Catherine Zevanya Robert Wilson. Gadis dengan sejuta pesona, kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan yang membuatnya menjadi idola semua orang.
Gadis yang memiliki hidup sempurna penuh dengan cinta, tapi dibalik kesempurnaan ada luka besar di dalam hatinya. Gadis yang dielu-elukan kecantikannya itu memiliki kisah cinta yang hancur, kesetiaannya dinodai oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya.
Catherine memiliki sisi misterius yang pemikirannya tidak bisa dijangkau orang lain. Bukan Catherine namanya jika dia diam saja menerima takdir kejam seperti itu, tanpa mengotori tangannya ia akan menghancurkan para pengkhianat.
Untuk menyembuhkan luka hatinya, Catherine memilih kembali ke tempat kelahirannya guna memulai hidup baru. Lalu, apakah Catherine akan memiliki kisah cinta baru?
"Balas dendam terbaik adalah dengan melihat kehancuranmu."
"Jangan jatuh cinta padaku, itu menyakitkan."
"Catherine, sepertinya aku tertarik padamu."
"Aku siap menunggu kamu jatuh cinta padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dia
Angin berhembus menggoyangkan bunga-bunga di taman, sinar matahari menerobos menyoroti kamar melalui pantulan jendela. Seorang gadis masih tertidur nyenyak bergelung dengan selimut tebal miliknya.
Gadis itu mengernyit karena terganggu sinar matahari yang mengenai wajahnya. "Euh." lenguhnya pelan.
"Hmm jam berapa sekarang?" Catherine menoleh menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Catherine bangun dari tidurnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenapa Mommy gak bangunin aku." Gumamnya pelan.
Catherine meregangkan tubuhnya. Ia turun dari ranjang mengambil air putih yang ada di meja lalu meminumnya.
Catherine melangkahkan kakinya menuju balkon luar kamarnya berdiri. Ia mendongak ke atas dengan memejamkan matanya dan menghirup udara segar pagi hari.
"Selamat pagi dunia." Ucap Catherine.
"Nanana makan yang banyak ikan-ikan gembul."
"Aih kau bertambah gemuk, apakah makanannya enak?"
"Hey! Jangan berebut. Kalian semua kebagian."
Catherine mengernyitkan dahinya ketika mendengar seseorang berbicara, suaranya tidak asing. Dia menatap ke sekitar, ia melihat Leo yang membungkuk di pinggir kolam ikan.
"Kapan Bang Leo pulang?" Gumamnya.
"BANG LEO!!!" Teriak Catherine kencang.
"Aaaaaaaaa!!" Teriak Leo yang mulai terjatuh ke dalam kolam..
Byur!
"Upss!" Mata Catherine membulat sempurna melihat Leo yang jatuh ke kolam, tangannya menutup mulutnya sendiri.
"Apa aku mengagetkan Bang Leo?" Batinnya
"Bang Leo! Maaf! Catherine gak sengaja!" Teriaknya sekali lagi.
Leo berdiri dengan baju yang basah kuyup, ia menatap ke atas. Di sana ia melihat Catherine yang menatapnya dengan raut wajah bersalah dan khawatir.
"Princess??!!" Teriak Leo.
Catherine menyengir lucu pada Leo. "Maaf Abang!!"
Leo hanya menggelengkan kepalanya melihat Catherine yang sudah berlari masuk ke kamar.
"Untung Adik kesayangan." Ucap Leo. Ia tak akan pernah tega memarahi Catherine.
Leo mencium badannya yang bau amis ikan, ia bergidik geli. "Mandi lagi deh." Gumamnya pelan.
Catherine menutup pintu balkon, ia menahan tawanya mengingat adegan Kakaknya jatuh ke dalam kolam ikan. "Bang Leo marah gak ya? Nanti aja deh minta maaf lagi."
...----------------...
