NovelToon NovelToon
Revenge Ends In Love

Revenge Ends In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / One Night Stand / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cerai
Popularitas:80.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: farala

Oleh orang tuaku, aku di jadikan sebagai pelunas utang dan menikahkan ku dengan seorang pria kaya. Tidak ada cinta di antara kami. Suatu malam, tanpa sengaja, aku melakukan one night stand dengan bos ku hingga aku harus mengakhiri rumah tangga ku yang masih berumur jagung.
Ternyata, kejadian malam itu adalah jebakan. Jebakan balas dendam yang membuatku terluka dan trauma.
Lima tahun berlalu, aku bertemu lagi dengannya, bertemu dengan pria yang malam itu membuatku tak berdaya karena sentuhannya. Pria yang sangat aku benci dan ingin aku lupakan.
Tapi pertemuan itu kembali membuatku terseret oleh pesonanya.
Mampukah aku tetap membenci atau justru aku malah jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 : Kenyataan di tengah kepergian

Gerrard POV

Aku memanggilnya ke ruanganku setelah cukup lama tidak pernah menyiksanya dengan pekerjaan tambahan yang sebenarnya memang bukan tugasnya.

Entahlah, aku hanya ingin melihatnya lebih dekat.

Dan begitu ia masuk dan menutup pintu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerangnya. Pengalaman malam itu masih sangat aku ingat, bahkan rasanya masih selalu memenuhi isi kepalaku.

Aku mulai menggodanya, tapi sepertinya dia tidak suka. Tetap saja aku lancarkan aksiku, hingga akhirnya ia meminta izin untuk keluar, meninggalkan ku sendirian setelah membangkitkan hasrat seksual ku.

Tentu saja aku tidak membiarkan itu terjadi. Ku tarik lengan nya meski aku lihat tatapan tajam dari netranya yang seakan ingin menerkam ku, tapi aku tidak peduli.

Ku rebahkan tubuhnya di atas sofa lalu aku menindihnya, ku mulai menciumi lehernya. Awalnya ia meronta tidak terima dengan perlakuan ku. Bahkan ia meneriaki ku mengatakan jika aku sedang melecehkannya, tapi aku tetap melanjutkan serangan ku, toh akhirnya ia luluh juga.

Ciumanku berpindah ke arah dadanya, aku membuka kancing kemejanya satu persatu dan kembali menikmati mainan menyenangkan yang sempat aku mainkan waktu itu, aku ketagihan.

Namun belum aku rasakan semua, pintu tiba tiba terbuka.

Aku mengangkat kepala, melihat siapa yang berani mengganggu kesenangan ku. Dan setelah memastikannya, terpaksa ku hentikan dan melepas Emilia.

" Pakai bajumu." Ucapku berbisik.

Beruntung posisi sofa membelakangi pintu, jadi apa yang aku lakukan tidak bisa terlihat langsung.

" Kau boleh keluar."

Emilia merapikan kembali pakaiannya dan langsung berlalu tanpa melihat siapa yang datang menemui ku.

" Ada apa kau jauh jauh datang kemari?" Ucapku sembari menjatuhkan tubuhku di kursi kebesaranku.

" Kapan tuan akan kembali ke Belanda?" Tanyanya.

" Hanya itu tujuan mu datang ke Munich?"

" Tidak tuan. Saya hanya menyampaikan pesan dari tuan besar."

" Lalu apa?" Tanyaku tidak sabar.

" Dia mulai menjalankan rencananya tuan."

" Benarkah?" Aku menghela nafas panjang.

" Siapkan pesawat, kita berangkat sekarang."

"Baik tuan."

*

*

" Kenapa wajahmu semakin pucat?" Tanya Heidi begitu Emilia mendudukkan tubuhnya di kursi.

" Sepertinya aku harus ke rumah sakit."

" Mau aku temani?"

" Tidak usah, lanjutkan pekerjaanmu."

" Pak Gerrard tidak memarahi mu kan?" Tanyanya memastikan.

Emilia menggeleng, lalu mengambil tasnya dan berjalan cepat keluar dari ruangan.

Ia menyetop taksi, masuk ke dalam nya dan bergerak ke rumah sakit.

Ia mulai mengatur nafas begitu taksi yang ia tumpangi sudah berlalu lumayan jauh dari kantornya.

Dadanya bergemuruh, ia tidak pernah membayangkan akan bersentuhan intens dengan Gerrard lagi. Jujur, Emilia mengakui jika sedang bersama dengan pria yang merebut kesuciannya itu, Emilia seakan tidak mampu mengelak. Otaknya memang tidak menginginkan, tapi respon tubuhnya berkata lain.

