Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
In Disguise
"Nona pertama."
Mikayla mengalihkan perhatiannya dari buku yang barusan ia baca. Dua orang pelayan berambut merah dan temannya yang lain menunduk dalam. Ah, Mikayla ingat. Dua pelayan inilah yang membicarakannya di dapur tempo hari. Mikayla tetap bungkam masih dengan tatapan malas.
"Ka-kami mohon ampunan nona!" kedua pelayan itu langsung menunduk takut, "Kami tidak akan mengulanginya lagi."
Mikayla kembali pada bacaannya, acuh. "Apa kalian yakin tak akan mengulanginya lagi?" Mikayla menatap keduanya dengan sinis. "Apa kalian tahu akibat dari mulut yang berani membicarakan hal negatif tentang Calon putri mahkota?"
"Kami tahu, nona," keduanya gemetar. "Hukum saja hamba berdua. Kami siap menanggung resikonya."
"Ah, sudahlah," Mikayla mengibas-ngibaskan tangannya. "Kalian ku maafkan. Pergi."
Keduanya tersenyum bahagia. "Terimakasih banyak, nona. Kalau Anda tak memaafkan kami—"
"Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran."
"B-baik," dua pelayan itu langsung pergi setelah memberikan salam.
"Pemarah sekali."
Mikayla melirik kursi disebelahnya. Alphair terkekeh geli dengan tangan yang dilipat di depan dada dan satu kaki menopang kaki yang lain.
"Alphair, apa menurutmu penyihir dan Elf itu benar-benar ada?"
Alphair menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa nona bertanya hal seperti itu?"
Mikayla sempat terdiam. "Bukankah daratan Aldergo mayoritas didiami oleh para penyihir? Di daratan Othanium pun juga dihuni oleh para Elf. Tapi kenapa orang-orang seolah tidak tahu hal itu?"
Alphair bersandar. "Kau tahu? Manusia merupakan makhluk terlemah di benua Erosh." Ia hanya mengangkat bahu saat Mikayla menatap tajam. "Itu benar. Maka dari itu pihak kerajaan tak ingin mengatakan hal 'menyakitkan' tersebut pada rakyatnya."
"Ah satu lagi," ucap Alphair. "Daratan Vrioral pun didiami oleh makhluk penumbuh tanaman yang hebat, sedangkan daratan Domania dihuni oleh manusia bermata salju. Yah, mereka memang hidup di daratan yang hanya mempunyai satu musim salju."
Mikayla menghela napas. "Setelah mengetahui semuanya, menurutku kau benar, aku hanya manusia lemah."
"Jika Anda, saya rasa sama sekali tidak lemah." Alphair duduk tegak, ia berusaha serius. "Tuan Aidenloz tak mungkin menyerahkan pedang Phoenix secara cuma-cuma kepada orang asing." Laki-laki itu menatap Mikayla dalam. "Saya rasa, Anda akan menjadi orang berkedudukan istimewa di benua Erosh."
"Untuk sementara anggap saja seperti itu karena aku akan menjadi putri mahkota." Alphair ingin menyela ucapan Mikayla, namun gadis itu kembali berucap. "Apa ada berita terbaru dari kerajaan?"
"Hampir saja aku lupa!" Alphair begitu antusias. "Sebentar lagi perayaan daratan Armovin yang ke-seribu. Apa yang akan nona siapkan untuk itu?"
"Perayaan lagi?" beo Mikayla yang terheran-heran. Kenapa pihak kerajaan sangat menyukai pesta? "Kapan perayaannya akan dilaksanakan?"
Alphair berfikir. "Eum ... kira-kira dua minggu lagi?"
"Kenapa tidak ada yang memberitahukan berita ini padaku?"
Lagi-lagi Alphair mengangkat kedua bahunya. "Kejutan mungkin?"
Mikayla terkekeh. Seringai kecil tampak di bibir mungilnya. "Kali ini biarkan aku yang memberikan mereka kejutan. Raja dan Ratu terlalu baik untuk memberikan hadiah istimewa seperti kebebasan yang ia berikan padaku secara cuma-cuma."
"Ya, mereka belum mengenal nona baru kediaman keluarga Stanley." Alphair menggigit apel yang ia ambil begitu saja dari atas meja. "Lalu apa rencana nona berikutnya?"
"Jika dalam istilah peperangan, aku sudah mendapatkan pedang dan kudaku. Sekarang tinggal menggunakannya, kan?" Mikayla menatap ke luar jendela. "Kalau digunakan dengan benar, tentu saja aku yang akan menjadi pemenang dalam perang ini."
Alphair tersenyum tipis. "Pikiran nona memang tak bisa ditebak."
...****************...
