" Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali.
kisah Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriaki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak di cintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi yang juga majikan tempatnya bekerja. Namun kisah cinta Ana dan Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. bagaimana kisah mereka? Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Malam berakhir dengan gemerlap bintang-bintang dan bunga-bunga yang bermekaran mengantarkan pada mimpi yang menjanjikan sebuah harapan. Malam ini Ana lupa akan traumanya bunga di hatinya memaksa bersemi mesti tak pasti akankah tumbuh atau kembali layu dan mati.
ikuti terus kisah Ana dan jangan lupa dukungannya ....
terimakasih .. Update setiap hari, No libur kecuali mati lampu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IbuAnna30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Keributan Pagi
Pagi hari di rumah Mbak Asih .
Celoteh riang si kecil Aidar mengisi ruang tengah bersamaan riuh tawa anak-anak yang lebih tua lainnya, menatap gemas polah Aidar yang memantul-mantul kan bokong ya saat Raka mengendanginya ala tabuhan kuda lumping.
Hari minggu Danu dan Raka memang selalu menginap dirumah budenya, sekedar melepas rindu dengan adik mereka Aidar.
Sebenarnya rumah mbak Asih atau biasa di panggil bude oleh anak-anak Ana, tidak jauh dari rumah orang tua Ana tempat Danu dan Raka tinggal. Tapi mbak Asih hanya mengijinkan Mereka menginap saat malam minggu alasannya, ya karena mereka harus sekolah di samping itu kasian mbah kung dan mbah uti mereka jika kembali di tinggal berdua saja di rumah.
Dulu sebelum Ana menikah dengan Roy, ia tinggal bersama orang tuanya. Tapi setelah
Aidar lahir Ana memilih mengontrak. Alasannya ingin mandiri tapi bukan itu alasan sebenarnya Ana hanya tidak ingin orang tua ya terbebani dengan sifat egois dan patriaki Roy. Laki-laki itu tidak pernah tau tempat mau di depan orang tua, keluarga, orang lain sekalipun sifat egois dan semena-menanya sama.
Mbak Asih sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak saat Roy datang.
Tanpa salam Roy tiba-tiba mengambil Aidar yang sedang asik bermain bersama
Kakak-kakaknya. Danu yang bingung karena adiknya tiba-tiba di ambil sedikit berteriak saat bertanya pada sang ayah tiri, membuat mbak Asih yang sedang sibuk di dapur lari terburu-buru.
''Adik mau di bawa kemana yah !.''
''Roy !' teriak mbak Asih saat di lihat nya Aidar menangis histeris di gendongan ayah nya. '' Sopan kah seperti itu, ngambil anak tanpa permisi.'' hardik mbak Asih.
Roy yang mendengar teriakan mbak Asih, hanya melengos tanpa memperdulikan.
Mbak Asih yang merasa di abaikan dengan cepat mengejar Roy yang berjalan tanpa peduli sembari menggendong Aidar yang terus menangis ketakutan.
Dengan kasar mbak Asih manarik lengan Roy.
''Apa maksut kamu kaya gini!" hardik mbk Asih kembali.
''Aku mau bawa anak aku, apa nggak boleh!. sahut Roy ketus.
'' Tapi nggak kaya gini cara nya.'' balas mbak Asih, sembari mengambil paksa Aidar dari gendongan Roy. ''Kembali ke rumah kalo kamu memang mau ambil Aidar, kita bicara baik-baik.'' lanjut mbak Asih lalu berjalan pergi dengan Aidar yang masih menangis ketakutan di gendongannya.
Mbak Asih kemudian menyuruh Danu untuk menenangkan Aidar di kamar, setelah ia membuatkan sebotol susu untuk bocah mungil itu.
Dan memanggil suami nya mas Dwi untuk turut berbicara dengan Roy di ruang tamu .
''Ada apa kamu pagi-pagi sudah bikin keributan seperti ini.'' ketus mbak Asih.
''Aku mau ambil anak ku mbk, apa tidak boleh.'' ulang Roy.
''Siapa yang tidak memperbolehkan. Silah kan kalau kamu mau ambil tapi nggak kaya gini caranya. Kamu waktu nitipin Aidar di sini dengan Ana baik-baik, sekarang kamu asal mau ambil seenaknya.'' oceh mbak Asih. '' Sopan kah seperti itu !' imbuh mbak Asih.
Roy nampak menatap remeh,'' ya sekarang aku ngomong baik-baik mbak, aku mau bawa Aidar pergi.'' ucap Roy.
