NovelToon NovelToon
AKSARA

AKSARA

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Vaa_Morn

Aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan yang diwali dengan kata-kata, berbahan dasar Aksara.

Cinta yang berawal dari sebuah aksara itu, awalnya tidak saling mengenal dan memahami. Takdirlah yang seolah mempertemukan, mengikat, dan berakhir dengan kebersamaan. Lantas, mengapa takdir juga yang memberikan sebuah ujian penuh liku itu? Mengapa seolah akan ada hari dimana akan ada sebuah jarak yang memisahkan mereka dan berakhir menjadi sebuah peristiwa bertajuk ANTARA.

Lalu benci dan cinta itu beda tipis KATANYA. Kata yang awalnya tak ingin kenal mengenal, caci mencaci-caci, bahkan berang memerangi, mendadak ada rasa yang tumbuh bersamaan keluarnya warna-warni bunga yang bermekaran.

Cinta itu manis, hidup tak indah bila kita tak merasakan iramanya cinta, itu JELASNYA. Tetapi seutas kata Cinta tak ada artinya, jika tak mengandung sebuah keabadian yang menjelma. Anggap saja cinta kita perlu diuji untuk menumbuhkan kesetiannya. Dari hal itu kita hanya menemukan dua opsi setelah mendapat ujian itu, BERTAHAN UNTUK KEMBALI atau PERGI UNTUK SELAMANYA.

Percayalah dibalik cinta yang hampir terkoyak itu, akan ada kebahagiaan yang tak berujung sedang menunggumu.

[PLAGIATOR DALAM JENIS APAPUN DILARANG MENDEKAT!]

*****
@Copyright: Agustus 2019.
Move: 30 Agustus 2020.
Picture by: @Vaa_Morn
Story By: Vaa_morn.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaa_Morn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBELAS

Aksen memijat-mijatkan kaki yang sudah sangat pegal sebelumnya. Di dalam ruangan kerjanya, ia sedikit mengeluh. Untung saja skripsinya sudah usai, jika tidak? Mungkin Aksen sudah mati muda sekarang ini.

Kusut tak bergairah. Nyatanya Aksen harus ekstra sabar jika ingin sukses. Tak ada cara instan, tak ada cara kotor, keberhasilannya sekarang dikarenakan usahanya sendiri.

Cklek.

Aksen langsung terlonjak kaget. Kegagalan fokusnya yang dikarenakan rasa lelah, sedikit membuat hatinya merasa tak tenang. Mungkin ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, tapi ia tak dapat mendefinisikan. Ia sudah sangat terlanjur peka untuk menerima suara-suara yang tidak diundang, untuk itu ia langsung menatap sinis seseorang yang baru saja mengganggu dirinya.

"Maaf tuan, apakah anda lelah sekarang ini. Mau saya pijat?"

Aksen bahkan tak pernah tahu bagaimana cara membuat seseorang jera ketika masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Mungkin jika baru kali ini, Aksen berusaha untuk memaklumi kesalahan yang baru dilakukan pertama kali. Namun ini? Sudah berkali-kali, dan itu adalah sekretarisnya sendiri. Entah setan apa yang merasuki diri wanita itu, sehingga merasa berhak datang keruangannya tanpa memohon izin terlebih dahulu.

"Anda tahu surat peringatan? Berhubung saya pernah memberikan itu kepada anda dan tidak menimbulkan efek jera, mau tak mau saya harus memberikan surat ini." Aksen memberikan amplop putih, lengkap dengan nama perusahaan yang ia dirikan.

Wanita itu nampak menerima surat itu, kemudian membukanya. Raut wajah yang sedari awal nampak bersemangat, kini tergantikan dengan senyum kecut yang mengarah pada Aksen sebagai atasannya.

"Tuan memecat saya?" tanya wanita itu memastikan.

Aksen mengangguk. Merasa dibenarkan dengan apa yang wanita itu tuturkan. Tak apa ia kehilangan satu anak buahnya, masih banyak orang yang ingin menjadi sekretaris barunya bukan?

"Sebenarnya kurang saya apa sih? Bukankah saya cantik untuk menyandingi tuan dimasa depan nanti. Saya cukup berpendidikan, dan saya..."

"Anda terlalu berlebih-lebihan dalam memuji diri anda sendiri. Instropeksi diri, bahkan anda termasuk kedalam golongan yang tidak memiliki sopan santun terhadap atasan sendiri." potong Aksen cepat.

Wanita itu menunduk. Hilang sudah harapannya untuk menjadi pendamping hidup atasannya itu. Namun rasa obsesi itu bangkit lagi, ia menatap Aksen dengan tatapan yang kurang diartikan.

"Tetapi saya cocok untuk menjadi istri tuan."

Istri? Bahkan Aksen belum pernah berpikir sampai disitu. Ia mengetuk-ketuk jarinya pada dasar meja, kemudian menatap sekretarisnya dengan berang.

