"Pergi kamu dari rumah" Usir Bianca, ibu tiri Sarah. Begitulah, Sarah terpaksa pergi dari rumah sendiri. Bukan hanya Bianca yang kejam, tetapi adik tiri Sarah pun selalu mengganggu hubungan percintaan Sarah dengan Rafi sang guru SMK di sekolah.
Di tengah perjalanan, Sarah bertemu dengan gadis tengil yang bernama Salma. Wajah Sarah dengan Salma mempunyai kemiripan 100 persen. Namun, jika Sarah wajahnya glowing, Salma berwajah kusam.
Rupanya, Salma pun kabur dari rumah lantaran menolak ketika dipaksa menikah dengan guru matematika yang bernama Haris. Salma lantas mempunyai ide gila, mengajak Sarah tukar tempat. Tukar tempat, itu artinya Sarah sudah siap menggantikan Salma menikah dengan Haris.
"Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cintaku Ditukar Siswi Kembar. Bab 11
Jam tujuh malam, di rumah sangat sepi. Entah ke mana perginya dua benalu. Tetapi justru melegakan seorang gadis yang berjalan jinjit menuju rak piring. Kotak nasi berwarna biru dia ambil dari sana. Setelah berhasil, dia buka penanak nasi mengisi kotak tersebut hingga penuh. "Aman..." Batinya sambil berlalu membawa kotak yang sudah berisi nasi tersebut keluar dari rumah.
Dia kunci pintu dari luar, kemudian membuka pagar. Kaos warna hitam langsung menutup kepala. Celana jins selutut, alas kaki sandal jepit, berjalan seperti pria tetapi membawa tengtengan kantong plastik.
"Selamat malam Pak..." Ucapnya, ketika tiba di pos satpam.
"Selamat malam..." jawab dua pria yang tengah main catur, menghentikan kegiatanya. Menoleh gadis yang di sorot lampu pos tepat di wajahnya.
"Nona ini putrinya Pak Aiman bukan?" Tanya satpam membuat Salma kebingungan, ia tidak tahu siapa nama Aiman.
"Ada perlu apa Non Sarah... tumben, malam-malam ke sini?" Pria yang satu lagi menimpali. Lalu menanyakan kabar Aiman.
"Oh... Papa belum pulang Pak," Salma baru sadar, jika Aiman adalah papa Sarah.
"Bapak sudah makan?" Salma segera mengalihkan, khawatir jika pertanyaan tentang Aiman berlanjut. Karena Salma belum tanyakan kepada Sarah sosok seperti apa Aiman.
"Kebetulan belum Non" Dua satpam menjawab tersenyum malu-malu.
"Saya ada nasi, bapak makan dulu ya," Salma menyerahkan kantong plastik berwarna merah. Setelah ikut duduk bersila di tempat itu.
"Terimakasih Non" Satpam segera membuka kotak berisi nasi, ayam goreng, sambal dan lalap. "Waah... Ayam goreng Kawan," Ujar satpam tersenyum kepada rekan kerjanya.
Salma tersenyum melihat satpam makan dengan lahap. Selama ini Salma makan tidak pernah kekurangan, tetapi tidak pernah melihat orang lain kelaparan. Setelah tahu perlakuan ibu tiri Sarah. Salma baru sadar jika menahan lapar itu sakit perut. Padahal, Salma baru sekali merasakan ketika pertama kali datang ke rumah Sarah, tidak diberi makan hingga semalaman.
Selama ini Salma tidak pernah berbagi dengan orang lain. Dia pikir, semua orang seberuntung dirinya. Walaupun makanan tersebut dia dapat dengan cara yang tidak benar, tetapi memberi pelajaran dua orang di rumah Sarah, agar sekali -sekali merasakan lapar, seperti yang Sarah rasakan sangat perlu.
***********
Sementara di rumah Sarah, Rania baru selesai mandi. Mencuci baju ternyata membuat tubuhnya lelah, sekaligus kelaparan.
