Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pria itu mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah. "Dan jika aku yang memutuskan nyawanya tak pantas dibiarkan hidup?"
Sekali lagi, sepasang mata itu saling bertemu—yang satu penuh dengan otoritas, yang lain penuh dengan keyakinan.
"Jika begitu, maka aku akan menanggung kesalahannya. Jika dia pantas dihukum, biarkan aku yang menanggung bebannya. Tapi jangan biarkan kehormatannya terkoyak setelah kematiannya."
"Aneh sekali...kau yang disakiti tapi kau masih bisa berbelas kasih..."
Berbelas kasih?
Bukan.
Justru jika ada yang menyakiti ku aku akan membalas nya Beratus bahkan beribu kali lipat.
Tapi...aku tidak ingin ada seseorang yang mengalami kematian begitu menyedihkan.
Selena menurunkan pandangan nya dan kemudian berjalan pergi,"kau sudah membuat keributan begini... bagaimana bisa aku mengelilingi Mesir.."
remaja muda itu menatap nya dan samar samar tersenyum,sambil menarik tangan nya,"Neferure... ikutlah ke istana ku.."
"apa?."Tangan nya di genggam oleh pangeran muda itu,dia membawa nya pergi,tapi neferure berkata,"Bagaimana dengan mayat nya.."
Dia melirik neferure dan menatap ke arah depan,"tenang saja,aku akan mengurus nya, tidak perlu khawatir.."kata nya,menarik tangan neferure.
Mengurus? pertanyaan nya: Bagaimana kau mengurus nya?."
Neferure masih mencoba mencerna kata-kata itu ketika genggaman di tangannya semakin erat. Pangeran muda itu tidak memberinya kesempatan untuk berpikir lebih lama. Dengan langkah tegap, dia menarik Neferure menuju kereta kuda yang telah menunggu di depan.
"Kita harus pergi."
"Tapi—"
Neferure menoleh ke belakang, ke arah mayat yang kini tergeletak begitu saja di tanah. Hatinya masih terasa berat, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.
Neferure masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kemewahan yang mengelilinginya. Sejak hari itu,dia dibawa ke istana, dan tanpa dia sadari, tiga hari telah berlalu.
Para pelayan memperlakukannya dengan hormat, menyediakan makanan terbaik, pakaian yang halus, serta kamar yang jauh lebih luas daripada tempat mana pun yang pernah dia tinggali sebelumnya.
Neferure duduk di tepi kolam teratai, jari-jarinya dengan lembut menyentuh permukaan air yang tenang. Cahaya matahari senja menyinari kelopak bunga teratai yang mengapung, menciptakan pantulan keemasan di permukaan air. Angin lembut berembus, membawa aroma khas bunga dan sungai yang mengalir jauh di luar istana.
Sudah tiga hari sejak dia dibawa ke istana ini. Sebagai seseorang yang seharusnya bebas berjalan di tanah mana pun, kini dia terikat dalam kemewahan yang tak pernah dia minta.
Matanya tetap tertuju pada bunga-bunga teratai yang perlahan bergerak mengikuti arus kecil di kolam. "Teratai... tumbuh dari lumpur, tapi tetap mekar dengan anggun di atas air..." gumamnya pelan.
Langkah kaki terdengar mendekat. Dia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa itu.
"Apa yang kau lihat?" suara pangeran muda itu terdengar di belakangnya, nada suaranya lembut, tapi tetap membawa otoritas.
Neferure melirik nya dan menyentuh bunga teratai,"bunga nya indah..."kata nya
pangeran itu duduk di samping neferure sambil memerhatikan nya,dan menarik sudut bibir nya,"Bunga teratai melambangkan simbol Mesir.."katanya,nadanya Lembut melihat bunga teratai itu.
Neferure akhirnya menoleh, menatap pria berusia tujuh belas tahun itu. Mata emasnya yang tajam memancarkan ketenangan yang sulit dibaca, tetapi ada sesuatu di sana—sesuatu yang mengamatinya lebih dalam dari sekadar ucapan biasa.
Dia menarik napas, lalu berbisik, "Bukankah kita semua seperti teratai? Berusaha bertahan dalam lumpur kehidupan, mencari cahaya untuk tetap mekar?"
Pangeran itu terdiam sesaat, sebelum akhirnya menarik satu bunga teratai dari air dan menyerahkannya padanya. "Jika begitu, pastikan kau terus mekar di tempat yang tepat."
