Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Pak Anton yang sedang mengecek komputer di meja kasir tiba-tiba menghela napas panjang dan menatap Dimas dengan raut wajah menyesal.
"Maaf sekali Pak Dimas, barusan dari pihak leasing menelepon dan memberitahukan kalau pengajuan kredit bapak ditolak oleh sistem mereka."
Keheningan langsung menyelimuti showroom itu seketika seolah waktu berhenti berdetak selama beberapa detik.
"Ditolak, bagaimana bisa ditolak Pak Anton, gaji saya itu delapan juta per bulan dan saya ini manajer lho." Dimas berteriak panik tidak terima dengan keputusan tersebut.
"Kata pihak leasing riwayat BI Checking bapak buruk karena banyak tunggakan paylater yang belum dibayar selama enam bulan berturut-turut." Pak Anton menjelaskan dengan suara datar yang terdengar sangat kejam bagi Dimas.
Dinda langsung menoleh ke arah Dimas dengan mata melotot lebar dan wajah pucat pasi.
"Dimas, kamu bilang uang gajimu selalu utuh, kenapa kamu punya banyak tunggakan hutang begini." Dinda bertanya dengan suara bergetar menahan rasa malu yang luar biasa.
"Itu salah paham Yang, sistem banknya pasti sedang error nanti aku urus lagi ke kantor cabang." Dimas berkeringat dingin dan mencoba meraih tangan Dinda namun wanita itu menepisnya kasar.
Arga tidak bisa menahan tawanya lagi dan meledakkan tawa renyah yang menggema di seluruh ruangan showroom tersebut.
"Hahaha, manajemen finansial orang pintar kota memang sangat luar biasa hebat ya sampai ditolak leasing untuk kredit motor paling murah di sini."
"Pak Anton, tinggalkan badut berhutang itu dan tolong urus surat-surat motor KLX ini untuk saya sekarang." Arga menjentikkan jarinya ke arah Pak Anton yang masih melongo.
"Harganya dua puluh delapan juta kan Pak Anton, saya ambil motor ini secara tunai tanpa cicilan sama sekali."
Dimas yang merasa sangat terhina langsung berbalik dan menatap Arga dengan amarah yang meledak-ledak.
"Tutup mulutmu gembel, kamu pikir kamu bisa menipuku dengan omong kosongmu beli motor puluhan juta tunai."
"Kamu paling cuma bawa uang seratus ribu di dompetmu itu untuk ongkos pulang naik angkot."
Arga tidak membalas ucapan Dimas melainkan perlahan menurunkan tas ransel bututnya dari punggungnya.
Dia membuka resleting tas itu dan memasukkan tangannya ke dalam merogoh tumpukan uang tunai yang tersimpan rapi.
Plop.
Tumpukan pertama berisi seratus lembar uang seratus ribuan berwarna merah cerah dia jatuhkan tepat di atas tangki motor KLX tersebut.
Mata Dinda dan Dimas langsung terbelalak lebar seakan mau melompat keluar dari rongganya melihat ketebalan gepokan uang itu.
Plop.
Tumpukan kedua dengan jumlah yang sama mendarat di sebelah tumpukan pertama.
Plop. Plop.
Arga terus mengeluarkan gepokan uang merah itu hingga total ada lima tumpukan besar yang menghiasi tangki motor hitam tersebut.
"Ini uang tunai lima puluh juta rupiah Pak Anton, ambil dua puluh delapan juta untuk motor ini dan sisanya masukkan kembali ke tas saya."
Suara Arga terdengar sangat santai seolah dia baru saja membeli kacang goreng di pinggir jalan.
Pak Anton menelan ludahnya dengan susah payah matanya tidak berkedip menatap gunungan uang tunai yang masih wangi bank tersebut.
"B-baik Mas Arga, s-saya akan segera memproses surat-suratnya dan menyiapkan mesinnya sekarang juga." Pak Anton berbicara dengan suara gemetar dan langsung berlari memanggil staf lainnya.
Dinda berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar kakinya terasa lemas tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri.
Dia menatap uang lima puluh juta itu lalu beralih menatap wajah Arga yang terlihat sangat tampan dan berwibawa hari ini.
"Ga, k-kamu dapat uang sebanyak ini dari mana, apakah kamu baru saja memenangkan undian miliaran rupiah."
Dinda melangkah pelan mendekati Arga dan mencoba memegang lengan pemuda itu dengan tatapan memelas yang menjijikkan.
"Kamu tidak bilang padaku kalau kamu sudah kaya sekarang Ga, kalau aku tahu aku tidak akan pernah memutuskanmu demi manajer tukang ngutang ini."
Arga menatap tangan Dinda yang bertengger di lengannya lalu menepisnya dengan sangat kasar hingga Dinda terhuyung ke belakang.
"Menjauhlah dariku wanita murahan, aroma parfum palsumu membuat hidungku gatal dan ingin bersin."
"Aku mendapatkan uang ini dari hasil keringatku sendiri mengurus ladang yang selalu kau hina sebagai pekerjaan orang rendahan."
Dimas yang sejak tadi terdiam karena syok kini hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani menatap wajah Arga sama sekali.
Harga dirinya sebagai manajer kota telah hancur lebur diinjak-injak oleh tumpukan uang tunai dari seorang petani desa.
"Mas Arga ini kunci motornya dan surat jalan sementaranya sudah siap, helm dan jaket gratisnya ada di dalam bagasi jok." Pak Anton datang membawa dokumen dengan sikap membungkuk hormat sembilan puluh derajat.
"Terima kasih pelayanannya Pak Anton, ini sisa kembalian uangku tolong masukkan ke tas." Arga memakai tas ranselnya yang kini terasa sedikit lebih ringan.
Dia menaiki jok motor KLX yang tinggi itu dengan satu gerakan mulus lalu memasukkan kuncinya ke lubang kontak.
Brum brum brum.
Suara mesin knalpot racing yang dimodifikasi tipis menggelegar nyaring menggetarkan kaca-kaca showroom.
"Selamat tinggal Dimas si tukang ngutang dan Dinda si wanita matre, semoga cicilan paylater kalian segera lunas bulan ini."
Arga tersenyum sinis memberikan salam perpisahan yang sangat menyakitkan hati mereka berdua.
Wush.
Arga menarik tuas gas dan melesat keluar dari pintu showroom membelah jalanan kota dengan motor barunya yang gagah.
Dinda hanya bisa meneteskan air mata penyesalan di tengah showroom sementara Dimas berlari keluar karena tidak kuat menahan rasa malu ditertawakan oleh para karyawan toko.
Di tengah perjalanan pulang layar biru sistem kembali muncul di depan mata Arga dengan suara dentingan yang merdu.
[Misi Sampingan Dadakan Selesai: Kendaraan bermotor tunai berhasil dibeli.]
[Hadiah Misi: 500 Koin Sistem dan 1 Kotak Perkakas Petani Tingkat A telah dikirimkan ke dalam Inventaris Sistem Host.]
Arga tertawa lepas di balik helm full face barunya menikmati hembusan angin kebebasan yang menabrak dadanya.
"Dunia ini memang sangat lucu, uang puluhan juta bisa membalikkan harga diri seseorang dalam sekejap mata."
Dia gas motornya lebih dalam melaju membelah kemacetan kota kembali menuju kerajaan kecilnya di desa yang sedang menunggu sentuhan magisnya.