Lila tak pernah benar-benar mencintai Ryan, ia hanya mendekati Ryan karena alasan membalas dendam terhadap mantan kekasih yang sudah berkhianat padanya. Semua itu berubah ketika Ryan justru mulai menunjukkan ketertarikannya pada Lila.
Ryan hanyalah cowok dingin tampan yang selalu menjadi topik hangat di kampus, tapi tak ada satu gadis pun yang berhasil menarik perhatiannya kecuali Lila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jamilah Prita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
haiii aku dateng lagi, maaf part ini agak kaku. Kalau ada kesalahan aku minta maaf, karena semua yang ada di cerita ini berdaasarkan hasil googling. Jadi kalau ada yang salah mohon koreksinya ya. Selamat membaca^^
**
Anggara Archieteam merupakan kantor konsultan dalam Desain Interior. Firma ini Anggara bentuk bersama dua orang teman lainnya yang mempercayakan kepemimpinan pada Anggara, hingga nama firma tersebut adalah
Anggara Archieteam. Kedua temannya yang sudah bersahabat sejak sekolah menengah itu hanya menanamkan modal pada Anggara. Sisa yang lainnya di urus oleh Anggara.
Jumlah tim yang bekerja bersama Anggara ada lima orang, yaitu Lila, Matius, Derek, Dimas, dan juga Riana. Tim itu tak berganti selama tujuh tahun, hanya bertambah dengan kehadiran Lila sejak satu tahun yang lalu. Selama tujuh tahun itu, Anggara Archieteam sudah banyak menangani klien dari berbagai jenis. Rumah, kantor, bahkan apartemen sudah pernah di tangani oleh masing-masing mereka, dan hampir semua klien sangat puas dengan hasil desain yang dibuat oleh tim Anggara Archieteam.
Walaupun firma itu di miliki oleh tiga orang, tetap Anggara yang memiliki kekuasaan penuh mengatur timnya. Anggara selalu ingin lingkungan kerja yang tak terlalu terikat dan lebih fleksibel, sehingga timnya nyaman bekerja dan banyak ide-ide kreatif yang muncul karena atmosfer tersebut. Anggara sangat mementingkan timnya di banding apapun, dan itu selalu menjadi poin tambahnya selain ke-profesionalan yang Anggara Archieteam miliki.
“Itu aja untuk hari ini. Oh ya, La, kamu ke ruanganku bentar, ya.” Anggara mengakhiri briefing pagi seperti biasanya.
Ini adalah hal yang rutin mereka lakukan sebelum memulai pekerjaan, agar semuanya tetap terpantau dan tak ada yang terlewatkan. Ini adalah bagian dari cara Anggara memantau semua timnya.
“Aku udah email klien yang harus kamu tangani, dia temennya kenalanku, dan siang ini dia mau ketemu buat bahas konsep. Maaf banget karena ini mendadak, harusnya aku udah kasih tahu kamu dari satu minggu yang lalu, tapi aku lupa,” ucap Anggara.
“Apa gak masalah? Kenapa bukan Mas aja yang ngerjain, ini kenalan, Mas, kan?”
Lila sebenarnya sudah cukup profesional dalam bidang desain interior, karena memang itu yang ia dalami sejak kuliah dulu. Tapi untuk ukuran satu tahun bekerja di Jakarta, ia masih cukup awam. Dan juga ini adalah kenalan Anggara, yang pastinya mengharapkan Anggara sendiri yang turun tangan menangani.
“Setelah aku cek, aku masih punya beberapa kerjaan lain yang harus aku siapin. Kamu pasti bisa ngerjain ini, dia gak neko-neko kok, dia cuma butuh desain yang simple.”
Lila berpikir sejenak sebelum menyetujui, lalu tak lama setelahnya ia menganggukkan kepalanya. “Kebetulan aku juga mau ketemu klien lain siang ini buat visit terakhir, abis itu aku bakal langsung ketemu sama klien yang ini.”
