Kepindahanku yang mendadak ke sekolah yang baru membawa perubahan besar dalam kisah cinta pertamaku. Bertemu Juan dan jatuh cinta padanya adalah hal terbaik selama masa SMAku. Juan mewarnai hariku dengan banyak romansa.
Tetapi datang seorang pria bernama Nandes yang mengaku jatuh cinta padaku saat pandangan pertama. Dengan gayanya yang slengean membuat aku pusing dengan kelakuannya setiap hari. Mengibarkan bendera perang kepada Juan secara terang-terangan.
Apakah mereka musuh lama? Rahasia apa yang Juan dan Nandes sembunyikan dariku? Dan siapa Meggy yang sering Nandes sebut dan membuat Juan seperti kehilangan kesadarannya?
Penuh banyak pertanyaan dan kisah kasih masa remaja yang dipenuhi rasa suka, cemburu dan patah hati, baca terus kelanjutan Merpati Kertas setiap episodenya.
^*^ Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Tolong klik Like, Favorit dan berikan saran yang membangun. ♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hai Enu !
Aku mengintip dari balik gorden kamarku. Memastikan apakah Juan masih di sana atau tidak.
Hanya 1 hari aku sakit, tetapi kelakuan Juan seperti aku sudah sakit selama berminggu-minggu. Juan datang berkunjung 3 kali sehari. Sebelum ke sekolah, pulang sekolah dan sore hari menjelang magrib. Makanan ringan memenuhi kulkas rumahku.
Ting. Hp Ku berbunyi, pesan masuk dari Elsa.
Elsa: Embun… aku kangen.
Aku: Aku juga kangen. Besok aku masuk kok.
Elsa: Gosip soal kamu di bully sudah menyebar dan lebih parahnya lagi ada gosip yang lebih heboh. Katanya kak Juan lebih memilih adik kelas di bandingkan primadona sekolah.
Aku menutup mulutku dengan tangan saat membaca pesan dari Elsa. Wah.. kejamnya dunia ini.
Aku: Hebat sekali gosipnya menyebar sangat cepat ya.
Elsa: Iya gak usah di pikirin. Namanya juga orang bergosip. Tapi aku cukup puas melihat muka nenek sihir itu di tekuk setiap hari. Mungkin Juan marahin dia habis-habisan. Besok aku tunggu dikelas ya. Bye.
Aku: Gaklah, kak Juan gak mungkin marah-marah. Oke deh. Bye.
Aku menimang-nimang hp ku. Memikirkan bagaimana aku menghadapi hari besok. Ting pesan masuk lagi.
Juan: Embun. Sudah sembuh?
Aku: Iya. Besok udah masuk kok. Makasih ya cemilannya.
Juan: Besok aku jemput kamu. Jam 6.
Aku melihat pesan itu cukup lama. Tidak ada cara lain untuk membalas Sarah, aku akan menempel pada Juan seperti prangko supaya Sarah lebih kesal.
Aku: Oke.
***
Jam 6 teng. Aku melihat dari balik gorden kamarku, Juan menungguku di luar pagar rumah. Aku bergegas mengambil jaket dari balik pintu.
Sebelum keluar kamar aku melihat pantulan diriku di cermin, aku manggut-manggut sambil miring kiri miring kanan. Setelah merasa 'cantik' aku lalu berpamitan dengan bibi.
" Hai ", sapaku pada Juan sambil membuka pintu pagar rumahku.
Juan tersenyum padaku. Aku berdiri di hadapannya mengulurkan tanganku meminta helm yang biasa aku pakai. Alih-alih memberikan helm, Juan malah menyambut uluran tanganku. Aku kaget.
" Sudah sehat? ", Juan bertanya dengan suara lembut tidak seperti biasanya.
Aku canggung buru-buru menarik tanganku. " Iya. Aku minta helm".
Juan mengambil helm dan memakaikannya di kepalaku. " Mulai hari ini, aku akan menjagamu di sekolah. Aku janji kejadian kemarin tidak akan terulang lagi", Juan terlihat sangat serius.
Aku tertawa kaku " Iya. Aku bisa jaga diri sendiri kok. Kakak tenang saja".
