Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melintasi Lautan Awan
Langit keemasan melintang luas di atas lautan awan yang membentang tanpa tepi. Di kedalaman ribuan meter di bawahnya, Benua Bawah Aethelgard hanya tampak seperti hamparan hijau-biru yang samar.
Di atas samudera kabut putih tersebut, [[Bahtera Angkringan Terbang Dewa Mo]] melaju mulus tanpa hembusan angin yang sanggup menggoyahkan geladaknya.
Empat pendorong api arang di bagian bawah kapal memuntahkan lidah api keemasan yang stabil, mendorong lambung kayu cendana suci sepanjang lima puluh meter itu membelah awan dengan kecepatan fantastis. Perisai [Api Arang Pemurni] membungkus seluruh badan kapal, menciptakan kubah energi transparan yang membuat udara di atas geladak terasa hangat, sejuk, dan kaya akan kandungan Mana murni.
Di anjungan utama, Lin Mo berdiri santai sambil memutar Kipas Bambu Ilahinya. Ia mengenakan pakaian kaus polos terbarunya yang ditenun dari sutra murni hadiah Kerajaan Aethelgard.
"Ah... Angin lautan awan memang beda ya," kata Lin Mo terkekeh pelan sambil menikmati pemandangan indah di depannya.
Di sampingnya, Lilia sedang menyapukan kain lap ke meja-meja kayu cendana di ruang makan geladak. Telinga kelincinya bergoyang-goyang gembira mengikuti irama angin. Vex sedang mengasah kapak pemotong kayunya di dekat tungku arang, sementara Kaelen menata ratusan piring pualam yang tersusun rapi di dalam rak sihir anti-guncangan.
Utusan Gao Feng melangkah mendekati Lin Mo dengan sikap sangat hormat. Jubah putih Sekte Awan Emas yang dikenakannya berkibar tertutup angin halus di dalam kubah pelindung.
"Master Lin Mo," panggil Gao Feng sambil membungkukkan badannya. "Kita telah memasuki wilayah udara [Lautan Awan Kelabu] perbatasan antara Benua Bawah dan wilayah luar Benua Langit. Jika kecepatan Bahtera Dewa Mo dipertahankan seperti ini, kita akan tiba di Gerbang Suci Sekte Awan Emas dalam waktu tiga hari."
" Tiga hari ya?" Lin Mo mengangguk-angguk. "Baguslah. Jadi kita punya banyak waktu buat persiapan bahan baku. Nanti sampai di Benua Langit, kita langsung jualan di depan pintu gerbang sekte kamu!"
Gao Feng menyunggingkan senyuman bangga. "Jika Master membuka lapak di Gerbang Suci, hamba yakin para murid luar, murid dalam, bahkan para Tetua Agung akan mengantre hingga puluhan mil hanya untuk mencium bau asap panggangan Anda!"
Namun, tepat saat Gao Feng selesai berbicara
BZZZZZZZZTTTTTTT!
Gumpalan awan putih di sekeliling kapal mendadak berubah warna menjadi hitam pekat beracun! Udara hangat di dalam pelindung kapal bergetar hebat akibat sapuan aura sihir pembunuh yang sangat pekat!
"Perhatian! Ada hawa membunuh tingkat tinggi mendekat!" pekik Gao Feng mendadak siaga, memegang gagang pedang angin keemasannya.
BUMMMMMMM!
Dari dalam gulungan awan hitam di sisi kiri dan kanan Bahtera Dewa Mo, muncul lima buah kapal perang melayang berukuran sedang yang dilapisi zirah besi hitam berkarat dan berkibar panji bergambar tengkorak naga bernapas api hitam [Armada Bajak Laut Awan Sekte Naga Hitam]!
"Khahaha! Ada domba gemuk berkulit emas melintas di lautan awan kita!" raung sebuah suara berat yang menggelegar dari atas kapal induk bajak laut.
Dari geladak kapal induk bajak laut tersebut, melompat berdiri seorang pria raksasa berotot kekar bertelanjang dada dengan tato naga hitam memenuhi tubuhnya Kapten Bintang Hitam, Drakar. Di belakangnya, ratusan bajak laut berparas jahat mengacungkan tombak sihir dan busur panah api.
Kapten Drakar membelalakkan matanya yang merah darah, menatap Bahtera Dewa Mo dengan keserakahan yang tidak tertahan.
"Luar biasa! Kapal raksasa terbuat dari kayu cendana suci! Dan lihat panggangan emas di anjungan itu!" raung Drakar tertawa terbahak-bahak. "Serahkan kapal mewah itu dan seluruh isinya kalau kalian tidak mau dijadikan umpan monster awan!"
Gao Feng melangkah maju ke tepi geladak, menyiagakan pedangnya dengan tatapan dingin. "Kapten Drakar! Ketahuilah siapa yang berada di dalam kapal ini! Ini adalah Bahtera milik Koki Agung Ilahi Benua, Master Lin Mo! Jika kamu berani menyentuh"
"Tutup mulutmu, Murid Sekte Awan Emas!" potong Drakar seraya mengibaskan kapak hitam raksasanya.
"Di Lautan Awan Kelabu ini, Sekte Awan Emasmu tidak punya wewenang! Serang kapal itu! Tembakkan [Panah Api Peluluh Mana]!"
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Ratusan panah berapi hitam yang dilapisi racun pekat meledak meluncur deras mengincar pelindung kapal Lin Mo!
Namun, begitu ratusan panah berapi hitam tersebut menyentuh kubah [Perisai Api Arang Pemurni]
Cusssssssss!
Panah-panah beracun tersebut seketika lumer, meleleh, dan menguap menjadi asap harum beraroma manis tanpa sanggup menggores pelindung Lin Mo sedikit pun!
"A-Apa?!" Kapten Drakar terperanjat tak percaya, matanya hampir melompat keluar. "Panah Api Peluluh Mana kita tidak mempan?!"
Di atas anjungan Bahtera Dewa Mo, Lin Mo hanya menghela napas panjang sambil mengibaskan kipas bambunya pelan.
"Aduh... Kenapa ya, di mana-mana orang jahat itu hobi banget ganggu orang yang lagi perjalanan santai?" kata Lin Mo menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lin Mo melangkah mendekati panggangan naga emasnya, menatap ke arah lima kapal bajak laut yang mengepung mereka.
"Vex! Kaelen!" seru Lin Mo.
"Siap Master!"
"Siapkan stok persediaan [Daging Kikil Naga Air] yang kita dapatkan dari Danau Mistik kemarin!" perintah Lin Mo terkekeh. "Kita bikin sate kikil bumbu kacang pedas buat menyambut tamu-tamu tak diundang ini!"
Gao Feng tertegun. "M-Master Lin Mo... Anda tidak mau membantai mereka dengan sihir kapal?"
Lin Mo menoleh sambil menyunggingkan senyuman santai. "Mas Gao Feng, bajak laut itu cuma orang-orang lapar yang kurang gizi karena kelamaan tinggal di awan kelabu. Senjata terbaik buat menundukkan orang lapar itu bukan pedang, tapi kelezatan sate!"
PING!
[Sistem Angkringan Ilahi: Mengaktifkan Resep Sate Khusus Penunduk Jiwa!]
[Resep: 'Sate Kikil Mistik Naga Air Bumbu Kacang Karamel Surgawi'!]
[Efek Khusus: Menghancurkan Hawa Membunuh & Membangkitkan Kesadaran Tulus!]
BZZZZZZZZTTTTTTT!
Dari dalam Kulkas Es Mistik 3D milik kapal Lin Mo, melayang keluar lima ratus tusuk daging kikil kenyal berwarna keemasan berkilauan! Daging kikil itu diambil dari bagian kulit dalam [Naga Air Mistik] yang sangat kaya akan kolagen dan vitalitas sihir air murni!
Lin Mo menyambar pisau dapurnya. Dalam gerakan kilat yang teramat presisi, ia meracik bumbu kacang spesial perpaduan kacang tanah Mistik yang disangrai dengan minyak wijen suci, gula aren karamel Ilahi, kecap manis Mistik, dan perasan jeruk nipis suci!
BREEESSHHH!
Lin Mo membeberkan lima ratus tusuk Sate Kikil Naga Air di atas jeruji Anjungan Panggangan Otomatis Level 4!
*Api Arang Ilahi Penakluk Segala Realm* menyambar seluruh tusukan sate tersebut secara serentak!
Cusssssssss! Sssttt... Sssttt...
Minyak gurih dari daging kikil naga yang meleleh bercampur dengan bumbu kacang karamel yang terbakar menghasilkan aroma yang teramat sangat dahsyat!
Aroma manis-gurih yang sangat kaya, keharuman kacang sangrai yang pekat, serta sensasi karamel manis legit membumbung tinggi dari panggangan Lin Mo!
Lin Mo memutar Kipas Bambu Ilahinya dengan tarian pengasapan murni level maksimum!
"Jurus Angkringan Ilahi Level 4: Badai Asap Kikil Penunduk Samudera!"
FWOOOOOOOOSHHHHH!
Gumpalan asap harum berwarna cokelat keemasan membumbung tinggi, lalu meluncur deras bagaikan gelombang ombak raksasa yang menyapu kelima kapal bajak laut di sekeliling mereka!
Gumpalan asap harum itu menerobos masuk ke dalam saluran pernapasan ratusan bajak laut dan Kapten Drakar!
BUMMMMMMM!
Aroma manis-gurih Sate Kikil Bumbu Kacang itu menghantam kesadaran mereka secara telak!
"UWOOOOOOOOGH!"
Kapten Drakar yang tadinya berdiri gagah dengan muka garang mendadak meneteskan air mata dan air liurnya secara bersamaan! Kapak hitam raksasa di tangannya terlepas dan jatuh menancap di geladak kapal!
"A-Aroma apa ini... Kenapa... Kenapa dadaku terasa begitu hangat?! Kenapa ingatan masa kecilku saat disuapi makanan manis oleh ibuku mendadak berputar kembali?!" raung Kapten Drakar menangis histeris sambil memegangi dadanya!
Ratusan anak buah bajak laut di sekelilingnya ikut berjatuhan di geladak, menjatuhkan busur dan tombak mereka sambil menangis bersujud!
"Waaaaah! Aku tidak mau jadi bajak laut lagi! Aku cuma mau makan masakan harum itu!"
"Harum sekali! Bau kacang karamelnya bikin jiwaku meleleh!"
"Ampunkan kami! Beri kami makan!"
Keharuman [Api Arang Ilahi] di dalam asap sate Lin Mo secara murni membakar dan memusnahkan seluruh aura kejahatan serta hawa membunuh di dalam tubuh para bajak laut tersebut!
Lin Mo menyiramkan sendok kecil kecap Mistik terakhir, lalu mengibaskan kipas bambunya ke depan.
"Vex! Kaelen! Lilia! Bagi-bagikan Sate Kikil ini ke seluruh kapal mereka!" perintah Lin Mo.
"Siap Master!"
Vex, Kaelen, dan Lilia dengan lincah melompat melintasi angkasa, membawa nampan-nampan pualam berisi ratusan tusuk [Sate Kikil Mistik Naga Air Bumbu Kacang Karamel] yang masih mengepulkan uap panas gurih!
Mereka membagikan tusukan sate tersebut kepada Kapten Drakar dan seluruh anak buahnya.
Kapten Drakar dengan tangan gemetaran mengambil lima tusuk Sate Kikil dari nampan Vex dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya!
Kenyallll! Juicccy! Bzzzt!
"UWOOOOOOOOOOOOOOGH!"
Kapten Drakar menjerit histeris hingga suaranya menggelegar di sepanjang Lautan Awan!
