Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 11
"Ibu tahu semuanya. Ibu tahu Bian." Kata Rossa, yang saat ini sedang berada di perusahaan milik Bian.
Bian tetap diam dan sibuk membaca berkas yang ada di hadapannya.
"Berhentilah menemui Neysia. Dia benalu, dia bisa merusak rumah tangga kalian." Kata Rossa.
Bian berdiri lalu menghampiri sang ibu yang saat ini sedang duduk di sofa. "Apa Vanya yang memberitahukan ibu?" Tanya Bian.
"Vanya? Bukan! Tapi ibu melihatmu sendiri di mall hari itu. Kau dan Neysia, kalian berdua duduk di salah satu cafe, dan kau pun dengan mesrahnya menggenggam tangan Neysia." Kata Rossa yang mampu membuat Bian terdiam. "Ibu tidak suka melihat anak ibu mempermainan wanita. Menikah adalah sebuah komitmen yang harus kau jalankan. Menikah bukan hal yang muda Bian. Jangan sesekali sakiti hati wanita."
"Ibu, aku dan Neysia..."
"Balikan? Begitu? Sampai kapan pin ibu tidak akan memberikan restu pada wanita itu. Pada wanita yang tidak mau mencintai kekurangan putra ibu. Ibu tidak suka melihat wanita yang tidak ingin berjuang, ibu benci wanita yang hanya memikirkan ego dan kebahagiaannya sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang."
"Ibu.." Sentak Bian.
"Ibu sudah mengatur jadwal mu di dokter Haikal, kau harus periksa kondisimu. Ibu menantikan seorang cucu dari pernikahan mu dan Vanya menantuku." Setelah berkata demikian Rossa pun berdiri dan melangkahkan kaki, namun kakinya terhenti kala sampai di depan pintu. "Tidak ada penolakan untuk pemeriksaan. Ingat! Ibu tidak suka dengan penolakan. Buktikan, buktikan pada Neysia kalau kau bisa memiliki keturunan."
Buktikan, buktikan pada Neysia kalau kau bisa memiliki keturunan. Perkataan yang terus terputar di benak Bian. Jika memang terbukti, apa yang harus Bian lakukan? Apakah Bian harus kembali pada Neysia? Padalah Neysia saat ini sudah memiliki suami.
"Arrhhhgg." Teriak Bian, yang mendadak merasa pusing.
"Tuan." Sapa Zam.
"Ada apa? Jangan membuat ku semakin pusing."
"Tuan hari ini ada jadwal kontrol dengan dokter haikal, dan juga ada jadwal meeting yang harus tuan hadiri malam ini."
"Kita pergi sekarang." Kata Bian yang langsung berjalan keluar dari ruangannya.
•••••
"Tunggu.." Teriak Vanya, lalu berjalan menghampiri pintu. Vanya lalu menatap layar cctv yant memperlihatkan orang di depan pintu apartemen. "Neysia." Gumam Vanya.
Vanya langsung membuka pintu.
"Permisi apa boleh aku masuk?" Ucap Neysia.
"Maaf, tapi Bian tidak ada. Apa ada yang perlu untuk aku sampaikan?"
Tidak menjawab, Neysia masuk tanpa persetujuan dari Vanya, hingga membuat Vanya mengepalkan kedua tangannya. "Sabar" batin Vanya.
"Tidak ada yang berubah dari tempat ini." Ucap Neysia sambil mengelilingi apartemen. "Aku masih ingat, dulu Bian selalu memasak sesuatu untukku di sini." Kata Neysia saat berada di dapur. "Ahh ternyata kenangan itu masih ada, Bian sama sekali tidak merubah apapun di dalam apartemen ini."
"Aku rasa kau salah. Tempat ini memang tidak berubah sama sekali, tapi! Hati Bian yang berubah, buktinya dia mampu menyingkirkan mu dari hatinya dan menikah denganku." Balas Vanya, hingga membuat Neysia terdiam sesaat. Lalu Neysia tersenyum, dan berjalan menuju sofa yang terletak di ruang depan.
"Oh yah, perkenalkan aku Neysia."
"Aku sudah tahu."
"Oh ya, mengenai malam itu. Aku minta maaf karena telah memeluk Bian di hadapanmu."
"It's okey. Aku tidak masalah. Hanya saja, andai aku jadi kau maungkin aku akan malu. Harus datang kerumah orang memeluk suami orang padahal kau sendiri sudah memiliki pasangan." Sindir Vanya. "Oh ya, apa masih ada yang mau kau bicarakan? Aku sibuk, sebentar lagi jadwal makan siang, dan aku ingin membawakan suamiku bekal makan siang." Bohong Vanya.
Tanpa berbicara Neysia berdiri dan berjalan keluar dari apartemen. Vanya tersenyum dengan sinis.
"Oh jadi kalian masih ada rasa?" Gumam Vanya.
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...