Novel berpotensi pilihan editor karena menulis novel dalam 1 bulan dengan cerita horor yang mengerikkan dan menggemaskan.
Konon misteri istri pertama Sultan, dipercaya bahwa nantinya pewaris takhta kerajaan bisnis akan kena kutukan. Pangeran Sepna adalah pewaris takhta kerajaan bisnis, adalah putra dari Sultan Sandi.
Bahwa barang siapa yang nantinya dijadikan istri pertama Pangeran, akan mengalami kematian saat malam pengantin yang disebabkan oleh misteri kutukan itu.
Pangeran oleh Ibunya dijodohkan dengan Rani Apriliani. Namun Ibu tirinya Rani, berniat jahat untuk menjodohkan Pangeran dengan Tina.
Dan terjadilah teror hantu wanita misterius yang selalu menampakkan rupanya pada Rani, Tina, dan juga Ibu tirinya Rani.
Lalu siapakah yang akan dinikahi Pangeran?
Diantara Rani dan Tina, siapakah yang cintanya tulus pada Pangeran?
Kisah ceritanya membuat penasaran dan endingnya gak ketebak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irwan Aboy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Ibu Sinta dan anaknya untuk pergi ke istananya Pangeran
Ibu Kintan sedang membuat teh manis di dapur untuk diberikan kepada Pangeran yang menyukai teh manis buatan Ibunya. Ibu Kintan berjalan menuju ruang keluarga untuk cokol (duduk berkumpul) bersama anaknya yang sedang menonton televisi.
“Pangeran ini, Ibu buatan teh manis kesukaan kamu!” ucap Ibu Kintan.
“Terima kasih, Bu! Rani belum Ibu bangunkan dari tadi, dia belum keluar kamar?” tanya Pangeran.
“Baik akan Ibu bangunkan dia dari tidurnya!” jawab Ibu Kintan seraya berjalan menuju ruang kamar tidur Rani.
Saat Ibu Kintan mau mengetuk pintu kamar tamu, Rani sudah membuka pintu kamar.
Rani kepada Ibu Kintan mengatakan, “Selamat pagi!”
Ibu Kintan menjawab, “Selamat pagi juga, Rani! Barusan Ibu mau mengetuk pintu kamarmu, mau membangunkan Rani dikira masih tidur. Ternyata kamu sudah bangun tidur!”
Rani pun berkata, “Iya Bu, Rani sudah bangun tidur dari jam 5 tadi dan juga sudah mandi pagi. Enak di dalam kamar tamu ada kamar mandinya!”
“Tentu saja Rani, di rumah istana ini ada 2 kamar tidur tamu yang masing-masing di dalam kamar tidur ada kamar mandinya, supaya tamu yang menginap disini merasa nyaman dengan fasilitas yang ada di rumah istana ini!” pungkas Ibu Kintan seraya memegang tangan Rani dan menuntun ia untuk berjalan menuju ruang keluarga.
Rani pun akhirnya cokol (duduk berkumpul) bertiga bersama Pangeran dan Ibu Kintan.
***
Sedangkan di rumahnya Ibu Sinta.
Tina dan Ibu kandungnya bersiap-siap untuk segera pergi ke rumah istananya Pangeran.
“Tina, kamu sudah mandi?” tanya Ibu Sinta.
“Sudah Bun, tinggal pakai minyak wangi!” jawab Tina seraya berjalan menuju kamarnya.
“Ya sudah, persiapkan dari sekarang baju-bajumu masukan ke dalam koper baju! Lihatlah jam dinding sebentar lagi mau jam sepuluh, kita sebentar lagi mau ke rumah istananya, Pangeran!” ungkap Ibu Sinta kepada anaknya.
Tina pun di kamar tidurnya segera membuka lemari pakaian, ia mengambil koper baju dan memasukkan bajunya ke dalam koper.
Setelah itu Tina bercermin, mengambil sisir dan menyisirkan rambutnya yang panjang dengan menggunakan tangan kanannya. Lalu langsung menyemprotkan minyak wangi ke bajunya yang ia di pakai.
Sesudah beres semuanya, Tina dengan membawa koper baju, ia langsung berjalan keluar kamar menuju ruang tamu untuk menghampiri Ibunya yang sedang duduk santai.
“Bunda lihatlah Tina memakai baju ini, bagus kan?” tanya Tina seraya ia memutarkan tubuhnya yang seksi.
“Calak (bagus) Tina itu keren bajumu yang pakai!” jawab Ibu Sinta.
“Terima kasih Bun, Roknya juga keren kan? Aduh ternyata memutarkan badan itu, membuat pusing kepala ... sampai-sampai ini koper baju yang Tina pegang sama tangan kananku ini berputar juga!” ucap Tina dengan hati yang begitu riang.
“Ya sudah kamu duduk dulu disini ya, temani Bunda minum kopi susu! Dan Bunda sudah buatkan kopi susu kesukaanmu, Tina!” pungkas Ibu Sinta seraya ia memegang tangan kirinya Tina untuk menyuruhnya duduk.
