Aaron Conan Drax, seorang pengusaha muda serta anak tunggal dari keluarga kaya yang terpaksa menikahi seorang wanita sederhana, Hayley Marshall, sebagai pengantin bayaran demi menyelamatkan hubungan dirinya bersama sang kekasih.
Namun, tidak di sangka jika kekasihnya berkhianat darinya. Aaron memilih untuk melepas dengan ikhlas, namun kini dirinya terjebak dengan perasaan yang membingungkan kepada istri bayarannya.
Aaron sudah kalah start, Hayley sudah menjatuhkan hatinya pada laki-laki lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah rekan bisnis Aaron.
Akankah kontrak pernikahan mereka berakhir begitu saja, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Happy reading 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asisten Alex
Pagi ini, Hayley bersiap-siap untuk kembali bekerja, dia sama sekali tidak memikirkan pernikahannya yang hanya tinggal menghitung hari, Aaron sudah menyampaikan jelas padanya dan Andini bahwa semua tentang pernikahan akan di atur sendiri oleh Aaron, mereka tinggal terima beres.
"Apa Aaron nggak papa kalau kamu tetep kerja, Nak?" tanya Andini.
"Iya, Bu. Aku udah izin kok, katanya boleh."
"Ya sudah, nanti kalau kalian sudah berumah tangga, dia adalah pemimpin keluarga, jadi kamu wajib patuh sama setiap omongannya," lanjut Andini.
"Baik, Bu. Hayley ngerti, kok." Hayley mengambil tas jinjing barunya yang semalam Aaron berikan sebagai seserahan. "Aku berangkat dulu, Bu," pamit Hayley, ia mencium punggung tangan ibunya.
"Hati-hati di jalan, jangan telat pulang." Andini berpesan sambil mengelus rambut Hayley lembut.
Perjalanan menuju kantor pagi ini Hayley lebih memilih memesan ojek online, karena jam sudah hampir menunjukkan pukul 8 pagi, dan jika naik angkot, maka dia akan terlambat.
"Hampir saja!" seru Hayley di depan tempat absensi pegawai, Hayley segera cek clock untuk mengisi daftar hadir.
"Hay, baru dateng?" tanya Angga tiba-tiba.
"Iya, nih. Agak telat," jawab Hayley sambil menyeka keringat di dahinya.
"Naik apa? lain kali bareng aku aja biar nggak telat." Angga menawari tumpangan gratis pada Hayley, berharap gadis itu mau menerimanya.
"Nggak usah, ah. Ngerepotin," tolak Hayley.
"Nggak papa, aku seneng kok kalau kita pulang pergi bareng."
Hayley diam, dia berpikir untuk merangkai kalimat yang pas agar Angga tidak tersinggung karena dia menolak tawarannya.
"Aku ... udah biasa pulang pergi naik angkot, kadang pesen ojek online," ujar Hayley. "Aku nggak suka ngerepotin orang."
"Tapi, Hay. Aku nggak ...."
"Udah dulu, ya. Aku mau ke ruangan dulu, Lisa udah nunggu, nih," sela Hayley sebelum Angga melanjutkan kalimatnya. Hayley tau bahwa Angga adalah laki-laki berpendirian kokoh, dia akan terus berusaha merayu agar Hayley setuju, maka pilihan terbaik adalah menjauhinya perlahan.
Sesampainya di ruangan kerja, Hayley langsung menghempaskan dirinya di kursi hitam berhadapan langsung dengan komputer dan setumpuk berkas yang sudah menanti di garap.
"Banyak banget ini kertas," keluh Hayley. Lisa dari bilik sebelah sedang menahan senyum.
"Kamu kan pergi seharian, nggak balik pula. Ya gitu, kerjaan kemarin jadi numpuk," ujar Lisa cengengesan. "Lagian ngapain aja di kantor pusat seharian?" lanjutnya.
"Ada deh, urusan kerjaan juga," jawab Hayley tenang.
"Eh, gadis-gadis, pagi-pagi kok gosip sih, udah pada sarapan belum?" suara seseorang di belakang mereka mengejutkan, Angga.
"Udah," jawab Hayley dan Lisa serempak.
"Oh, aku punya salad buah seger, mau nggak?" tanya Angga lagi sambil menenteng kantong plastik di tangannya.
"Mau, mau!" seru kedua wanita di depannya.
"Kompak banget nih, Ladies." Angga terkekeh, lalu menyerahkan satu kotak salad buah kepada Lisa. "Kongsi ya, cuma ada satu," imbuhnya.
"Angga baik, deh. Jadi ... makin sayang," ujar Lisa kecentilan.
Angga hanya berlalu menuju mejanya sambil tersenyum malu-malu. Sedangkan Lisa dan Hayley langsung menyantap salad buah pemberian satu-satunya laki-laki di ruangan ini.
"Eh, ini tas baru, ya? bagus banget!" seru Lisa sambil menunjuk tas Hayley yang di letakkan di samping komputer.
