"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026: Tamparan Sosial di Restoran Mewah
Akhir pekan pertama setelah resmi menjadi dokter, Arka berniat tidur lebih cepat.
Niat itu gagal pukul enam sore.
Rudi mengetuk pintu kosnya sambil membawa helm.
"Dok, ikut makan."
Arka baru selesai mencuci jas lab. "Makan di mana?"
"Restoran pusat kota. Teman kantor pacar sepupu saya ulang tahun. Kurang orang, katanya. Saya sudah terlanjur bilang punya teman dokter."
"Itu alasan buruk."
"Betul. Tapi reservasinya sudah dibayar."
Arka menatap kaus polos dan celana hitam yang ia pakai.
"Saya begini saja?"
"Rapi kok."
"Kamu yakin?"
"Selama tidak bawa gergaji tulang, aman."
Lima belas menit kemudian, mereka berangkat.
Restoran itu berada di lantai atas sebuah gedung dekat pusat kota Surabaya. Di pintu masuk, pelayan memeriksa reservasi. Lampu hangat, meja mengilap, musik pelan, dan harga menu yang membuat Rudi langsung batuk kecil.
"Minum air putih saja, Dok," bisiknya. "Jangan sok kaya."
"Kamu yang mengajak."
"Saya menyesal sejak lihat harga nasi."
Mereka duduk di meja panjang. Ada delapan orang lain. Sebagian pegawai swasta, satu orang pemilik toko online, dua orang teman kampus tuan rumah.
Tuan rumah bernama Nadia. Ia ramah dan langsung memperkenalkan Arka.
"Ini dr. Arka, temannya Rudi."
Beberapa orang mengangguk sopan.
Satu perempuan di seberang meja menatap Arka dari sepatu sampai wajah.
Namanya Maya Lestari.
Rambutnya tertata, ponselnya terbaru, tas kecilnya diletakkan di meja dengan posisi seolah tas itu juga tamu penting.
"Dokter apa?" tanya Maya.
"Dokter forensik."
"Oh." Senyumnya berubah. "Yang autopsi itu?"
"Salah satunya."
"Aku kira dokter rumah sakit yang praktik klinik. Kalau forensik, berarti jarang ketemu pasien hidup, ya?"
Rudi meneguk air.
Arka menjawab tenang. "Lebih sering bertemu orang yang sudah tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri."
Percakapan berhenti setengah detik.
Nadia cepat mengalihkan, "Arka baru resmi, lho. Kemarin lulus evaluasi."
Maya mengangkat alis. "Baru resmi? Berarti sebelumnya masih magang?"
"Dokter muda," kata Arka.
"Oh, pantes." Maya tersenyum kecil. "Aku tadi lihat bajunya sederhana banget. Kirain masih mahasiswa."
Rudi menoleh cepat ke Arka.
Arka mengambil gelas air.
"Sederhana tidak selalu berarti murah."
Maya tertawa pelan. "Iya, iya. Aku cuma bercanda. Tapi dokter sekarang kan banyak levelnya. Ada yang sudah spesialis, ada yang masih awal. Kalau baru mulai, gajinya berapa sih? Maaf ya, penasaran aja."
Di meja, beberapa orang mulai tidak nyaman.
Nadia berdeham. "May, jangan tanya gaji orang."
"Lho, kenapa? Kita kan ngobrol santai. Aku juga terbuka kok. Di bidangku, personal branding penting. Orang harus tahu value diri."
Arka menaruh gelas.
"Kalau value diri harus dijelaskan terus, biasanya orang belum yakin."
Rudi hampir tersedak.
Maya menatap Arka.
Senyumnya tetap ada, tapi matanya mulai tajam.
"Wah, dokter forensik ternyata suka menilai orang."
"Pekerjaan saya memang membaca tanda."
"Tanda apa dari saya?"
"Anda yakin mau saya jawab di meja makan?"
"Kenapa tidak?"
Rudi berbisik, "Dok..."
Arka tidak langsung bicara. Ia menatap tas kecil di samping ponsel Maya.
Tas itu berlogo merek Eropa terkenal. Warna cokelat gelap, rantai emas, jahitan krem. Maya sengaja meletakkannya dekat lampu agar terlihat.
