NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Anak Ratu yang Selama Ini Bersama Mereka

Angin dingin dari air terjun menusuk sampai ke tulang, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menggigil. Semua mata terpaku pada foto hitam putih tua di tangan Larasati — bayi laki-laki dengan lesung pipi di sebelah kanan, lekukan dahi yang sedikit menonjol, dan bentuk telinga kanan yang agak runcing di ujungnya.

Ciri-ciri yang mereka lihat setiap hari selama sepuluh tahun terakhir.

Larasati mendongak perlahan, matanya bertemu dengan mata Agung yang juga sudah membelalak tak percaya. Tanpa perlu berkata apa-apa, mereka berdua langsung tahu siapa bayi di foto itu.

“Arif,” bisik Larasati dengan suara yang hampir hilang tertiup angin. “Bayi ini… Arif.”

Di belakang mereka, Arif yang sedang berjaga memantau jalan setapak tiba-tiba membeku di tempat. Ia melangkah mendekat dengan langkah gemetar, tangannya terulur ragu-ragu untuk memegang foto itu. Saat wajahnya menempel dekat pada gambar, napasnya tersekat seketika. Air mata tanpa sadar mengalir deras membasahi pipinya yang selama ini selalu tampak tenang dan terkendali.

“Ini… ini liontin yang selalu aku pakai,” serunya parau sambil merobek kemejanya, memperlihatkan kalung perak tua dengan liontin huruf R kecil yang tersembunyi di dadanya — persis sama dengan yang melingkar di leher bayi di foto. “Selama ini aku cuma tahu aku anak angkat Bu Wulan. Beliau tidak pernah mau bercerita siapa orang tua kandungku. Aku kira… aku cuma anak yatim piatu yang kebetulan ditolong beliau.”

Ibu Saras mundur selangkah sambil menutup mulutnya yang ternganga. Segala potongan teka-teki yang mengambang selama puluhan tahun akhirnya tersusun rapi di kepalanya.

“Jadi… semua ini masuk akal sekarang,” gumamnya gemetar. “Bu Wulan yang menemukanmu sebagai bayi di pinggir jalan kota, lalu mengangkatmu secara diam-diam. Beliau membiarkanmu tumbuh dengan nama Arif, tanpa darah marga Saraswati maupun Hardo, supaya tidak ada yang mencarimu. Supaya kamu aman dari dendam kedua keluarga yang sudah saling membunuh selama empat generasi.”

“Dan Ratu… ibuku,” potong Arif dengan suara hancur. “Dia tidak mati. Dia selamat dari kejadian malam itu di tepi jurang, melahirkan aku sendirian, lalu… lalu apa? Apa yang terjadi padanya setelah itu?”

Agung segera mengambil buku harian kulit tua dari dalam kotak besi. Sampulnya sudah rapuh dimakan usia, tapi tulisan tangan di dalamnya masih sangat terbaca — tulisan miring anggun milik Ratu sendiri. Ia membacakan lantang dengan suara yang serius, agar setiap kata meresap ke hati semua orang yang hadir:

10 April 1916

Malam ini aku hampir mati. Bukan oleh Saraswati muda yang kucintai, bukan oleh keluarga Hardo tempatku berasal. Tapi oleh orang yang paling kami percaya: sekretaris pribadi ayahku, yang bekerja sama dengan serdadu kolonial untuk menguasai tanah gunung ini karena mereka tahu ada emas besar di bawahnya. Mereka ingin memecah belah kedua keluarga, membuat kita saling membunuh, lalu mengambil semuanya setelah kita lemah.

Aku kabur. Aku membawa luka tembak di bahu, aku lari menyusuri sungai sampai kakiku tidak sanggup lagi. Saraswati muda mempertaruhkan nyawanya menutupi pelarianku. Dia menulis surat pinjam tanah palsu, dia rela dicap pencuri tanah, dia rela memikul dosa sendirian selama seratus tahun… semata-mata supaya tanah ini tetap di tangan orang yang bisa dipercaya, sampai waktunya tiba anak cucu kita menyelesaikan apa yang belum selesai.

Aku melahirkan seorang putra. Aku beri dia nama Arif — harapanku semoga dia tumbuh menjadi pria bijaksana yang bisa mengakhiri perang ini. Aku tidak sanggup membesarkannya sendirian dalam pelarian. Aku titipkan dia pada satu-satunya orang yang masih aku percaya: nenek buyut dari Bu Wulan. Kelak jika cucu-cucu Saraswati menemukan catatan ini, tolong sampaikan pada Arif: ibunya mencintainya lebih dari nyawanya sendiri. Dan jika dia membaca ini, berarti waktunya sudah tiba.

Perang ini bukan antara Saraswati melawan Hardo. Perang ini adalah perang kita bersama melawan orang-orang serakah yang ingin mencuri apa yang menjadi hak tanah dan rakyat gunung ini.

Buku harian itu terjatuh dari tangan Agung.

Selama ini mereka salah mengartikan segalanya. Selama ini mereka berpikir musuh mereka cuma Kevin Darmawan dan Mbah Hardo dengan gugatan tanahnya. Ternyata akar masalahnya jauh lebih dalam, jauh lebih tua: konspirasi yang sudah berjalan empat generasi, diturunkan dari serdadu kolonial zaman dulu ke anak cucu mereka yang kini berkuasa di balik layar — yang menggunakan Kevin dan Mbah Hardo hanya sebagai boneka belaka. Dan tujuan mereka satu-satunya: menguasai urat emas raksasa di bawah perkebunan Kopi Melati Saraswati yang nilainya cukup untuk membeli separuh negara ini.

“Kevin… dia bukan otak utama,” bisik Larasati perlahan. Otak tajamnya yang dulu biasa memutar strategi bisnis kecil-kecilan untuk menyambung hidup mereka berdua saat masih di kontrakan kumuh, kini bekerja dua kali lebih cepat menganalisis segala kepingan fakta. “Dia cuma ujung tombak. Ada orang-orang yang jauh lebih kuat, jauh lebih kaya, jauh lebih kejam di belakangnya. Orang-orang yang sudah menunggu emas ini selama seratus tahun.”

Agung mengangguk berat. Wajahnya kini berubah total — bukan lagi suami sederhana yang biasa Larasati temui setiap pagi di dapur kontrakan dulu, bukan lagi pria yang selalu meminta maaf karena tidak bisa membelikan istrinya es krim yang dia inginkan. Ini adalah Agung Pratama Saraswati sang CEO, pemimpin kerajaan bisnis puluhan triliun yang telah menghadapi ribuan konspirasi lebih mengerikan selama sepuluh tahun memimpin. Tatapannya dingin, tajam, tanpa ampun.

“Mereka salah perhitungan,” ujar Agung rendah namun menggelegar. “Mereka kira dengan membongkar rahasia masa lalu, kita akan hancur dari dalam. Mereka kira kita akan saling bertengkar, saling curiga, sampai tanah itu jatuh ke tangan mereka dengan sendirinya.”

Ia melangkah mendekat ke Arif, lalu memeluk pria itu erat-erat — saudara kandungnya dalam darah, saudaranya dalam hati yang selama ini sudah hidup bersama sebagai keluarga.

“Kamu bukan orang asing, Arif. Kamu darah daging Ratu dan leluhur kita. Kamu keluarga. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang perlu kamu sembunyikan. Kita lawan mereka bersama.”

Arif menangis tersedu di bahu Agung. Selama ini ia selalu merasa ada yang kurang, selalu merasa dirinya hanya penyusup di tengah keluarga besar itu. Kini semuanya terjawab. Ia bukan penyusup. Ia justru adalah kunci terakhir yang ditunggu-tunggu selama seratus tahun untuk menyatukan kembali darah Saraswati dan Hardo, mengakhiri perang saudara, dan menghadapi musuh sesungguhnya yang mengintai dari gelap.

Matahari mulai condong ke barat ketika mereka berjalan turun kembali menuju desa. Hutan yang tadi terasa mencekam kini terasa berbeda — seolah leluhur yang selama ini mengawasi dari balik pepohonan akhirnya lega karena rahasia mereka sudah terbuka pada orang yang tepat.

Sepanjang jalan turun, Larasati berjalan sedikit di belakang, matanya tidak lepas memandangi punggung suaminya yang tegap berjalan di depan memimpin rombongan. Ia teringat kembali 11 tahun lalu, di malam hujan deras di kontrakan kecil mereka yang bocor atapnya. Saat itu Agung baru pulang kerja serabutan membawa uang yang tidak seberapa, wajahnya penuh penyesalan karena tidak bisa memperbaiki atap rumah. Larasati ingat betul dia memeluk suaminya saat itu, berkata “Tidak apa-apa, Yang. Kita perbaiki perlahan. Yang penting kita bersama.”

Dia tidak tahu saat itu bahwa pria yang sedang dia peluk sambil basah kuyup itu sebenarnya bisa membeli seluruh kompleks perumahan di tempat mereka tinggal hanya dengan satu tanda tangan. Dia tidak tahu bahwa air mata penyesalan yang jatuh di bahunya itu bukan karena Agung tidak mampu, tapi karena pria itu harus menahan diri untuk tidak menggunakan kekayaannya, demi janji pada neneknya.

