Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Dijemput Paksa
Kebetulan mulai kehilangan bentuknya, dan Keira tidak pernah suka bentuk yang tidak jelas.
Beberapa hari setelah malam observatorium, ia tetap memakai kalung safir biru itu. Bukan karena luluh sepenuhnya pada Rayhan, melainkan karena benda itu sudah menjadi pertanyaan. Batu safir itu dingin di lehernya saat ia berjalan melewati lobby HEALER sore itu, membawa tas kerja dan map rapat yang belum sempat ia kirim ke Tari.
Hari kerja baru selesai. Di depan gedung HEALER, mobil jemputan karyawan, ojek online, dan sedan eksekutif saling menunggu dalam barisan rapi yang mulai kehilangan kesabaran. Hujan baru berhenti, trotoar masih basah, dan udara Jakarta berbau aspal panas yang terkena air.
Tari menelepon.
"Ci, aku sudah kirim revisi materi Bali. Malam ini mau aku cek ulang?"
"Besok pagi saja. Kamu pulang."
"Ci pulang sendiri?"
"Sopir sudah dekat."
Keira menutup telepon. Sopir yang biasa menjemputnya memang baru mengirim pesan bahwa mobil tertahan di putaran Kuningan. Lima menit. Tidak lama. Cukup lama untuk orang yang menunggu celah.
Seorang perempuan paruh baya mendekat sambil membawa keranjang jeruk. Pakaiannya sederhana, kerudungnya agak miring karena angin, dan wajahnya tampak lelah seperti penjual keliling yang ingin segera pulang.
"Bu, jeruknya, Bu. Manis. Buat di jalan."
Keira biasanya tidak membeli apa pun dari orang asing di depan kantor. Namun perempuan itu berdiri terlalu dekat dengan jalur masuk mobil, membuat satpam menoleh.
"Tidak, Bu."
"Sebentar saja. Anak saya suka sekali jeruk ini." Suara perempuan itu bergetar. "Dulu dia selalu minta dibelikan."
Keira berhenti setengah detik.
Kalimat itu salah.
Bukan karena terlalu sedih. Justru karena ditempatkan terlalu rapi.
Di pantulan kaca lobby, Keira melihat bayangan seorang pria mendekat dari belakang. Topi hitam, jaket lusuh, langkah cepat yang berusaha terlihat biasa.
Keira baru menarik napas untuk berteriak ketika rasa panas menyambar punggungnya.
Tubuhnya kaku.
Lantai basah, keranjang jeruk yang jatuh, suara satpam yang terlambat memanggil, semuanya pecah dalam cahaya putih pendek. Lutut Keira kehilangan tenaga. Map rapat jatuh terbuka, kertas-kertasnya menyentuh genangan kecil.
Perempuan itu menangkap lengannya.
"Cepat!" desisnya.
Pria di belakangnya, Pak Kurniawan, menekan alat kejut listrik sekali lagi ke sisi tubuh Keira. Kali ini dunia benar-benar gelap.
Satpam HEALER baru menyadari sesuatu salah ketika pintu mobil abu-abu di pinggir jalan terbuka. Dari sudut pandang kamera lobby, semua terjadi terlalu cepat: perempuan penjual jeruk menjatuhkan keranjang, pria berjaket lusuh mengangkat tubuh Keira, lalu mobil masuk ke arus jalan sebelum satpam sempat mencapai trotoar.
Map rapat Keira tertinggal di lantai basah. Di halaman pertama, tanda tangan Keira masih jelas, tinta hitamnya melebar terkena air.
Tari menerima telepon dari resepsionis tiga menit kemudian. Wajahnya langsung pucat.
"Apa maksudnya Ci Keira dibawa orang?"
Tidak ada jawaban yang cukup baik untuk pertanyaan itu.
Saat Keira membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah bau karet dan bensin.
Gelap.
Sempit.
Tubuhnya terguncang mengikuti gerak mobil. Bahunya menabrak sesuatu yang keras. Pergelangan tangannya diikat kabel ties, tidak terlalu profesional, tetapi cukup kuat. Mulutnya tidak diplester. Mereka ingin ia bisa bicara. Atau mereka terlalu panik sampai lupa.