Saat mata Arka fokus, sistem bergerak.
[Pemindai Cedera - Analisis Permukaan]
[Material: PU Sintetis]
[Pola Jahitan: Tidak Konsisten]
[Kerusakan Tepi: Lapisan Film Mengelupas]
[Logo: Penempatan Tidak Simetris]
Arka berkedip.
Biasanya sistem membaca luka pada tubuh.
Rupanya kerusakan permukaan juga punya bahasa.
Ia tidak menyebut sistem.
Ia menunjuk pelan, tidak menyentuh tas itu.
"Tas itu."
Maya langsung mengangkat dagu. "Kenapa?"
"Kalau asli, jarak jahitan di sisi bawah biasanya stabil. Yang ini antara empat dan enam milimeter. Lem di sudut kiri juga terlalu tebal. Kulitnya bukan calf leather, lebih mirip PU sintetis dengan lapisan film. Logo depan sedikit miring ke kanan."
Meja panjang mendadak diam.
Maya menatap tasnya, lalu menatap Arka.
"Kamu nuduh tas aku palsu?"
"Saya membaca tanda. Tadi Anda meminta."
"Kamu tahu apa soal fashion?"
"Tidak banyak."
"Terus sok tahu?"
Arka mengambil tisu, lalu menggesernya ke dekat tas tanpa menyentuh.
"Kalau mau cek sendiri, lihat bagian tepi tali. Ada lapisan yang mulai mengelupas. Barang asli bisa rusak, tapi pola rusaknya tidak seperti itu. Yang ini lapisannya terpisah dari dasar bahan."
Salah satu pria di meja, yang sejak tadi diam, mendekatkan badan.
"May, coba lihat."
"Jangan sentuh."
"Aku cuma lihat."
Maya menarik tasnya cepat.
Gerakan itu justru menjawab lebih banyak daripada kata-kata.
Nadia menutup mulut dengan tangan. Rudi menunduk, bahunya naik turun menahan tawa.
Maya memerah. "Ini hadiah. Aku nggak perlu buktiin apa-apa."
"Betul," kata Arka. "Seperti saya tidak perlu membuktikan nilai diri dari baju."
Kalimat itu membuat wajah Maya makin kaku.
Ia menyerang lagi.
"Tapi tetap saja, kamu baru jadi dokter. Jangan merasa sudah hebat hanya karena punya gelar."
Arka membuka dompet, mengeluarkan kartu kerja baru, lalu meletakkannya di meja.
Gerakannya datar, tanpa gaya pamer.
Hanya datar.
Nama di kartu itu terbaca jelas.
dr. Arka Pratama.
Instalasi Kedokteran Forensik.
RSUD dr. Soetomo.
Nadia membaca lebih dulu. "Wah, sudah resmi banget."
Rudi menambahkan dengan suara terlalu keras, "Dan ini yang kemarin bantu kasus Rungkut, lho. Yang masuk berita itu."
Arka meliriknya.
Rudi pura-pura tidak melihat.
Seorang perempuan di ujung meja mengangkat wajah. "Kasus mutilasi Rungkut?"
"Jangan dibesar-besarkan," kata Arka.
Rudi sudah telanjur. "Piagamnya ada, Dok?"
"Rudi."
"Cuma tunjukin. Biar orang tidak nanya gaji lagi."
Arka menghela napas. Ia sebenarnya tidak suka membawa piagam. Tetapi sore tadi, Rudi memaksanya memasukkan map kecil ke tas dengan alasan "buat jaga-jaga kalau restoran minta bukti kamu dokter".
Alasan bodoh.
Ternyata berguna.
Arka mengambil salinan Piagam Penghargaan dari tas. Ia meletakkannya di samping kartu kerja.
Tanda tangan Waskito Harjono terlihat di bagian bawah.
Suasana berubah total.
Orang yang tadi hanya mengangguk sopan kini menatap dengan rasa ingin tahu.
Pria di ujung meja berkata, "Jadi Dokter Arka yang menemukan korban kedua?"
"Tim yang menemukan," jawab Arka.
"Tapi berita bilang ada dokter muda yang minta cold storage diperiksa ulang."
