Cinta itu harus menghadapi banyak halangan.
Ibu Imah menganggap Zack terlalu tua bagi anak gadisnya. Pekerjaan Zack menuntutnya untuk selalu berada jauh dari Imah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RADISYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cita-cita Imah
Zack merasa tidak punya tempat dalam kehidupan Imah.
Tapi bukan kehidupan Imah yang menarik perhatian Zack, melainkan diri Imah.
Zack sangat tertarik dengan kepribadian Imah.
Zack merasa nyaman saat berada bersamanya.
Ia belum pernah mengenal gadis seperti Imah, bahkan wanita-wanita dewasa yang seusia dengan Zack.
Zack pernah berkencan dengan beberapa wanita, kebanyakan dari mereka merupakan teman-teman yang Zack temui dilapangan terbang atau gadis-gadis yang Zack kenal melalui teman sesama pilot.
Sebagian ada yang merupakan saudara-saudara perempuan mereka.
Tapi ia tak pernah merasa cocok dengan mereka.
Zack belum pernah menemukan wanita yang bisa membuatnya merasa nyaman.
Wanita yang bisa membuat dirinya selalu terbayang dan ingin selalu berada di dekat nya.
Hanya satu wanita yang benar-benar Zack pedulikan, tapi wanita itu memutuskan untuk menikah dengan pria lain.
Ia berkata pada Zack bahwa ia merasa kesepian karena Zack jarang berada didekatnya, jarang bisa mendampinginya.
Zack tidak bisa membayangkan jika Imah akan merasa kesepian tanpanya.
Imah terlalu bersemangat dan mandiri, itulah yang membuat Zack sangat tertarik pada Imah.
Meski Imah saat ini baru berusia 19 tahun, kepribadian Imah sangat kuat.
Dari yang Zack lihat, Imah tak memiliki kekurangan, tak ada sesuatu yang membuatnya terlihat tidak menarik.
Imah tak memiliki cela, ia bersikap sangat santun dan memiliki pendirian yang kuat.
Seperti sebuah komet, Zack hanya ingin menangkapnya sementara ia terbang melintas didepan nya.
Imah terlihat sangat sempurna dimata Zack.
Imah berkata bahwa ia ingin belajar di bidang hukum, tapi terpaksa membuang impiannya, karena ibunya tidak begitu menyetujui keinginannya.
Menurut ibunya, seorang perempuan tidak cocok untuk berkarier di bidang hukum.
" Itu tak benar. Jika kau ingin kuliah di bidang hukum, mengapa kau tidak melakukanya? "
" Orang tuaku tak ingin aku mengambil jurusan hukum dan menjadi seorang pengacara
Mereka ingin aku kuliah, lalu setamat kuliah aku diminta untuk menikah.
Walau mereka tidak terlalu memaksakan kehendak, aku mengikuti keinginan kedua orang tuaku." Imah terdengar sedikit kecewa.
" Mengapa kau tidak melakukan keduanya, menjadi pengacara dan menikah? " kedengarannya itu lebih bijak.
Tapi Imah hanya menggeleng, membuat rambut Imah bergerak, berputar disekitar kepalanya.
Melihat gerakan kepala Imah, Zack merasa itu sangat sensual.
Ia terus menatap pada Imah.
Imah tidak sadar jika Zack sudah tertarik padanya.
Imah hanya mengira jika Zack orang yang baik hati dan ramah.
" Bisakah kau membayangkan seorang suami yang mengizinkan istrinya jadi seorang pengacara?
Orang yang menikah dengan ku mungkin hanya ingin aku menjadi seorang istri sepenuhnya, yang hanya mengurus masalah rumah tangga.
Mengurusi suami dan anak-anak.
Seorang pengacara akan sibuk dengan kasus-kasus yang ditanganinya, hingga mungkin harus mengorbankan tugasnya sebagai sorang istri dan seorang ibu. "
Kata Imah panjang lebar.
Seperti itulah kenyataannya, dan mereka berdua paham akan hal itu.
" Sebenarnya bekerja dimana pun dan di bidang apapun, seorang wanita harus bisa membagi dan mengatur waktu antara pekerjaan dirumah dan diluar rumah.
Harus bisa menyeimbangkan antara berkarier dan mengurus suami serta anak-anak." kata Zack pula.
" Apakah ada seseorang yang ingin menikahi mu, Imah? " tanya Zack penasaran.
Mungkin Imah bertemu dengan seseorang saat liburan atau orang tuanya telah menjodohkan Imah dengan anak dari rekan bisnis mereka.
Zack belum begitu mengenal Imah, ia belum tahu banyak tentang Imah karena ini pertemuan kedua mereka.
" Tidak ada.! " jawab Imah singkat.
" Kalau begitu mengapa kau begitu cemas?
Kenapa kau tidak menunggu hingga bertemu dengan orang yang tepat?