“Baik, Bundaku yang calak (cantik).” jawab Tina dengan memberikan senyuman pada Ibunya.
***
Sedangkan di rumah istananya Pangeran, Rani begitu asyik menonton televisi di ruang keluarga bersama Pangeran Sepna dan Ibu Kintan.
“Kenapa ya Rani, Ibu tirimu sama saudarimu belum datang juga ke rumah istana ini?” tanya Ibu Kintan seraya ia meminum teh manis.
“Oh mungkin Ibu tiriku bersama Tina adikku, sedang dalam perjalanan kemari!” jawab Rani seraya menatap pandangannya pada layar kaca televisi.
“Barang kali seperti itu, mungkin siang ke istananya!” pungkas Ibu Kintan dengan memberikan senyuman.
“Rani silakan di minum dulu teh manis buatan Ibuku ini, memang paling enak!” ucap Pangeran dengan memberikan senyuman pada Rani.
“Baik Pangeran, Rani minum ya teh manisnya! Memang betul segar teh manisnya, ada aroma lemonnya lagi!” jawab Rani dengan pandangannya menatap pada cangkir yang berisi teh manis.
“Iya Rani, itu namanya teh manis lemon tea!" jawab Pangeran dengan memberikan senyuman.
"Ah Pangeran bisa saja! Apakah Rani suka dengan lemon tea buatan, Ibu?” tanya Ibu Kintan.
“Tentu Ibu Kintan, Rani suka!” jawab Rani.
“Rani, kalian berdua tinggal dulu disini karena Ibu mau ke kamar dulu!” pungkas Ibu Kintan seraya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya.
“Boleh, Ibu silakan!” ucap Rani seraya meminum kembali teh manisnya.
“Rani, Pangeran bosan nih! Menonton televisi terus dari tadi pagi, bagaimana kalau kita berdua cari udara segar di luar halaman depan istana?” tanya Pangeran seraya ia mematikan televisi dengan menekan tombol off sama jari jempolnya.
“Ya terserah Pangeran Sepna, lagi pula Rani juga ingin jalan-jalan di depan halaman istana biar tidak jenuh di dalam istana ini!” jawab Rani seraya ia berdiri dari tempat duduknya.
“Ya sudah, ayo buruan!” pungkas Pangeran Sepna.
Akhirnya Rani dan Pangeran Sepna berjalan ke arah depan pintu keluar istana, untuk mencari udara segar di luar halaman depan istana.
***
Sedangkan di rumahnya Ibu Sinta. Tina dan Ibu kandungnya saling beradu argumen di ruang tamu.
“Ibu apakah nanti setelah Pangeran Sepna menikahi Rani, saudariku akan mengalami kematian pada saat malam pengantin? Lalu seminggu kemudian setelah meninggalnya istri pertamanya, apa Pangeran mau secepat itu mau menikah lagi?” tanya Tina dengan hatinya penasaran.
“Tenang Tina, akan Bunda pastikan kalau Pangeran Sepna dalam waktu singkat satu minggu, Pangeran harus menikahi Tina dan menjadikanmu pewaris takhta kerajaan bisnis!” jawab Ibu Sinta dengan memberikan senyuman kepada anaknya itu.
“Bunda ... bagaimana kalau Pangeran tidak mau menikahi, Tina? Karena mungkin Pangeran tidak begitu mencintai Tina dan tidak menginginkan diriku sebagai istri terakhirnya!” ucap Tina kepada Ibunya yang terlihat begitu percaya diri, kalau Pangeran Sepna mau menikahi Tina.
“Jangan khawatir Bundamu ini, kemarin sudah membuat kesepakatan dengan Ibu Kintan. Kalau Rani sudah di jadikan istri pertamanya, dia harus menikahi Tina sebagai istri terakhirnya. Dan Ibu Kintan sudah sempat menyetujui soal itu!” jawab Ibu Sinta seraya meyakinkan anaknya untuk berpikir optimis ke depan, kalau Tina akan betul-betul nantinya akan dijadikan permaisuri Pangeran Sepna.
"Oh iya, Bunda ke kamar dulu mau ambil tas! Kamu siap-siap keluarkan mobilmu dari dalam garasi rumah! Karena kita berdua akan segera berangkat ke rumah istananya, Pangeran!” ucap Ibu Sinta seraya berdiri dari tempat duduk sofa ruang tamu, berjalan menuju ke arah kamarnya untuk mengambil tas miliknya.
“Oke siap, Bunda!” pungkas Tina dengan segera ia berdiri dan berjalan ke arah pintu rumah serta membuka pintunya.
Kemudian, Tina langsung bergegas menuju garasi rumah untuk menghidupkan mobil miliknya.
Ibu Sinta segera berjalan menuju pintu depan dan mengunci pintu rumahnya.