Gayatri, seorang ibu rumah tangga yang selama 25 tahun terakhir mengabdikan hidupnya untuk melayani keluarga dengan sepenuh hati. Meskipun begitu, apapun yang ia lakukan selalu terasa salah di mata keluarga sang suami.
Di hari ulang tahun pernikahannya yang ke-25 tahun, bukannya mendapatkan hadiah mewah atas semua pengorbanannya, Gayatri justru mendapatkan kenyataan pahit. Suaminya berselingkuh dengan rekan kerjanya yang cantik nan seksi.
Hidup dan keyakinan Gayatri hancur seketika. Semua pengabdian dan pengorbanan selama 25 tahun terasa sia-sia. Namun, Gayatri tahu bahwa ia tidak bisa menyerah pada nasib begitu saja.
Ia mungkin hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi bukan berarti ia lemah. Mampukan Gayatri membalas pengkhianatan suaminya dengan setimpal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI 28
“Kau pasti bisa melakukannya, Gayatri.” Anin menyemangati perempuan itu dengan menggenggam tangannya erat.
Gayatri menarik napas panjang, mengangguk lalu turun dari mobil setelah menatap gedung pengadilan selama lima belas menit. Ia masih merasa tak percaya akan mendatangi gedung pengadilan itu untuk mengajukan gugatan perceraian.
“Maaf, Gayatri. Aku tidak bisa mengantarmu, aku harus menemui orang penting siang ini. Tapi kabari aku jika terjadi sesuatu, oke? Aku sudah menghubungi salah satu rekanku di sana, dia akan membantumu,” kata Anin, merasa sedih tak bisa menemani Gayatri tapi ia juga merasa bangga pada perempuan itu.
Gayatri mengangguk pelan, “Iya, kau berhati-hatilah. Terima kasih sudah mengantarku ke sini.”
“Sudah, masuklah sana.” Anin mendorong punggung Gayatri agar lekas masuk ke dalam gedung pengadilan itu. Ia tetap berada di sana sampai Gayatri bertemu dengan rekannya.
Begitu masuk ke dalam gedung, Gayatri menarik napas dalam-dalam. Udara di dalam terasa dingin menusuk paru-parunya, membuat dadanya sedikit nyeri. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia terdiam sesaat, meyakinkan dirinya sendiri bahwa setelah hari ini, tak ada lagi jalan kembali.
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan lain. Derit pintu kaca terdengar pelan, tapi bagi Gayatri, suara itu seperti palu yang diketuk pada peti mati kenangan. Aroma kertas, kayu tua, dan pendingin ruangan menyambutnya.
Beberapa orang duduk di bangku panjang ruang tunggu, wajah-wajah asing dengan cerita yang sama. Pernikahan yang tak lagi bisa diselamatkan.
Gayatri memilih duduk di sudut. Tangannya sedikit gemetar saat ia membuka map. Di dalamnya ada berkas-berkas yang sudah ia siapkan semalam secara diam-diam. Kenangan dua puluh lima tahun pernikahannya, terwakili oleh setumpuk kertas.
Ia menatap halaman buku nikah itu lama. Terselip satu foto lama di dalamnya, foto kecil yang hampir tak pernah ia lupa. Itu adalah foto dirinya dan Mahesa yang masih muda, tersenyum canggung di depan kamera. Wajah mereka penuh harap, seolah dunia akan selalu ramah.
Kemudian, Gayatri menutup buku itu perlahan. Harapan itu telah usai. Ia harus menutup lembaran itu dan kembali membuka lembaran yang lainnya, jika ingin bahagia.
“Nomor antrian tiga puluh dua.”
Suara petugas memecah lamunannya. Gayatri mengangkat kepala, menelan ludah, lalu berdiri. Kakinya terasa berat, tapi langkahnya tetap maju. Setiap langkah kakinya terasa seperti menghitung ulang seluruh hidupnya.
Di balik loket, seorang petugas perempuan paruh baya menatapnya dengan ekspresi profesional namun lembut.
“Ada yang bisa kami bantu, Bu?” tanyanya dengan tersenyum ramah.
Gayatri membuka mulut, namun kata-katanya itu seolah tertahan beberapa detik di tenggorokannya. Ia tidak pernah menyangka, kalimat ini akan menjadi salah satu yang paling sulit ia ucapkan.
“Saya ….” Suaranya terdengar serak. Gayatri berhenti sejenak, lalu memaksa dirinya tenang. “Saya ingin mengajukan gugatan perceraian.”
Petugas itu mengangguk pelan, seolah sudah terlalu sering mendengar kalimat yang sama. “Atas nama siapa?”
“Gayatri,” jawabnya lirih. “Terhadap suami saya … Mahesa.”
Nama itu terasa asing di lidahnya sekarang. Padahal dulu, nama Mahesa menjadi salah satu nama favorit-nya.
Petugas itu kemudian menyerahkan secarik formulir. “Silakan diisi.”
