dihianati suami dan adiknya, dan menjadi tameng bagi kebebrokan perilaku kedua orang terdekatnya. Afifah memutuskan untuk bercerai.
dah, gitu aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 - Perjalanan
Bab 11
Cklek!
Arga masuk ke dalam rumahnya dan mendapati rumah yang kosong tak berpenghuni. Malam sudah larut, dan batang hidung Afifah tak juga terlihat.
"Afifah belum pulang?" gumam Arga saat membuka pintu kamarnya yang kosong.
Putri yang sudah pulang pun juga dibuat keheranan dengan keadaan rumah yang kosong. Semuanya masih sama. Berantakan dan tak terurus. Dan kini Afifah juga tak kunjung pulang hingga tengah malam.
"Mbak Afifah tidak pulang, Mas?" tanya Putri.
"Sepertinya begitu," jawab Arga. "Biarkan saja! Untuk apa mengkhawatirkan wanita itu?"
Arga nampak tak peduli. Pria itu benar-benar sudah masa bodoh pada hidup Afifah. Istri sampai tengah malam tak pulang, bukannya dicari dan dikhawatirkan, pria itu justru memanfaatkan waktu untuk bermesraan dengan selingkuhan selama istri tak ada di rumah.
"Bagus kalau Afifah tidak ada. Kita bisa bebas," ujar Arga sembari memeluk pinggang ramping Putri.
"Aku belum mandi, Mas!" cetus Putri dengan manja pada Arga.
"Mau aku mandikan?" goda Arga.
Pasangan laknat itu saling berpelukan mesra di ruang tamu tanpa tahu jika ada kamera yang mengintai. Dengan tak adanya Afifah, kedua manusia bejat itu merasa bebas bermesraan di mana pun, tanpa harus bersemangat di dalam kamar.
Arga menarik tubuh Putri ke sofa dan langsung menindih tubuh wanita itu. Arga melucuti pakaian gadis itu satu persatu dengan brutal, kemudian melayangkan kecupan ke seluruh tubuh Putri.
Sungguh pemandangan yang menjijikkan. Kakak beradik itu bercinta di ruang tamu dan sebuah kamera kecil yang tersembunyi di ruangan itu merekam dengan jelas aktivitas mereka.
"Aahh, Mas!" ******* dan lenguhan kembali terdengar.
Pakaian Arga dan Putri pun mulai berceceran di lantai. Pasangan bejat itu membuat sofa berderit dengan pergumulan panas yang mereka lakukan di ruang tamu.
"Mas sudah tidak marah lagi padaku karena aku tidak mengurus rumah?" tanya Putri di sela-sela "olahraga" malam mereka.
"Maaf, ya? Mas kesal pada Afifah tadi," ucap Arga.
"Kenapa Mas melampiaskannya padaku?" rengek Putri.
"Maaf, ya? Ini semua karena Afifah yang membuat suasana hatiku menjadi buruk," ungkap Arga, kemudian kembali menerkam gadis yang ada dalam kungkungannya.
Tak hanya bercinta di ruang tamu, pasangan terlarang itu juga berpindah tempat ke seluruh ruangan rumah, termasuk dapur. Entah sudah berapa kali suami bejat Afifah itu "bermain" dengan gadis muda untuk memuaskan hasratnya.
"Mas, lebih enak bercinta denganku daripada dengan Mbak Afifah, kan? Aku lebih muda, Mbak Afifah sudah tua. Kapan Mas akan menceraikan Mbak Afifah?" tanya Putri mencoba membujuk kekasih gelapnya untuk menceraikan istri sah.
"Jangan sekarang, Putri! Kita masih butuh Afifah," ujar Arga.
"Mas hanya ingin memanfaatkan Mbak Afifah untuk menutupi hubungan kita saja, kan? Bukan karena Mas tertarik pada Mbak Afifah, kan?" tanya Putri.
Arga terdiam. Memang ia membutuhkan Afifah untuk menutupi hubungannya dengan Putri dari orang-orang. Namun, alasan lain ia tak mau menceraikan Afifah, salah satunya karena Arga sudah menaruh hati pada Afifah.
"Kenapa Mas harus tertarik pada Afifah disaat Mas mempunyai teman tidur yang seksi seperti kamu?" cetus Arga sembari menjamah tubuh Putri dengan penuh nafsu.
"Aku lebih menarik dari Mbak Afifah, kan?" tanya Putri meminta pengakuan Arga.
"Tentu saja, Sayang!" ucap Arga, kemudian meraup bibir merah Putri dengan agresif. "Dari segi mana pun, kamu lebih menarik!"