Dan apa yang Juan katakan terjadi. Setiap jam istirahat Juan selalu datang menjemput ku. Dia dan Adam mengikuti aku dan Elsa ke mana saja. Kami jadi seperti empat serangkai yang selalu bersama.
Pada awalnya kami menjadi pusat perhatian semua warga sekolah, lama kelamaan mereka tidak peduli lagi dengan kehadiran kami. Hal yang paling mencuri perhatianku adalah Sarah yang selalu menatapku penuh kebencian setiap bertemu, tidak ada cela untuk dia bisa membully aku lagi.
Ada waktu di mana saat aku dan Juan berada di parkiran motor, saat itu Juan sedang berbicara dengan Junet dan temannya yang lain.
Sarah dan gengnya tiba-tiba lewat, saat Sarah menatapku tajam aku cepat-cepat menautkan jari jemariku ke tangan kiri Juan dan bergelayut manja di lengan Juan. Sambil balas menatap Sarah aku mengangkat sebelah alisku seperti menantang dalam diam '**Lihat apa k**au?… rasain… ku ambil Juan', salah satu sudut bibirku memberikan senyum kemenangan yang menakutkan.
Herannya Sarah seperti paham apa yang aku katakan, dia menunjukan dua jarinya ke arahku 'Awas kau', lalu menghentakkan salah satu kakinya dan berlalu pergi.
Aku mencibir dan melihat Juan menahan tawa melihat kelakuanku. Aku cepat- cepat menguraikan tautan jariku. Padanya. Aku benar-benar puas karena bisa membalas Sarah.
Kami berempat menjadi cukup akrab, hanya saja Elsa dan Adam sering berdebat untuk hal-hal sepele. Saat kami sedang makan di kantin seorang teman angkatanku yang cukup terkenal di sekolah maupun di luar sekolah mengundangku ke pesta ulang tahunnya.
" Embun, Elsa ini undangan ulang tahun aku. Jangan lupa datang ya. Kak Juan sama Kak Adam juga boleh ikut kok", kata Yuni kepada kami.
" Makasih ya undangannya", aku menerima undangan itu " tapi kakak kelas kita ini sibuk", aku menambahkan.
" Gak kok. Kita bisa datang", Adam menjawab cepat.
Aku dan Elsa melirik ke arah Adam bersamaan.
" Makasih ya, aku tunggu loh kakak-kakak", Yuni berkata cukup genit menurutku.
Aku dan Elsa melihat Adam sambil menggelengkan kepala setelah Yuni meninggalkan kami.
" Loh kenapa? Anak kelas 3 juga butuh refreshing ", Adam membela diri.
Juan tertawa mendengar pernyataan Adam.
" Dasar ganjen", Elsa mengatai Adam.
" Duh.. ni anak kecil mulutnya pedes banget", Adam menarik rambut Elsa pelan.
Aku menatap Juan. " Aku pergi, kemanapun kamu pergi", Juan seperti membaca pikiranku.
Aku tersipu apaan sih, sok puitis.
" Ya udah, nanti kita berangkat bareng pakai mobil orang tua aku", kata Adam selow.
Aku dan Elsa mengangguk bersamaan, setidaknya rambut kami tidak akan berantakan karena tertiup angin di atas motor.
***
Kami berempat berdiri di depan rumah Yuni. Ternyata rumah Yuni sangat besar. Yang aku dengar dari desas-desus yang beredar, orang tua Yuni adalah orang penting.
Kami berempat masuk ke dalam rumah, bunyi musik khas anak muda terdengar hingar bingar. Ternyata Yuni mengundang banyak orang, bukan hanya anak-anak dari sekolah kami. Aku dan Elsa jalan berdempetan, tidak mengenal siapapun. Berharap bisa bertemu teman sekelas kami tapi sepertinya semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Yang mengejutkan kami adalah Juan dan Adam ternyata sangat populer. Setiap senti pergerakan mereka, selalu ada saja yang memanggil dan menegur.
Wah benar-benar luar biasa, aku seperti datang dari planet lain. Elsa di tarik oleh teman-teman SMP nya. Sedangkan aku mau tidak mau mengikuti setiap pergerakan Juan, aku tidak mengenal siapa-siapa.
