Ini kisah tentang 4 orang sahabat. Keyafaza, gadis yang selalu menduga bahwa persahabatan yang ia jalin itu bukan benar - benar sahabat. Karna candaan yang teman nya keluarkan hanya saat berada di sekolah saja. Bahkan mereka tidak tau rumah keya hingga kelulusan datang.
Beradu dalam kecerdasan adalah cara mereka berteman. Setiap TES di sekolah akan berlangsung, mereka pula langsung menjadi musuh dalam hitungan detik. dan bukan lagi teman baik.
Kenapa keya menemukan 3 orang seperti mereka. Bahkan keluh kesal yang keya punya jarang mereka ketahui. 1 alasan yang selalu membuat keya minder untuk bercerita adalah kecerdasan yang di miliki mereka.
Pertemanan seperti apa?
Mungkin kah setelah lulus kita juga akan asing?
________________
IG : khairina_naa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khairina_annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
Besok sekolah ku libur, berangkat lagi hari senin, lalu upacara rutin. Tapi yang ku tunggu bukan upacara itu. Melainkan pembagian hadiah perlombaan kemarin.
Tidak sabar menanti nya. Malam ini aku gunakan untuk membaca novel di kamar ku. Aku sudah memberikan hasil nilai PTS ke ibu tadi siang.
Sesamai nya di rumah, aku segera memberi kannya pada ibu. Agar tidak kelupaan sebenarnya.
Ibu tidak memarahi ku saat setelah kertas itu di baca. Membuat hati ku selalu merasa bersalah pada setiap tindakan nya.
Saat - saat seperti ini yang aku tidak sukai. Dimana aku merasa ibu tidak memperdulikan ku. Berbeda saat abang yang menunjukan nilai nya ke ibu.
Tidak akan diam. Ibu langsung sumringah menceritakan kepada bapa, aku dan juga kaka kesya.
Tapi mengapa saat aku yang menunjukan nya, ekspreksi ibu hanya diam dan seperti tidak ada dukungan untuk ku.
Masuk 10 besar menurut ku pencapaian yang di anggap lumayan. Bersaing dengan 30 anak lebih di kelas tentu nya.
So aku tidak meminta ibu melihat pararel ku itu yang menurut nya rendah. Ibu bisa lihat dari segi nilai nya langsung dari setiap mapel, atau bisa juga melihat nya dari rata - rata yang aku peroleh.
Setidak nya tidak begitu mengecewakan untuk bisa di banding kan dengan berandalan kelas. Hahaa
Iya sekarang aku tau! Aku memang bukan anak yang di harap kan ibu. Aku bukan anak yang pernah di bangga kan oleh ke 2 orang tua ku.
Aku haya beban untuk mereka! Seorang anak yang tak di prediksi ada saat itu di dalam rahim ibu. Anak yang tidak di bangga - banggakan saat ibu mengetahui aku ada di perut nya.
Mana anak yang di anggap ada! Abang tentu nya! Bapa dan ibu memang sangat ingin memiliki anak laki - laki.
Bahkan ketika anak pertama nya akan melihat dunia. Ibu belum mengira kelamin nya perempuan! Dan bapa hanya menyiap kan nama laki - laki saat kaka kesya lahir.
Beruntung nya kaka kesya itu hanya menjadi anak sulung dari bapa dan ibu. Sehingga dia selalu mendapat kan segala nya dari orang tua nya itu.
8 tahun usia kaka kesya, ibu ku di beri buah cinta ke 2 nya. Anak yang selama ini di nanti - nanti kan bapa dan ibu. Anak itu lahir dengan normal dari rahim ibu.
Nama yang dulu telah di siap kan oleh bapa, kemudian di pake untuk buah cinta mereka yang ke 2. Yaitu abang ku.
Aku bukan apa - apa di mata mereka! Aku hanya anak yang ku anggap sendiri aku adalah kesesatan untuk mereka!
Dari pertama aku menempati rahim ibu. Saat usia abang masih 2 tahun, ibu tidak terkejut mengetahui ada titipan Tuhan lagi di dalam badannya.
Anak perepot! Selalu saja menyusah kan orang tua. Dari setiap aku kecil hingga sekarang.
Ibu pernah bercerita kepada ku, bahwa setiap kali aku akan menempuh jalur pendidikan dari muli TK. Selalu saja ada masalah ekonomi di keluarga kita.
Saat aku baru saja mendaftar untuk TK, bapa mendapat PHK dari tempat kerja nya. Membuat bapa menganggur dan berada di rumah lumayan lama.
Ketika aku hendak masuk SD bapa ku bekerja sebagai tukang sapu jalan. Bapa memutuskan untuk tidak lagi merantau saat setelah terkena PHK.
3 tahun keluarga ku susah. Tentang ekonomi atau masalah - masalah yang menimpah. Tepat nya umur ku 8 tahun, aku di fonis penyakit yang menyerang organ dalam ku.
Mengharus kan ku segera di oprasi di salah satu rumah sakit untuk menyelamat kan nyawa ku.
Saat itu dokter meminta ijin penanda tanganan untuk oprasiku. 2 menit setelah bapa berpamitan pada ibu untuk pulang.
Bapa selesai kerja saat itu. Dan mampir ke rumah sakit untuk mengantar makanan agar ibu makan. Setelah ibu makan, bapa berpamitan pulang pada ibu.
Dan dokter masuk menjelaskan penyakit ku semenit saat bapa sudah menghilang dari ruangan ku.
Tuhan ada dengan ku saat itu. Bapa yang sudah lega meninggal kan ibu yang sudah makan kembali menuju ruangan ku lagi.
Kata bapa, langkah ku susah untuk berjalan menuju palkiran kendaraan saat itu.
***
Tanda tangan telah di gambar oleh bapa di atas kertas yang di ajukan oleh dokter di rumah sakit itu. Pertanda perut ku sudah di iklaskan untuk di korek bagian dalam nya guna pengambilan penyakit yang menempel.
Ibu yang masih bingung untuk urusan biaya adminitrasi saat itu. Pergi ke rumah om ku untuk meminjam uang pada sodara.
Pilu saat aku mengetahui cerita itu dari ibu. Dari situ aku tau, ibu menyayangi ku sepeeti ibu menyayangi ke 2 kaka ku.
Tapi aku tidak bisa menjadi anak yang ibu ingin kan! Aku tidak bisa menjadi anak yang membanggakan.
Untuk prestasi di kelas saja aku sangat minim. Aku selelu menjadi orang pemalas hingga sekarang!
Memiliki fikiran yang cukup maju untuk mengubah masa depan. Tapi tidak bisa keluar! Dari mana aku harus memulai nya.
Seperti ibarat kuliah tinggi itu apa gunanya, jika ilmu mu tak kau manfaatkan untuk bannyak orang di sekitar mu.
Keluh - kesal ku selalu mendatangkan emosi dan fikiran - fikiran negatif macam ini. Berat nya dunia ku temui setelah aku melulus kan diri ku di bangku SMA ini.
***
Hp ku berbunyi saat aku sedang asik membaca novel dengan fikiran yang berbeda dari jalur novel yang aku baca itu.
5 panggilan masuk..
Tidak aku dengar saat aku sedang berhalusinasi bersama novel di malam sabtu ini.
Siapa?
Batin ku bertannya.
Habis! Kacau!
Aku segera menya kan data seluler pada hp ku. Mengaktif kan internet lalu melihat beberapa pesan yang masuk.
Belum juga aku membaca pesan itu. Panggilan masuk dari hafis terulang lagi.
Ku angkat panggilan itu dengan tangan yang gemetar. Tidak langsung bicara, aku hanya diam dan menunggu hafis berbicara lebih dulu.
"key!" sapa hafis agak marah.
"Iya" ku jawab masih lirih.
"Kemana aja?"
"Gak kemana - kemana"
"Ko di telfon gak di angkat - angkat?"
"Ini di angkat"
"Tadi! Gak nanya sekarang!"
"Iya iya maaf"
"Terus?"
"Apa?" ku tannya balik hafis
"Kemana aja keyafa!" suara nya seperti orang menindas.
"Gak kemana - kemana. Tadi gak denger ada telefon masuk"
"Emang lagi apa?"
"Duduk"
"Tadi!"
"Tiduran"
"Terus?"
"Gak terus - terus" jawab ku lirih.
"Novel?" tebak hafis
"Yaa" ku jawab sedikit dingin
"Kan!"
"Apa?"
"Novel terus dasar! Kamu gak buka hp berapa lama?" tannya hafis.
"Masih seperti biasa. Aku buka hp sabtu malam"
"Aku nyuruh kamu buka hp di sekolah kan? Saat ada kegiatan perlombaan antar kelas kemarin di sekolah mu? Lupa?" tannya hafis.
"Iya maaf. Lagian aku belum pernah main hp di sekolah. Kemarin pertama kali kamu nyuruh aku buka hp di sekola. Aku gak bisa kaya anak - anak normal yang bermain hp di lingkungan sekolah" kata ku panjang.
