di sofa itu. Kayaknya dia beneran tidur. Capek mungkin. Risa melihat jam di dinding yang berbentuk hati.
"Pasti yang nempelin jam hati warna merah itu emak gue!" Batinnya meringis saat melihat jam merah norak tersebut.
"Udah jam 12:00 si Rio masih belum bangun...."
Risa menghela napas dan akhirnya memutuskan untuk membangunkan pemuda itu.
"Rio, bangun, udah siang, lu mau tidur sampai kapan?" Risa berusaha memanggil pemuda itu tapi gak ada reaksi. "Ih kebo juga ini anak!".
Risa akhirnya mendekati Rio dan duduk di samping sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Rio bangun, emak gue dikit lagi dateng!"
Greb...!
"Heh? Ri-Rio lu mau apa?" Risa kaget saat tiba-tiba saja tangan pemuda itu mencengkram pergelangan tangannya begitu kuat.
"Ri-Rio, lepas!" Risa berusaha menarik tangannya, tapi dia kalah kuat. "Gila, tenaganya kuat amat gak kaya waktu itu!" Risa panik.
"Rio lepasin gue atau gua bakal teriak!" Ancam Risa yang udah kebingungan mau gimana.
Rio masih gak bergeming dan tiba-tiba saja dia menarik tubuh Risa.
Brukh...!
Risa terdiam saat dirinya berada begitu dekat dengan Rio yang ternyata masih memejamkan mata.
"Hah, dia masih tidur? Apa lagi mimpi? Kalau dilihat dekat begini, dia cakep juga sih...." Risa malah salting sendiri dengan posisinya.
"KYAAAAAAAA??!!!!"
Yak, teriakan yang super membagongkan barusan sukses merusak momen Risa. Dia menoleh dengan kesal ke arah dua mahkluk tanpa diundang itu.
"Berisik!" Umpatnya kepada Acha dan Via yang baru datang lagi.
Rio yang ikutan kaget karena suara barusan pun akhirnya bangun.
"HUAAAH!" Pemuda itu langsung kaget, nyaris terlonjak saat melihat Risa ada di atasnya dengan pakaian tipis (maklum dia habis mandi kan tadi).
"Bu Risa ko-kok bisa di-di atas saya??" Tanyanya kelihatan khawatir.
"Apaan sih lu? Bisa lah, bukannya gue emang pernah di atas lu, ya?" Keisengan Risa muncul begitu melihat wajah polos Rio yang ketakutan.
"Ja-jangan dibahas...." Rio buru-buru menyingkir dari atas sofa dan menjauhi Risa.
"Lu mendingan mandi deh, emak gue sebentar lagi mau kemari 'kan," ujar Risa mengganti topik.
"Tapi saya gak bawa baju ganti tadi, apa pulang dulu ya...." Rio garuk-garuk kepala. Sebenarnya dia masih kaget dan berusaha mengontrol dirinya.
"Gak perlu, gue Uda beliin baju kaos buat lu, nih!" Acha melempar sebuah bungkusan paper bag ke arah Rio.
"Makasih, umm Kak Acha...."
"BUAHAHAHAHAH!" Tawa Acha sama Via meledak. "Ya ampun Risa! Bayangin suami elu manggil gue, Kakak!" Wajah Rio kembali memerah.
"Ya iyalah Cha, dia 'kan masih anak-anak, emangnya elu!" Celetuk Via sambil berusaha mengatur napasnya.
"Lucu banget deh suami lu Ris, gue jadi demen," goda Acha sambil melirik ke arah Rio yang mematung.
"Pe-permisi!" Rio buru-buru kabur bawa bungkusan itu ke kamar mandi.
"Kasihan bener anak orang lu godain, Cha!" Via cekikikan.
"Tapi serius deh, Ris. Kalau lu gak mau sama dia, buat gue aja," imbuh Acha entah serius atau tidak.
"Ambil aja buat lu, nanti," balas Risa yang kayaknya sih emang gak peduli.
Gimana acara barbekyu nanti? Apa Rio dan Risa bisa saling beradaptasi satu sama lain nantinya?
.
.
.
BERSAMBUNG....