"Diana, saya bisa mencari pendamping hidup saya sendiri. Saya merasa bahwa anda tidak cocok dengan saya. Lagi pula saya sudah memiliki seorang kekasih sekarang." tolak Aksen berusaha untuk tetap berada dibawah kesabaran, meskipun tersimpan unsur kebohongan di sana.

Diana lagi-lagi hanya tersenyum kecut. Lelaki dingin seperti Aksen pasti tidak akan bisa mencari pendamping hidup. Ia saja terlanjur kaku pada wanita. Haruskah Diana menyerah sekarang?

"Saya tidak percaya bahwa tuan sudah memiliki kekasih. Pada intinya, saya adalah satu-satunya wanita yang cocok untuk tuan. Dan saya tak akan membiarkan wanita lain bisa mendekati tuan seenaknya." elak Diana yang masih merasa percaya diri.

"Keluar dengan rasa hormat, atau saya panggilkan seorang satpam!" seru Aksen yang sudah kehilangan rasa sabarnya.

Diana menatap Aksen berang. "Saya akan keluar dari sini, jika tuan telah menunjukkan kekasih tuan itu didepan mata saya sendiri."

Aksen terdiam. Mulutnya tak bisa berkata-kata lagi sekarang. Sambil menatap jendela kaca yang menampakkan padatnya ibu kota, ia sedikit berpikir. Namun memang ia yang sudah kelelahan dan otaknya tak bisa diajak berkerja sama, ia memilih untuk diam saja.

"Tuan pasti bohong jika telah memiliki kekasih." remeh Diana disegala kediaman Aksen.

Aksen tak tinggal diam lagi. Diana sudah melewatk batas kepada dirinya yang tak lain adalah seorang atasan. Aksen yakin apa yang dilakukan Diana termasuk obsesi, tapi tetap saja ia tak menyukainya.

"Besok saya bawa kekasih saya ke sini. Sekarang anda keluar dari ruangan saya!"

Diana tersenyum remeh. "Saya tak yakin dengan kekasih tuan. Bisa saja tuan menyewa wanita lain untuk menjadi kekasih tuan sehari. Perlu tuan tahu, saya mengenal semua wanita sewaan, termasuk wanita-wanita malam."

Aksen langsung berdiri, kemudian menghampiri Diana untuk menyeretnya keluar dangan tangannya sendiri. Ia tak mau lagi wanita itu berada diruangannya. Ia sudah sangat muak sekarang.

"Tu... Tuan... Lepas..." gagap Diana yang merasa takut dengan perubahan Aksen.

Aksen tetap menyeret Diana tanpa sepatah kata-kata. Tak tanggung-tanggung, ia menyeret Diana menuju lantai bawah dimana semua pegawainya berkerja.

Bughhh.

Diana terjatuh dengan tangan yang sedikit memar dipergelangannya. Bahkan semua pegawai di sana langsung menatap Diana dengan tatapan tak heran lagi. Mereka cukup senang, jika Diana dipecat sekarang juga.

Diana memang berkelakuan seperti wanita malam. Pakaian yang tak sesuai dengan aturan kerja pun juga menjad daya tarik untuk memecat Diana secara tidak hormat.

"Keluar, dan jangan kembali lagi ke sini!" seru Aksen tajam.

Diana menatap Aksen sengit. "Besok saya kesini lagi dengan janji yang tuan buat sebelumnya. Jika besok tuan tidak dapat menepati janji, maka saya berhak untuk bekerja kembali di sini."

"Satpam, usir orang ini dari sini. Saya tidak ingin melihat wajahnya lagi. Jika bisa, seret dia sejauh-jauhnya, agar menimbulkan efek jera dikemudian hari nanti." ucap Aksen yang kemudian berlalu meninggalkan mereka yang masih terbengong-bengong.

"Kamu." tunjuk Aksen pada resepsionis perusahaan. "Untuk sementara kamu menggantikan dia sebagai sekretaris saya."

Aksen berbalik kemudian menatap pegawainya yang masih mengobrol dan berbisik kecil.

"Kalian, silahkan berkerja kembali! Jangan buang waktu secara percuma untuk hal yang sia-sia, termasuk membuat gosip yang tidak-tidak."

Aksen masuk ke dalam lift, lalu memecet angka 9 di sana. Untung saja ia masih memiliki hati untuk tidak menghakimi wanita itu lebih dalam lagi. Ia mengusap-usap wajahnya dengan kasar, sebelum lift itu terbuka dan menampilkan lorong kerja miliknya.

Sedikit berharap, bahwa tak ada apa-apa lagi yang membuatnya lebih stress dari sebelumnya. Aksen menutup pintu ruangannya, sebelum ada orang yang akan mengetuknya.

Tok... Tok...

Baru saja Aksen hendak duduk, namun sudah ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Ia sedikit mendesah, ingin sekali ia cepat-cepat kembali ke dalam rumah dalam waktu dekat ini.

"Masuk." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Aksen. Ia sudah banyak bicara sebelumnya, jadi cukup sekian ia berkata panjang lebar.