Gayatri kembali duduk di kursinya, mengambil pena dari dalam tas dan mulai mengisi formulir itu dengan jemari yang gemetar. Ia sempat ragu, tapi hanya sesaat.
Kilasan hari pernikahannya tiba-tiba melintas di kepala. Tangan Mahesa yang menggenggam tangannya di hari pernikahan mereka. Malam-malam panjang saat Gayatri terjaga menjaga anak. Tawa kecil di meja makan. Nasihat berharga dari mertuanya.
Gayatri sadar semua hal itu tak akan bisa ia dapatkan lagi. Semuanya akan hilang saat ia benar-benar resmi dinyatakan berpisah dari Mahesa. Tetapi, Gayatri kembali meyakinkan dirinya lagi.
“Kau tidak egois, kau tidak egois. Kau menyelamatkan hidupmu sendiri,” monolog Gayatri seraya menarik napas panjang berkali-kali.
Usai mengisi formulir itu, Gayatri kembali ke loket dan menyerahkannya. Petugas perempuan itu mengecek kembali berkas-berkas yang dibawanya untuk memastikan.
“Apakah Ibu Gayatri sudah benar-benar yakin?” tanyanya pelan, tetapi tatapan matanya menunjukkan empati.
Gayatri menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Petugas itu tersenyum lalu berkata, “Baik. Prosesnya akan kami daftarkan, dan sidang pertama akan dijadwalkan sesegera mungkin.”
Lagi-lagi, Gayatri hanya mengangguk. Setelah menyelesaikan urusannya di sana, Gayatri keluar gedung.
Langkahnya gontai, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang merasa terbebas. Gayatri memang merasa sesak. Perceraian tak pernah mudah baginya, bahkan tak pernah terpikirkan sekalipun olehnya. Tapi dibandingkan dengan rasa sakit perceraian itu, rasa sakitnya tak sebanding saat ia memergoki suaminya bersetubuh dengan perempuan lain di kamarnya.
Gayatri tak langsung pulang, ia memilih berjalan-jalan di sekitar taman yang ada di pengadilan itu untuk menyegarkan pikirannya walau sejenak. Kini ia merasa lebih tenang untuk keluar rumah, tidak terbebani pikiran akan Mahesa yang pasti marah jika tahu ia pergi.
“Seperti ini juga jauh lebih baik,” monolog Gayatri sambil memeluk dirinya sendiri.
***
Mahesa melemparkan tas kerjanya asal lalu duduk di kursi kebanggaannya dengan kesal. Meski cuaca hari itu begitu cerah namun tak membuat suasana hatinya ikut merekah. Ia justru meradang, apalagi saat tadi pagi, ia harus mengurus semua keperluannya sendiri.
“Wajahmu terlihat kesal,” kata Nadya yang tiba-tiba masuk mengantarkan berkas. “Ada apa? Apakah ada masalah lagi? Bagaimana dengan Gayatri? Kau sudah—”
“Tidak bisakah kau diam, Nadya? Jangan membuat mood pagiku hancur dengan menyebut nama Gayatri,” sela Mahesa, membuang muka dengan kesal.
Nadya berkacak pinggang, “Kau kesal karena Gayatri, tapi tolong juga, jangan bawa masalah di rumahmu ke kantor. Hari ini kita ada rapat penting, jangan mengacaukannya dengan suasana hatimu yang buruk itu!” tegasnya lalu berjalan kembali ke mejanya.
Sementara Mahesa semakin kesal, “Sial! Semua perempuan sama saja,” katanya memukul meja kerjanya sendiri.
Masih dengan perasaan kesal, ia membuka laptopnya sendiri dan memulai pekerjaannya hari itu. Benar kata Nadya, suasana hatinya yang buruk tidak boleh merusak pekerjaannya. Ia harus profesional, sebagaimana orang-orang selalu memujinya selama ini.
Namun, baru saja ia memfokuskan diri ke dalam pekerjaannya, Nadya kembali datang. Ekspresinya terlihat serius sekali. “Mahesa,” panggilnya setengah berbisik.
Mahesa menaikkan pandangannya, menatap perempuan itu di depan mejanya. “Ada apa? Apakah ada masalah?” tanyanya dengan kening mengernyit.
Nadya menggeleng, “Aku tidak tahu, tapi Direktur mencarimu, katanya ada hal penting yang harus dibicarakan,” katanya memberitahu.
“Apa?” Mahesa langsung berdiri dan merapikan pakaiannya. “Di mana Pak Direktur? Kau yakin tidak ada sesuatu yang salah, kan?” tanyanya lagi memastikan.
“Sudah kukatakan, aku tidak tahu. Cepatlah kau ke sana, jangan buat Direktur menunggu.”
Mahesa langsung berjalan dengan cepat ke ruangan sang direktur dengan jantung yang berdegup kencang, sambil berpikir hal penting apa yang ingin dibicarakan sang direktur bersamanya.
“Semoga saja tidak ada masalah,” harap Mahesa.