Emilia menutup mata, mencoba menghilangkan pikiran kotor yang terus berseliweran di dalam kepalanya, namun, semakin ia menutup mata, sentuhan itu semakin terasa nyata.

Emilia menghela nafas panjang. Berusaha menaklukkan pikiran anehnya agar bisa tetap berada di jalur aman.

Tiba di rumah sakit, Emilia langsung menemui dokter menanyakan tentang sakit kepala berkepanjangan yang ia rasakan beberapa saat ini.

Namun, bukannya mendapatkan obat, Emilia justru di haruskan menemui dokter kandungan.

Di tengah rasa bingung yang melanda, ia mulai menghitung kapan terakhir kali ia dapat tamu bulanan. Dan....seketika, ia menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang. Jarak ruangan dokter yang akan ia temui sisa beberapa langkah, tapi untuk masuk ke dalam, Emilia mulai ragu.

" Apa mungkin aku? Tidak.."

Kepala Emilia semakin berdenyut.

Meski di landa kebimbangan, Emilia tetap membuka pintu yang di papannya bertuliskan obstetri dan ginekologi itu.

Emilia di sambut dengan senyum ramah oleh seorang dokter begitu ia melangkah masuk.

" Silahkan duduk."

" Terima kasih dok."

" Dengan nyonya Emilia?"

" Iya."

Dokter paruh baya tersebut mulai menanyakan seputar sakit kepala yang di derita Emilia di tambah beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan masalah kehamilan.

Emilia berbaring di ranjang pasien, dan dokter mulai memeriksanya. Senyum mengembang terlihat jelas dari dokter yang masih terlihat cantik di usianya yang Emilia perkirakan berkisar di akhir empat puluhan.

" Selamat nyonya."

*

*

Emilia POV

kakiku terasa sulit melangkah, aku memilih untuk duduk sementara waktu di lobby rumah sakit.

Kepalaku yang semula sakit kini semakin sakit di tambah rasa pusing dan ingin muntah. Begitu besar pengaruh kalimat dokter yang aku datangi barusan. Bukannya membuat ku sembuh, malah menambah sakit ku.

" Selamat nyonya Emilia, kehamilan anda sudah memasuki minggu ke lima. Jangan terlalu banyak beraktifitas, dan makanlah makanan yang bergizi.

Ku pijat pelipis ku, tertunduk dan terpegun. Air mata ku pun ikut mengalir melewati kedua pipiku dengan lancar tanpa hambatan.

Yang ku pikirkan pertama kali adalah kehidupan ku ke depannya sembari mengusap perutku yang masih rata. Mempertahankan atau tidak bukanlah sebuah pilihan. Aku di beri kepercayaan untuk menjadi seorang ibu, lalu kenapa aku harus membuangnya? Itu tidak akan pernah terjadi. Biarlah aku merawatnya dengan tangan ku sendiri.

Meminta pertanggung jawaban pada ayahnya? Hal itu pernah terpikir olehku untuk beberapa saat, tapi selanjutnya, aku merasa itu tidak perlu.

Ku tenangkan pikiranku, aku memilih tindakan yang harus aku ambil sekarang dan itu di mulai dari Ludwig. Semarah apapun, bahkan jika ia membunuhku, biarlah, aku terima. Aku salah, kesalahan yang harusnya tak termaafkan. Walau pernikahanku hanya sebatas di atas kertas, tetap saja itu pernikahan resmi dan tercatat oleh negara. Tentu aku harus mempertanggung jawabkan semua.

Aku berdiri, tujuanku adalah rumah. Aku sudah tidak berniat lagi untuk ke kantor. Dan ke depannya pun mungkin akan sama.

Ku lihat mobil Ludwig baru saja memasuki halaman. Tumben dia pulang cepat hari ini.

Aku keluar kamar, menyambut kedatangannya yang jarang sekali aku lakukan, kemudian menyiapkan makan malam setelah mengetahui jika memang dia belum makan di luar.

Tidak seperti pagi tadi yang banyak bicara, Ludwig kembali ke mode silence nya. Jujur dia lelaki yang sangat sulit aku tebak. Karena setiap hari, sikapnya selalu saja berubah. Terkadang hangat tapi lebih sering ia cuek dan terkesan tidak peduli padaku.

Aku kembali ke kamar setelah Ludwig selesai. Untuk memberitahunya keadaan ku saat ini, aku belum berani. Apalagi melihat moodnya yang nampak berantakan, jika aku datang dan mengatakan semuanya, entahlah, besok aku mungkin sudah tinggal nama.

