"Kalung Tuti dipinjam, sampai sekarang belum dikembalikan." Tanpa basa-basi, Sari membuka suara dengan nada tajam.
"Ohh... yang katanya dipinjam Hendra itu? Kenapa Ibu ngomongnya ke aku? Yang pinjam, 'kan, anak Ibu sendiri," jawab Indah, berusaha tenang.
"Kalau Hendra yang pinjam, kamu sebagai istrinya harus tanggung jawab, dong!"
Menikah dengan anak sulung yang jadi tulang punggung keluarga, Indah dibawa ke pelosok tanpa akses memadai, tanpa kamar pribadi, dan tanpa perlindungan.
Ibu mertuanya merasa Indah adalah saingan dalam merebut cinta sang anak.
Sementara Hendra—suami yang seharusnya jadi penengah—lebih sering diam, seolah tak mendengar luka yang dialami istrinya.
Mampukah Indah mempertahankan rumah tangganya sendirian? Atau haruskah ia menyerah pada keluarga yang tak pernah benar-benar menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Soundtrack Pagi
Malam merayap perlahan, menyelimuti rumah papan itu dengan sunyi yang tak sepenuhnya damai.
Indah berbaring diam di dalam kelambu, memandangi kain yang cukup tebal—satu-satunya batas privasi dalam rumah yang tak memberi ruang untuk sendiri. Kain itu menggantung seperti tirai nasib—lusuh, buram, dan mulai kekuningan, bahkan menghitam di beberapa bagian karena asap lampu minyak.
"Hh... kelambu ini udah kayak takdir yang ditulis dengan tinta hitam, bukan tinta emas. Tapi ya, mending, daripada ditulis pakai tinta merah," gumamnya. Suaranya nyaris putus asa, tapi masih menyelipkan tawa pahit yang entah datang dari kekuatan... atau kelelahan.
Di sisinya, Rayhan sudah terlelap usai menyusu—bocah gembul itu tertidur dengan mulut sedikit terbuka, napasnya teratur, dan tangan mungilnya masih mencengkeram ujung baju Indah seperti takut kehilangan sumber kehidupan.
Indah menatap kosong ke arah pendar lampu kaleng di luar kelambu. Napasnya berat. Kepalanya penuh. Hatinya, apalagi.
Hendra tak mau diajak pindah. Mau kabur? Uang tak punya. Tabungan? Sudah ludes, tandas, dan entah menguap ke mana. Mau kerja juga tak semudah itu. Rayhan nempel seperti perangko. Salah dikit, bocah itu bisa kejang hanya karena tak melihat bayangannya.
Dan yang lebih parah: bocah ini doyan nyusu seolah sedang lomba sedot sumur.
Indah membuang napas kasar. “Sampai kapan begini terus?” gumamnya lirih. “Ini bukan hidup, ini namanya mati gaya.”
Saat pikirannya berputar-putar mencari celah dari jalan buntu hidupnya, tiba-tiba perutnya ikut bersuara.
Krukkkk... krukkk...
Lapar. Lagi.
Rayhan makin besar, makin rakus nyusu, dan imbasnya... dia sendiri jadi cepat lapar. Sungguh simbiosis yang tidak mutualisme.
“Daripada mikirin jalan buntu, mending makan dulu. Siapa tahu dapat inspirasi,” bisiknya, lalu pelan-pelan keluar dari kelambu, seperti maling yang tak mau membangunkan korban.
Indah menuju dapur, membuka tudung saji—seolah ada harapan baru di bawahnya. Tapi yang ada hanya... angin. Tak ada ikan, tak ada sisa sambal. Kosong.
Indah mendesah. “Aku Herman. Eh, heran,” gumamnya kesal. “Tadi sore goreng ikan banyak. Tapi kenapa sekarang gak ada sisa?”
Ia menatap tudung saji kosong itu dengan ekspresi bingung dan muak bersatu. “Ikan banyak habis. Ikan dikit juga habis. Apa mereka jabalin ikannya rame-rame? Kalau aku gak nyisihin, gak bakal ada lauk buat bekel Hendra.”
Akhirnya, ia mengambil nasi dari kukusan yang sudah dingin.
"Emang bener kata orang... jangan terlalu percaya sama laki-laki pas masih pacaran. Kalau cewek, paling bohongnya soal tampang—wajah bopeng bisa mulus karena fondi, hidung pesek bisa kelihatan mancung karena bayangan. Cantik karena makeup. Jelas. Kelihatan."
"Nah, cowok? Bohongnya lebih dalam. Sok romantis, sok pahlawan. Pas hujan, jaketnya dilepas buat nutupin kita—padahal mungkin emang udah pengen dilepas karena bau keringat. Kita kedinginan, dikasih jaket. Jatuh? Ditanya, ‘kamu sakit?’ Sok perhatian. Sok pengertian, sok sabar nungguin kita dandan lama."
"Sok... soleh. Tiap magrib rajin ke masjid. Ngajinya dilama-lamain, biar keliatan alim."
"Kalau udah nikah?"
"Hujan? Kedinginan? Ya udah, kehujanan sendiri. Jatuh? Boro-boro ditanya, ‘kamu gak apa-apa?’ Yang ada malah nyolot: ‘Matamu taruh di mana?!’ Ya jelas di kepala, bang. Nggak mungkin di dengkul."
"Dan kalau ditanya, ‘Kok dulu rajin sholat, sekarang kagak?’ Jawabannya sakti: ‘Gak liat aku kerja seharian? Capek, tahu!’"
"Lucunya... pulang lebih awal cuma kalau mau minta jatah."
Ia mengambil sedikit sisa ikan yang tadi ia sisihkan untuk Hendra.
