"Cinta adalah hidup, hidup adalah Abigail" Nicholas Geonandes.
"Kau membuatku bahagia, dengan cara yang orang lain tidak bisa berikan" Abigail.
"Kebahagiaanmu adalah segalanya buatku" Bima Anggara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Terciduk
"David, Arka dimana?" Abi saat ini sedang berada di kelas Arka dan tidak menemukan kekasihnya itu di sana. Ia melirik jamnya tidak mungkin Arka belum sampai.
Diavid sahabat Arka mengidikkan bahunya.
"Ia tadi pergi buru-buru setelah menerima panggilan seseorang" jawab David.
"Ok. Thanks ya" Abi tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan kelas Arka. Abi mengambil ponselnya untuk memghubungi kekasihnya itu. Abi mengernyit panggilannya tersambung tapi tidak diangkat.
"Apa dia sedang sibuk?" gumam Abi. Ia kembali menghubungi ponsel Arka lagi dan lagi tidak diangkat. Abi menghela nafasnya.
"Apa yang mengganggu fikiranmu sampai menghela nafas berat seperti itu, Bie?"
"Akhhh.." Abi spontan mendorong wajah Nicho.
"Bapak apa-apan. Nongol seperti hantu begitu dan pake acara berbisik lagi ditelingaku" hardik Abi masih dengan memegangi jantungnya.
Nicho terkekeh geli
"Ada apa? Kau berjalan sambil melamun sperti itu"
"Bukan urusan Bapak!"
"Akan jadi urusanku jika terjadi sesuatu padamu, Bie"
"Idiihhh...najis" Abi berbalik berniat meninggalkan Nicho.
"Aku melihat kekasihmu bermesraan dengan wanita yang cukup seksi" ucapan Nicho menghentikan langkah kaki Abi. Ia kembali berbalik.
"Bapak sedang bergosip ya?" Abi menyeringai. Tapi hatinya berdebar tidak nyaman membayangkan jika apa yang dikatakan Dosennya benar adanya.
"Kau bisa memastikannya sendiri jika kau penasaran" Nicho mengidikkan bahunya lalu berjalan meninggalkan Abi yang menatapnya kesal.
"Terakhir mereka di dekat toilet"
"Dasar tidak bermodal" ucapnya tanpa menatap Abi.
Abi segera berlari menuju tempat yang dimaksud oleh Nicho.
Nicho kembali menghentikan langkahnya, berbalik menatap Abi yang menjauh
"Maaf Bie, mungkin ini akan membuatmu sedih tapi setidaknya kau harus tahu pria itu tidak pantas untukmu" gumamnya lalu berjalan mengikuti Abi.
Abi menarik nafas dalam sebelum memutuskan akan masuk kedalam toilet wanita. Suasana disekitar toilet memang terbilang sunyi karena saat ini perkuliahan sedang dimulai.
"Ahhh..."
"Lebih cepat sayang" terdengar suara desahan wanita yang membuat Abi semakin takut untuk melangkah lebih dalam.
Ia menggigit bibirnya
"Baiklah aku akan menunggu di sini" Abi memutuskan tidak akan masuk dan menggangu aktivitas dua manusia hina di dalam sana. Bukan karena ia takut sakit hati untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana. Dengan mendengar suaranya saja ia bisa menebak manusia yang di dalam sana sedang melakukan tindak senonoh. Ia tidak ingin mata sucinya terkontaminasi. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan earphonenya. Selain mata sucinya ia juga tidak ingin pendengarannya terkontaminasi akan desahan dan erangan dua manusia laknat itu. Abi memasangkan earphonenya dan memutar lagu kesukaannya. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding toilet dengan kedua tangan yang melipat di dada.
Nicho yang melihatnya tersenyum bangga
"Yes..she is my Girl" ucapnya bangga. Tadi ia sempat mengira Abi akan melabrak kekasihnya dengan histeris dan penuh drama.
Setelah menunggu 30 menit akhirnya pintu itu terbuka. Abi menoleh dengan santainya dan menatap dua manusia yang baru saja keluar masih dengan nafas terengah. Arka dan Melani wanita yang menjadi teman Arka dalam berbuat mesum itu belum menyadari kehadiran Abi.
Abi berdecak yang membuat Arka dan Melani tersentak lalu menoleh. Arka terkejut dengan mata terbelalak. Bola matanya hampir saja keluar dari tempatnya.
"Sa..sayang" gugup Arka.