"Mama... makan yuk..." Seru Rania dari meja makan. Hingga beberapa menit menunggu di sana, sang mama tak kunjung ke luar. Dengan perasaan kesal dan sewot, Rania menghentakan kaki. Lalu menekan knop pintu kamar Bianca.
Tiba di kamar, Rania menemukan sang mama sedang bingung mencari sesuatu. "Mama mencari apa? Ayo makan Ma, aku lapar ini..." Rania menekuk wajahnya.
"Ayam gorengnya sudah kamu bawa keluar ya?" Bianca rupanya mencari ayam goreng.
"Iihh... Mama gemana sih... ya belum lah," Rania tambah sewot.
"Ini pasti ulah anak bandel itu," Bianca pun membuka pintu diikuti Rania, naik tangga kemudian, mengetuk pintu kamar Salma.
"Nggak bakal di jawab Ma. Mama seperti nggak tahu Sarah saja," Rania mendorong pintu hingga terbuka lebar. Tiba di dalam sepi, dua wanita itu mencari Salma ke kamar mandi pun tidak ada.
"Kurang ajaaarrrr... heeeehhh..." teriak Bianca.
******************
"Salma, nanti sore pulang sekolah, kamu sama Haris ke butik Mama ya Nak," Asyima minta Sarah mengukur baju untuk ijab kabul yang akan dilakukan bulan depan.
"Ya Ma," hanya itu jawaban Sarah. Kali ini dia tidak mau banyak bicara. Sebenarnya ingin menolak pernikahan itu demi Salma, tetapi Sarah bukan Salma yang akan nekat jika kemauannya tidak terpenuhi.
"Tapi Mama sudah bicara dengan Pak Haris?" Salma tentu malas jika dia yang harus bicara dengan guru yang tidak ada lembut-lembut nya itu.
"Mama sudah telepon ibunya Haris kok. Kamu sepertinya masih malu bicara dengan calon suami kamu? Memangnya bagaimana sikap Haris setelah kalian tunangan?" Asyima memastikan. Dulu Salma sering mengadu jika Haris guru yang galak. Tetapi Asyima tidak tahu jika putrinya selalu melawan Haris.
"Nggak tahu Ma, kalau di sekolah sih galak," Jawab Sarah, lalu makan roti bakar buatan bibi. Saat ini mereka tengah sarapan pagi sebelum Sarah berangkat ke sekolah dan Asyima ke butik.
"Haris itu sebenarnya baik sayang... kalau di sekolah galak itu wajar. Seorang guru juga manusia biasa, setiap hari harus menghadapi murid-murid yang bermacam-macam sifat loh. Coba siapa yang tidak pusing. Seperti kamu contohnya, nilai matematika kamu selalu jelek. Padahal guru itu merasa gagal jika salah satu siswanya juga ada yang gagal," Nasehat Asyima panjang lebar.
"Aku mengerti Ma,"
"Maafkan Mama ya Nak, selama ini Mama selalu tidak ada waktu untuk kamu. Tidak pernah mengajari kamu. Jika nilai kamu selalu jelek, itu salah Mama. Tetapi semua ini Mama lakukan demi kamu sayang..." Asyima berkaca-kaca.
"Sudahlah Ma... Salma sudah besar. Sekarang harus sudah bisa bertanggungjawab dengan diri sendiri," Sarah sedih menatap mama Salma. Pelukan hangat menghambur ke tubuh Sarah. Kedua wanita itu menumpahkan tangis. Selama ini, Sarah tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu.
Sarah menyesalkan sikap Salma. Mengapa mempunyai seorang ibu tetapi tidak dia tunjukkan rasa hormatnya. Jika Sarah jadi Salma, seharusnya sadar. Jika sang Mama sibuk di luar, sebenarnya untuk kebahagian Salma sendiri. Sarah berkaca pada dirinya. Sejak kecil tidak pernah ada orang terdekat yang menyayangi, selain papa. Tetapi nyatanya, sang papa berjuang bukan untuk dirinya, melainkan untuk istri dan anak tirinya.
