masa lalu terkadang bisa membuat semua di masa depan berantakan. dia yang berasal dari masa lauku, dia yang sudah lama aku lupakan. datang lagi tanpa pemberitahuan.
aku harus bagaimana menanggapi perjodohan ini. setauku dia mencintai wanita lain dan bukannya aku. tapi ini permintaan mendiang ibuku
apa aku boleh menjadi anak yang tidak patuh akan permintaan terakhir ibuku...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiapuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi
Hari ini cafe hanya buka setengah hari saja. Karna aku harus ke rumah Tante Vera sebelum jam 4. Tentu Tante Vera bilang akan masak sendiri dan memberitahu jam nya padaku karna dia ingin aku ikut membantu nya masak.
"Apa ini yang namanya tes sebelum jadi menantu." Kataku pelan membayangkan Tante Vera membawa papan dan kertas untuk menilai ku.
Aku segera menggeleng kan kepalaku bodoh. Kenapa dengan otakku belakangan ini.
Aku melanjutkan bekerja lagi. Semua kerjaan haru selesai sebelum jam 4. Paket online aku serahkan sepenuhnya ke Adam dan Karina. Jadi aku bisa segera ke rumah Tante Vera.
00
Segera ku parkirkan mobilku di pekarangan rumah Tante Vera yang sangat luas. Hari ini aku memakai baju jumpsuit, tapi membawa dress cadangan. Karena sekarang saatnya masak.
Begitu sampai di depan pintu aku segera memencet bell pintu rumah Tante Vera. Jujur saja rumah ini sangat besar, pintu nya saja sepertinya lebih dari dua meter.
Aku masih berusaha menenangkan diriku sendiri. Karena tanganku mulai berkeringat karena nerves.
Pintu terbuka dan langsung muncul sosok Tante Vera yang sangat cantik.
"Aaaaah anakku kok kamu datang jam segini? Ayo masuk masuk." Tante Vera langsung merangkulku dan membawaku masuk ke rumah.
"Anggap saja rumah sendiri ya sayang. Jangan sungkan sungkan." Tante Vera mengajakku duduk di ruang tamu. Suasana rumah ini sangat hangat ya, masih sama seperti rumah yang dulu.
"Ah karna Tante mau masak jadi Tante nggak bisa temenin kamu ngobrol dulu." Kata Tante Vera mengambil HT Dan bicara pada seseorang.
"Oh ia ini Nana bawa kue, Tante Nana boleh bantuin Tante masak nggak?" Tanyaku tulus, setelah melihat wajah Tante Vera yang sudah sedikit menua tidak seperti dulu rasanya aku ingin membantunya seperti membatu mamaku.
"Wah, nggak usah repot repot padahal. Boleh lah. Yuk ikut. Sebenernya Tante cuma bantu bantu sedikit. Yang masak dan semuanya ada chef yang sengaja Tante minta ke rumah." Sekarang Tante Vera malah tertawa.
"Ah rasanya Tante nggak PD kalo suruh masak untuk acara ini sendiri." Aku di rangkul erat oleh Tante Vera.
"Kita bantu kupas kupas bawang aja lah yaaaa." Dan Tante Vera tertawa lagi.
Aku ikut tersenyum dengan Tante Vera. Dia nggak berubah masih humoris seperti dulu.
"Kak kintan." Sapaku pada kak kintan yang sedang memblender sesuatu.
"Aaaaah Nana." Kak kintan langsung memeluk ku erat.
"Kangen banget padahal belum lama kita ketemu yaaaa." Ucap kak kintan yang langsung berjalan cepat menuju blender lagi.
"Ia padahal cuma beberapa hari." Kataku senang.
"Aah mama suka kalo kalian akur gini, mama jadi keinget dulu kalian sering main bareng. Kemana mana bareng." Tante Vera memelukku lagi.
"Seandainya aku punya keluarga sehangat ini." Batinku.
Melihat keadaan dapur yang sudah di urus dengan Art juga chef aku jadi nggak dapat pekerjaan apapun. Tante Vera sibuk memberi arahan ini itu.
Aku dan kak kintan yang bingung jadi hanya duduk di dapur. Sambil mengobrol.
"Kak boleh nggak kalo aku baking kue aja? Daripada nggak ada kerjaan disini." Kataku punya ide.
"Ah itu tanya mama aja. Tapi kayanya nggak usah aja deh. Nggak usah repot repot." Jelas kak kintan padaku.
Aku hanya mengangguk angguk karna kak kintan sekarang sibuk mengobrol lewat HT.
