NovelToon NovelToon
Bosku Cinta Pertamaku

Bosku Cinta Pertamaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan di Kantor / Dokter / Romantis / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

Leah merupakan seorang fresh graduate jurusan kedokteran. Ia pun langsung memutuskan untuk bekerja. Bukannya bekerja di instansi kesehatan seperti teman-temannya, ia memilih untuk bekerja di perusahaan. Ia bekerja sebagai dokter perusahaan.

Ia jatuh hati kepada sang atasan pada pertemuan pertama. Tak peduli jarak umur mereka. Leah menyukai atasannya tersebut tulus dari hati.

Tetapi, takdir tak berjalan sesuai harapan. Sang atasan memiliki garis takdir yang sudah ditentukan semenjak ia lahir. Hingga suatu hari, ada hal yang membuatnya begitu patah hati. Ia memutuskan untuk meninggalkan perusahaan itu dan melupakan sang atasan.

"Aku sakit, Dok."

Hingga pada suatu hari, Leah terkejut melihat sosok laki-laki yang begitu dikenalnya itu kini berdiri di hadapannya. Apalagi sikap seseorang tersebut yang sangat berbeda dari saat dulu mereka bertemu.

Jantungnya semakin berdegup kencang melihat lelaki itu menggenggam tangannya kemudian meletakkan di dadanya.

"Di sini."

"P-pak?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hubungan Alfren: Seseorang yang terluka

Dalam ruangan dengan nuansa kemewahan itu, terdapat lumayan banyak orang yang saling bercengkrama. Mereka duduk dengan anggun di kursi meja makan. Tak jarang mengangkat tangan mereka untuk sekadar bersulang dengan minumannya. Alunan musik yang indah nan tenang memenuhi ruangan yang penuh kilauan itu. Memperlihatkan tawa anggun setiap orang yang ada di sana.

Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit hotel itu, memantulkan cahaya keemasan yang jatuh seperti hujan halus ke lantai marmer putih berurat abu. Setiap langkah di dalam ballroom terasa ringan, seolah kemewahan di ruangan itu sengaja dirancang untuk membuat siapa pun lupa akan berat dunia di luar dinding hotel.

Para wanita melangkah anggun dalam gaun-gaun panjang yang berkilau, kain sutra dan satin berdesir pelan setiap kali mereka bergerak. Kilau perhiasan di leher dan pergelangan tangan mereka menyatu dengan cahaya lampu, menciptakan kilatan kecil yang terus menari. Rambut tersanggul rapi, riasan wajah sempurna, senyum terlatih yang menyimpan banyak makna.

Para pria tampil tak kalah menawan. Setelan jas hitam, biru gelap, dan abu-abu arang melekat sempurna di tubuh mereka. Sepatu kulit mengilap, jam tangan mahal tersemat santai, seolah waktu tak pernah menjadi masalah bagi orang-orang seperti mereka. Percakapan terdengar rendah namun penuh keyakinan—tentang bisnis, investasi, dan nama-nama besar yang hanya dipahami kalangan tertentu.

Alunan musik klasik modern mengisi udara, mengalir lembut namun berwibawa. Biola dan piano berpadu, menciptakan irama yang membuat suasana terasa eksklusif, seakan pesta itu hanya diperuntukkan bagi dunia yang sangat kecil dan tertutup.

Dalam riuh orang-orang yang tengah berbicara itu, pintu terbuka menampilkan seorang laki-laki yang datang dengan setelan tak kalah elegan dengan mereka semua. Langkah kakinya menjadi pusat perhatian seisi ruangan itu.

"Alfren!"

Seorang wanita berlari menyambut lelaki itu dengan riang. Suara ketukan heels nya terdengar nyaring di antara lantunan musik dan riuh orang-orang itu.

"Kok baru datang?"

Wanita dengan manik coklat itu langsung menggapai lengan Alfren dan memeluknya erat. Menatap sang lelaki dengan penuh semangat seperti biasanya.

"Ellen, jangan berlebihan."