Tiba-tiba langkah Agung berhenti. Ia berbalik, seolah bisa merasakan tatapan istrinya yang penuh kilas balik itu. Ia memberi isyarat pada yang lain untuk berjalan terus dulu, lalu menunggu Larasati menyusul sampai mereka berdua tertinggal sendirian di tengah jalan setapak yang sepi.

“Kamu memikirkan masa lalu kita, kan?” tanya Agung pelan begitu istrinya berdiri tepat di hadapannya. Ia mengulurkan tangan, mengusap sisa tanah dan lumut di pipi Larasati dengan ibu jari yang kasar — tangan yang sama yang dulu sering memijat kaki Larasati yang pegal seharian bekerja, tangan yang sama yang kini menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah setiap harinya. “Kamu masih marah tidak… karena aku bohong selama tiga tahun pernikahan kita? Karena aku biarkan kamu bekerja keras membiayai kita berdua, padahal aku punya segalanya?”

Larasati mendengus pelan, tapi matanya melembut. Ia memukul pelan dada bidang suaminya — tempat yang sudah ribuan kali menjadi sandaran kepalanya saat lelah, tempat yang sama amannya dulu saat mereka tidur berdesakan di kasur busa tipis kontrakan.

“Masih. Sedikit. Setiap kali ingat aku pernah memarahi kamu cuma karena kamu lupa membayar listrik padahal saat itu kamu sedang menutup kesepakatan ekspor senilai dua ratus miliar di telepon rahasiamu… aku masih gemas sendiri.”

Agung tertawa rendah, suara yang sama persis seperti tawa pria miskin yang dulu sering membuatnya tertawa di tengah kesulitan hidup. Ia menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukan erat, mencium kening Larasati dalam-dalam di bawah rindangnya pohon-pohon hutan.

“Maafkan aku. Aku janji, tidak ada lagi rahasia sedetik pun setelah ini. Tidak ada lagi yang disembunyikan darimu. Apa pun yang aku miliki, apa pun yang akan kita hadapi… semuanya milik kita berdua. Sama seperti dulu saat kita hanya punya sepotong gorengan untuk makan berdua, tapi kita tetap merasa paling kaya sedunia.”

Larasati mendongak, menangkap bibir suaminya dalam ciuman yang dalam dan lambat. Ciuman itu tidak penuh hasrat liar seperti malam-malam mereka di kamar penginapan kemarin. Ini ciuman penuh syukur, penuh pengertian, penuh kenangan akan perjalanan panjang mereka dari nol — dari seorang wanita yang menikahi pria tanpa sepeser pun harta, hingga menjadi nyonya besar konglomerat yang berdiri setara dengan suaminya menghadapi badai dunia.

“Aku tidak pernah menyesal menikahimu, meskipun dulu aku kira kamu cuma pria miskin yang tidak punya masa depan,” bisik Larasati tepat di bibir Agung setelah ciuman itu terlepas. Tangannya meremas kerah kemeja suaminya erat-erat, seolah takut pria itu akan hilang jika dilepaskan. “Karena yang aku cintai memang selalu Agung yang itu. Bukan CEO Saraswati, bukan pewaris triliunan. Cuma kamu. Suamiku yang sederhana itu.”

Agung mengeratkan pelukannya sampai tulang rusuk Larasati sedikit tertekan. Ia menanamkan wajahnya di lekukan leher istrinya, menghirup dalam aroma sabun melati kesayangan wanita itu — aroma yang sama yang selalu membuatnya merasa pulang ke rumah, di mana pun dia berada.

“Aku juga. Bagaimanapun kayanya nanti, seberapa besar pun perusahaan kita tumbuh… bagiku kamu tetap Laras yang mau berbagi nasi bungkus denganku di emperan toko saat hujan, tetap Laras yang marah besar kalau aku lupa makan siang, tetap satu-satunya wanita yang aku mau ajak tidur satu selimut sampai tua nanti.”

Mereka berdiri saling berpelukan cukup lama di tengah hutan yang sunyi, melupakan sejenak segala rahasia berdarah, emas triliunan, dan konspirasi mengerikan yang mengintai mereka. Di momen itu, mereka bukan pemimpin konglomerat, bukan orang tua dari dua anak remaja, bukan pewaris dendam seratus tahun. Mereka kembali menjadi sepasang muda sederhana yang dulu pernah berjanji setia di depan KUA tanpa pesta, tanpa saksi banyak orang, hanya dengan seikat keyakinan bahwa cinta mereka cukup untuk menghadapi apa pun.