Lila berbalik menuju pintu bermaksud untuk keluar. “Oh ya, La, klien kamu ini DJ Prad. Kamu sering dengerin acara dia, kan? Ini alasan terbesar aku ngasih dia ke kamu.”
Lila hanya melongo mendengar ucapan Anggara barusan. Mungkin karena pria itu tiba-tiba mengedipkan mata pada Lila, atau karena kalimatnya yang mengatakan kalau ini adalah DJ Prad, suara favorit Lila. Lila memang menyukai acara yang di bawakan, tapi ia tak terlalu ingin bertemu sosok yang selalu menemani malam-malamnya itu.
Ia hanya menyukai suara yang pria itu lantunkan di radio, kalau fisik pria itu Lila tak terlalu tertarik. Tapi, biarlah, mungkin Lila akan meminta tanda tangan sang DJ untuk ia pajang di meja kerjanya.
**
Setelah mengunjungi klien terakhir, Lila segera memutar mobilnya menuju kafe tempat ia bertemu dengan sang DJ radio. Pekerjaannya dengan klien terakhir baru saja selesai, sang klien puas walaupun Lila merasa kalau apartemen yang ia desain sejak satu bulan lalu itu bisa menjadi lebih baik lagi di banding sekarang. Tapi, nyatanya sang klien puas, jadi Lila hanya mengiyakan saja. Kepuasan klien adalah yang terpenting, Lila hanya merasa karyanya kurang memuaskan.
Karena terburu-buru, Lila belum sempat melihat berkas yang sudah di kirim email oleh Anggara tadi pagi. Lila hanya tahu DJ Prad, bodohnya ia karena tak menanyakan bagaimana wajah sang DJ. Anggara hanya mengatakan padanya untuk bertanya pada resepsionis restoran, reservasi atas nama Prad.
Padahal Lila sempat berharap kalau DJ itu mengajak bertemu di studio radio tempat ia siaran, mungkin itu akan menarik. Lila tertarik dengan segala hal yang belum pernah ia tahu dan coba.
Setelah tiba di restoran yang di maksud, Lila di bawa oleh resepsionis menuju meja yang terletak dekat dengan jendela. Ternyata restoran ini hanya berjarak lima belas menit dari kantornya, Lila baru menyadari ketika sampai tadi. Padahal Spoon Radio sendiri letaknya cukup jauh dari kawasan kantor Lila.
“Silahkan,” ucap sang resepsionis ramah.
Lila berterima kasih pada sang resepsionis, ia langsung berbalik menatap klien spesialnya ini. Hal pertama yang Lila lakukan adalah terdiam menatap sang DJ, bukan karena sangat tampan, tapi pria di hadapannya melebihi kata tampan dalam kamus Lila.
“R—Ryan?”
Pria yang sangat ia rindukan, bahkan di dalam mimpi, kini ada di hadapannya. Apa Tuhan baru saja menjawab semua do’a dan juga kegelisahannya setelah sekian lama? Rasanya sangat tak nyata, dan perasaan Lila benar-benar campur aduk tak menentu. Ini sama sekali tak terencana..
“A—apa aku salah meja? Harusnya aku ketemu—“
“DJ Prad?” potong Ryan.
Lila hanya menatap pria di hadapannya yang sama terkejut seperti yang Lila rasakan. Selama ini Lila tak berusaha mencari pria ini, ia hanya membiarkan rasa rindu di hatinya menguap begitu saja seiring berjalannya waktu. Dan kali ini Lila benar-benar kehabisan kalimat untuk di ucapkan.
“Kamu gak salah, aku DJ Prad.” Ryan mengulurkan tangannya pada Lila, senyum itu tak bisa Ryan sembunyikan ketika menatap Lil untuk pertama kalinya setelah sekian tahun dalam wujud yang sangat dewasa dan lebih cantik.
Lila dengan ragu menjabat tangan itu, setelahnya ia duduk di kursi yang memang di siapkan untuk Lila. Ryan sama sekali tak tahu kalau yang akan menangani rumah barunya adalah Lila. Ryan hanya menerima saran dari Bima ketika ia menceritakan tentang rumah barunya yang sama sekali belum memiliki desain itu.