"Sekarang bukan dokter muda lagi," celetuk Rudi.
Nadia tertawa kecil. "Rudi, sudah."
Maya tidak tertawa.
Ia menatap kartu kerja itu, lalu piagam, lalu baju Arka yang sederhana.
Kali ini ia tidak punya kalimat yang pas.
Arka mengambil kembali kartu dan piagamnya.
"Saya tidak masalah ditanya pekerjaan," katanya. "Tapi kalau ukuran hormat seseorang hanya sepatu, tas, dan angka gaji, meja makan jadi tempat yang melelahkan."
Tidak ada yang membantah.
Pelayan datang membawa makanan, menyelamatkan semua orang dari keheningan yang terlalu panjang.
Setelah itu percakapan berubah.
Nadia bertanya tentang prosedur autopsi tanpa detail menjijikkan. Pria toko online bertanya bagaimana kamera helm bisa membantu kasus tabrak palsu. Perempuan di ujung meja bertanya apakah keluarga korban selalu boleh melihat jenazah.
Arka menjawab seperlunya.
Pendek.
Jelas.
Tanpa membuat dirinya pusat panggung.
Maya makan lebih cepat daripada yang lain. Sesekali ia melihat ponsel. Tasnya tidak lagi diletakkan di atas meja, tetapi dipangku.
Pukul sembilan lewat, makan selesai.
Di kasir, Rudi menghitung patungan dengan wajah serius.
"Dok, kalau setiap weekend makan begini, gaji baru kamu tetap habis."
"Karena itu saya tidak akan ikut setiap weekend."
"Tapi malam ini lumayan, kan?"
"Makanannya enak. Interogasinya kurang sopan."
"Balasannya juga lumayan tajam."
"Saya sudah menahan diri."
"Kalau itu versi menahan diri, saya takut versi penuh."
Mereka keluar ke area depan gedung. Udara malam Surabaya terasa lebih panas daripada restoran.
Nadia menyusul sebentar.
"Arka, maaf soal Maya."
"Tidak apa-apa."
"Dia memang suka begitu. Tapi tadi... jujur, dia perlu dengar."
"Semoga cukup sekali."
Nadia tersenyum. "Selamat juga ya, Dok. Serius. Dunia perlu orang yang bisa melihat tanda kecil."
Arka mengangguk.
Maya keluar beberapa langkah di belakang Nadia. Ia tidak menatap Arka. Di tangannya, tas itu tertutup jaket tipis.
Rudi menunggu di dekat motor.
"Pulang?"
Arka hendak menjawab ketika ponselnya bergetar.
Nama Adira muncul di layar.
Pesannya singkat.
Dok, ada kasus baru.
Besar.
Satu pesan lagi masuk sebelum Arka sempat membalas.
Artis muda. Jatuh di lokasi syuting. Banyak kamera. Banyak orang penting. Jangan pulang dulu.
Arka menatap layar.
Di seberang jalan, lampu kendaraan bergerak seperti garis putus-putus. Suara kota naik turun, tidak peduli siapa yang baru saja menang di meja makan.
Rudi melihat wajahnya berubah.
"Kasus?"
Arka memasukkan ponsel ke saku.
"Iya."
"Besar?"
"Sepertinya."
"Saya antar?"
Arka mengenakan helm.
"Tidak. Pulang saja. Besok kamu masih kerja."
"Dok, saya juga manusia kepo."
"Justru karena itu pulang."
Rudi mengangkat tangan menyerah.
Arka menyalakan motor.
Sebelum berangkat, ia melihat sekali lagi ke arah restoran.
Tadi di dalam, orang menilai dari tas, gaji, dan baju.
Di luar, kota menilai dari hal yang lebih keras.
Siapa yang bisa melihat tanda sebelum semua orang menutupinya.
Ponselnya bergetar lagi.
Yang muncul kali ini layar sistem.
Layar sistem terbuka tanpa dipanggil.
[Sinyal Kasus Bernilai Tinggi Terdeteksi]
[Menunggu Konfirmasi Lokasi]
Arka menarik napas.
Status dokter barunya belum genap seminggu.
Surabaya sudah mengetuk pintu dengan perkara yang lebih besar.