"Benarkah? Aku juga lebih cantik dari Mbak Afifah, kan?" Putri benar-benar haus pengakuan dan pujian dari kekasih gelapnya. Gadis itu juga khawatir Arga akan jatuh hati pada Afifah. Karena itu Putri juga bertingkah agresif dan posesif pada Arga agar pria itu tidak jatuh dalam pelukan Afifah.
"Kamu yang paling cantik, Sayang!" ucap Arga.
Di tempat lain, terlihat sepasang mata tengah mengamati fokus dengan jelas pergumulan antara dua saudara kandung itu melalui layar. Siapa lagi yang mengawasi Arga dan Putri dari jauh kalau bukan orang yang memasang CCTV, Afifah?
Afifah melihat semuanya. Mulai dari ketika Arga dan Putri bermesraan di ruang tamu, hingga pasangan laknat itu bertelanjang bulat di dapur. Afifah melihat sendiri suaminya bercinta dengan wanita lain.
"Menjijikkan!" gerutu Afifah lirih dengan manik mata berkaca-kaca.
Meskipun ia sudah berusaha mempersiapkan diri, tapi entah kenapa hati Afifah tetap saja terasa sakit. Hancur. Bukan hanya suara ******* saja yang ia dengar, tapi kini ia juga melihat sendiri saat-saat suaminya itu menggauli sang adik.
Afifah mengusap air mata yang mengucur makin deras membasahi wajahnya. Sambil menatap layar ponsel, wanita itu menangis sesenggukan dalam diam.
Ya, Afifah menangis di dalam kendaraan umum. Tepatnya di dalam bus yang ditumpangi oleh wanita itu menuju Jember. Selama dalam perjalanan menuju kampung halaman sang ibu mertua, Afifah terus mengawasi CCTV hingga akhirnya ia mendapatkan rekaman perbuatan tak senonoh antara suaminya dan adik ipar.
"Bagaimana reaksi Bunda nanti saat melihat ini?" gumam Afifah tak kuasa menahan air mata yang kembali banjir. "Kenapa kamu melakukan ini padaku, Mas?" oceh Afifah lirih.
Wanita itu tak kuat jika harus melihat rekaman suaminya bersama dengan Putri hingga selesai. Nyatanya, pasangan bejat itu justru bercinta semalaman di sembarang tempat hingga mata Afifah tak sanggup lagi melihat tingkah dua manusia laknat yang menikmati perselingkuhan itu.
Di sela-sela tangis Afifah, nampak seorang penumpang pria yang duduk di samping Afifah pun mulai memperhatikan Afifah karena terganggu dengan suara tangisan wanita itu. Pria itu melirik ke ponsel Afifah dan cukup terkejut saat melihat adegan panas antara pria dan wanita yang tak berbusana, terpampang dengan jelas di layar ponsel wanita yang tengah menangis itu.
"Astaga!"
Afifah langsung menoleh begitu ia mendengar suara seorang pria. Pria yang duduk di samping Afifah itu tertawa kecil saat melihat rekaman CCTV yang menunjukkan pergumulan panas suami Afifah.
Sadar layar ponselnya dilihat oleh orang asing, Afifah langsung menyembunyikan ponselnya dan terlihat salah tingkah. Bisa-bisa penumpang yang duduk di sebelah Afifah mengira Afifah sedang menonton film porno.
'Ya ampun! Kenapa aku sampai lupa kalau ada orang yang duduk di sebelahku?' jerit Afifah dalam hati.
'Apa dia melihat video Mas Arga dan Putri juga? Seberapa banyak yang sudah dia lihat?' batin Afifah panik dan malu. Rasanya Afifah ingin sekali menghilang dari hadapan penumpang pria yang ada di sampingnya itu.
"Mau tisu?" ujar pria itu di sela-sela senyum gelinya, menawarkan tisu pada Afifah yang baru saja selesai menangis.
Terpaksa wanita itu pun menghentikan tangisnya dan juga berhenti mengawasi CCTV di dalam bus. Setidaknya Afifah sudah mendapatkan rekaman yang ia perlukan. Wanita itu tak perlu melihat keseluruhan adegan hingga selesai.
"T-terima kasih!" cetus Afifah mengambil tisu dari pria itu, kemudian menyembunyikan wajahnya dari penumpang di sampingnya itu.
Tak lama lagi, wanita itu akan tiba di kediaman ibu mertuanya. Tak lama lagi, kehidupan pernikahan wanita itu akan berubah drastis dengan terbongkarnya perselingkuhan sang suami.
****
terimakasih author
bahwa kehadirannya sungguh berharga.,. wkwkkkk