“Dulu tiap hari makan pakai sayur dari kebun sendiri karena gak punya uang. Sekarang tiap hari makan ikan… juga karena gak punya uang. Ternyata skenario hidupku masih sama, cuma beda latar doang,” gumamnya sambil duduk di sudut dapur.
Ia mulai menyuap perlahan—satu tangan menyuap ke mulut, satu lagi menopang piring, seperti menopang hidup.
Namun saat mulutnya sedang mengunyah, matanya menangkap sesuatu yang janggal.
Sebuah panci tergantung di dinding. Tapi… aneh.
"Biasanya panci digantung menghadap tembok, nunjukin pantatnya yang gosong dengan bangga. Tapi ini? Posisi panci kayak lagi masak. Lengkap dengan tutupnya pula."
Indah menyipitkan mata. "Mencurigakan."
Perlahan, ia bangkit. Mendekat seperti detektif menyelidiki TKP. Tangannya membuka tutup panci dengan hati-hati.
Dan...
Tada.
Ikan goreng. Masih lumayan banyak. Tersusun rapi. Bahkan... masih wangi.
Indah terdiam. Tak tahu harus tertawa, menangis, atau menyumpahi.
“Jadi diumpetin,” gumamnya pelan. Bukan tanya. Tapi pernyataan dengan nyawa kenyataan.
Pikirannya langsung nyambung. Ini pasti kerjaan Sari, mertuanya tercinta.
"Sejak kapan ibu hobi ngumpetin lauk? Hobinya bukan cuma nilep duit buat beli beras, ya? Apa masih ada hobi ibu yang belum aku temukan?"
Baru sekarang Indah sadar: tiap hari, Sari menyisihkan ikan dan menyembunyikannya dalam panci sebagai bekal ke sawah.
Di rumah ini, lauk bukan sekadar makanan. Ia adalah komoditas. Barang strategis. Harus dijaga... macam emas batangan.
Indah duduk kembali. Menatap panci berisi ikan goreng seperti menatap ironi hidup.
Ada rasa lega. Karena Ia mulai menyuap perlahan—satu tangan memegangi piring, satu lagi menopang hidup. bisa makan.
Tapi juga kecewa. Karena yang ditemukan bukanlah kebaikan...
Melainkan tipu-tipu dalam satu atap.
***
Pagi itu, Rayhan rewel. Tubuhnya agak panas dan bocah itu tak berhenti menyusu, membuat Indah kewalahan menjalani pagi.
Dengan satu tangan menggendong Rayhan yang terus seperti perangko nyasar, satu tangan lainnya menyiapkan bekal seadanya di dapur.
Dari balik pintu, suara Hendra meledak seperti petasan basah.
"Cepat dikit, ngapa! Lelet banget! Aku udah kesiangan, tahu!"
Indah menoleh, napasnya tersengal. “Kamu tahu sendiri Rayhan rewel. Sabar dikit bisa gak? Gendong sebentar juga gak mau.”
“Sudah berani sekarang, melawan suami?” Hendra menatapnya tajam, dagunya naik selevel ego.
“Kenapa gak boleh berani? Aku gak salah, kok,” jawab Indah tenang tapi tajam.
Matanya menatap lurus ke arah suaminya. “Ibumu nilep uang beras, adikmu nyolong kain panjang aku, gak ada kata maaf, gak ada konsekuensi. Aku yang gak salah malah dimarahin? Ngapain aku harus takut?”
“Kau—”
“Apa?” potong Indah, suaranya naik satu oktaf lebih tinggi dari amarah.
“Dasar istri gak tahu diri!” geram Hendra, nyaris membanting pintu dapur yang terbuka setengah.
Indah membuka mulut hendak membalas, tapi belum sempat kalimatnya keluar, tangis Rayhan pecah. Tangisan parau bocah demam itu menyayat seperti sirene—entah karena tak nyaman mendengar pertengkaran, atau tubuhnya benar-benar lelah.
Hendra mendengus, menyambar bekal dari meja, dan melengos pergi tanpa sepatah kata pun. Langkahnya berat dan penuh bunyi amarah, menghilang bersama suara soundtrack alami: tangis Rayhan yang terus menggema.
Indah menghela napas panjang.
“Maaf ya, Nak,” bisiknya pelan, mencoba menenangkan Rayhan meski hatinya sendiri lebih gaduh dari tangisan anak itu.
Matanya menatap kosong ke dinding dapur yang kusam, lalu melayang ke langit-langit. “Ya Allah... gini amat ya hidup. Aku udah berusaha jadi versi terbaik dari diri sendiri. Gak nyusahin orang, bersikap baik, gak cari ribut. Tapi kok balasannya begini?”
Ia membuang napas kasar, lalu kembali menatap Rayhan yang matanya memerah, tubuhnya panas.
“Gak ada gunanya meratapi nasib,” gumamnya pelan. “Mending aku bawa kamu ke bidan desa. Semoga aja bidannya ada, gak kabur-kaburan kayak... kebahagiaan.”
Dengan gerakan pelan tapi mantap, Indah meraih payung dan menggendong Rayhan.
Ia bersiap menyusuri jalan tanah ke rumah dinas bidan yang letaknya di hilir sungai. Bidan itu memang tak selalu tinggal di tempat, kadang pulang ke rumahnya yang jauh di desa seberang. Tapi hari ini, Indah berharap keberuntungan masih mau mampir barang sebentar. Dan semoga uang yang ia simpan cukup, meski sedikit, untuk membayar obat dan... secercah tenang.
Ia melangkah keluar rumah—membawa Rayhan, membawa harap, dan membawa luka yang ia bungkus dalam diam.
...🍁💦🍁...
.
To be continued
sedangkan wanita versi sempurna kecantik annya pas pacaran...hmmm