Namun takdir tidak memberi mereka waktu lama untuk berdamai dengan masa lalu.

Belum sampai mereka berjalan sepuluh langkah lagi, suara deru mesin motor yang cepat terdengar mendekat dari arah desa. Dimas — manajer riset yang mereka tinggalkan menjaga pos di desa — berlari terengah menemui mereka dengan wajah pucat pasi sambil memegang ponsel yang masih menyala.

“Pak Agung! Bu Laras!” serunya terbata-bata. “Cepat kembali ke desa! Ada kabar buruk dari kantor pusat! Harga saham Saraswati Group jatuh bebas lima belas persen hanya dalam waktu satu jam! Seseorang membocorkan ke media seluruh isi surat gugatan tanah Mbah Hardo, ditambah berita bohong bahwa kita sengaja menutup kasus pembunuhan Ratu seratus tahun lalu! Ribuan warga sudah mulai demonstrasi di depan gedung kantor pusat di Jakarta, menuntut kita kembalikan tanah pada keluarga Hardo! Dan… dan Kevin Darmawan baru saja mengadakan konferensi pers, mengumumkan bahwa dia dan Mbah Hardo akan mengadakan sidang rakyat di desa ini lusa untuk merebut tanah secara paksa dengan dukungan massa!”

Napas semua orang terhenti seketika.

Mereka baru saja membuka kotak besi, baru saja menemukan kebenaran, baru saja bersatu kembali sebagai keluarga utuh. Tapi musuh tidak menunggu. Mereka bergerak lebih cepat, lebih kejam, lebih kotor dari yang diduga.

Agung melepaskan pelukannya pada Larasati perlahan. Tatapan dingin sang CEO kembali muncul di matanya, lebih tajam dari sebelumnya. Ia menoleh satu per satu ke arah keluarganya: Ibu Saras yang teguh, Aditya yang mulai mengendalikan emosinya, Arif yang kini bangkit dengan tekad baru, Lala dan Bagas yang muda namun berani, serta Larasati — wanita terkuat yang pernah dia kenal, yang selalu ada di sampingnya sejak dia belum memiliki apa-apa.

“Mereka ingin perang?” tanya Agung rendah, suaranya menggelegar penuh wibawa. “Baik. Kita berikan mereka perang. Tapi bukan perang yang mereka inginkan. Kita tidak akan bertengkar soal siapa yang paling berhak atas tanah ini. Kita akan buka kebenaran seluas-luasnya ke seluruh dunia. Kita tunjukkan siapa sebenarnya musuh bersama kita. Dan kita buktikan… bahwa keluarga Saraswati tidak menang karena harta atau jabatan. Kita menang karena kita saling menjaga.”

Larasati meremas tangan suaminya erat-erat. Senyum tipis yang penuh percaya diri terukir di wajahnya — senyum yang sama yang dia tunjukkan dulu saat mereka bangkrut dan tidak punya uang makan sepeser pun, tapi dia tetap berkata “Tenang, Yang. Pasti ada jalan.”

“Benar,” sahut Larasati mantap. “Kita sudah melewati yang terburuk dulu. Saat itu kita cuma berdua, tinggal di kontrakan bocor, tidak punya siapa-siapa. Sekarang kita punya keluarga lengkap, kita punya kebenaran di pihak kita, dan kita punya ribuan petani yang selama ini kita jaga bersama. Kita tidak akan kalah.”

Matahari akhirnya terbenam sepenuhnya di balik punggung gunung, meninggalkan warna jingga kemerahan yang menyelimuti seluruh hamparan perkebunan kopi di bawah mereka. Di kejauhan, asap tipis mulai mengepul dari atap rumah-rumah warga desa — tanda bahwa rakyat kecil di sana sedang bersiap untuk tidur, tidak tahu bahwa tiga hari ke depan, desa kecil mereka akan menjadi medan pertempuran terbesar dalam sejarah keluarga Saraswati.

Pertempuran yang tidak hanya memperebutkan tanah atau emas. Tapi pertempuran memperebutkan kebenaran, kehormatan, dan kelangsungan warisan leluhur yang dijaga dengan darah dan air mata selama seratus tahun lamanya.

Dan di barisan paling depan, berdiri Agung dan Larasati — bergandengan tangan sama erat seperti saat mereka masih tidak punya apa-apa, siap menghadapi apa pun yang datang.

Karena bagi mereka, harta sebesar apa pun tidak ada artinya tanpa orang yang dicintai di sisi. Dan cinta yang tumbuh dari ketidaktahuan akan harta… ternyata adalah cinta yang paling kuat, paling tulus, dan paling tidak terkalahkan di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!