Abi tersenyum menyeringai menatap Arka dan Melani bergantian lalu berjalan perlahan mendekat ke arah keduanya. Abi menatap Arka dari atas sampai ke bawah lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kau lupa mengancingkan celanamu?" Abi menarik kancing celana Arka yang membuat wajah Arka merah seperti kepiting rebus.
Abi mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menatap wajah Arka
"Aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kau tertangkap basah Arka" jawab Abi tenang yang membuat Nicho kembali terkagum-kagum.
"Abi..aku bisa menjelaskan"
"Arka sudahlah! Dia sudah mengetahuinya dan kita tidak perlu bersembunyi atau curi-curi waktu lagi jika ingin melakukannya" Melani yang dari tadi diam menimpali dengan tidak tahu malu. Ya bukan rahasia lagi jika Melani memang sangat mengincar Arka.
"Diamlah Melani!" bentak Arka.
"Bukankah kau berjanji akan memutuskannya" Melani balas membentak Arka.
Abi menaikkan alisnya begitu mendengar pernyataan Melani.
"Dan kau Abi, sadarlah! Jika kau tidak bisa memuaskan kekasihmu maka menjauhlah!" Melani tersenyum mengejek.
"Ya..Terima kasih sudah menyadarkanku. Dua orang kotor memang lebih cocok satu sama lain" Abi menatap Arka dan Melani dengan tatapan jijik.
"Dasar sampah!" ucapnya.
"Dan kau ******, perbaiki bramu itu" Abi berbalik lalu pergi begitu saja.
"Keluarlah penguntit!" Abi menendang pintu tempat Nicho bersembunyi. Arka dan Melani melotot begitu menyadari bukan hanya Abi yang menagkap basah kemesuman mereka. Dan mereka semakin shock begitu Nicho keluar dari bilik pintu itu. Nicho tersenyum pada Abi seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Senyum yang terlihat bodoh menurut Abi.
Nicho menatap Arka dan Melani dengan tatapan tajam dan membunuh
"Kalian akan diskorsing!" ucapnya dingin lalu menarik tangan Abi keluar dari sana.
Abi dan Nicho sekarang berada di dalam mobil Nicho. Sepanjang perjalanan. Abi hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan Nicho tidak tahu harus menghiburnya seperti apa. Tindakan Abi tadi sangatlah keren di mata Nicho. Ia mengingat dulu bagaimana rapuhnya ia sebagai pria saat Mauryn mengkhianatinya.
"Ehmm" Nicho sengaja berdehem.
"Sialan! Brengsek!" Abi tiba-tiba mengumpat yang membuat Nicho terkejut bukan main. Ia menoleh menatap Abi yang ternyata sudah banjir air mata
"Berani sekali dia mengkhianatiku"
"Apa aku kurang seksi?" Abi menatap Nicho yang membuat Nicho kelabakan karna tidak tahu harus menjawab apa karena jujur Abi nya memang jauh dari kata seksi tapi di mata Nicho Abi adalah wanita menarik
Nicho menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Apa si ****** Melani itu lebih cantik dariku?"
"Tidak..tidak"
"Kau lebih cantik darinya" jawab Nicho cepat
"Kau lebih cantik dari seluruh wanita di dunia ini" Nicho mempertegas.
Abi terkekeh dalam tangisnya
"Ucapanmu membuatku semakin sedih. Itu terdengar seperti fitnah Cho" Abi menarik dasi Nicho dan mengeluarkan air hidungnya di sana. Nicho tergelak dan tidak merasa jijik sama sekali.
"Di mataku kau memang yang tercantik" Nicho mengusap sayang rambut tunangannya itu. Nicho tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Abi jika mengetahui dirinya sudah ditunangkan dengan Dosennya yang sebentar lagi juga akan dipersunting Nicho.
"Aku akan mengadu kepada kak Luna"
"Kau merayu adiknya" suara Abi terdengar manja.
"Silahkan saja"
"Paling Luna akan tersenyum karena setuju dengan ucapanku" Nicho tersenyum manis.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Nicho lembut.
"Sudah lebih baik"
"Terima kasih" ucapnya tulus. Nicho mengangguk.
"Aku tidak suka melihatmu menangis"
"Kau seperti Papa" Abi tersenyum.
"Semua pria tidak akan menyukai jika wanita yang disayanginya menangis"
"Kau menyayangiku?" Abi menatap Nicho yang sedang fokus menyetir
Nicho tersenyum lalu menoleh menatap Abi
"Menurutmu" Nicho menaikkan alisnya yang membuat Abi mencubit lengannya dengan kesal.
T.B.C