The Wilson sudah berkumpul di ruang makan ditambah Erick dan Gaga. Mereka akan melakukan sarapan bersama, tapi sampai sekarang belum dimulai karena masih menunggu Catherine.
"Deon, coba panggil Adik kamu buat sarapan." Pinta Sania.
Deon mengangguk kemudian bangkit dari duduknya, ia hendak menuju kamar Catherine tapi tidak jadi karena bintang utamanya sudah muncul.
"Selamat pagi semuaaa." Ucap Catherine berjalan mendekati meja makan.
"Selamat pagi Princess."
"Selamat pagi Catherine." Ucap mereka serempak.
Catherine tersenyum lebar lalu duduk di samping Deon. "Maaf ya Catherine lama."
"Gapapa Princess. Gak lama kok." Robyn menatap lembut Catherine.
"Nunggu Catherine sampe malam pun bakal aku lakuin. Apalagi kamu cantik banget hari ini." Ucap Erick tersenyum tanpa beban.
Gaga mendengus. "Mulai.. mulai.. diem aja bisa gak sih? Lo gak lihat ketiga pawang Catherine udah kumpul, mana tatapannya tajam banget lagi." Bisiknya pada Erick.
Temannya ini memang bebal, harus disadarkan berkali-kali. Bagaimana bisa dia menggoda Catherine secara terang-terangan di kandang singa seperti ini, Gaga sampai tidak habis pikir.
"Bang Leo, maafin Catherine ya. Tadi ga sengaja, sumpah!" Ucapnya dengan ekspresi melas.
Semua orang menatap Leo dan Catherine dengan bingung, minta maaf untuk apa? pikir mereka.
Leo mengalihkan pandangannya pada Catherine. "Gapapa Princess, Abang tahu kamu gak sengaja. Lagian Abang baik-baik aja kok." Ucapnya lembut.
"Ada apa Sayang? Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Robyn penasaran.
Catherine menggaruk kepalanya pelan. "Ahh ituu.. tadi aku gak sengaja ngagetin Bang Leo yang baru ngasih makan ikan. Terus Abang kecebur deh." Jelasnya dengan meringis tidak enak.
"Bang Leo kenapa? Jatuh ke kolam? Ahahaha momen langka ini, harusnya diabadikan. Seorang Leo jatuh ke dalam kolam ikan." Ucap Erick heboh.
Gaga menahan tawanya, ia jadi membayangkan bagaimana ekspresi Leo ketika jatuh. Sania dan Robyn terkekeh pelan mendengar cerita Catherine.
Deon menatap Leo. "Lo jatuh? Mampus!." Ucapnya dengan nada mengejek.
Leo memasang wajah masam. "Ketawa aja, gak usah ditahan." Ucapnya kesal. Catherine semakin merasa bersalah melihat Leo.
Sania berdehem pelan. "Emangnya jatuh di kolam mana sayang?" Tanya Sania pada Catherine.
"Kolam ikan deket taman samping. Itu bawah kamar Catherine Mom." Jelasnya.
Mata Sania membulat. "Aduh terus bagaimana nasib ikan-ikan gembul Mommy. Gak ada yang mati kan?" Sania menatap Leo meminta penjelasan. Entah bagaimana nasib ikan miliknya.
Leo semakin cemberut. "Mommy kok nanyain keadaan ikan sih. Harusnya aku yang ditanya, kan aku yang jatuh." Melasnya.
Sania mengerjap. "Eh? Katanya tadi tidak apa-apa, kamu ada juga sudah ada di sini. Jadi udah kelihatan kalo baik-baik aja." Jawabnya.
"Mommy mah lebih perhatian sama ikan daripada sama Leo." Ucapnya menahan kesal.
Sania terkekeh geli. "Gak gitu Sayang. Tetep aja Mommy khawatir sama kamu, tapi kamu bilang baik-baik aja tadi." Jelasnya yang melihat anak sulungnya merajuk. Leo hanya diam, ia masih kesal.
"Gak usah sok merajuk anak nakal. Ayo sarapan." Alih Robyn.