"Nah tim dekor udah Dateng aku mau urus dekor dulu ya. Kamu mau ikut atau disini aja? Ah aku tanya mama ya kamu boleh baking atau nggak." Kak kintan berdiri dan menemui Tante Vera lalu bergegas keluar dapur.
"Nak, Kamu mau bikin kue?" Tanya Tante Vera menghampiriku.
"Ia kalo boleh sih Tante. Lagian nana nggak bisa bantu apa apa juga karna bagian masak udah ada yang pegang." Kataku pada Tante Vera.
"Boleh deh kalo kamu nggak keberatan. Tante yakin deh kue buatan Nana pasti enak banget. Makasih ya sayang." Tante Vera memanggil salah satu art nya agar membantuku menyiapkan bahan bahan dan peralatan.
00
Sekarang sudah jam 6 lewat dan beberapa tamu sudah datang. Aku sudah mengganti baju dengan dress abu abu panjang dengan rambut di Cepol oleh kak kintan.
Ah kak kintan memang sudah seperti kakakku sendiri, walaupun kak kintan kembaran Keenan. tapi kak kintan selalu menganggap Keenan sebagai kakaknya.
Tante Vera bilang acara kecil cuma temen dekat papa Keenan. Tapi ternyata ini rame banget.
"Kak kintan, aku nggak ada yang kenal orangnya. Boleh temenin aku nggak." Kataku pada kak kintan.
"Aduh maaf ya na. Aku harus ngurusin acara. Mending kamu sama nah ini kak kakak." Kak kintan memanggil Keenan yang baru sampai.
"Apa?" Tanya Keenan males.
"Kakak kan punya utang tas mahal sama aku. Nah nggak usah di bayar ya, bayarnya temenin Nana aja malem ini ya. Aku sibuk soalnya." Katanya dan langsung pergi begitu saja.
Keenan hanya menatap kintan pergi dengan sedikit berlari.
Aku hanya diam saja. Tante Vera setia di sebelah suaminya untuk menyambut tamu. Jadi aku nggak bisa mendekat kesana.
"Heem." Aku melirik ke arah Keenan yang berdeham, tapi aku hanya diam saja.
"Itu rice box yang kemaren kamu kirim ke kantor aku. Makasih ya, lima limanya aku makan semua." Ucap Keenan tenang.
"Ia sama sama. Itu bayaran buat kerja minggu lalu." Kataku tanpa menatapnya.
"Kamu pake kalung dari aku." Katanya seperti berkata pada diri sendiri.
"Kenapa?" Kataku padanya.
Keenan belum sempat menjawabku tapi ada seseorang yang menghampiri kami.
"Oh Keenan disini ternyata. Gimana bisnis baru kemaren? Lancar?" Tanya pria paruh baya itu pada Keenan.
Keenan langsung merangkul bahuku, merapatkan ku pada tubuhnya.
"Ia om lancar. Walau sinyal disana susah banget tapi tempatnya bagus. Bisa di urus semua." Jelas Keenan tenang.
"Ah siapa nih. Calon ya?" Tanya pria itu pada Keenan.
"Ia om kenalin nana calon istri Keenan kemungkinan bulan depan kita nikah." Jelas Keenan yang membuat pria itu mengulurkan tangannya.
Aku segera menjabat tangan pria itu dengan sopan sambil mengucapkan nama. Dan mereka mulai mengobrol lagi.
Aku sudah nggak dengar lagi apapun. Aku masih mencerna kata kata Keenan tadi.
Menikah bulan depan? Siapa? Keenan dan aku? Ha. Aku bahkan belum menyetujui pernikahan kita.
"Nana, heloooo..." Aku terkejut dan langsung menatap Keenan.
"Kamu mikirin apa?" Tanya Keenan padaku.
"Tadi kamu bilang ke bapak itu kalo kita bakal nikah bulan depan kan? Kok kamu gitu? Kita kan belum sepakat." Kataku sedikit ngegas.
"Memang kamu bisa nolak?" Tanya Keenan angkuh.
"Memang kamu kira aku nggak bisa nolak?" Aku menatap mata Keenan tajam.
"Ya terserah sih. Tapi memang kamu tega liat mama aku sedih? Tega? Liat kintan harus undur pernikahan dia lagi karna kita nggak jadi nikah?" Kini Keenan malah mengancamku.
"Itu urusan kamu ya. Bukan urusan aku!" Kataku kesal memilih pergi dari acara itu.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
17.07.2020
Nadiapuma
Mereka lagi kenapa sih kok pada galak.