''Apa alasan kamu mau bawa Aidar pergi.'' timpal mas dwi suami mbk Asih yang sedari tadi diam.
''Apa perlu alasan lo mas, orang itu anak-anak aku.'' sahut Roy.
'Oh. kalau memang kaya gitu ya silah kan saja.'' ujar mas dwi kemudian. '' Sudah dek biarkan saja kalau dia mau bawa Aidar, toh ya itu memang hak dia.'' imbuh mas Dwi saat di lihat nya Mbak Asih ingin memprotes.
Roy kemudian berteriak memanggil Danu yang tadi membawa Aidar masuk ke kamar, ''Danu. Bawa sini Aidar, sama baju ganti susu dan diapersnya.'' titah Roy.
Mbak Asih beranjak dari duduk nya, '' kalau kamu bawa Aidar ya modal sendiri, enak amat kamu mau bawa susu, baju dan diapers. Kamu pikir itu Ana yang beli.'' sahut mbak Asih cepat. ''Kasih kan ke ayahmu adeknya, biar dia rasa emangnya enak ngurus anak dan murah biayanya. Denger ya, Roy. Aidar alergi susu sapi, susu dia harus soya dengan merk ini, kalau tidak merk ini dia tidak mau. jangan coba-coba kamu kasih kental manis kalau nggak mau dia masuk Rumah sakit. Diapers nya pun harus merk ini, kalau nggak pantat nya bisa ruam-ruam alergi dia.'' jelas mbak Asih sembari mencium ii pipi gembul Aidar.
Mbak Asih sebenar nya tak sampai hati kalau Aidar benar-benar di bawa, tapi dia juga
ingin memberi pelajaran pada Roy agar laki-laki itu sedkit sadar betapa susah dan borosnya kebutuhan anak.
''Kamu sedang ada masalah sama Ana?'' tanya mas Dwi menengahi.
''Ana beberapa hari ini selalu menghindari aku mas, nggak tau salah ku di mana.'' dusta Roy. ''Aku cuma minta bantuan ongkos buat kerja ke Jakarta tapi malah di diamkan begini.'' lanjut Roy.
''Kamu mau kerja apa di jakarta?'' tanya mas dwi lagi.
''Ya aku mau coba ngojek mas, kemaren ada temen yang nawari, katanya ada lowongan.'' jelas Roy.
''Kalau memang niat kamu kaya gitu nggak mungkin Ana nggak mau bantu.'' ucap mas Dwi. ''La motormu kemana? Kamu jual apa kamu gadai?'' tanya mas Dwi lagi.
Roy nampak gusar,'' motor ....' ucap Roy ragu.
''Kamu jual!. sela mbak Asih.
''Aku khilaf ,mbak waktu itu, aku kacau di tinggal Ana, jadi aku cari pelampiasan judi.'' jawab Roy
'' Motor itu Ana beli dengan susah payah dari jualan nasi uduk, Roy apa kamu tidak tau.'' sahut mbak Asih sembari menatap sinis.
''Aku khilaf mbak.'' ucap Roy kemudian sembari tertunduk.
Mas Dwi menarik nafas berat, ''ya sudah. yang terlanjur ya biar terlanjur mau gimana lagi. kalo memang niat mu mau kerja Roy, nanti biar mbak mu bantu bicara dengan Ana. Tapi kamu juga harus bener-bener, kasian Ana kalau kamu terus-terusan seperti itu.'' tutur mas Dwi. ''Sudah sekarang sarapan sana di belakang. Aidar biar di sini, kamu kalau memang niat mau kerja ya di siapin keperluannya.'' Tandas mas Dwi.
Mbak Asih menatap sinis pada suami nya, tak habis pikir kenapa malah bicara demikian dengan Roy yang jelas-jelas pintar mengarang cerita.
Menjelang siang Roy pergi dari rumah mbak Asih dengan senyum penuh harap karena
di janjikan untuk merayu Ana, agar membantu nya. Sedang mbak Asih bersiap mengomel pada sang suami, namun di cegah dengan cepat oleh mas Dwi
"Nggak ada salah nya, dik ngasih kesempatan. Pikirkan keselamatan Aidar juga."
_____Bersambung.
Apalagi ini rencana busuk Roy .....? benar-benar tidak ada habis nya.
next keputusan Ana, apakah mau membantu atau tidak ada di bab berikut nya
see you .....
_IbuAnna.