NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Ketagihan

Chantika sedikit terkejut mendengar pertanyaan Enzo. Ia tak menyangka pria di hadapannya menyadari hal itu.

"Aku didiagnosis menderita galaktorea," jawab Chantika akhirnya.

"Galaktorea?" Enzo mengernyit. "Apa itu?"

"Galaktorea adalah kondisi yang menyebabkan seorang wanita bisa mengeluarkan ASI meski belum pernah hamil atau melahirkan."

Enzo mengangkat sebelah alis. "Ada kondisi seperti itu?"

Chantika mengangguk. "Benar. Kata dokter, penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena gangguan hormon."

"Begitu rupanya." Enzo terdiam sejenak sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. "Tapi... aku suka aroma dan rasanya."

Mata Chantika langsung membulat. "Kau... meminumnya?"

Enzo tidak menjawab. Namun, senyum tipis yang muncul di wajahnya sudah menjadi jawaban.

"Itu belum tentu aman dikonsumsi. Jangan sembarangan."

Bukannya menjauh, Enzo justru beringsut mendekat.

Jantung Chantika kembali berdegup lebih cepat.

"Aku baik-baik saja setelah meminumnya," bisik Enzo pelan.

"Kau... mesum."

Chantika mendorong dada Enzo dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram selimut yang menutupi tubuh polosnya.

Namun, pria itu malah terkekeh pelan. "Aku hanya mesum pada Nyonya Enzo."

"Aku belum menjadi istrimu."

"Belum."

Enzo mengangkat dagu Chantika perlahan menggunakan ibu jari dan telunjuknya hingga tatapan mereka bertemu.

"Tapi aku sudah menjadi milikmu."

Chantika terdiam.

Enzo menatapnya beberapa saat, lalu tanpa aba-aba pria itu melahap bibir Chantika agresif penuh gelora. Perempuan itu membulatkan matanya. Ia hendak mendorong Enzo, namun entah mengapa ciuman itu malah membuat darahnya mengalir deras. Bahkan ia tak sanggup menolaknya.

Saat bibir mereka terpisah, Enzo berbisik dengan suara rendah dan berat. "Kau harus bertanggung jawab..."

Tatapan Chantika bergetar.

Enzo melanjutkan, "...karena telah membuatku ketagihan."

"Enzo...."

Enzo kembali melum mat bibir Chantika. Kali ini lebih lembut tapi tetap saja menggebu-gebu. Ia mendorong tubuh wanita itu perlahan tanpa melepaskan ciumannya hingga Chantika berada di bawah kungkungannya.

"Apa yang terjadi?" batin Chantika. "Kenapa aku gak bisa menolaknya? Aku seolah tenggelam dalam gelora hasratnya."

Suara desahan lolos dari mulut Chantika kala Enzo mengecup dan menyesap lehernya. Jantungnya berlarian, tubuhnya seperti terbakar, gelisah dan nikmat bercampur menjadi satu saat pria itu menghisap sumber kehidupan anak mereka kelak.

"Enzo..."

Tanpa sadar ia mendesahkan nama itu. Menjambak rambut pria yang yang begitu serakah menghisap cairan putih darinya.

"Kau membuatku gila," bisik Enzo dengan suara serak dan dalam.

Chantika menggigit bibirnya agar suara laknat itu tak lolos dari bibirnya kala pria itu menghujamnya tanpa ampun.

"Keluarkan suaramu... Sayang. Aku ingin .. mendengarnya."

Suara pria itu tersendat-sendat karena terbakar api hasrat yang membakar tubuhnya.

"En-Enzo... Ahh..."

***

Sementara itu, di ruang kontrol CCTV, operator dan petugas keamanan telah berganti shift. Namun, Kepala Keamanan dan Manajer Hotel masih bertahan di ruangan itu.

Wajah keduanya tampak kuyu. Lingkaran hitam mulai menghiasi bawah mata mereka karena semalaman berjaga, terus mengawasi layar yang menampilkan pintu kamar Tuan Enzo.

"Masih belum ada yang keluar dari kamar Tuan Enzo?" tanya Manajer Hotel sambil menahan kuap.

"Belum, Pak," jawab operator.

Manajer Hotel mengembuskan napas pelan.

"Bagaimana dengan perempuan yang mengaku mencari kakaknya semalam?"

Petugas keamanan membuka rekaman dan laporan yang baru dibuat.

"Perempuan itu juga belum keluar, Pak."

"Masih di kamar Tuan Bryan?" tanya manager hotel.

"Benar, Pak."

Ruangan kembali hening.