Tak ada kalimat yang terlontar selama hampir dua menit yang terasa sama seperti dua jam itu. Lila dengan terpaksa membuka map yang memang berisi data tentang klien yang ia minta dari Anggara, bahkan ketika Lila sudah memiliki map tersebut, ia juga tak membaca isinya. Di dalam map tersebut, tertulis nama panjang Ryan dalam huruf kapital. Ryan Pradana Gauza.
“Maaf, aku gak tahu itu kamu.” Lila kembali menyunggingkan senyuman bersalahnya untuk menutupi kegugupan yang melingkupi. “Kita langsung bahas konsepnya atau gimana?” tanya Lila lagi.
Suasana mereka benar-benar canggung saat ini, apalagi tatapan Ryan yang tak lepas dari wajahnya. Lila benar-benar gugup dan semua hal yang ada di kepala cantiknya mendadak hilang, beserta konsep yang sudah ia susun secara acak di jalan tadi.
“Apa kabar?” tanya Ryan.
Ini seperti kejutan tak terduga, siapa sangka ketika Ryan ingin mendekorasi rumah barunya, yang ia temui justru gadis yang selalu bersarang di otaknya selama tujuh tahun ini. Ryan bahagia, ini lebih membahagiakan di banding ketika ia tahu peringkat acara yang ia bawakan di radio semakin meningkat. Mungkin lebih seperti memenangkan lotere.
Mereka kembali saling bertatapan, tatapan yang saling menyimpan rasa rindu tapi tak pernah terucapkan. Jika dulu Lila bisa berdalih karena ia membutuhkan pria itu, saat ini ia tak memiliki dalih apapun untuk berusaha memiliki pria itu. Tujuh tahun lalu sudah berakhir, dan kini mereka bertemu bukan untuk saling mengenang masa lalu.
“Ini konsep yang baru saja saya susun pemberitahuan visit agak mendadak jadi yang saya siapkan belum terlalu rapi. Mungkin boleh di lihat dulu, nanti jika ada yang kurang bisa kita diskusikan lagi.”
Lila menyerahkan map lain yang ia bawa pada Ryan, lalu memberikan senyum profesionalnya. Mereka sedang bekerja, jadi semuanya harus dalam keadaan profesional, bukan dalam keadaan canggung seperti ini.
Ryan menerima map itu, sifat gadis itu tak berubah walau tujuh tahun sudah berlalu. Lila hanya berubah semakin cantik dan juga semakin dewasa, keras kepala yang di miliki gadis itu belum berubah sedikitpun. Banyak hal yang ingin Ryan tanyakan pada Lila, ia sudah sangat menggebu-gebu ketika tahu kalau itu Lila, tapi ia juga tahu, ini Lila. Lila tak seperti gadis kebanyakan, jadi sedikit banyak ia akan memaklumi.
Mungkin saja ada yang berubah, seperti Lila yang mungkin saja sudah menikah atau memiliki kekasih. Tapi, masih ada janji yang akan selalu Ryan ingat ketika melihat gadis ini lagi. Ia akan mengikat gadis di depannya ini bagaimanapun juga, ia sudah terlanjur berjanji pada diri sendiri dan takkan ia ingkari.
“Aku pelajari dulu, setelahnya langsung aku hubungi.”
**
Lila menghempaskan tubuhnya di sofa malas yang terletak di kantornya. Sofa malas itu memang di sediakan oleh Anggara untuk timnya, jadi ketika mereka sedang lelah bekerja bisa langsung mengistirahatkan diri di sofa itu. Aturan kerja Anggara sangat fleksibel hingga yang lainnya bisa merasakan santai dan tak terlalu tertekan.
