Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Setelah siang itu mereka selesai makan. Pak Hartawan mengusap bibirnya dengan serbet kain, sebelum akhirnya menatap Arka dengan binar mata penuh kekaguman.
Ia berdiri dari kursi kayu mahoni tersebut, lalu melangkah mendekat dan menepuk pundak Arka dengan mantap.
"Makan siang ini sangat berarti sekali. Saya sangat senang bertemu dengan pria yang jenius sepertimu, Arka. Pemikiranmu tadi sungguh di luar dugaan orang seusiamu," kata Pak Hartawan, suara beratnya terdengar hangat dan jujur.
Arka tersentak pelan, refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah agak memerah.
"Ah, justru saya yang merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan pebisnis besar seperti Anda, Tuan. Saya masih harus banyak belajar dari pengalaman Anda," balas Arka merendah, mencoba menutupi rasa gugupnya.
Clara yang berdiri agak di belakang ayahnya melihat tingkah Arka. Bibir tipisnya mengukir senyum manis yang berusaha ia sembunyikan.
"Kau tidak usah se-rendah hati itu, Arka. Ayahku ini sangat jarang memuji orang setinggi ini, lho. Jadi, anggap saja itu pencapaian besar," goda Clara sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Benar kata Clara. Jangan terlalu sungkan padaku. Kontak saya selalu terbuka untukmu," tambah Pak Hartawan sambil terkekeh pelan. "Kalau begitu, kami pamit dulu. Masih ada pertemuan dengan kolega di pusat kota."
"Baik, Tuan Hartawan, Nona Clara. Terima kasih banyak atas makan siangnya. Hati-hati di jalan," sahut Arka sopan.
Mereka pun berpamitan dan pergi meninggalkan restoran tersebut. Mobil hitam mewah milik keluarga Hartawan perlahan menghilang di balik lalu lintas kota.
Arka juga memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Udara siang menjelang sore bertiup sepoi-sepoi. Perjalanan yang memakan waktu tidak begitu lama.
Dari kejauhan, Arka melihat sebuah bangunan mewah yang berdiri megah di samping rumah mewahnya.
Arsitekturnya bergaya modern minimalis dengan dominasi warna putih bersih dan kaca-kaca besar yang berkilauan diterpa sinar matahari. Papan namanya terukir indah dengan pencahayaan LED yang elegan.
"Wah... itu pasti klinik yang diberikan oleh sistem," gumam Arka bersemangat. Matanya berbinar-binar. "Gila, penampilannya benar-benar seperti rumah sakit privat kelas atas!"
Arka mempercepat langkahnya, tak sabar ingin melihat interior klinik baru miliknya dari dekat.
Namun, saat ia sampai di depan rumahnya, yang terletak tak jauh dari klinik tersebut, ia mendengar suara tangisan seorang wanita.
"Tolong! Siapa pun tolong! Selamatkan anakku! Tolong!" teriak seorang wanita setengah baya sambil menggendong seorang anak kecil laki-laki di pelukannya. Wanita itu berlari pincang sambil menangis.
Anak dalam gendongannya terlihat lemas, wajahnya membiru, dan napasnya terdengar tersendat-sendat seperti tercekik sesuatu.
Beberapa warga keluar rumah, tetapi mereka hanya bisa saling pandang dengan raut wajah panik dan bingung.
Orang yang berlalu lalang hanya melihat saja tanpa berbuat apa-apa.
Arka tidak berpikir panjang. Ia berlari kencang mendekati ibu tersebut dan memotong jalurnya.
"Ibu! Berhenti dulu, Bu!" panggil Arka tegas namun menenangkan.
Ibu itu menatap Arka dengan mata sembap penuh keputusasaan. "Mas... tolong Mas! Anak saya tidak bisa bernapas! Bibirnya sudah biru, tolong anak saya..." tangisnya pecah, tubuhnya gemetaran hebat hingga nyaris tak sanggup menopang tubuh si anak.
Arka dengan sigap menahan bahu wanita itu. Matanya menatap tajam ke arah anak kecil tersebut untuk memindai kondisinya.
"Ibu, tenang dulu. Saya dokter! Ayo ke sini, masuk ke klinik saya!" kata Arka mantap sembari menunjuk ke arah bangunan megah yang baru saja berdiri di dekat sana.
Ibu itu tertegun sejenak, melihat ke arah klinik mewah yang sebelumnya belum pernah ia lihat di lingkungan itu, lalu kembali menatap Arka. "K-klinik? Mas sungguhan bisa selamatkan anak saya?"
"Percaya sama saya, Bu. Waktu kita tidak banyak. Ayo cepat!" tegas Arka tanpa ragu, langsung mengambil alih menggendong anak kecil itu dan berlari menuju pintu masuk kliniknya.