Sepertinya kau terlalu cemas dengan sesuatu yang belum terjadi, kau merasa khawatir dengan pekerjaan yang belum di peroleh.
Mungkin kau akan bertemu dengan seorang laki-laki yang baik dan mau mendukung cita-citamu di sekolah Hukum. " Kata-kata Zack begitu panjang lebar.
Mereka duduk sambil menjulurkan kaki kedepan.
Tapi Zack tidak berusaha untuk memegang tangan Imah atau melingkarkan tangannya ke bahu Imah.
" Apakah menurut mu sebuah pernikahan itu penting, Imah?
Zack mencoba memberi pertanyaan itu pada Imah.
Zack ingin tahu pendapat Imah tentang sebuah pernikahan.
Sampai saat ini, usia Zack hampir tiga puluh tahun, Zack belum memikirkan tentang sebuah pernikahan.
Sedangkan Imah baru berusia sembilan belas tahun, jadi masih terlalu jauh baginya untuk memikirkan sebuah pernikahan.
Rasanya aneh jika mendengar Imah membahas sebuah pernikahan.
Seakan pernikahan merupakan suatu hal yang sudah dipilihnya, dan bukan merupakan hubungan dengan seseorang yang dipilihnya dan dicintainya.
Zack bertanya dalam hati, apakah orang tua Imah ingin menjodohkan Imah atau ingin agar Imah segera menemukan lelaki pilihan nya, lalu segera menikah?
Memang itu hal yang wajar.
Tidak seperti kebanyakan wanita seusia Imah, yang menurut Zack akan lebih sedikit tertutup pada lelaki yang baru dikenalnya, Imah begitu terbuka pada Zack.
Imah tak segan menceritakan apa yang ia rasakan pada Zack.
" Aku fikir, sebuah perkawinan itu penting." jawab Imah sambil termenung.
" Semua orang akan mengatakan bahwa sebuah pernikahan itu penting.
Dan aku kira, aku juga akan menganggapnya penting suatu hari nanti, saat aku telah menemukan seseorang yang dengan tulus mau mencintai ku, yang mau mendampingi hidupku.
Sekarang ini, aku belum bisa membayangkan hal itu, aku juga tidak terburu-buru.
Aku masih akan melanjutkan kuliah ku.
Aku tak akan memikirkan pernikahan selama empat tahun kedepan, dan setelah itu siapa yang tahu apa yang akan terjadi.
Mungkin aku akan menemukan jodohku. "
Seperti sebuah penangguhan bagi Imah, penangguhan rencana ibunya bagi Imah
Ibu Imah ingin agar Imah bisa segera menikah setelah menyelesaikan kuliah.
Entah mengapa ibunya punya fikiran seperti itu.
Seharusnya ibunya mendukung jika Imah ingin berkarier setelah menyelesaikan kuliah, agar Imah juga bisa mencari pengalaman diluar sana.
Menurut ibunya, Imah perlu kuliah untuk menambah ilmu pengetahuan, agar ia punya gelar kesarjanaan.
Masalah pekerjaan, Imah tak perlu memikirkannya karena kedua orang tuanya memiliki usaha yang sukses.
Pada siapa usaha itu akan diberikan jika bukan pada anak-anak nya.
" Ibumu sangat menyayangimu, ia pasti ingin yang terbaik untuk mu, apalagi kau perempuan satu-satunya di keluargamu.
Yang aku lihat, saudara mu pun sangat memperhatikan mu.
Kurasa ibumu tak ingin kau berkarier di bidang hukum karena berat resikonya, apalagi jika kau menangani kasus-kasus hukum para pejabat atau para pengusaha yang memiliki skandal.
Ibumu tak ingin terjadi hal yang buruk padamu. "
Zack berusaha untuk mengerti alasan ibunya Imah yang tidak mengizinkan Imah menjadi seorang pengacara.
Ia berusaha memahami sudut pandang seorang ibu.
" Iya, aku rasa juga seperti itu.
Banyak kasus kekerasan yang dilakukan pada pejabat penegak hukum, atau kasus penyuapan dalam satu tindakan kriminal yang dilakukan oleh tersangka.
Ibu tak menginginkan aku menerima hal semacam itu jika aku menjadi penegak hukum.
Ibu takut jika aku akan terancam atau terintimidasi, karena aku hanya seorang perempuan. "
Imah juga berusaha mengerti mengenai alasan ibunya yang melarangnya kuliah di jurusan hukum.
Mungkin ibunya pernah mendengar berita tentang kekerasan yang dilakukan pada penegak hukum.
ke ceritaku👃👃
Semoga Imah bisa kembali pulih setelah mengalami pendarahan. 🙏
Yg sabar ya Imah, semua merupakan cobaan dlm kehidupan mu. 🙏🙏
Semoga Imah dan bayinya baik" saja setelah kejadian itu. 🙏