Namun, wanita bernama Ellen itu tak menggubris ucapan Alfren dan malah semakin mengeratkan pelukannya. Tak peduli dengan raut wajah Alfren yang sangat datar dan dingin tanpa ekspresi itu.

Ellen menarik Alfren untuk duduk di meja di mana keluarganya ada di sana. Mendudukkan Alfren tepat di sebelahnya. Lalu ia pun ikut duduk di samping Alfren dan kembali merangkul lengan kekar lelaki itu.

"Ya ampun Ellen, tidak ada yang akan merebutnya darimu."

Suara itu keluar diiringi tawa ringan yang menggelegar di lingkungan kecil itu. Semua tertawa melihat tingkah laku Ellen. Ya semuanya, kecuali Alfren. Pria itu memasang wajah yang semakin dingin dari biasanya.

"Siapa tahu ada wanita sialan yang mencoba merebutnya dariku, iya kan?"

"Alfren."

Ellen mengatakan itu dengan penuh penekanan sembari menatap Alfren intens. Alfren tampak tak peduli dan tetap pada tatapan dinginnya. Sementara keluarga mereka di sana tidak ada yang menyadari hal tersebut dan kini masih saling melempar tawa satu sama lain.

"Ellen sayang banget ya sama Alfren?"

"Tentu saja, Nek. Ellen sayang banget sama Alfren." jawab Ellen dengan tersenyum riang.

"Sampai-sampai Ellen gak rela Alfren dipandang oleh wanita lain."

Kini Ellen berbicara sambil mengelus pelan lengan Alfren yang ia peluk itu. Meskipun lelaki itu sama sekali tak pernah membalas pelukannya.

Alfren yang sedari tadi diam pun kini berdiri dari duduknya. Membuat wanita di sampingnya itu pun ikut berdiri lantaran memeluk erat lengannya. Lelaki itu melepaskan pelukan Ellen dengan tak lembut membuat sang empu tak terima. Ellen mengerutkan dahinya melihat Alfren yang seperti itu.

"Alfren!"

Namun, lelaki itu malah pergi meninggalkannya tanpa mengucap sepatah katapun terhadapnya. Ellen hanya menatap tajam kepergian Alfren dengan tajam dengan kedua tangan yang terkepal sebelum ia mengikuti langkah laki-laki itu.

Alfren kini berjalan di luar hotel itu sendirian. Menikmati indahnya malam dengan semilir angin yang menerpa kulitnya. Membuat rambutnya bergoyang ke sana kemari mengikuti lantunan angin.

Alfren berjalan pelan sembari menatap depannya dengan kosong. Akhirnya ada tempat di mana ia tak harus menemui orang-orang itu. Lelaki itu tak merasa nyaman sama sekali. Selalu bertemu dengan mereka, dengan niat yang berbeda-beda pula.

Apalagi, wanita bernama Ellen.

Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Alfren mengeras tanpa ia sadari. Ia harus berdampingan dengan wanita itu—tersenyum, berjalan sejajar, berbicara seolah semuanya baik-baik saja. Ellen selalu tampil sempurna, selalu tahu bagaimana menempatkan diri, selalu menjadi gambaran ideal yang diinginkan banyak orang.

Ia harus berdampingan dengan wanita itu. Kadang ia merasa sesak terus menerus hidup seperti ini. Kalau bukan karena keinginan seseorang, ia pasti tidak akan sudi menemui mereka semua. Alfren kini memejamkan matanya mencoba menenangkan sesuatu dalam dirinya.

Bukan untuk tidur, melainkan untuk bertahan. Menenangkan sesuatu dalam dirinya yang terus bergolak, sesuatu yang ingin meledak namun tak pernah diberi kesempatan untuk bersuara. Detak jantungnya berdentum di telinga sendiri, terlalu keras untuk lelaki yang selalu terlihat tenang.

"Pak direktur?"

Suara itu lagi. Suara yang akhir-akhir ini sering memenuhi telinganya. Tidak keras, tidak mendesak, namun entah mengapa selalu berhasil menembus dinding dingin yang ia bangun rapat-rapat.

