NovelToon NovelToon
Love Journey Story

Love Journey Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Persahabatan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Geamul

Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.

Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.

Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.

Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.

Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keadaan yang Sebenarnya

Hari yang cerah, Jia memasuki kampusnya dengan bersemangat. Dari kejauhan ia melihat Al sedang berjalan menuju kelas, ia pun segera menghampirinya.

“Akhirnya penampilan kamu berubah juga,” ucap Jia yang menyampingi Al lalu berjalan bersisian. Dan Al pun hanya mengangguk.

Saat berada di kelas, Al selalu saja berusaha menghindari Jia. Ia tak mau berdekatan dengan Jia, dan dia selalu duduk berdua dengan Cantika. Jia semakin bingung, sebenarnya ada apa dengan Al?

“Ji, gimana kerjaan kamu. Lancar kan?” tanya Bima lalu duduk di samping Jia.

“Eh Bim, semuanya lancar kok.”

“Syukur kalau gitu, nanti biar aku antar lagi ya ke kafe!?”

“Hmm gimana ya …” Jia menopang dagunya dengan tangan kanan dan memikirkan perkataan Bima.

“Ayolah Ji, aku gak keberatan kok, serius.”

Jia pun tertawa, “Iya, iya ayok. Makasih ya sebelumnya.”

Bima tersenyum lega, “Iya, sama-sama.”

Hari ini pun, Jia kembali untuk mengajari mata kuliah yang lain pada Al. mereka pergi ke perpustakaan untuk belajar.

Dan hari ini, Jia di temani Nana untuk belajar bersama Al. Nana pun ikut belajar bersama dengan Al dan Jia, agar Jia tidak hanya berdua dengan Al.

Saat di perpustakaan, Al melihat Cantika dan gengnya sedang mencari buku ke arahnya. Al pun kebingungan, ia harus segera sembunyi sebelum Cantika melihatnya. Dan kalau itu sampai terjadi, pasti Jia akan mendapatkan masalah lagi.

“Ji, belajarnya pindah yuk!” ajak Al terburu-buru membereskan buku-bukunya.

“Lho, kenapa Al?”

“Udah ayok pindah aja!” Al langsung menarik tangan Jia, lalu menyelinap ke luar perpustakaan.

“Eh, kalian mau kemana? Tungggu aku!” sahut Nana lalu mengikuti Al dan Jia. Saat akan keluar, Nana melihat Cantika dan gengnya sedang mencari-cari buku.

Mereka berlari menjauhi gedung perpustakaan. Syukurlah, Al selamat dari situasi itu. Ia berhasil menghindari Cantika dan tidak melihatnya dengan Jia. Al pun mengatur napasnya, Jia mulai melepaskan pegangan Al dari tangannya. Nana yang mengikuti Al dan Jia masih berlari menyusuli mereka.

“Kalian kenapa sih, tiba-tiba pergi? Cape tahu,” sambar Nana dengan napasnya yang tidak beraturan.

“Kamu kenapa sih Al?” Jia menegur Al dan menghiraukan pertanyaan Nana.

“Emm ... enggak, gue cuma bosan aja di perpustakaan,” jawab Al mengarang.

“Terus, kita mau belajar dimana sekarang?”

“Hmm ... di taman aja yuk!” Al melangkahkan kakinya terlebih dahulu menuju taman lalu di ikuti Jia dan Nana.

“Tunggu Ji,” Nana menghentikan langkah Jia.

“Tadi di perpustakaan aku lihat Cantika sama gengnya,” sambung Nana.

“Oh ya?” Jia kaget.

“Iya beneran, aku lihat jelas banget. Tapi kayaknya mereka gak lihat kita deh, soalnya mereka sibuk lagi nyari buku,” jelas Nana.

“Ya udah yuk kita ke taman.” Nana menggandeng tangan Jia.

Jia langsung terdiam saat mendengar apa yang Nana bilang. Ia terus memikirkan perkataannya, dan menimbulkan kecurigaan terhadap Al. ‘Apa mungkin karena Cantika, Al jadi gak mau belajar di perpustakaan? ' batinya.

Al seperti tak ingin ada yang tahu kalau ia sedang belajar bersama dengan Jia. Al pun selalu bersikap was-was ketika sedang dengan Jia saat di kampus.

Saat di taman.

“Kalian jangan bilang siapa-siapa ya! kalau Jia disuruh Ayah buat bantuin gue,” Al tiba-tiba berbicara seperti itu.

“Lho kenapa Al?” sambar Nana.

“Gue gak mau orang-orang tahu,” jawab Al.

“Iya Al, tenang aja kok,” sahut Jia.

Al pun hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian hp Jia berbunyi pertanda ada panggilan masuk, panggilan itu dari Bima. Bima menanyakan keberadaanya dan akan menemuinya. Jia pun mememberitahu Bima keberadaan mereka.

Mendengar pembicaraan Jia, Al langsung terperanjat. Sikap yang tadi muncul kembali, ia sangat kebingungan. Dan akhirnya, ia pun pamit untuk menyudahi belajarnya hari ini lalu meninggalkan Jia dan Nana di taman.

