🧭 96 km Season 2
⏰
21+
"Mengapa kita begitu rumit?!" ujar Mina.
Kisah cinta langit timur (Mina) dan langit barat (Nagi) kembali berlanjut. Mereka terbawa kembali ke masa di saat pertama kali bertemu.
Nagi berhasil membalikkan waktu dan berusaha menghilangkan jarak 96 kilometer di antara mereka.
Namun Mina justru berusaha melupakan kisah cintanya bersama Nagi, karena masih terikat pada seseorang dari masa depan.
Apakah dengan mesin waktu, mereka bisa bersatu lagi di tengah rasa ragu dan bimbang?
Ayo ikuti kisah romansa di dalam mesin waktu ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noejan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semadi_2
Selama beberapa menit Nagi terus saja menatap pemandangan laut di depannya. Sesekali juga ia mendongak dan melihat awan berjalan.
Seminggu ini dirinya kembali seperti dulu, Mina si pendiam. Apa mungkin tindakanku sangat berlebihan ya?
Tiba-tiba duduk bareng dia, godain dia, ngajak nikah dia. Haha!
Pantas sih, Mina kayak gitu. Karena masih menganggap ku sebagai orang asing.
Nagi menoleh ke arah Revan dan Mogi. Oh ya! Dahulu Revan juga pernah melakukannya, dan Revan justru dijauhi olehnya.
Ah! Tapi secara rupa, aku kan lebih tampan. Masa' sih, Mina menolak rezeki dari **semest**a?
Ia kembali menatap ke arah depan dan masih bertahan dalam kesunyiannya. Aku ngga tahu sampai kapan aku akan mengejarnya.
Eh! Tapi kalau aku berhasil menemukan chip itu, Mas Gi akan membawaku ke dua tahun ke depan, ya kan?
Setelah itu, aku akan menikahinya. Supaya saat bertemu Raja, Mina telah sah menjadi milikku! Yuhu~
Tapi, kalau aku ngga berhasil menemukan chip-nya? Bagaimana?
Andai Aro memang ikut kesini, harusnya dia kan menghampiriku? Oh, salah ya? Haha! Aku yang harusnya menghampiri dirinya.
Beberapa menit kemudian, Mogi melemparkan botol minumnya kepada adiknya. Nagi mengumpat karena kaget saat botol minum tersebut mendarat tepat di antara kedua pahanya.
"Wadaw!" teriaknya, yang disambut hangat oleh tawa Revan dan Mogi.
"Mangkanya, jangan melamun dan mikirin itu, Nag!" sindir Mogi.
"Itu apa maksudnya?" tanya Nagi yang segera membuka botol minum. Ia meneguk air dan hal itu membuatnya menjadi segar.
"Ya gitu! Mantap-mantap," ucap Mogi tanpa disaring, membuat Nagi menyemburkan sedikit air yang akan ia telan.
"Woi! Mulut!" bantah Nagi.
Ditambah lagi Revan yang sepertinya gatal ingin ikutan memberi kata-kata mutiara. "Gimana lagi, Mas. Kalau ada wanita cantik, masa' ngga dipikirin? Haha! Kalau Nagi kayaknya langsung disikat! Ya, Nag?"
Nagi semakin meradang, tapi ia memilih hanya menyindirnya. "Mulut kok kayaknya belum pernah ditabok ya, Van?"
Ia juga bersiap melempar botol minumnya yang telah tertutup rapat ke arah Revan.
"Ampun, ampun Pak Naga~" ucap Revan dan Mogi yang memohon ampun, tapi di telinga Nagi terdengar seperti olokan kepadanya.
Kita akan bersama, Mi. Tunggu aku ya!
Di sekolah,
Dia benar-benar ngga datang ya? Wah parah! Eh, tapi bagus dong! Aku ngga perlu lagi berpikir untuk membuat alasan membolos pramuka.
Artinya aku bisa tiap minggu kesini, tanpa dirinya!
Mina gembira karena tak bertemu dengan pria yang justru saat ini sedang rindu kepadanya.
Di tepi jalan raya,
Ayo waktu! Cepatlah berputar ke hari Senin! Cepat! Biarkan aku bertemu bidadari yang semesta kirimkan untukku!
Nagi mengayuh kencang sepedanya yang berada di antara sepeda Mogi dan Revan.
"Aku duluan ya!" teriak Revan yang membelokkan sepedanya supaya masuk ke gang rumahnya.
"Iya, terima kasih Van!" balas Nagi yang menoleh dan tersenyum pada sahabatnya tersebut. Ia kembali fokus bersepeda dan kembali ke rumah.
Di rumah,
Ibu memarahi Nagi yang ketahuan membolos pramuka. Ketika adik salah, kakak pun terkena imbasnya.
"Heh! Kamu kenapa kok bolos, Nag?! Kalau nilai mu jadi ngga baik dan kamu remedi, gimana?!" bentak ibu.
"Ngga bakal kok, Bu. Tenang aja," jawabnya yang santai dan memilih pergi untuk segera mandi.
Saat langkahnya menjauh, Nagi masih mendengar suara ibunya yang menasehati kakaknya.
"Harusnya kamu tanya dulu ke adikmu, Gi. Dia hari ini ada kegiatan apa di sekolahnya. Bukannya malah keluyuran ngga jelas."
Jawaban Mogi membuat Nagi cekikikan. "Iya, Bu. Maaf."
Nagi memasuki kamarnya dan menutup pintu. Aduh Mas Gi baik banget deh, hehe.
Lebih baik aku cepat-cepat mencari chip itu. Supaya bisa kembali ke masa depan!
***
Salam Hangat dari "Sebuah Kisah Cintaku" 😆🙏🏼
Sungguh luar biasa
Apalagi bila bisa buat sesuatu yang positif 👍👍👍
semangatt yaa
yuk baca lagi cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
ada part baru lohh 😍
mari saling support thorr ❤️
thanks