Alfren membuka matanya.

Seorang gadis berdiri tak jauh di depannya. Posturnya kaku, kedua tangannya saling menggenggam, seolah mencoba menahan gemetar. Tatapannya ragu, antara ingin maju dan ingin menghilang. Ketika mata mereka bertemu, gadis itu terlihat semakin gugup.

Dan untuk sesaat—hanya sesaat—Alfren merasakan sesuatu yang asing.

Bukan kewajiban. Bukan tuntutan.

Melainkan keheningan yang jujur.

"Alfren!"

Namun, ketenangan yang dirasakannya itu ternyata hanya sesaat saja. Ellen kini muncul kembali dari pintu hotel. Wanita itu berlari dan langsung menghampirinya. Kembali memeluk lengannya dan menatapnya.

"Kamu kok meninggalkanku sih?"

Ellen yang mendongak menatap Alfren kian menyadari sesuatu. Perlahan ia menolehkan kepalanya ke seorang gadis yang berdiri tak jauh dari mereka berada. Ellen tiba-tiba menarik senyumnya. Wanita itu semakin memeluk erat lengan Alfren lalu menyandarkan kepalanya mesra di lengannya. Ellen menatap Leah dengan tak biasa.

"Hai."

"Siapa gadis kecil itu, Sayang?"

Kata itu—sayang—jatuh begitu saja, namun terasa seperti cap kepemilikan.

Leah melihat itu. Leah mendengar itu. Dan, ia menyaksikan itu semua dengan mata kepalanya sendiri.

Ellen tersenyum pada Leah, senyum yang sempurna namun kosong.

“Oh, kamu ya,” katanya ringan, seakan Leah hanyalah gangguan kecil. “Maaf kalau kami mengganggu. Alfren memang… mudah teralihkan.”

Ia mendekatkan tubuhnya pada Alfren, bahunya menyentuh dada pria itu dengan sengaja. Jemarinya naik sedikit, menepuk dada Alfren seolah itu adalah tempat yang sudah sangat dikenalnya.

“Jangan lupa,” lanjutnya dengan suara lembut namun menekan, “kita masih punya banyak tamu yang harus disapa bersama.”

Leah menunduk, jemarinya meremas pakaian yang ia kenakan seakan kain itu satu-satunya penahan agar dirinya tidak runtuh di tempat. Dari sudut matanya, ia masih bisa melihatnya—Alfren berdiri begitu dekat dengan seorang wanita yang bahkan tak ia kenal. Pelukan itu terlihat terlalu intim untuk disangkal, terlalu wajar untuk dibantah, seolah memang begitulah seharusnya mereka berdiri.

Dadanya menghangat, lalu perih.

Ada sesuatu yang terasa naik ke tenggorokannya, pahit dan menyesakkan. Hatinya seperti diremas perlahan, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kenyataan yang tak memberinya ruang untuk menyangkal. Ia ingin berpaling, namun matanya terlalu jujur untuk berpura-pura tak melihat apa-apa.

"Maaf mengganggu." ujarnya lirih tanpa melihat kedua orang tersebut. Suaranya pelan, dengan sarat luka yang tak ia tunjukkan. Ia sedikit menunduk, bukan sebagai tanda hormat semata, melainkan sebagai cara untuk menyembunyikan getar di matanya. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang dipaksakan agar terlihat wajar.

Setelah itu, ia berbalik dan berlari dari sana seolah ia memang seperti pengganggu yang seharusnya pergi di hadapan mereka.

1
Anonymous
Nyesek thor😭
Baca dari awal sampe sini yang meledaknya rasanya nyess banget😭😭
Azia_da: Novel memang dibuat menonjolkan emosi karakter. Tipe slow burn yang jalannya pelan tapi konfliknya masuk pelan-pelan ke hati🥹
Omong-omong, terima kasih ya atas dukungannya! 🥰🙏
total 1 replies
Anonymous
Nenek memang paling lembut💪
Azia_da: Terima kasih sudah membaca🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!