"Nahh bener tuh kata Om Robyn, ayo sarapan. Udah laper ini." Celetuk Erick dengan wajah tengilnya.
"Gak tahu diri." Ucap Robyn melirik sinis Erick.
"Om jangan galak-galak. Nanti tambah tua. Kasian Tante Sansan punya suami udah jompo nantinya." Erick tak menghiraukan tatapan Robyn. Ia hanya fokus pada makanan yang ada di depannya.
Robyn mendelik sebal mendengar ucapan Erick, teman Deon yang satu itu memang suka memancing emosinya. Hobinya numpang tidur dan makan di rumahnya, ia sampai heran dengan tingkahnya. Untung Erick anak kolega bisnisnya, kalau tidak sudah didepak jauh-jauh hari.
"Ah benar, ayo sarapan sekarang." Ucap Sania.
Mereka pun sarapan dengan tenang, hanya ada suara denting sendok. Memang sudah jadi tradisi keluarga Wilson, ketika makan tidak boleh ada yang berbicara.
...----------------...
Deon duduk di sofa kamar Catherine, ia sudah berjanji mengajak adiknya melihat kampusnya. Jadi sekarang di sinilah dia menunggunya yang sedang siap-siap.
Catherine keluar dari walk in closet, ia memakai T-shirt putih dilapisi sweater bewarna baby blue, dengan rok jeans sebagai bawahan. Ia juga memakai sneaker putih dan Sling bag mini.
Catherine menghampiri Deon dengan tidak sabar karena ingin melihat-lihat kampus yang akan dimasuki.
"Bang Deon, ayok."
Deon mengalihkan tatapannya, ia berdecak kagum. Adiknya memang sangat cantik, ia jadi tidak rela membawa Catherine keluar, pasti banyak mata yang memandang adiknya nanti.
"Sudah siap survei kampus Princess?" Tanyanya.
Catherine mengangguk semangat. "Siap dong!!"
Deon mengacak pelan rambut Catherine. "Ayok berangkat sekarang."
Catherine dan Deon keluar dari kamar. Mereka menuju ruang tengah untuk berpamitan pada orangtua mereka.
"Mommy, Catherine sama Bang Deon pergi dulu ya." Dia mendekati Sania yang sedang menunduk membaca majalah.
Sania mendongak menatap Catherine lembut. "Iya Sayang. Hati-hati ya." Ucapnya.
"Kalian mau kemana?" Tanya Leo yang keluar dari arah ruang keluarga.
Catherine mengalihkan pandangannya. "Mau survei kampus sama Bang Deon." Jawabnya.
"Abang ikut. Tunggu Abang ganti baju dulu." Ucap Leo yang langsung pergi tanpa mendengar jawaban Catherine, ia langsung menuju kamarnya.
Deon berdecak pelan, Abangnya ini memang suka menganggu. Padahal ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Catherine.
Catherine menatap bingung Leo, cepat sekali Abangnya lari. Bahkan ia belum menjawab sudah ditinggal pergi.
"Ayok pergi!" Ucap Leo dengan semangat.
Catherine mencium pipi Sania. "Kita berangkat dulu Mommy."
"Iya Sayang. Kalian jagain Catherine baik-baik." Ucap Sania.
"Siap Mommy." Jawab mereka serempak.
...----------------...
Mobil Mercedes-Benz GLS memasuki kawasan Robert's University menuju parkiran khusus. Catherine, Deon dan Leo turun dari mobil. Mereka berjalan memasuki lift menuju gedung utama kampus.
"Mau keliling mulai dari mana Princess?" Tanya Deon.
"Gedung Fakultas Catherine dulu Bang. Setelah itu ke gedung lainnya." Jawab Catherine.
Deon mengangguk dan mulai mengajak Catherine mengelilingi gedung Fakultas Pendidikan yang dipilihnya.
"Wah luas ternyata." Gumam Catherine dengan mata berbinar.