“Na, kamu ngerasa aneh gak sih sama sikap Al hari ini? dia suka tiba-tiba pergi.”

“Em ... iya sih, tapi mungkin lagi ada masalah atau apa.” Nana berusaha berprasangka baik pada Al.

“Iya mungkin, aku jadi bingung,” sahut Jia.

Seperti biasa, Jia diantar Bima ke tempat kerjanya. Entah kenapa, Bima selalu nyaman saat sedang bersama Jia. Dan rasa itu pun muncul begitu saja. Hampir setiap hari Bima selalu setia mengantarkan Jia ke kafe. Dia pun sangat tidak keberatan, yang ada malah Bima merasa sangat senang bisa mengantarkan Jia dengan selamat.

Hari-hari berjalan begitu cepat. Jia masih tetap membantu menjuali kue buatan Ibunya, karena sampai sekarang Ayahnya masih belum pulih. Sehingga, kebutuhan keluarga belum cukup terpenuhi.

Hari esok pun sudah memasuki hari minggu. Jia harus tetap produktif karena harus mengajari mata kuliah pada Al. Dan hari besok, Surya menyuruhnya untuk masuk setengah hari menggantikan karyawannya yang sedang sakit.

Keesokan hari.

Pagi-pagi sekali Jia sudah keluar dari rumah, karena ia hanya bisa berada di rumah Al hingga jam 12 siang. Ia sudah meminta izin pada Pak Wijaya untuk pulang lebih awal.

“Materi yang kemarin di kampus udah paham semua kan?”

“Iya, udah kok.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tiba-tiba, pikiran Jia di lewati oleh sebuah petanyaan tentang sikap Al terhadapnya. Ia pun mulai memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan yang telah lama terbendung dipikirannya.

“Em ... aku, boleh nanya?” ucap Jia sedikit gugup.

“Nanya apa?” sahut Al.

“Hmm, sebenarnya … kamu kenapa sih bersikap cuek sama aku?”

Tak ada jawaban sedikit pun dari Al, ia hanya terdiam dan berusaha mengenyahkan pertanyaan Jia dengan terus menulis dan mengerjakan tugasnya.

“Al, kenapa diam aja? Apa karena gara-gara aku, kamu jadi cuek gini?” Jia kembali menanyakan kejanggalan selama ini. Jia pun sedikit mendesak Al untuk menjawab pertanyaanya.

Al menghentikan tulisannya dan menarik napas dalam-dalam. Akhirnya, Al pun berusaha menjawab pertanyaan dari Jia.

“Gue tahu, lo pasti kebingungan kan sama keadaan ini?” ucap Al. Jia pun mengangguk membenarkan pertanyaan Al.

“Dan gue, sangat merasa bersalah dengan semua ini. Maafkan gue ya, Jia.”

Jia menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan ketidakbenaran dengan apa yang Al katakana.

“Semua ini, memang salah gue,” sambung Al menundukkan kepalanya.

“Enggak Al, kamu gak sepenuhnya salah. Justru aku yang salah, karena aku gak bisa memberikan kamu kesempatan,” Jia mendekati Al mencoba untuk memahaminya.

“Gue terpaksa ngelakuin ini semua. Gue gak mau bikin lo menderita karena gue. Karena, gue udah janji sama Cantika buat ngejauh dari lo. Dan Bima juga bilang bahwa gue selalu bikin masalah di kehidupan lo. Maafin gue ya, gue emang orang yang brengsek,” jelas Al.

“Ya ampun Al, kamu gak salah. Aku gak apa-apa kok, kamu jangan dengerin apa kata orang-orang. Aku baik-baik aja dan aku bisa jaga diri,” Jia meraih pundak Al.

Jia menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan semua udara untuk mengatakan perkataanya, “Sebenarnya, aku juga udah maafin semua kesalahan kamu Al. Buktinya, sekarang aku mau bantuin kamu. Dan, aku juga mau kok jadi teman kamu,” sambung Jia. Al pun mulai mengangkatkan kepalanya.

“Lo serius?”

“Iya Al, aku serius. Jadi, kamu gak usah maksain buat ngelakuin hal yang gak kamu inginkan.” Jia memberikan senyuman tulusnya.

“Iya, Makasih banyak ya, Jia.”

Akhirnya, mereka pun berbaikan dan menjalin pertemanan dengan baik. Al sangat bersyukur bertemu dengan orang seperti Jia. Dan dia tidak akan membiarkan orang lain mengganggu lagi pertemana mereka, sekalipun itu Cantika dan Bima. Lalu Al akan menegaskan pada mereka bahwa ia akan selalu bersama Jia.

1
Aixaming
Aku gak pernah menyangka kalau membaca cerita bisa membuatku merasa sebahagia ini.
Ayu Geamul: terimakasih ya sudah membaca ceritaku🙌🏻
total 1 replies
Dianapunky
Cocok di hati nih.
Ayu Geamul: terimakasih kak 🥰 jangan lupa mampir lagi untuk baca bab selanjutnya 🤗☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!