Bagasi mobil.
Keira memejamkan mata lagi, bukan untuk pingsan, melainkan untuk mendengar.
Suara mesin stabil. Kecepatan tinggi. Angin besar dari kendaraan di sisi kanan. Sesekali ada deru truk. Ban melewati sambungan jalan yang ritmenya berbeda dari jalan kota.
Jalan tol.
Ia menggerakkan kaki pelan. Tidak ada luka berat. Punggung masih sakit dari alat kejut. Napasnya pendek, tetapi pikirannya kembali bekerja.
Di kursi depan, Bu Kurniawan menangis.
"Dia harus tahu rasanya kehilangan anak."
Pak Kurniawan membentak, "Diam! Jangan terus menangis."
"Denny mati. Anak kita mati. Perempuan itu masih bisa pulang kerja, pakai baju bagus, dikawal orang kaya."
Keira membuka mata.
"Kalau kalian ingin aku takut," katanya dari dalam bagasi, suaranya serak, "kalian harus mulai dengan rencana yang lebih rapi."
Mobil bergoyang sedikit.
Bu Kurniawan menjerit, "Dia sadar!"
"Bagus," kata Pak Kurniawan. "Biar dia dengar."
Keira menahan nyeri di rahang. "Dengar apa? Denny mati karena Brandon. Polisi sudah menulis itu."
"Jangan sebut nama anak saya!" suara Bu Kurniawan pecah.
"Denny suka menyebut nama orang saat menyakiti mereka?"
Sunyi setengah detik.
Keira tahu ia sedang memainkan api. Namun semakin mereka bicara, semakin lama mereka tidak berpikir jernih. Setiap detik berarti.
"Anak saya baik," kata Bu Kurniawan. "Dia hanya salah pergaulan."
Keira tertawa pelan. Suara itu kering di ruang sempit. "Kalimat itu pasti lebih mudah daripada mengakui anakmu menutup pintu tangga darurat saat seorang gadis didorong dari lantai enam."
Rem diinjak mendadak. Tubuh Keira terlempar ke sisi bagasi, bahunya terbentur keras.
"Bohong!" teriak Bu Kurniawan.
"Tanya Brandon di tahanan. Kalau dia masih cukup sadar untuk bicara."
Pak Kurniawan memaki dan kembali menekan gas. "Kamu pikir ada yang bisa menyelamatkan kamu? Hartono? Polisi? Anak saya mati, semua orang harus bayar."
Di balik sakit yang berdenyut, Keira memikirkan kalung safir di lehernya. Batu itu masih ada. Rantai tipisnya menyentuh kulit. Dingin.
Rayhan muncul di rumah sakit terlalu tepat.
Rayhan tahu makanan yang tidak pernah ia pesan.
Rayhan selalu melihat kalung itu seperti memastikan sesuatu tetap menyala.
Jika dugaannya benar, ia harus marah.
Jika dugaannya benar, ia mungkin akan hidup.
Di tempat lain, di ruang rapat Hartono Group, Rayhan sedang mendengarkan laporan akuisisi ketika ponsel khusus di meja menyala merah.
Farel, asisten keamanan internal, langsung masuk tanpa mengetuk. "Pak, sinyal kalung Bu Keira bergerak tidak sesuai rute. Dari HEALER langsung masuk tol. Kecepatan tinggi. Ponselnya mati."
Rayhan berdiri begitu cepat kursinya terdorong ke belakang.
"Berapa menit?"
"Tujuh menit sejak meninggalkan gedung HEALER."
"Polisi?"
"Sudah saya hubungi kontak Polda. Tim pengawal bergerak."
Rayhan mengambil jas. Wajahnya tidak lagi marah. Itu yang membuat Farel lebih takut. Kemarahan Rayhan masih punya suara. Wajah seperti ini berarti keputusan sudah dibuat sebelum orang lain sempat bernapas.
"Gerbang tol terdekat?"
"Dua belas kilometer. Kalau kita kirim posisi real time, polisi bisa intercept."
"Kirim. Tutup semua jalur keluar setelah itu."
"Baik, Pak."