Neferure menerima bunga itu, jemarinya menyentuh kelopaknya dengan hati-hati,"ini bunga yang indah ... Bagaimana ini seperti nya aku menyukai bunga teratai.."balas nya Tersenyum lembut.
pangeran yang beranjak dewasa itu tersentak dan tersenyum,dia memainkan ujung rambut neferure dan menatap mata biru itu dengan lembut,"Teratai ini memang indah," ucapnya lirih, suaranya mengalun seperti angin sore yang membelai permukaan air. "Namun, keindahannya tak sebanding dengan dirimu."
Neferure menoleh, sedikit terkejut dengan perkataannya. Namun, pemuda itu hanya tersenyum, seolah menyatakan bahwa apa yang baru saja diucapkannya bukan sekadar kata-kata manis, melainkan sebuah kebenaran.
"hm.Pangeran Mesir bisa bermulut manis..."kata nya tertawa kecil
"apakah kau sedang mengejek ku?."kata nya, menatap neferure.
Neferure tertegun dan tersenyum,dia tidak merespon hanya melihat bunga teratai dengan lembut, melihat itu pangeran yang ingin marah itu hatinya seperti terkunci.
dia perlahan-lahan menyentuh tangan neferure, sebagai seorang Selena dia kaget dan tidak bisa menahan rasa ingin tertawa nya tapi,ketika dia melihat Pangeran muda yang sombong itu dengan pipi memerah,dia tidak tahan untuk mempermainkan nya.
setiap hari dan setiap saat,jika pangeran muda itu memiliki waktu dia pasti akan menemui neferure.berita tentang neferure berada di istana sudah menyebar.
Biasanya, sebelum ada neferure pangeran muda itu selalu menghabiskan waktu nya di kuil untuk belajar, berkuda, bermain catur ,tapi-sejak neferure datang kehidupan nya, pangeran muda yang tidak pernah tersenyum itu selalu tersenyum bagaikan Matahari Ra
"Neferure..."suara yang begitu bersemangat datang menuju Selena
Neferure mengangkat kepalanya dan melihat pangeran muda itu berjalan dengan langkah cepat ke arahnya. Cahaya matahari menyinari rambutnya yang berwarna keemasan, menciptakan ilusi seolah Ra sendiri memberkatinya.
Para pelayan yang kebetulan berada di sekitar taman segera menundukkan kepala, beberapa dari mereka saling bertukar pandang dengan heran. Sejak kapan pangeran mereka yang biasanya pendiam dan angkuh menjadi seseorang yang berlari dengan penuh semangat hanya untuk menemui seorang gadis?
Neferure tersenyum tipis, "Pangeran, kau begitu bersemangat pagi ini."
Pemuda itu berhenti di hadapannya, sedikit terengah-engah, tetapi matanya bersinar dengan cara yang jarang terlihat sebelumnya. "Aku memiliki waktu luang. Jadi, aku ingin menghabiskannya bersamamu."
Salah satu penasihat yang berdiri di kejauhan hanya bisa menghela napas panjang. "Sungguh, ini pertama kalinya aku melihat pangeran lebih tertarik pada seorang gadis daripada pada buku-bukunya..." bisiknya, disambut anggukan setuju dari pelayan lain.
Namun, bagi sang pangeran, hanya ada satu hal di pikirannya saat ini—bukan politik, bukan strategi perang, bukan tanggung jawabnya sebagai calon firaun. Hanya Neferure, yang kini tersenyum lembut di hadapannya, membuatnya ingin menghabiskan setiap waktu luangnya di sisinya.
Sudah tujuh hari berlalu,mereka menghabiskan waktu, berjalan, bercerita, terkadang melihat ibu kota dan saat dewa Ra tenggelam mereka kembali ke istana
Kamar Neferure
pangeran itu menempati neferure di istana kecil ,tempat tinggal nya untuk sementara,setiap hari dia dilayani oleh pelayan
rambut emas nya panjang,mata nya serta penampilan nya yang muda masih sulit dipercaya,dia melihat diri nya di cermin perunggu, meskipun masih kusam dia masih bisa melihat dirinya saat berumur tujuh belas tahun.
"sulit di percaya..."kata nya,dia berbaring di ranjang dan menatap langit langit,"beberapa waktu lalu aku berada di Hittie dan sekarang aku berada di Mesir, betapa menakjubkan nya.."kata nya.
setelah dipikir-pikir bagaimana kabar Hattusili...saat aku menghilang apa yang dia pikirkan...
Dan-bagaimana aku bisa pulang..?
Cincin ini apa gunanya?apa yang di bawa oleh cincin ini? pertama kali nya aku tidak bisa mengerti Sebuah situasi ya.