"Mau liat gedung Fakultas milik Abang gak?" Tawar Deon.
"Ck gak usah pamer deh." Gerutu Leo yang sejak tadi hanya diam mengikuti langkah kedua adiknya.
Deon mengacuhkan ucapan Leo, ia beralih menatap Catherine. "Gimana Princess?" Tanyanya sekali lagi.
"Boleh. Catherine penasaran sama gedung punya Abang." Ujar Catherine semangat.
Deon mengacak gemas rambut Catherine. "Ayok jalan." Ia menggandeng lengan adiknya dengan lembut meninggalkan Leo yang menggerutu kesal.
"Diacuhkan mulu hidup gue." Ucap Leo menatap kesal punggung Deon.
Catherine menoleh ke belakang melihat Kakaknya yang masih berdiri diam, ia berhenti melangkah. "Bang Leo ayo, kenapa diem di sana?" Ucapnya.
Leo tersenyum mendengar panggilan Catherine. "Iya Princess ini Abang jalan." Jawabnya.
Mereka pun mulai berkeliling melihat-lihat gedung kampus. Suasana kampus tidak terlalu ramai karena memang masih musim liburan, hanya ada beberapa mahasiswa yang datang ke kampus karena ada acara maupun ada urusan lainnya.
"Catherine cantik!!" Teriak seseorang memanggilnya.
Catherine menoleh arah sumber suara, ia melihat Erick yang melambaikan tangannya dengan senyuman cerah dan ada juga Gaga di sampingnya.
"Haii Catherine, kita ketemu lagi." Sapa Erick dengan cengiran khasnya.
Gaga menatap malas Erick, tujuan mereka ingin berbicara dengan Deon. Malah jadi kesempatan untuk caper pada Catherine.
"Haii juga Kak!" Sapa Catherine balik.
"Ngapain?" Tanya Deon.
"Ah iya, tadi disuruh manggil Lo. Rapatnya mau mulai, udah ditungguin." Jawab Gaga.
Deon mengalihkan tatapannya pada Catherine. "Abang mau rapat dulu ya, kamu lanjut keliling sama Bang Leo aja gapapa kan Princess?" Tanyanya lembut.
"Gapapa. Abang lanjut rapat aja." Jawab Catherine.
"Aku ikut nemenin kamu ya Catherine." Tawar Erick dengan mata penuh harap.
Gaga mendengus kesal, ia menarik telinga Erick sampai merah. "Gak usah caper dulu bisa gak sih? Kita ada rapat bego!" Ketusnya.
Erick mengusap telinganya yang terasa panas. "Lo hobi banget nyiksa gue. Sakit tahu!"
"Bodo amat." Ucap Gaga tak peduli.
Ia menoleh ke arah Catherine. "Kita pergi dulu ya Cath, sampai jumpa." Gaga menarik paksa lengan Erick agar pergi bersama dirinya.
"Eh ehh jangan tarik gue!! Gue masih pengen ngomong sama Catherine!" Rengek Erick meronta tak terima.
"Catherine, nanti kita ketemu lagi ya.. jangan lupa balas chat akuuuuuuu" Ucap Erick yang semakin menjauh dari pandangannya.
Deon mendengus melihat tingkah laku Erick, sepertinya ia menyesal menganggapnya sebagai temannya.
"Abang pergi dulu ya." Pamit Deon.
Leo menggenggam tangan Catherine.n"Lanjut keliling lagi yuk." Ajak Leo.
"Sekarang enaknya kemana ya?" Tanya Catherine bingung.
Leo terdiam sejenak, ia memikirkan tempat yang akan mereka kunjungi. Leo menatap Catherine, tiba-tiba terlintas dipikirannya sebuah tempat yang akan disukai adiknya.
"Ayo ikut Abang, ada tempat yang bakal kamu suka."
Tanpa menunggu jawaban, Leo menarik lembut Catherine untuk mengikuti dirinya berjalan.