Kepala Keamanan menyandarkan tubuhnya di kursi. "Semalam ada dua wanita datang bersama. Sekarang masing-masing berada di dua kamar yang berbeda, dan keduanya belum juga keluar."

"Menurut kalian, apa ada yang tidak beres?" tanya Manajer Hotel.

Operator saling berpandangan dengan petugas keamanan sebelum menjawab hati-hati.

"Kalau melihat rekaman CCTV, perempuan yang masuk ke kamar Tuan Bryan keluar dalam keadaan sempoyongan. Setelah itu dia masuk ke kamar Tuan Enzo."

"Sedangkan perempuan satunya..." lanjut petugas keamanan, "...masuk sendiri ke kamar Tuan Bryan dan sampai sekarang belum keluar."

Manajer Hotel mengusap dagunya. "Jangan membuat kesimpulan dulu."

"Baik, Pak."

"Tapi satu hal yang membuatku heran..." gumamnya pelan. "Selama bertahun-tahun, belum pernah ada wanita yang bermalam di kamar Tuan Enzo."

Kepala Keamanan mengangguk. "Itu juga yang membuat kami tidak berani bertindak gegabah."

Manajer Hotel kembali menatap monitor. "Kita tunggu saja. Begitu salah satu pintu itu terbuka, segera laporkan kepadaku."

"Baik, Pak."

***

Di kamar Enzo...

"Su-sudah... aku harus pulang," ucap Chantika dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur sambil mendorong dada Enzo yang hendak kembali mendekatinya.

"Sekali lagi," bujuk Enzo.

"Tidak," tolak Chantika cepat. Wajahnya kembali memerah. "Kau hampir meremukkan tulang-tulangku. Apa kau mau membuatku gak bisa bangun dari ranjang?"

Enzo tersenyum tipis, lalu mengecup bibir Chantika sekilas. "Baiklah." Ia akhirnya beranjak duduk. "Kita mandi bareng."

"Tidak." Chantika memalingkan wajahnya yang memerah.

Ia membayangkan Enzo kembali mencumbunya di dalam bathtub atau... di bawah guyuran air shower.

"Tenang saja, aku gak akan mengganggumu lagi. Kita beneran mandi," kata Enzo seolah bisa membaca pikiran Chantika.

Ia membungkuk hendak menggendong Chantika.

"Aku bisa sendiri," kata Chantika buru-buru.

Namun Enzo mengabaikannya. Pria itu mengangkat tubuh Chantika dengan mudah.

"Enzo!"

Refleks Chantika melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu agar tidak terjatuh. Wajahnya memanas karena malu karena tubuh polosnya terekspos.

Enzo berbisik. "Jangan malu. Kita sudah sama-sama saling melihat tanpa sensor bukan?"

"Kau..." Chantika memukul ringan dada pria itu.

Setelah masuk ke kamar mandi, Enzo benar-benar menepati janjinya. Ia menurunkan Chantika ke dalam bathtub berisi air hangat, sedangkan dirinya mandi di bawah pancuran shower tanpa malu sedikit pun.

Meski berusaha tidak menatap pria itu, mata Chantika sulit dikontrol. Beberapa kali ia melihat tubuh proporsional Enzo. Dada bidang dengan otot padat, lengan kokoh, dan perut delapan pak yang tercetak jelas. Dan pinggang rampingnya...

"Dia terlihat makin seksi saat berada di bawah pancuran." Chantika menggigit bibirnya.

Pagi ini ia sudah meraba dan merasakan dada serta perut yang dipenuhi otot itu. Tapi entah kenapa ia masih menginginkannya, ingin merasakan kulit hangat pria itu.

"Astaga, apa yang kupikirkan?" Chantika menggeleng cepat berusaha membuang pikiran kotornya.

Beberapa saat kemudian, Enzo telah selesai mandi dan mengenakan bathrobe. Rambutnya yang masih sedikit basah membuat penampilannya tampak lebih segar.

"Dia semakin tampan dan seksi jika seperti itu." Lagi-lagi Chantika tak bisa mengontrol mata dan pikirannya. "Kenapa aku jadi musum begini? Ya Tuhan..."

"Jangan lama-lama mandinya," kata Enzo sebelum keluar dari kamar mandi.

"Hm," jawab Chantika singkat.

Setelah Enzo menghilang di balik pintu kamar mandi, Chantika bermaksud keluar dari bathtub. Tapi—

"Auwh..."

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua pertemuan direncanakan. Ada yang lahir dari kekacauan, tetapi justru menjadi awal kebahagiaan."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anitha
Pak Raharja tidak sebodoh itu Bryan
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...

Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.

Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Siti Jumiati
lanjuuuut kak nana💪🙏
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!