Hembusan nafas lelah itu kembali keluar dari bibir Lila, kantor terlihat sepi, mungkin saja mereka semua memiliki jadwal kunjungan pada klien masing-masing. Pertemuan dengan Ryan tadi benar-benar menguras batinnya. Apalagi fakta kalau DJ Prad favoritnya adalah Ryan, kenapa juga ia tak menyadari hal itu? Suara pria itu benar-benar membuainya selama tiga bulan ini.
“Baru sampai, La?”
Lila menegakkan tubuhnya, dan melihat Anggara baru saja keluar dari ruangannya. Pria itu juga tak kalah tampan dari Ryan dan juga sangat mapan. Seandainya saja wajah tampan Anggara mampu mengalihkan hati Lila sejenak, tapi nyatanya hal itu tak terjadi. Ia justru berakhir dengan kembali memikirkan Ryan.
“Iya, Mas. Mas gak keluar makan siang?”
“Udah tadi. Aku mau kunjungan dulu, yang lain mungkin sebentar lagi pulang, kamu gak papa sendiri di sini?”
Lila hanya mengangguk, dan Anggara tersenyum juga sebelum kembali melangkah menuju pintu. “Mas,” panggil Lila.
Anggara membalik tubuhnya lalu menatap Lila yang terlihat ragu-ragu dengan kalimat yang akan ia ucapkan. “Ada apa?”
“Soal DJ Prad, apa yang lain gak bisa takeover atau mungkin Mas aja gitu yang mau ambil alih,” ucap Lila ragu. Hal ini langsung terpikirkan di otaknya dalam perjalanan menuju kantor. Ia bahagia karena itu Ryan, tapi juga ia merasa tak bisa menghadapi pria itu lebih lama.
“Kenapa?”
Lila terlihat kebingungan untuk merangkai kata, karena alasan sebenarnya bersifat pribadi dan seharusnya ia tak melakukan hal itu. Mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan bukan gayanya, tapi kali ini ia kembali merasa tak sanggup. Kekuatan Ryan akan dirinya benar-benar harus Lila akui.
“Aku pikir—“
“Aku pikir kamu bakal seneng karena ini adalah idola kamu, setahuku DJ Prad ini gak minta yang neko-neko. Kamu bakal tahu kalau udah liat rumahnya, dan aku yakin kamu bisa nanganin ini. Kenapa gak di coba?” potong Anggara.
Tapi aku gak mau ketemu Ryan! Teriak Lila dalam hatinya. Ia ingin meneriakkan hal yang sama juga secara langsung, tapi tak mungkin ia lakukan di depan Anggara. Dan setelahnya Anggara akan menganggap betapa kekanakannya Lila.
Apalagi setelah melihat senyum yang tersungging di bibir Anggara. Pria itu selalu berusaha keras mempercayai timnya, dan jug sangat perfeksionis. Lila juga yakin ia bisa menyelesaikan semua seperti biasanya, tapi ia tak yakin dengan hatinya. Bagaimana jika ia goyah sebentar saja? Masalah apa yang akan timbul?
“Oke, Mas, aku bakal coba sebisa mungkin.”
Anggara tersenyum sebelum keluar dari ruangan kantornya. Lila kembali menghela nafas, baru saja ia berharap ketenangan yang ia rasakan selama satu tahun ini terus berlanjut, ternyata keinginannya kembali meleset. Ryan adalah hal terakhir yang Lila ingin temui, tapi ternyata Tuhan lebih suka jika mereka bertemu lebih cepat.
Takdir kadang memang sekejam itu, tapi jika kita mampu mengubahnya mungkin takkan jadi sekejam itu.
**
Satu lagi, di chapter sblmnya tuh..
Yg bicara dg Haryo di ruang makan itu Kikan, bukan Lila..😉👌
trus pergi ninggalin Lara dan nikah (siri) sama ibunya Kikan
intinya Haryo ini mau manfaatin Lara tp gak bisa 😂😂
tp sayang Lara masih blom bisa nebak kemungkinan ini 😣
tolong Laura dan Bobby balas sampai hancur si Haryo 😁😁
maaf klo salah nebak 😊