"Kamu gak normal key?" hafis bertannya dengan raut wajah yang sudah ku tebak.
"Ih bukan gitu" ku jawab dengan nada sebel.
"Terus?" tannya hafis tak berdosa.
"Gak tau ah!"
"Udah - udah gak usah marah"
"Lagian kamu!"
"Iya aku yang salah. Minta maaf"
"Gak"
"Ni anak yah. Gak mau di salahin giliran minta maaf gak di maafin"
"Tuh kan gitu lagi!"
"Lagian kamu bikin kesel"
"Yaudah gak usah deket sama aku!" kataku mulai emosi.
"Keya jangan gitu lah" hafis mulai merayu.
"Tau ah"
"Yaudah kamu marah aku marah!"
"Ih susah banget sih!"
"Apa?" tannya hafis.
"Tau ah"
"Hih"
"Apa!"
"Gak"
"Hih!" ku jawab dengan emosi.
"Apa?"
"Gak"
"Gitu aja terus sampe manusia di dunia ini mati semuannya!"
"Kiamat!"
"Yaa!"
"Terus"
"Udah"
"Yaudah" aku jawab sangat malas.
"Bay!" kata nya, lalu mematikan telefon itu.
Kebiasaan hafis selalu menjengkel kan! Mematikan telefon secara sepihak saat suasana sedang tidak enak.
Bagaimana pun dia. Aku harus lebih sabar menghadapi nya, tidak harus menuruti ego saat kemarahan datang seperti ini.
Ku taruh hp ku di atas kasur, dan ku jatuh kan badan ku ke belakang. Menatap dinding - dinding atas kamar yang ber warna putih itu.
Hari ini hati ku kacau!
Aku sedang tidak ingin meladeni siapa pun di dunia ini. Aku merasa diri ku adalah boneka yang mereka permainkan. Boneka yang selalu mereka ajak bicara.
Tapi saat aku jatuh, dan kotor. Semua bersikap acuh pada ku! Tak ada satu orang pun yang perduli saat ini.
Semua ingin di hargai malam ini! Apa yang bisa ku banggakan dengan diri ku ini. Manusia ter bodoh yang tidak bisa apa - apa.
Hp ku mengeluarkan suara saat fikiran ku sedang ricuh. Ku ambil hp itu di samping tangan ku, untuk segera melihat dari siapa panggilan yang datang itu.
"Abang" kata ku lirih.
Segera ku duduk an badan ku di pojok tempat tidur ku. Menyenderkan nya ke tembok itu. Lalu ku angkat panggilan yang masih membuat hp ku berdering.
"Iya bang" ku bicara langsung.
"Lagi apa?" tannya abang,
"Duduk"
"Dimana?"
"Kamar"
"Gak keluar?" abang mulai mengintrogasi.
"Gak"
"Gimana hasil PTS kamu?" tannya abang tiba - tiba.
"Lumayan" ku jawab singkat dengan nada lemah.
"Pararel berapa?" tannya abang.
"7"
"Bagus dong" kata abang menyambung.
Aku tersenyum mendengar abang bicara.
"Kenapa gak 1?" lanjut abang
Senyum ku seketika pupus dengan sendirinya mendengar lanjutan bicara abang.
"Gak" ku jawab judes.
"Otak mu memang mampu segitu. Belajar terus lebih giat biyar maju, kurangin. Baca novel nya. Ingit! Udah kelas 12. Awas aja UNBK nya nilai nya rendah" kata abang mengancam.
"UNBK harus masuk pararel 5 sekolah" lanjut abang.
"Gak" jawab ku sudah pesimis.
"Kamu yah di bilangin. Gak ada yang gak mungkin key" kata abang
"Emang gak mungkin bang! Itu berat!" lanjut ku semakin pesimis.
"Kenapa sih kamu selalu saja pesimis! Lihat abang key? Kamu tau semester 1 abang masuk SMK? Gimana nilai abang? Merah lebih domonan. Terus abang gak tetima saat ibu di bilang oleh guru abang gak mendidik abang di rumah." kata abang.
"Abang di situ sedih! Abang gak bisa nglawan guru abang sendiri. Dan hati abang tau bahwa ibu juga sedih mendengar omongan dari guru abang." lanjut abang
"Apa hubungannya?" aku memutus pembicaraan abang.
