Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11 - Kecemburuan
Siang itu Wirra menemani Meyta dan Mutiara makan siang di bawah sebuah pohon rindang. Pria itu membayangkan betapa bahagia dirinya jika menjadi bagian keluarga dari Meyta dan Mutiara. Wirra bahkan memotret kebersamaan mereka bertiga.
Wirra pun kembali meminta Meyta untuk ikut bersamanya. Namun, dengan alasan ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya, wanita itu langsung menolak ajakan Wirra.
“Memangnya ada acara apa di rumah, Om?” tanya Mutiara. Meyta seketika menoleh saat mendengar ucapan sang anak.
“Tidak ada acara apapun. Hanya makan malam bersama. Rara juga boleh ikut kok,” ucap Wirra.
Mutiara menoleh pada sang ibu. Gadis kecil itu ingin melihat bagaimana reaksi ibunya. Saat melihat Meyta menatap Wirra dengan sengit, taulah Mutiara, jika ibunya itu tidak menyukai ajakan Wirra.
Tapi, kenapa ibunya terlihat begitu baik pada pria ini? Ibunya bahkan membagi makanan mereka agar bisa makan bersama. Ibunya itu bahkan selalu tersenyum setiap pria yang bernama Wirra itu berdialog dengannya.
Mutiara menaikkan kedua pundaknya. Dia sungguh tak mengerti mengenai dunia orang dewasa. Yang dia inginkan hanya melihat binar di mata sang ibunda. Dan pria yang kini makan bersama mereka, bisa membuat binar itu terlihat di mata sang ibu. Tapi, kenapa ibunya langsung menolak ajakan makan malam pria itu?
Mutiara mengembuskan napas berat. Gadis berusia sembilan tahun itu kini terlihat lebih dewasa dari usianya. Rasa cintanya pada sang ibunda yang memaksanya untuk bersikap dewasa.
“Bagaimana? Apa Rara tertarik untuk makan malam bersama di rumah Om?” tanya Wirra sekali lagi. “Om akan pesankan pizza paling enak. Bukannya Rara paling menyukai pizza?”
“Rara punya banyak tugas dari sekolah, Om. Sepertinya tidak bisa,” jawab gadis kecil itu.
Wirra hanya bisa menghela napas berat. Andai dia bisa mengajak Mutiara, pasti akan lebih mudah untuk membujuk Meyta. Begitulah pikir Wirra. Pria itu tidak tau, jika peringatan dari Meyta adalah yang utama bagi Mutiara. Gadis kecil itu akan selalu melihat raut wajah sang ibu lebih dulu, sebelum memutuskan sesuatu.
......................
Siang itu, setelah seluruh santap makan siang habis, Meyta kembali mengajak Mutiara untuk berjalan kaki menuju kantor wanita itu. Mutiara memang selalu menghabiskan waktu hingga petang di kantor sang ibunda.
Tinggallah Wirra seorang diri. Pria itu terpaksa mengendarai mobilnya dan melaju mendahului Meyta dan Mutiara.
Namun, saat Meyta hendak kembali masuk ke dalam gedung perkantoran itu, Wirra menahan lengannya.
“Mey, ayolah. Anna sudah menunggumu sejak tadi. Jika siang ini gagal, kita bisa makan bersama malam nanti.”
Meyta menatap tajam Wirra. Entah mengapa, dia tak suka setiap kali Wirra menyebutkan nama istrinya — Anna.
Wanita itu kemudian beralih pada Mutiara yang menatap sang ibu dengan penuh tanya.
“Ra ... Kamu langsung ke ruangan Mama, ya. Sekalian bawa kotak bekal kotor ini ke pantry. Mama ada urusan sebentar dengan Om Wirra.”
Mutiara menganggukkan kepalanya. Gadis kecil itu pun langsung menuruti perintah sang ibunda. Membawa kotak bekal yang diberikan ibunya, lalu masuk ke gedung berlantai tiga itu.
“Wir ... Aku harus mengatakan apa lagi supaya kamu mengerti. Apa semua sikap aku tidak membuat kamu mengerti? Aku tidak mau menjadi duri dalam daging di pernikahan kalian! Apa itu masih kurang jelas?!” ketus Meyta.