Kekenyalan sempurna dari kikil naga air yang meletup di dalam mulut bersatu dengan kelezatan luar biasa dari bumbu kacang karamel yang manis gurih legit! Saat rasa gurih dan hangat menyebar ke seluruh aliran darahnya
BZZZZZZZT!
Aura kejahatan racun naga hitam di dalam Inti Mana Drakar hancur lelah seketika! Kekuatan sihirnya yang tersumbat mendadak pulih menjadi murni dan jernih, menerobos tingkatan kekuatannya menuju tingkat [Dewa Bumi]!
"Luar biasa! Tubuhku terasa sangat segar! Daging kikil ini... Ini adalah makanan para Dewa sejati!" raung Kapten Drakar menangis tersedu-sedu sambil melahap habis sate tersisa bersama tusuk-tusuk bambunya!
Ratusan bajak laut lainnya melahap sate tersebut dengan penuh tangis kebahagiaan. Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh perselisihan dan ancaman pertempuran musnah total digantikan oleh suasana perjamuan makan bersama di atas awan!
Kapten Drakar melompat dari kapalnya, mendarat di geladak Bahtera Dewa Mo, lalu bersujud merapatkan dahinya ke kaki Lin Mo dengan rasa pengabdian yang teramat dalam.
"Master Lin Mo!" raung Kapten Drakar tulus dengan air mata mengalir di pipinya yang kekar.
"Hamba dan seluruh lima ratus anggota Armada Naga Hitam mengaku kalah dan bertobat sepenuhnya! Mulai hari ini, kami membubarkan Sekte Bajak Laut dan menyembah Anda sebagai [Dewa Kuliner Agung]!"
"Mulai detik ini, Armada Naga Hitam akan menjadi [Pengawal Setia Bahtera Dewa Mo] yang akan memimpin jalan dan melindungi kapal Anda di seluruh Lautan Awan!" seru Drakar diikuti sorak-sorai lima ratus anak buahnya dari lima kapal perang di sekeliling!
Gao Feng yang menyaksikan fenomena ajaib tersebut melotot terperanjat tak percaya.
Satu kelompok bajak laut paling ditakuti di Lautan Awan Kelabu, yang bahkan membuat Sekte Awan Emas kerepotan selama puluhan tahun, berhasil ditundukkan dan diubah menjadi pengawal setia hanya dalam waktu sepuluh menit oleh seikat Sate Kikil Bumbu Kacang!
PING!
[Sistem Angkringan Ilahi: ANCAMAN BAJAK LAUT AWAN DITUNDUKKAN TOTAL!]
[Hasil: Penundukan 500 Anggota Bajak Laut Naga Hitam Menjadi Pengawal Setia!]
[Menerima Hadiah Misi:]
[Poin Arang +30.000]
[Reputasi Lautan Awan: Maksimum (Penguasa Jalur Udara)]
[Item Tambahan: 'Peta Navigasi Rahasia Benua Langit']
[Total Poin Arang Saat Ini: 75.950 Poin!]
Lin Mo tersenyum lebar menatap notifikasi Sistemnya. Ia melangkah maju, menepuk bahu kekar Kapten Drakar dengan ramah.
"Bangunlah, Kapten Drakar," kata Lin Mo terkekeh. "Di Angkringan Dewa Mo tidak ada pembantu atau budak. Selama kalian mau menjaga ketertiban dan rajin makan sate, kalian adalah bagian dari keluarga besar kita!"
Kapten Drakar mendongak dengan mata berbinar-binar penuh haru. "Terima kasih, Master Lin Mo! Kami siap memimpin jalan menuju Gerbang Suci Benua Langit!"
"Bagus! Pimpin jalan di depan!" seru Lin Mo mengibaskan Kipas Bambu Ilahinya.
"SIAP MASTER!"
Dengan dikawal oleh lima kapal perang Armada Naga Hitam di sekelilingnya, Bahtera Angkringan Terbang Dewa Mo melanjutkan perjalanannya membelah Lautan Awan dengan penuh keagungan dan wibawa yang luar biasa!