Catherine mengikuti langkah Leo dengan bertanya-tanya, tempat apa yang dimaksud Abangnya ini.
Setelah menaiki lift, Catherine dan Leo telah sampai di sebuah ruangan yang cukup luas. Dia menatap binar ruangan itu, dari pintu utama saja sudah bisa ditebak tempat apa itu.
Catherine menatap Leo dengan tersenyum senang. "Abang.. ini?"
Leo mengangguk, ia tersenyum hangat menatap Catherine. Dia membuka pintu ruangan itu. "Ruang musik, yang akan menjadi tempat favoritmu." Ucapnya.
Catherine membuka mulutnya, ia menatap kagum ruangan itu. Penuh dengan alat musik dan lukisan-lukisan klasik. Sangat indah.
"Wahhhhh." Gumam Catherine.
"Ayo masuk." Ajak Leo.
Catherine masuk ke dalam ruangan, ia melihat ke sekelilingnya. Matanya terpaku pada piano putih yang tampak elegan karena dikelilingi biola di sampingnya.
Catherine mendekati piano tersebut, tangannya terulur mengusap piano dengan lembut.
"Kamu bisa mainkan piano itu Princess." Ucap Leo yang melihat tatapan antusias Catherine.
Catherine menoleh dengan cepat setelah mendengar ucapan sang Kakak. "Beneran boleh Abang?" Leo mengangguk dengan senyuman lembut dibibirnya.
Drt Drt Drt
"Kamu main piano dulu ya, Abang mau angkat telfon di luar sebentar." Ucap Leo sambil menunjukkan ponselnya.
Catherine mulai duduk dibangku khusus untuk bermain piano. Dia meregangkan jari-jari lentiknya. Lalu menghembuskan nafasnya pelan.
Catherine memainkan lagu Queen of the Night from ‘The Magic Flute' karya Mozart. Salah satu musik klasik Soprano favoritnya.
Jari Catherine menari dengan anggun, kepalanya mengangguk pelan menikmati musik yang ia mainkan.
...----------------...
Seorang lelaki berjalan tergesa-gesa menuju ruang musik, ia tanpa sengaja meninggalkan ponselnya di meja, Jadi ia buru-buru untuk mengambilnya.
Dia sudah ditunggu teman-temannya untuk pergi menghadiri suatu acara, jangan sampai ia terlambat.
Ketika lelaki itu membuka pintu ruang musik, langkahnya tertahan saat tak sengaja mendengar ada suara piano dari dalam. "Siapa yang memainkan piano?" Batinnya.
Lelaki itu membuka pintu sedikit lebar, ia melihat kedalam. Pandangannya terpaku pada seorang gadis yang membelakanginya sedang bermain piano.
"Lagu ini..." Mata lelaki itu sedikit membulat.
Gadis itu tampak menikmati permainan musiknya. Begitu menakjubkan. Musik klasik yang merdu ditelinga dimainkan dengan penuh kelembutan disetiap sentuhan jarinya. Tanpa sadar lelaki itu tersenyum.
"Siapa dia?" Batinnya.
Saat permainan musik gadis itu sampai dipertengahan lagu, lelaki tersebut tersadar. Ia datang ke sini untuk mengambil ponselnya.
Dengan cepat ia melangkah pelan menuju meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri lalu mengambil ponselnya.
Ia berjalan menjauh menuju pintu, ketika akan keluar lelaki itu menoleh sekali lagi pada gadis yang masih sibuk menikmati permainan musiknya.
Lelaki itu tersenyum tipis lalu lanjut pergi meninggalkan ruangan. Tepat ketika lelaki itu pergi permainan musik gadis tadi telah selesai.
Gadis itu menghembuskan nafasnya puas, ia menoleh ke belakang. Ia merasa seperti ada yang memperhatikannya tadi, tapi ketika dilihat tidak ada orang.
"Apa cuma perasaanku saja?" Batinnya.
...****************...