Rayhan menekan nomor Keira. Tidak aktif. Sekali lagi. Tidak aktif. Tangannya menggenggam ponsel sampai buku jarinya memutih.
"Kei," gumamnya, suara pecah sangat kecil. "Tunggu aku."
Steven menelepon saat Rayhan sudah masuk mobil.
"Ray, gue dengar dari HEALER. Lo di mana?"
"Tol dalam kota."
"Polisi sudah gerak?"
"Sudah."
"Jangan maju sendiri."
Rayhan menatap titik merah di tablet pengawal. Titik itu bergerak cepat, terlalu cepat, seperti nyawa Keira sedang ditarik menjauh di atas peta.
"Kalau polisi terlambat satu detik, aku maju sendiri."
Steven memaki pelan di seberang, tetapi tidak membantah. Semua orang yang mengenal Rayhan tahu nada itu. Ia bukan sedang mengancam. Ia sedang menyampaikan jadwal.
Di dalam bagasi, Keira mendengar sirine pertama.
Bu Kurniawan panik. "Pak, polisi!"
"Diam!"
Mobil berpindah jalur kasar. Klakson panjang terdengar dari belakang. Keira menghitung napas. Satu, dua, tiga. Tubuhnya ingin gemetar, tetapi ia menahan. Rasa takut boleh datang nanti. Sekarang ia membutuhkan suara.
"Kalau kalian berhenti sekarang, hukumannya masih bisa lebih ringan," katanya.
"Diam!"
"Kalau kalian menabrak, kalian mati sebagai penculik. Denny tetap tidak berubah jadi korban."
Bu Kurniawan menangis makin keras.
Lalu benturan kecil terjadi di sisi belakang. Mobil mereka dipaksa menepi oleh dua kendaraan hitam. Sirine mendekat. Suara polisi lewat pengeras terdengar pecah, memerintahkan mobil berhenti.
Pak Kurniawan mencoba menerobos.
Tidak berhasil.
Rem menjerit. Tubuh Keira terlempar lagi. Kali ini kepalanya membentur dinding bagasi, membuat pandangannya berkabut.
Pintu mobil dibuka paksa. Teriakan polisi, suara langkah, Bu Kurniawan memohon, Pak Kurniawan melawan lalu jatuh. Semua masuk seperti suara dari bawah air.
"Korban di bagasi!" teriak seorang polisi.
Seseorang memukul kap bagasi dari luar. Kunci macet beberapa detik. Detik-detik itu membuat napas Rayhan seperti putus satu per satu. Ia merebut alat pembuka dari pengawal, tetapi polisi sudah berhasil menarik tuas darurat.
Bagasi terbuka.
Cahaya sore menusuk mata Keira.
Rayhan berdiri di luar, napasnya berantakan, kemejanya kusut seperti ia keluar dari neraka dan belum sempat sadar. Di belakangnya, polisi memborgol Pak Kurniawan. Bu Kurniawan terduduk di aspal, menangis sambil menyebut nama Denny.
Rayhan menunduk, memotong kabel ties di tangan Keira dengan pisau kecil dari pengawal. Tangannya yang biasanya stabil gemetar.
"Kei."
"Tiga puluh menit?" suara Keira hampir tidak keluar.
"Dua puluh delapan."
"Kamu bangga?"
Rayhan mengangkatnya keluar dari bagasi. Begitu tubuh Keira menyentuh dadanya, sesuatu di wajahnya runtuh. Ia memeluknya terlalu erat, lalu cepat melonggarkan saat Keira meringis.
"Aku datang," katanya.
Bibirnya menyentuh kening Keira, panas dan singkat. Bukan ciuman yang meminta balasan, melainkan bukti bahwa ia perlu memastikan Keira benar-benar di sana.
Keira tidak mendorongnya.
Belum.
Ia menatap mobil polisi, lalu menatap Rayhan. Dalam pelukannya, kalung safir di leher Keira terasa lebih dingin daripada udara tol sore itu.
"Bagaimana kamu tahu?"
Rayhan membeku.
Di tengah sirine, lampu rotator, dan tangis Bu Kurniawan, pertanyaan itu jatuh lebih keras daripada benturan mana pun.