Tak ada pergerakan, sehingga membuat Aksen yang menunggu kehadiran orang itu langsung mengernyit heran.

Kring... Kring...

Dering teleponnya berdering, mau tak mau ia harus mengangkatnya dan membiarkan orang itu agar berinsiyatif masuk ke dalam.

"Iya, dari Aksenio Alvan Gideon di sini. Ada apa?"

"Maaf tuan, ada pimpinan dari BGS Corp yang datang untuk menemui anda secara langsung. Maaf saya baru bisa menghubungi tuan sekarang, ada banyak kesibukan dibawah sekarang." jawab seseorang diseberang sana.

Aksen sedikit memaklumi dengan bawahannya itu. Tentu saja karena ia telah memberikan tugas yang berlebih untuknya. Di samping, ia bekerja sebagai resepsionis, dan disisi lainnya ia menjadi sekretaris sementaranya sekarang. Setelah mengucapkan terimakasih, ia menatap pintu yang sampai sekarang masih belum terbuka sama sekali.

Untung saja ia masih memiliki hati nurani. Ia berdiri, kemudian berniat untuk membuka pintu ruangannya itu secara hormat. Tak mungkin ia memaki-maki, disaat orang itu adalah seorang pimpinan yang menerima kerja sama dengannya, meskipun perusahaannya masih dibilang belum cukup lama.

Deg.

Jantung Aksen seakan mau copot, dengan kehadiran pimpinan BGS Corp di hadapannya. Denyut nadinya seakan berhenti seketika melihat pimpinan perusahaan itu tak lain adalah orang yang dikenalnya cukup lama. Ia yang dulu pernah ada untuk bersama-sama, telah   kembali lagi dengan keadaan yang sudah berbeda.

"Sudah lama ya kita tidak jumpa? Apa kabar?"

Aksen terdiam. Ia tak tahu harus apa, disaat dendam pribadinya masih belum musnah. Ia menatap pergelengan tangannya, berharap penyakit lamanya tak muncul kembali. Lalu kembali menatap orang itu dengan tatapan datarnya.

"Kamu tidak menjawab sapaan saya Aksen. Sudah lama ya kita tidak jumpa, apa kabar dirimu? Bagaimana dengan Anasthasya?"

Anasthasya, Aksen tidak lupa jika nama itu tak lain adalah Adiknya sendiri. Lalu apa yang akan dilakukan oleh orang yang berada dihadapannya itu sekarang?

"Apa maumu?" tanya Aksen datar.

Tak ada jawaban, namun Aksen nampaknya sudah sedikit tak tenang dengan kehadiran orang itu. Ya, orang yang telah memberikan sebuah penyakit tak berujung hingga sekarang itu. Rasanya, Aksen ingin menguliti orang itu secara perlahan-lahan. Andai orang itu bukanlah partner kerjasamanya sekarang.

Ia harus bertindak secara profesional, tak mungkin ia mencaci maki di saat dirinya masih dalam posisi terbawah dari perjalanan bisnisnya.

"Apa maumu tuan Arkano Arfian Bagaskara?" tanya Aksen mengulanginya lagi.

"Hanya ingin berkunjung saja. Mengunjungi sahabat lama tak ada salahnya bukan?"

Tepat, saat itu Aksen menghembuskan napasnya panjang-panjang kemudian menghembuskannya. Ia harus bersikap formal, jika perusahaan yang didirikan olehnya dari titik nol itu musnah ditelan bumi.

*****

1383 kata.

1
Rahmawati Dirman
Luar biasa
Rahmawati Dirman
Lumayan
Ai Rusyati
pasti nadia itu
Ai Rusyati
keluarga ini bar bar tp lucu dan memang saling menyayangi tp beda aja cara mengungkapkan nya
Ai Rusyati
kita k aku takut klo nanti nadia bkal jd benci smaa ara karna acemburu
Ai Rusyati
ng aksen udah sebucin itu sama ara sampai keponakan sendiri d cemburuin
Ai Rusyati
part ini bikin senyum2
Ai Rusyati
penuh dgn teka teki nih kehidupan ara sama aksen
Ai Rusyati
adik kakak kocak😂
Ai Rusyati
gk sengaja buka2 apl ini nemu cerita yg dr prolog nya bagus sarat akan makna kyk nya seru cerita nya so cus lanjut baca
Ai Rusyati
kasian si om d gangguin terus mana si ara d cuekin lg hahaha
dinamo listrik (Jambi)
boleh ga sih nadia dibikin mati aja thor ketabrak mobil kesel
kharisma dwi
sweeettttt
kharisma dwi
bapak lucknut emang 😭
kharisma dwi
pengen mutilasi si NADIA boleh gak thor?
kharisma dwi
ishhh jahat
kharisma dwi
aihhhhhhhh
kharisma dwi
aksen kok gw yg baper yaaaaa hihi
kharisma dwi
Ara emosiann satuin sama modelan kaya Nadia begini aduhh parah 😆
fita🍁
belum pernah kumpul sama baikan kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!