"Dari situ hati abang ingin berubah! Abang rubah semua kemalesan abang. Selalu belajar setiap tengah malam karena otak abang menyaring saat suasana sepi. Abang gak bolos - bolos lagi saat itu. Dan abang yang sudah di cap anak gadungan di sekolah saat semester 1 itu, abang bisa buktiin! Abang peraih posisi pertama pararel sekolah dari semester 2 hingga 6! Gak ada yang gak mungkin" lanjut abang
"Tapi kan" keluh ku
"Apa? Mau bilang abang SMK kamu SMA?"
"Iya"
"Gak ada perbedaan dalam ke 2 nya keya! Kamu harus tau, perubahan datang karena diri kamu sendiri! Karena kemauan mu sendiri!" kata abang
"SMA lebih berat. Anak - anak nya lebih cerdas, mana mungkin aku bisa" lanjut ku
"Kalo kamu mau belajar pasti bisa. Abang berada di pekerjaan ini karena abang selelu ingin merubah diri abang dengan terus belajar." kata abang.
"Kenapa abang gak pilih beasiswa yang abang dapat?" tannya ku
Lulusan kemarin abang mendapat undangan beasiswa dari salah satu politeknik di kota ku. Tapi abang lebih memilih tandatangan kontrak PT di jakarta.
"Melanjutkan sekolah bisa tahun depan key. Abang laki - laki! Kalo abang lebih milih beasiswa saat itu abang mungkin sudah melepas penawaran besar. Abang takut mengambil 4 tahun sekolah lagi saat itu dan abang tidak bisa memberikan apa - apa pada bapa dan ibu. Umur gak ada yang tau" kata abang.
Abang ku menganggap kebahagiaan orang tua lebih penting. Ibu ku menuntut abang melanjutkan sekolah setelah SMK. Tapi abang meyakinkan ibu bahwa dia akan bekerja untuk biaya kuliah nya sendiri.
"Tapi kamu harus lanjut key!" kata abang.
"Abang aja gak"
"Kamu perempuan! Jadilah cerdas agar tidak di bodohi laki - laki kelak" kata abang.
"Hih" kesal ku.
"Sekolah yang bener! Biaya sekolah gak se gampang beli es teh manis"
"Abang gak pengin lanjut?" tannya ku
"Pengin. Bisa nanti - nanti, gak harus sekarang"
"Kalo begitu. Mungkin aku nanti - nanti aja"
"Kamu perempuan. Harus sekarang! Tugas mu belajar key, jangan sampe kamu menyesal melihat nilai mu nanti" kata abang.
"Iya bang"
"Kalo ibu diem ke kamu, kamu jelasin baik - baik ke ibu. Jangan ikutan diem. Dosa" kata abang sudah menebak kindisi ku sekarang.
"Iya bang. Maksih pencerahanya" kata ku memecahkan keseriusan.
"Yaudah yah. Abang mau berngkat, ini sift malem" lanjut abang
"Iya bang"
Tidak melanjut kan pembicaraan. Abang langsung mematikan telefon.
Ku turun kan tubuh ku ke atas kasur lagi. Malam ini membuat otak ku bekerja bukan pada jam nya. Berfikir yang entah mana tujuannya.
Nostalgia tentang semua kejadian yang sudah berlalu di masa lalu!
Aku harus apa sekarang! Fikiran ku buntu malam ini!
Saat masalah datang di hidup mu. Orang lain tak akan mengetahui apa masalah mu. Orang lain juga tak akan prihatin dengan masalah yang kau punya.
Entah itu teman! Sahabat! Atau teman terdekat!
Tidak ada kepedulian sebelum kau mencerita kannya!
Siapa yang selalu bisa menguatkan mu sebenarnya?
Ku katakan, keluarga! Saudara! Buakn orang lain yang tidak punya ikatan darah!
Sepusing - pusing nya diri ini. Keluarga yang bisa menolong!
Tidak ada orang yang rela menyelesaikan masalah mu dengan tangan kosong.
Saat ini aku belum bisa percaya dengan kebaikan orang di sekitar ku.
Aku lebih percaya pada kebaikan keluarga ku.
Keluarga mu merasa bodo amat pada mu? Bukan! Kau kurang bersyukur terhadap keluarga mu!
^^^~khairina^^^
______________
Jangan lupa vote?😉
Mampir "I Have 2 Husband's"
membawa 20 like 👍👍
like like
jangan lupa saling mndukung😊
kutunggu kelanjutan bomlike kk di novelku Who is He, ya😁💕
ini aja aku sempatin
masih kerja 😂😂😂
Semangat up-nya Thor!