“Kamu itu bukan pria bodoh, kan?! Harusnya kamu bisa menilai dari semua sikap yang aku tunjukkan. Dari perkataan yang aku ucapkan!”
Wirra tersenyum tipis mendengar ucapan Meyta.
“Sikap dan ucapanmu yang mana Mey? Sikapmu yang membuka lebar kakimu sewaktu aku membelaimu? Atau ucapanmu yang memohon-mohon agar aku memasukimu dengan brutal?”
Wajah Meyta berubah menjadi merah seketika. Padahal dia sudah berusaha untuk tak lagi mengingat adegan yang membawa berjuta kenikmatan itu. Tapi, saat Wirra mengatakan hal itu, adegan demi adegan panas itu kembali menari-nari dalam benaknya.
Meyta menunduk karena malu. Bisa-bisanya dia menginginkan hal itu kembali. Meyta merutuki dirinya sendiri.
Wirra pun menggenggam jemari Meyta dengan erat serta mengusap-usap rambut wanita itu.
“Bahkan, saat makan siang tadi, kamu bersikap begitu lembut padaku. Tak bisakah aku mengartikannya sebagai tanda bahwa kamu juga memiliki rasa dan keinginan yang sama denganku?”
Meyta masih menundukkan wajahnya.
“Aku akan menunggu kamu sampai pulang kerja. Setelah itu, aku bawa kamu ke rumahku dan bertemu Anna.”
Mendengar nama Anna disebut, Meyta seketika mengangkat wajahnya. Meyta benar-benar kesal jika Wirra menyebut nama wanita lain.
Belum menikah saja, dirinya sudah begitu cemburu dengan istri pertama Wirra itu. Bagaimana jika dia sudah menjadi istri kedua pria itu?
“Keputusanku sudah bulat, Wir. Aku tidak akan pernah mau bertemu istrimu!”
Meyta menghempaskan tangan Wirra yang sedari tadi menggenggam jemarinya. Wanita itu bahkan hendak berlari menuju gedung kantor. Namun, tentu saja Wirra tak akan melepaskan wanita itu dengan mudah. Wirra kembali menahan Meyta.
Aksi saling tarik-menarik pun terjadi. Meyta ingin segera lepas dari cengkeraman Wirra, sementara pria itu masih ingin terus bersama Meyta dan membujuk wanita itu.
Pemandangan itu tentunya tak luput dari pantauan orang-orang yang berada di sekitar kantor Meyta. Bahkan, seorang teman Meyta langsung menghampiri mereka. Dan membuat Meyta lepas dari cengkeraman Wirra.
“Kalau wanitanya tidak mau, jangan dipaksa dong!” pekiknya.
Wirra tentu saja menjadi sangat kesal karena Meyta akhirnya lepas dari cengkeraman nya. Terlebih yang melepaskan lengan Meyta dari cengkeramnya adalah seorang pria muda.
“Tolong jangan ikut campur urusan kami,” ujar Wirra kesal.
“Tentu aku harus ikut campur. Yang kamu paksa ini adalah dewi kami. Tentu aku tidak mau dia tersakiti. Terlebih dia terlihat sangat tidak nyaman berada di dekat anda,” ujar pria itu.
“Apaan sih kamu, Gung. Dewa - Dewi, dewa - Dewi!” ucap Meyta sembari memukul lembut lengan pria yang bernama agung itu.
“Mba Mey kan memang Dewi di perusahaan kita. Bahkan, bagi aku, Mba Mey itu bagaikan seorang ratu. Ratu yang bertakhta di hatiku,” ujarnya.
Meyta terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Walau hampir setiap jam Agung menggodanya, pria itu masih terlihat menggemaskan bagi Meyta. Mereka bahkan hampir menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih.
Sementara itu, Wirra terlihat semakin bertambah kesal. Pria itu bahkan menerapkan satu aturan jika Meyta menikah dengannya. Wanita itu tak boleh lagi bekerja setelah menikah. Dia tidak mau, pria-pria genit seperti Agung, terus berada di sisi sang istri, nantinya.
“Ayo, Queen. Kita kembali bekerja!” ajak pria itu.
Meyta tersenyum dan mengangguk cepat. Tapi, tentu saja hal itu dihalangi oleh Wirra.
“Urusan kita belum selesai, Mey!”
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus