Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan buruk (1)
"Baiklah, akan kupertimbangkan." lalu berjalan pergi.
**
Lie yang hendak melangkah turun mencari Bibi Wen, tidak sengaja melihat pintu kamar terbuka. Monca berdiri diam memandang keluar jendela. Lie tau apa yang dipikirkannya, ia pasti mengingat kembali kenangan buruk itu.
Lie tidak ingin menggaggunya, Monca butuh waktu untuk sendiri. Karna sebentar lagi, ia akan menghadapi Mikhael dan kenangan buruk itu sendiri.
Lie maju dengan hati-hati dan menutup pintu kamar itu lalu turun mencari Bibi Wen.
~
Ingatan demi ingatan muncul kembali dikepala Monca.
Saat ia bertemu dengannya di sebuah restoran mewah di Singapore, pada saat itu Monca datang untuk melakukan meeting dengan seorang klien bernama Mikhael.
Monca bekerja di salah satu perusahaan desain di Singapore sebagai Manager Marketing.
Sedangkan Mikhael adalah seorang pembisnis muda yang tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan Monca bekerja.
Keduanya hendak melakukan perjanjian bisnis yang sudah dibicarakan beberapa bulan sebelumnya. Dulu, menurut Monca, Mikhael adalah sosok yang tegas dan pekerja keras.
Monca sudah beberapa kali bertemu dengan Mikhael untuk prospek bisnisnya ini, sehingga Monca bisa menilai secara keseluruhan seperti apa Mikhael itu.
Mereka cukup akrab dan nyambung untuk berbicara banyak hal sehingga Mikhael tidak sungkan mengundang Monca untuk makan malam bersama sambil melakukan tanda tangan kontrak mengenai kerjasama antar kedua perusahaan tersebut.
Monca datang bersama asistennya begitupun dengan Mikhael. Mereka makan berempat bersama dan perjanjian kerjasama pun berjalan lancar.
Surat perjanjian kerjasama dibawa oleh asistennya yang pamit pulang lebih dulu. Mikhael terlalu banyak minum pada saat itu hingga membuatnya sedikit mabuk yang membuat Monca memaksanya untuk pulang dan beristirahat.
Mikhaelpun bersikeras untuk mengantar Monca pulang meskipun ia menolak namun Mikhael tetap memaksanya.
Sesampainya di apartemen Monca, Mikhael pun pamit pulang, namun entah kenapa Mikhael meminta supir untuk kembali ke apartemen Monca.
Setelah mengantarnya, ia menyuruh asistennya untuk pulang dna menjemputnya besok pagi.
'toktoktok' pintupun terbuka
"Loh Pak Mikhael? Ada apa pak? Apa ada barang saya yang tertinggal?"
Mikhael tidak menjawab melainkan masuk secara paksa kedalamnya apartemennya. Monca menjadi linglung beberapa saat hingga sadar kembali lalu berusaha mendorongnya keluar dan berteriak namun tenaganya tidaklah sekuat Mikhael.
Mikhael tiba-tiba mencium paksa dan mendorong jatuh Monca ke sofa bed diruang tamunya. Pada saat itu Monca belum berganti pakaian, masih mengenakan kemeja merah muda dengan rok span berwarna putih selutut.
Tubuh Monca bergetar hebat dan ia menangis keras ketika mengalami hal memalukan ini, ia mencoba melawan namun tidak berhasil. Bibirnya pun masih dicium paksa dan tidak bisa dilepaskan membuatnya tidak bisa berteriak.
Kedua tangannya ditarik keatas dan dicengkram kuat oleh satu tangan Mikhael. Dengan leluasa tangan Mikhael yang satu lagi membuka kancing bajunya perlahan dan mencium Monca dengan lembut. Monca terus meronta ronta mencoba menedang Mikhael dengan kakinya yang masih leluasa bergerak.
Hal ini membuat Mikhael melepas dasinya dan mengikat tangan Monca dengan keras. Mikhael menggendong Monca kedalam kamarnya, mencari sesuatu untuk mengikat kaki Monca dan menutup mulutnya.
Lalu ia keluar sebentar untuk mengunci pintu depan dan berjalan masuk kekamar kembali. Mikhael pun tersenyum dan berjalan ke arah Monca, membelai rambutnya lalu melepas paksa pakaiannya.
Melihat itu Monca menjadi semakin takut, malu dan sekujur tubuhnya merinding ngeri. Ia tau betul apa yang akan terjadi selanjutnya.