"Belum juga gajian, tasnya udah baru aja. Kapan beli, Hay?" tanya Lisa.
"Eh ... ini, bukan beli," jawab Hayley bingung, dia tidak tau harus menjawab apa, dia yakin pasti Lisa curiga jika dia bilang tas ini ia beli sendiri.
"Ini tas mahal loh, Hay. Merek terkenal, yang pakai tas-tas begini biasanya cuma artis."
"Ini nggak original, aku beli yang KW, beli yang asli mana punya duit," jawab Hayley ragu, namun Lisa hanya manggut-manggut dan tidak melanjutkan introgasinya.
Usai menghabiskan satu kotak salad bersama, Hayley dan Lisa kembali ke meja masing-masing dan mengerjakan pekerjaan mereka yang sudah menggunung.
🖤🖤🖤
PT. Conan Dream
Aaron datang ke kantor lebih pagi, ia harus memimpin rapat yang di hadiri para dewan perusahaan yang akan membahas pembangunan pabrik baru di kawasan Kalimantan, Aaron yang memilih sendiri kawasan itu karena ia yakin, di daerah yang masih terpelihara sumber dayanya akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan.
Namun rapat di akhiri lebih cepat karena ricuh, beberapa dari peserta rapat yang merupakan orang-orang penting di bagian pemasaran telah ketahuan berbuat curang.
"Hah, para petinggi-petinggi rakus itu menyebalkan. Bisa-bisanya mereka menaikkan harga pasar tanpa persetujuan kita," desah Alex sambil memijat keningnya.
"Biasa, mereka sepertinya ingin bermain curang. Kita tidak boleh kalah pintar, Alex. Bereskan semua masalah ini," perintah Aaron.
"Padahal nanti malam aku ada janji dengan Davina, dan sekarang pekerjaanku menumpuk, huh!" keluh Alex lagi.
"Apa kamu butuh asisten?" tanya Aaron, terlintas ide di benaknya.
"Asisten? penawaran bagus. Tapi ... harus cewek, ya. Yang cantik, seksi, biar seger kalau di lihat," ujar Alex bersemangat. Pikiran laki-laki ini memang tidak pernah jauh dari wanita seksi. "Dan yang pasti, harus paham pekerjaan kita, biar nggak bikin aku repot!"
"Aku punya satu rekomendasi yang cocok buat kamu," ujar Aaron, ia mengangkat sedikit sudut bibirnya namun tak nampak tersenyum. "Hayley, sepertinya kalian tim yang keren," lanjutnya.
"Hah? No, no, no!" Alex langsung duduk tegak di kursinya. "Apa nggak ada cewek lain yang ada di kepalamu selain Hayley?"
"Kamu sendiri, kan, yang bilang kalau dia berkompeten, kerjanya bagus, dan cekatan," sela Aaron. "Apa salahnya kalian kerja bareng."
"Nggak, Bro!" tolak Alex tegas. "Cukup kamu aja yang terjebak sama si upik abu, aku bisa cari asisten yang sesuai kriteriaku."
"Alex, tapi pekerjaan dia bagus, bukannya kamu butuh orang yang bisa di percaya?"
"Please, Aaron." Wajah Alex memelas, dia terlihat sangat keberatan dengan apa yang Aaron usulkan.
Aaron memang berniat untuk memutasi Hayley di kantor pusat ini, namun bukan karena dia ingin lebih dekat dengan calon istrinya, melainkan untuk membuat Hayley terus terpantau agar tidak sampai melakukan hal-hal ceroboh yang membuat masalah dalam hidupnya.
"Nanti malem aku ada janji sama Davina, dan seharusnya besok aku ngambil cuti sehari," lanjut Alex.
"Jangan berhubungan terlalu jauh dengan keluarganya, Alex. Resiko!" Aaron memperingatkan, karena ayah dari Davina adalah orang paling licik dalam berbisnis.
"Aku sudah menolaknya, namun apa daya, ketampananku yang hakiki ini membuat dia tidak pernah nyerah merayuku," jawan Alex santai. "Jadi, dia memintaku menemaninya semalam," imbuhnya.
"Besok kau libur?" tanya Aaron.
"Ya, sehari aja. Kasian Davina kalau aku buru-buru pergi di pagi yang dingin, dia pasti butuh kehangatan yang bisa bikin dia panas luar dalam," seloroh Alex sambil sedikit tersenyum.
Aaron yang sudah paham betul bagaimana sepupunya menghabiskan malam-malam dengan para wanita dan bergonta-ganti pasangan hanya bisa geleng-geleng kepala, dia tau betul nasib telah merubah Alex menjadi laki-laki yang tidak mengenal cinta, hanya nafsu dan kesenangan yang ada di dalam kepalanya.
🖤🖤🖤
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan Like dan komentar ya teman-teman, ILY 3000 ❤️