Acara yang dinanti-nantikan oleh semua masyarakat Armovin pun akhirnya tiba. Lampion-lampion warna-warni digantung apik di setiap sudut kota. Obor pun tak mau kalah untuk menyemarakkan suasana yang gembira dan penuh canda tawa. Anak-anak kecil berlarian bebas bak burung kenari, sedangkan orang tua mereka sibuk mendekor rumah masing-masing dan bergotong royong untuk mempercantik setiap tempat yang ada di Armovin
Mikayla melihat itu semua dengan mata dan kepalanya, melihat kegembiraan tersebut tentu membuatnya ikut merasakan kentalnya rasa kekeluargaan. Kali ini ia kembali menerobos gerbang kastil, ia menyamar sebagai pedagang yang ingin pergi ke kota sebelah bersama dengan Alphair. Tapi tujuannya berbeda dari kemarin, kali ini Aidenloz lah yang menyuruh dirinya untuk mencari keberadaan lelaki bersurai emas itu.
Tadi siang, tepatnya setelah acara makan siang berakhir sebuah burung merpati putih bersih hinggap balkon kamar. Mikayla sedikit curiga, namun gadis itu memilih untuk diam menghiraukan burung merpati yang arah matanya selalu memerhatikan Mikayla. Sampai akhirnya Mikayla mendekat, di cakarnya terdapat sebuah gulungan kertas.
Mikayla segera mengambil kertas itu dan tanpa diperintah burung merpati itu pergi dengan sendirinya. Dengan rasa penasaran, Mikayla membuka gulungan tersebut. Isinya kosong. Setelah mengamati lamat-lamat, Mikayla tersadar kalau itu bukan kertas biasa.
Dengan cepat karena rasa penasarannya, Mikayla menaburkan sisa kayu bakar di dalam tungku perapian yang mati. Tulisan dengan warna putih itu langsung menarik perhatian Mikayla.
Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu?
Kemarin setelah aku pergi mengendap-endap dari kastil mu aku bertemu dengan seorang kakek tua dekat pelabuhan. Dia mengatakan bahwa Kerajaan Armovin akan merayakan ulang tahun yang ke-seribu.
Well, niatku menuliskan surat rahasia ini bukan sekedar hal kecil seperti itu.
Sore ini temui aku dekat pelabuhan. Jangan bersama siapapun kecuali penjaga mu.
Perlu kau ketahui, bakar segera surat ini jika kau sudah membacanya.
Áidénloz
Mikayla mengernyitkan kening heran. Kenapa surat seperti ini harus dibakar? Seberapa pentingnya kah surat ini sampai harus dimusnahkan setelah dibaca? Sebuah surat tak akan membunuhnya, 'kan?
"Nona?"
Mikayla tersentak. Ternyata ia masih di Desa Ruvania, desa yang letaknya paling dekat dengan pelabuhan Armovin. Cukup memerlukan waktu sampai matahari hampir tenggelam maka mereka akan sampai di pusat pelabuhan.
"Kita sudah berada di mana?"
Alphair mengedarkan pandangannya. "Di sinilah pusat pelabuhan Armovin. Perdagangan antar negara sering terjadi di sini."
Mikayla cukup tertarik dengan penduduk di sekitar pelabuhan. Pakaian yang mereka kenakan cukup berbeda daripada masyarakat Armovin di pusat kota. Di sini seluruh penduduknya mayoritas berkulit kuning langsat, berbeda dengan di pusat kota Armovin yang kebanyakan berkulit putih pucat.
Burung-burung camar berlarian bebas kesana-kemari. Para wanita sibuk memasak ikan-ikan di tepi pantai sambil sesekali bercanda untuk melepas penat. Sedangkan para pria memilih untuk duduk santai di depan serambi sambil bercengkrama dengan sesamanya untuk menunggu makan malam yang dimasak oleh para istri.
"Apakah nona ingin melihat pekerjaan mereka?" Alphair ikut menatap sekumpulan penduduk itu. "Kita bisa menyapa mereka sebentar."
Mikayla menggeleng. "Tidak perlu. Aidenloz sudah menungguku."
Alphair mengangguk. "Jadi sebaiknya di mana kita harus menunggu Tuan Aidenloz?"
"Dia tak mengatakan apapun di surat. Apa sebaiknya kita tunggu di dekat kapal utama?"
"Jangan gegabah." Alphair memerhatikan sekelilingnya. "Orang-orang akan mengenali nona jika kita menunggu disana. Anda calon putri mahkota, jika Anda lupa."
Mikayla tampak menimbang-nimbang. "Menurutmu kita harus menunggu di mana?"
"Baguslah kalau kalian sudah datang."
Mikayla dan Alphair sontak berbalik. Pria dengan tudung hitam yang hampir menutupi seluruh tubuhnya itu berjalan ke arah Mikayla. "Ada yang ingin ku bicarakan padamu."
Ah, dia Aidenloz ternyata.
Mikayla menyapukan pandangannya dari atas ke bawah. Walau masih dapat dikategorikan sederhana, tapi mengapa penampilan Aidenloz kali ini berbeda dari yang kemarin diingatnya?