Yang membuatku lega adalah Juan selalu menggenggam tanganku ke manapun dia beranjak. Sampai akhirnya kami menemukan sofa untuk duduk. Yang empunya pesta tidak terlihat batang hidungnya. Aku tidak ingin beranjak lebih dalam karena terlalu banyak tamu undangan yang hadir, beberapa bahkan duduk di halaman depan rumah.
" Kamu mau minum?", Juan bertanya padaku.
" Iya.. dan sedikit cemilan plis", aku berbisik pada Juan.
" Oke kamu tunggu di sini ya. Aku ambilkan cola. Jangan ke mana-mana, jangan menjawab kalau ada yang menegur. Pasang tampak paling jelek yang kamu punya", Juan menasihati.
Aku mengerutkan dahi apaan sih.
" Nah iya begitu, cukup bagus", Juan tersenyum lalu berdiri untuk mengambil minuman.
Belum ada 3 menit Juan berlalu. Seseorang berdiri di hadapanku dan menegurku dengan santainya.
" Hai enu¹… kamu sendirian? ",tegur seorang pria dengan perawakan setinggi Juan dan wajah yang lumayan beradab.
Aku mendongak lalu melihat ke kiri kananku. Hanya aku yang duduk di sana.
" Kamu bertanya sama saya? ", aku balik bertanya padanya.
" Ya, hanya ada kamu di sofa itu", pria itu meyakinkan.
" Oh.. maaf. Saya datang sama teman- teman tadi", aku tersenyum ramah.
Dia mengangguk " nama saya Nandes ", sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku menyambut uluran tangannya ramah " Embun".
Nandes mengangguk " Sesuai".
" Apanya?", tanyaku heran.
" Sesuai dengan orangnya, molas²", Nandes memujiku.
Aku tersenyum kaku, wah buaya nih kayaknya. Juan mana sih lama banget.
Juan muncul membawa minuman, dia berdiri melihat ke arah Nandes dengan tatapan tajam.
" Ini teman kamu? Okee… aku pergi dulu, nanti kalau kamu pulang pasti aku samperin", Nandes mengedipkan sebelah matanya padaku, aku bergidik. Nandes melihat ke arah Juan " Kau masih hidup ternyata ", setelah berkata seperti itu dia berlalu.
Juan diam saja, tenang seperti biasanya. Dia sepertinya tidak terprovokasi sama sekali. Juan menyerahkan segelas minuman bersoda padaku.
" Ini, baru sebentar ditinggal udah ada lalat yang datang ya", Juan menyindir.
Aku mencibir " Gak tertarik". Juan tersenyum penuh arti mendengar jawabanku.
Setelah merasa cukup lama di pesta ulang tahun itu, kami pamit kepada Yuni untuk pulang. Ketika aku akan memasuki mobil Adam seseorang memanggilku.
" Enu Embun.. ".
Aku menengok, Nandes berjalan menghampiriku. Otomatis Juan berdiri mendekat padaku.
" Hai, kamu sudah mau pulang?", Nandes bertanya saat sudah berdiri di depanku.
" Yaa… aku duluan ya", aku menjawab ramah.
" Embun aku mau nanya boleh?", Nandes menahanku.
" Ya? ".
Sambil melihat ke arah Juan Nandes bertanya " Apa kamu punya pacar?", Nandes bertanya tanpa malu-malu.
Aku melongo, begitu juga dengan Elsa dan Adam. Pertanyaan macam apa ini.
Aku tidak menjawab hanya menatap Nandes heran. Setelah itu aku bergegas masuk ke mobil tanpa melihat ke arah Nandes lagi.
Nandes tersenyum " Ternyata tidak punya pacar ya".
Aku melihat Nandes berbicara sebentar dengan Juan, ada perubahan pada raut wajah Juan. Sebelum pergi Nandes mendekati kaca jendela mobil lalu berbicara padaku.
" Aku akan ketemu kamu hari senin. Bye molas", Nandes lalu pergi tanpa beban, aku terdiam tidak paham apa yang dia katakan.
Juan masuk ke dalam mobil dengan aura yang berbeda. Dia diam sepanjang perjalanan pulang, seperti memendam sesuatu.
***
¹ Enu: Panggilan sopan untuk perempuan dalam bahasa daerah Manggarai (Nona).
²Molas: Cantik (bahasa daerah Manggarai).