Keesokan harinya pun sama, hingga seminggu berlalu, aku masih belum berani mengatakannya.

Satu minggu ini, aku juga tidak ke kantor. Aku memasukkan surat sakit untuk menutupi ketidak hadiran ku. Tapi surat sakti itu hanya berlaku hingga hari ini, jadi mau tidak mau, besok aku harus kembali ke rutinitas ku seperti semula.

Dan selama seminggu ini juga, Ludwig tidak pernah pulang terlambat, dan tidak pernah makan malam di luar. Meskipun interaksi kami tidak begitu banyak, tapi aku bisa melihat jika ia senang aku berada di rumah.

Tibalah hari esok yang sangat tidak aku inginkan. Aku kembali ke kantor, melangkahkan kaki dengan malas ke arah ruanganku berada.

Namun, aku merasa ada yang aneh ketika pertama kali ku injakkan kakiku setelah beberapa hari tidak terlibat dalam aktivitas melelahkan di dalam ruangan ini.

" Bagaimana keadaanmu ? Apa sakit kepalamu sudah berkurang ?" Heidi menyerbuku dengan pertanyaan yang sebenarnya tiap hari ia tanyakan begitu ia menelpon ku.

" Sedikit."

" Syukurlah, setidaknya tidak mengharuskan mu melakukan CT scan." Ucap Heidi sekenanya, wanita ini memang paling bisa membuatku kesal sekaligus bahagia dengan leluconnya yang aku rindukan.

" Ada apa?" Aku mempertanyakan situasi yang ada.

 Heidi menghela nafas, " Pak Gerrard berhenti secara tiba tiba."

" Berhenti? Maksudmu?" Aku terkejut.

" Ya,, kita kedatangan finance manager baru, dan dia seorang wanita yang sangat killer."

" Be - benarkah?"

Heidi mengangguk, " Kau tau, hari pertamanya bekerja, dia sudah memarahi kami semua."

" Bukan itu maksudku, aku berbicara tentang pak Gerrard." Kataku tidak percaya.

" Dia pergi tanpa berpamitan pada kita semua, dia seakan menghilang di telan bumi dan isinya." Tutur Heidi sedih.

Aku terkulai lemas.

...****************...

1
Jumi Eko
Bagus
Risma Surullah
aq suka nyonya daysi 😄😄
Asriani Bfc1
ceritanya tdk berlanjut padahal bagus ..aku suka..jd penasaran
Yekin Yong
Lo...ngak sambung lagi ceritanya?
Pujierde
ternyata masih bersambung yaaa😁 apakah ge dan emi akan bersatu ? msh nunggu lanjutannya penisirin dg lanjutannya krn heidi dan maia akan berjodoh dgn siapa yaks? apakah heidi dg arthur dan maia dg willy ? di tunggu lanjutannya ya kak author sehat selalu dan semangaaaat
Pujierde
bisa kena tatapan tajam ato kena omelan dari gerrard ney 😂😂
Pujierde
apakah gerrard gak melihat kemiripan sophia dg dirinya kan kata ny daisy sophia mirip daddynya
Pujierde
seperti kata orang dunia tidak selebar daun kelor 😁😁 ternyata abangnya will nikah dg sepupu ludwig
Pujierde
aduh jangan cepet ketemu lah
Pujierde
bisa ya orang tua kaya begitu terhadap anaknya hellowwww belum tentu anak laki" bisa mandiri seperti anak perempuan belum tentu anak laki" bisa pintar dan cerdas seperti anak perempuan bisa jadi malah anak laki" yang kelak menghancurkan perusahaan yang anda bangun
ren_iren
bagus
Neneng Sumiati
pdhl anak u gerald
Ma Malikha
ayo up kk
3 dhi: 😅😅aduh, yang sabar ya kakak🙏🙏🙏
total 1 replies
Kurniawati Nita
Kecewa
Kurniawati Nita
Buruk
Ma Malikha
sibuk ya kak.. lama gak up..
ayo doong... tamatin..
semangat🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥
Bunda Aish
lho cerita nya masih nggantung ya?😁
3 dhi: iya kak, nanti balik lagi jenguk si Emi,,aku di Keluarga Brawijaya dl ya😍😍
total 1 replies
Bunda Aish
belajar sono bagaimana cara minta maaf yang benar
Bunda Aish
😀😀😀 yang kamu katain mati itu temannya lho Maia
Bunda Aish
CEO kok pikiran nya picik begitu,yang salah siapa balas dendam nya ke siapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!