"Terimakasih sayang..." Asyima melepas pelukan. Ia usap air mata Sarah.
"Kenapa kita jadi cengeng ya" Asyima tersenyum lalu mengajak Sarah melanjutkan sarapan.
Setelah menghabiskan sarapan, dua wanita yang sebenarnya tidak ada hubungan darah tersebut pergi ke arah yang berbeda.
Dengan motornya, Salma menuju ke sekolah Negri Pertiwi. Hari masih pagi, tempat itu masih sepi. Bisa dikatakan Sarah datang paling awal.
Tidak lama, setelah Sarah parkir motor, motor yang di kendarai pria datang dan parkir di sebelah motor Sarah. Masing-masing membuka helm menyangkutkan di motor.
Brak!
Helm pria itu terjatuh, lantaran tatapan matanya bukan fokus ke stang motor, melainkan kepada gadis yang tengah berkaca di spion merapikan rambutnya yang kusut.
"Pak Haris," Sarah terlonjak kaget.
"Kamu kemarin nyontek kan?" Tanya Haris sok jaga image
"Nyonyek?" Sarah tidak mengerti apa yang dimaksud Haris.
"Ikut saya" Ucap Haris berjalan lebih dulu mendahului Sarah.
"Salma... yayy... loe hebat. Benar-benar sudah berubah. Pagi-pagi sudah datang eui..." Seru Hani.
"Aah... Kamu" Sarah pun menunda langkahnya menyusul Haris berjalan bersama Hani.
"Han, aku ditunggu Pak Haris di kantor," tutur Sarah. Hani pun mencecar pertanyaan. Untuk apa Salma dipanggil pak Haris.
"Aku nggak tahu Han, tapi sepertinya masalah ulangan kemarin deh. Masa... aku dituduh nyontek sih..." Sarah cemberut.
"Kalau aku perhatikan, pak Haris suka sama kamu deh Sal, makanya jadi orang jangan terlalu benci, jadi malah berubah cinta," Hani tertawa.
"Cek! Kamu,"
Mereka pun berpisah, Sarah menitipkan tas pada Hani ke kelas. Sebelum menemui Haris ke kantor.
"Assalamualaikum..." Sarah berdiri di hadapan pria yang berjibaku dengan tumpukan kertas.
...~Bersambung~...
bagus banget ceritanya Buna..
jujur menurut aku, ini cerita Buna yg paling aku suka dari sekian novel Buna yg udah aku baca..
setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing2, tugasnya ada mencari tahu biar bisa mengembangkan kelebihannya dan jg memperbaiki kekurangannya..
garis besar cerita masih mirip2 dg novel2 Buna lainnya ya..
cinta guru dan murid, perpisahan dan pertemuan kembali pasangan suami istri, penolakan karena perbedaan status sosial..
walopun garis besar ide ceritanya mirip, tapi cerita kali ini seru banget menurut aku..
dan yg paling penting, finally happy ending for all characters.. 🎉🎉🎉
Terima kasih Buna sudah bikin cerita sebagus ini..
walopun hasilnya tidak sesuai harapan, jangan sedih ya Buna..
setidaknya ada doa2 tulus dari para reader setia untuk Buna..
semoga selalu diberi kesehatan..
tetap semangat berkarya dan jangan pantang menyerah..
semoga sukses selalu Buna..
🙏🏻💪🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
di dunia ini tugas kita hanya ikhtiar dan berdoa, sedangkan hasil bukanlah ranah kita..
jadi tak perlu terlalu merisaukan hasilnya bagaimana, tapi cukup terus berusaha dg niat yg baik dan tak lupa terus berdoa..
Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha kita sekecil apapun, semua pasti ada balasannya..
hanya saja kita tidak tau kapan waktunya balasan itu akan tiba..
kita hanya perlu terus bersabar, berusaha, dan berdoa..
semangat Buna.. 💪🏻💪🏻💪🏻💕💕💕